Semanis Gula

1756 Kata
“Ayah, aku berangkat dulu, ya. Assalamualaikum,” kata Jenny saat dirinya sudah di hadapan Luis yang duduk sembari menikmati secangkir kopi di kursi teras depan. Lantas, Jenny pun mencium punggung tangan ayahnya itu terlebih dahulu. “Oh, iya, Sayang. Tapi maaf, ya ... kamu harus jalan kaki berangkatnya. Om Firman belum datang soalnya.” Luis pun balas meraba tangan mungil Jenny. Kemudian ia balas menciumnya juga. “Tapi, pulangnya bakal ayah suruh Om Firman buat jemput kamu, kok. Kamu baik-baik di sekolah, ya. Belajar yang pintar.” “Iya, Ayah nggak apa-apa. Kan, ada Bibi yang antar dan jagain aku,” timpal Jenny, sembari melirik pengasuhnya yang juga berdiri di dekatnya. Ia tersenyum. Bahwa, dirinya sangat mempercayai Kualitas pekerjaan pengasuhnya itu. “Iya, Sayang. Kalau gitu ... hati-hati di jalan, ya!” ucap Luis kembali. Lantas, ia pun menitipkan anaknya itu pada Bi Minah. “Awasi jajanannya juga, ya, Bi.” “Baik, Tuan. Permisi,” katanya, seraya menggandeng tangan Jenny. Kemudian, ia pun menggandeng Jenny agar tak terpisah jauh, meski barang semeter atau dua meter. Menjauh dari teras rumah bak istana milik majikannya itu, Bi Minah yang menjadi kesayangannya Jenny sejak beberapa tahun terakhir itu pun mendengarkan setiap apa yang keluar dari mulut Jenny. Karena selain aktif, anak dari majikannya itu sangatlah bawel. Apalagi jika sudah menyangkut apa yang ia suka, Jenny pasti terus membahasnya sampai bosan sendiri. Kali ini, Jenny tengah asyik bercerita tentang Delia. Di mana gurunya itu sudah beberapa hari tak mengajar karena harus merawat ibunya yang sakit. Delia yang memang sedikit lebih dekat dengan Delia itu merasa kehilangan. Sampai-sampai, ia merasa amat sampai rindu. Gadis berambut lurus dan panjang itu bahkan terus bertanya. Kapan kira-kira Delia akan mengajar lagi. Atau, setidaknya main ke rumah seperti waktu kemarin. Namun, Bi Minah yang tak tahu apa-apa itu pun hanya menggeleng. Tak bicara sama sekali, Karena Delia kerap asyik bicara sendiri. Tak sadar, saking asyik mendengarkan Jenny bicara, langkah kakinya pun sudah membawa mereka ke halaman sekolah TK. Dan, karena Jenny pun sudah melihat teman-temanku ada di sana, ia langsung melepas diri dari gandengan tangan Bi Minah. “Aku main sama temen-temen, ya, Bi?” tanyanya, sambil mendongak. Dan begitu mendapati anggukkan, Jenny pun langsung berlari untuk menghampiri teman-temannya itu. Namun, karena masih penasaran dengan kehadiran Delia, Jenny pun lagi-lagi membahas gurunya itu dengan mereka. Sayangnya, teman-temannya pun tak mendapati Delia datang. Sehingga dapat dipastikan, kalau gurunya itu memang tak masuk. “Memangnya kenapa kamu nanyain Bu Delia terus? Dari kemarin kan emang nggak masuk,” tanya salah satu temannya yang duduk di ayunan. Ia dengan wajah polosnya, terlihat begitu penasaran. “Nggak apa-apa. Cuman, kata ayahku, ibunya Ibu Guru itu kemarin masuk rumah sakit. Makanya nggak masuk-masuk. Nah, kemarin, kata ayahku juga ibunya ibu guru udah pulang. Jadi, aku penasaran aja gitu,” timpal Jenny, sama polosnya. Ia yang baru saja datang itu pun duduk di ayunan juga. “Ayahmu kenal sama Ibu guru kita? Kenapa nggak tanya ayahmu lagi aja, Jenny?” “Udah. Tapi, kata ayahku, dia nggak tau.” Dan, wajah Jenny pun seketika berubah murung. “Padahal, aku udah kangen banget sama Bu Guru.” “Iya, aku juga!” timpal yang lain, seolah mereka benar-benar merasa sedih dan kehilangan. Terlebih setelah tahu kalau ibunya ibu guru mereka tengah sakit. Namun, karena tiba-tiba bel sekolah berbunyi, obrolan mereka pun terpaksa berhenti. Jenny dan teman-temannya harus segera berbaris di halaman TK untuk melakukan kegiatan senam terlebih dahulu sebelum masuk kelas. Sekalian absen hadir. Sementara itu, di jalan menuju sekolah Adel, gadis berusia sembilan belas tahun itu pun bertemu dengan salah satu anak dari sekolah yang sama juga. Namanya Putra. Dia adalah murid nomor satu yang terkenal dengan kecerdasan dan kesopanannya. “Mau berangkat bareng?” tanya lelaki berpenampilan necis itu. Dari bibirnya, seulas senyum terukir indah. Sehingga membuat Adel terkesima beberapa detik lamanya. “Hey! Mau berangkat bareng nggak?” “Eh, maaf-maaf. Aku, um ... emang nggak ngerepotin gitu?” Adel pun tergagap saat menjawab teman satu sekolahnya itu. Karena selain terkesima oleh senyuman indah, dia juga tergoda oleh ketampanannya. Bahkan, sudah sejak lama ia memendam rasa tertarik. “Kalau repot, ya masa aku tawarin ikut? Heran. Jadi, mau nggak?” tanyanya sekali lagi. Ia pikir, itu adalah kesempatan terakhir untuk Adel. Karena kalau masih saja menjawab dengan basa-basi, ia akan melesat pergi. “Oh, iya, iya. Aku mau!” timpal Adel pada akhirnya. Meski malu, tapi, menurut Adel itu adalah hal yang langka. Bahkan, menjadi sebuah keberuntungan tersendiri karena susah berkesempatan dibonceng siswa paling populer di sekolah. “Ya, sudah. Ayo, naik!” Dan, meski pun ragu dan juga kikuk, Adel pun akhirnya naik. Dia sedikit memberi jarak. Bahkan, berencana untuk tak berpegangan. Namun, saat Putra menarik gas, tubuh Adel sontak tersentak menghapus jarak. “Pegangan! Kita akan terlambat kalau laju motornya kayak keong!” titah Putra. Adel menurut. “Tumben telat,” ucapnya kemudian. “Lu sendiri, tumben telat? Malah ... beberapa hari terakhir kamu bolos. Kenapa?” Putra tahu, karena mereka memang belajar di kelas yang sama. Kelas 12A. Juga, tanpa diketahui siapa-siapa, dia pun sudah lama tertarik pada Adel. “Ditanya, kok, malah balik nanya.” Adel langsung menahan tawa. Ini adalah kali pertamanya mengobrol dengan Putra. Karena meski mereka belajar di kelas yang sama, Putra terkesan pendiam. Ia jarang sekali bergaul, atau mengobrol dengan teman yang lain. Bahkan, kerjaannya hanya membaca buku di kantin kalau masuk jam istirahat. “Subuh tadi, aku telat bangun. Kamu?” tanyanya lagi. Putra pikir, ini adalah kesempatannya untuk bertanya juga. Mumpung satu motor. Mumpung cuman berdua juga. “Aku juga telat bangunnya tadi. Terus gantiin kakak yang biasa masak. Habis itu, nungguin angkot nggak nongol-nongol. Jadi, ya aku telat di jalan.” “Oh. Terus, kenapa kemarin kamu nggak masuk? Dua hari loh. Tumben banget.” Putra bertanya lagi. Namun, karena perjalanan mereka berakhir, Adel pun tak sempat menjawab. Terlebih, pintu gerbang baru saja akan ditutup. Membuat mereka seketika berteriak pada Pak Satpam agar menunggunya sebentar. “Aduh-aduh ... kalian ini, kok tumben datangnya telat? Barengan pula!” Si Satpam pun mulai curiga. Karena tak biasanya, kedua siswa di hadapannya itu satu motor. “Jangan-jangan, kalian apel dulu, ya?” “Nggak usah suuzan, Pak. Aku bertemu Adel di jalan. Kalau nggak diangkut kasihan. Dia pasti nggak bisa masuk!” timpal Putra, seraya melajukan motornya pelan, melewati gerbang juga Pak Satpam. “Bener, tuh, Pak. Jangan suuzan!” sambung Adel, yang masih duduk di jok belakang motor Putra. Ia yang merasa dibela itu pun tersenyum lebar. *** Setelah buru-buru memarkirkan motornya di halaman sekolah, Putra dan Adel buru-buru juga berlari menuju kelas. Mereka beriringan, Putra yang lebih dulu sehingga Adel tertinggal jauh. Namun, karena sadar, Putra pun berhenti dan menoleh ke belakang dulu. “Lama banget, sih? Ayo!” teriaknya pada Adel, seraya menunggu temannya itu sebentar. Namun, karena Adel justru kelelahan sambil memegang perut, Putra pun berdecak sembari menghampirinya. “Malah diem. Ayo, buruan! Hari ini jadwalnya guru kita yang galak itu. Kamu nggak mau, kan, kalau nanti kita dihukum?” ucapnya, begitu sudah di dekat Adel. Lantas, Putra menggandeng Adel untuk menuntunnya berlari. “Sebentar!” Adel pun menolak untuk berlari. Ia menepis tangan Putra, sebelum akhirnya kembali memegang perut. “Kenapa, sih? Lemah banget! Baru juga lari segitu? Ayo!” Putra kembali meraih tangan Adel. Kemudian menariknya untuk berlari. Namun, lagi-lagi Adel menolak. “Perutku kram kayaknya. Sakit banget ini!” Adel yang merasa kesakitan itu pun meringis. Ia juga menyengir, menandakan kesakitannya yang luar biasa. “Kamu masuk duluan aja. Aku nggak apa-apa kena hukum!” “Ah, God!” desis Putra. Karena takut terlambat, Putra pun hendak pergi sendiri seperti yang dikatakan Adel. Namun, baru saja ia berbalik untuk berlari, hati kecilnya melarang itu. Dalam sekejap Putra berbalik. Lantas, tanpa kata dan juga tanpa pikir panjang, Putra pun langsung memangku Adel yang masih meringis kesakitan. Bahkan, ia langsung berlari menuju ruang kesehatan, di mana para murid selalu beristirahat di sana saat merasa sakit. Sementara itu, Adel yang seketika syok itu langsung bergeming. Pandangannya yang tertuju pada Putra begitu tajam dan hampir tak berkedip selama beberapa detik lamanya. Berulang kali, Adel pun menelan ludahnya dengan susah payah. Ia benar-benar tak mengira kalau seorang Putra akan peduli pada orang lain, termasuk pada dirinya yang bahkan tidak memiliki ketenaran apa pun di sekolah. “Mimpi apa aku semalam? Si Putra kemasukan setan mana pula, sampai mau memangkuku segala. Padahal, aku sudah menyuruhnya pergi duluan!” batin Adel. Ia yang masih tak percaya pun berkedip cepat. Seolah sayang jika harus melewatkan sedetik waktu saja, tanpa melihat wajah lelaki yang mendadak peduli itu. “Jangan GR!” seru Putra, seolah tahu tentang apa yang dipikirkan Adel barusan. “Aku begini bukan karena peduli. Tapi, kasihan! Lagian, jadi cewek itu jangan lemah lah. Lari segitu aja udah bikin perut kram.” “A’elah! Kasihan sama peduli kan bedanya tipis. Gengsi ... bilang, Bos!” Adel pun menahan tawa saat menimpali temannya itu dalam hati. Ia tak peduli. Yang jelas, Putra sedang memangkunya sekarang. Dan, sekeras apa pun Putra berdalih, tetap saja, yang dilakukannya itu adalah tanda peduli. “Kamu mau bawa aku ke mana? Ini bukan jalan ke kelas, kan?” Akhirnya Adel bersua, setelah hanya diam dan merasakan setiap getar dalam dirinya. Iya, Adel memang serapuh itu. Sampai baru dipangku pun, perasaannya langsung tersulut. Ia merasa benar-benar beruntung, juga berharap kalau apa yang dilakukan temannya itu bukan menjadi yang terakhir. Melainkan awal dati kedekatan mereka. Putra tak menimpali temannya itu. Ia terus saja berjalan sampai akhirnya tiba di depan UKS. Lantas, tanpa sepatah kata juga, Putra segera membawa Adel masuk. Ia sudah merasa sedikit lelah, karena berat badan Adel yang lebih dari kata ideal. Mengetahui dirinya dibawa ke UKS, Adel pun langsung berkata “Oh” dalam hatinya. “Makasih.” Ia pun kembali membuka mulut. Tepat, ketika Putra meletakkannya di ranjang perlahan-lahan. “Sama-sama!” timpal lelaki berpenampilan necis itu. Kemudian, tanpa berucap pamit, Putra melengos pergi, meninggalkan Adel sendiri. “Dih! Pamit, kek. Astaga. Orang songong, ya, songong aja, ya. Untung ganteng. Coba kalau enggak. Ish!” Sambil meringis karena sakit di perutnya terasa masih memeras, Adel pun meringkukkan tubuhnya ke samping kiri. Selain kram karena berlarian, ia juga baru saja datang bulan semalam. Dan, tiap kali datang bulan, perutnya pasti sakit. Tak kunjung sembuh, Adel pun menelungkup. Namun, ia juga iseng memfoto dirinya yang wajahnya sambil terpejam. Lantas menguploadnya di f*******: dengan caption, “Bukan hanya kram karena berlari. Tapi, sakit ini memang selalu datang tiap bulannya. Aku ... selemah itu!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN