Bab. 54. Sarapan Sama-Sama
“Ah, ya Tuhan. Keluar dari kandang macan, tetiba berasa masuk kandang singa. Kenapa pula ni anak muncul pas aku mau keluar,” batin Delia sambil memaksa senyum karena Jenny sudah berada dekat dengannya.
“Ibu mau pergi? Kok, nggak liat ayah dulu?” tanya anak gadis di hadapannya itu.
Delia sontak berdeham dan mengedarkan pandangannya sekilas. Ia bingung harus menjawab apa sampai akhirnya ia memilih untuk membual saja. “Ibu mau ke toilet bentar aja kok barusan. Gimana ayahmu itu keadaannya?”
“Luka Ayah udah diperban. Jadi, ayah pasti baik-baik aja, kan?’ Jenny menyeringai senang karena akhirnya, ayahnya itu tak kenapa-kenapa. ‘Tapi, sekarang Jenny lapar. ibu juga, kan? Gimana kalau sekarang kita sarapan bareng dulu? Ayah lapar juga katanya. Tapi, tangan ayah ada lukanya.”
Jenny bicara panjang kali lebar, udah seperti orang dewasa. Hidup di bawah asuh seorang ayah tanpa hadirnya seorang ibu memang membuat Jenny tumbuh menjadi gadis dewasa di usianya yang bahkan belum tujuh tahun. Ia bahkan tak mendengar apa yang hendak dikatakan Delia terlebih dulu, melainkan langsung menarik tangannya menuju dapur.
“Sayang, pelan-pelan jalannya.” Delia pun akhirnya hanya bisa berkomentar soal langkah kaki Jenny yang terlalu cepat.
“Nggak apa-apa, Bu. Biar kita cepat sampai.” Jenny tersenyum-senyum tanpa menghentikan langkah kaki. Dan, setibanya di dapur Jenny pun langsung menodong Bi Muna untuk segera menyelesaikan masakannya. “Bibi masak apa emang?” tanyanya kemudian.
“Masak sop daging iga, Non. Biar seger kan pagi-pagi gini makan sop.” Pembantu di rumahnya itu menjawab tanpa melihat Jenny karena sedang sibuk mengangkat panci dari atas kompor ke meja makan. Ia hanya tersenyum-senyum sembari mengambil beberapa mangkuk kemudian. “Non mau makan di kamar Ayah?” tanyanya.
“Huum. Sama Ibu guru juga. Soalnya ayah nggak bisa makan sendiri. Harus disuapin kayak Jenny pas lagi sakit.” Gadis kecil itu kembali bicara seperti pemikiran orang dewasa.
“Anak pintar,” timpal Bi Muna yang seketika selesai dengan pekerjaan memasaknya. Lantas ia mengangkat nampan berisi tiga mangkuk sup lengkap dengan sebakul kecil nasi untuk dibawa ke kamar tamu di mana ada majikannya di sana.
“Biar aku aja, Bi.” Delia yang tak ingin malu karena tak melakukan sesuatu itu pun menawarkan dirinya untuk membawa nampan. Ia menyengir pada pembantu bosnya itu.
“Wah .. kebetulan saya mau beresin dapur dulu, Bu. Habis itu ngerjain yang lain. Makasih, ya.’ Bi Muna pun langsung menyerahkan nampan yang dibawanya pada Delia. Lantas, ia pun kembali sibuk di dapur.
Sementara itu, bersama Jenny, Delia pun masuk ke kamar di mana ada Luis di sana. Meski sebenarnya tetap merasa malu, tapi Delia sadar kalau dirinya memang perlu untuk melakukan itu. Setidaknya, itu karena ia adalah karyawan Luis.
“Permisi,” katanya begitu tiba di ambang pintu. Ia yang berjalan di belakang Jenny pun seketika masuk mengikuti Jenny. Lantas, dengan perasan tak keruan Delia membawa nampan yang dibawanya ke meja samping ranjang.
Dilihatnya Luis yang sedang terbaring lemah. Bosnya itu memiliki beberapa perban di tubuhnya karena luka jatuh. Delia meringis, karena ikut merasa sakit. Lantas, ia pun duduk di tepi ranjang sambil berdeham.
“Bapak nggak apa-apa?’ tanyanya, kikuk. Memanggil dengan sebutan bapak di luar kantor membuatnya merasa begitu geli.
“Nggak apa-apa, kok. Cuma masih ada sedikit ngilu di beberapa bagian anggota tubuh aja kok. Kamu pasti direpotin Jenny lagi, ya? Maaf, karena aku tak becus ngurus anak sendiri,’ katanya, seraya berusaha mengurai senyum di tengah-tengah perasaan sedih yang tak berkesudahan.
“Nggak, kok. Jenny nggak ngerepotin. Aku emang sudah sewajarnya datang untuk mengantar Jenny, sekaligus menengok Bapak.”
“Kenapa manggil Pak lagi? Semalam kita udah sepakat bukan, kalau kamu bisa memanggilku apa saja kalau di luar kantor.” Luis tertawa kecil karena merasa lucu dengan sikap, dan suara Delia yang khas.
“Ha, iya-iya.” Delia pun menggaruk tengkuk sampai akhirnya ia ingat akan tujuan masuk ke kamar. “Jenny bilang kamu lapar? Bi Muna udah masakin sup tadi. Dimakan, gih.”
“Kamu dah sarapan juga belum? Jenny bilang dia lapar.” Luis pun menimpali wanita yang duduk di sampingnya itu. Ia mengangguk sambil membatin. “Pantas aku mencium aroma lezat.”
“Belum lha, Ayah. Makanya, sekarang kita sarapan sama-sama. Ayah mau Jenny yang suapi, atau sama ibu guru?” tanyanya, sambil terkikik. Jenny mulai usil karena ingin menggoda ayahnya itu.
“Ayah makan sendiri aja, Sayang. Kan, nggak sakit-sakit banget.” Luis pun menimpalinya dengan santai, agar tak membuat Delis merasa sungkan. “Tapi, sopnya panas nggak? Kalau panas, aku mau minta bantuan ibu guru saja ya, buat siapin sarapan ayahnya. Kalau kamu yang siapin takutnya panas ke tangan.”
“Siap gerak!” Timpal Jenny yang seketika berdiri dari duduknya. Lantas, ia mengambil mangkuk bagiannya saja. Kemudian, Delia membantunya mengisi nasi.
“Hati-hati makannya, ya. Masih panas banget itu,” ucap Delis, cemas. Pasalnya, kepulan asapnya saja masih menguap banyak.
Jenny mengangguk sembari meniup sesendok nasi yang sudah ia aduk dengan sopnya. Lantas, melahapnya perlahan-lahan. Ia benar-benar lapar rupanya. Sampai-sampai begitu lahap, usai sopnya terasa hangat.
“Kalau susah, biar aku yang suapi nggak apa-apa, kan?” tanya Delis pada akhirnya. Ia yang melihat perban di sikut Luis merasa ngilu sendiri kalau Luis harus menggerakkan tangannya itu untuk menyuapi dirinya sendiri.
“Sebenarnya aku emang nggak yakin bisa makan sendiri. Tapi, aku juga nggak mau ngerepotin kamu,” timpal Luis. Ia sudah terlalu sering merepotkan Delia karena permintaan-permintaan Jenny.
“Nggak apa-apa.. Sekarang kan lain cerita. Kamu lagi sakit. Masa aku harus biarin kamu makan sendiri dalam keadaan seperti itu?” Delia pun lantas mengambil mangkuk bagian Luis, seraya mengisinya dengan sedikit nasi.
“Baiklah. Tapi, kamu pun sambil makan, ya?” pintanya. Aku nggak mau makan sendiri.” Luis pun langsung menyengir tipis usai bicara.
Delia mengangguk pelan meski tahu kalau Luis tak kan melihat apa pun yang dilakukannya. Lantas, ia pun mulai meniup dan menyuruh Luis untuk membuka mulut. Barulah setelah itu, ia menyuapi dirinya sendiri.
“Ya, ilah. Sarapan kok nggak ngajak-ngajak!” seru Firman yang baru saja datang. Ia memelak pinggang sambil menggeleng di ambang pintu. Lantas, berjalan masuk. “Masih ada semangkok lagi ternyata. Buat aku lha!” sambungnya.
Namun, Jenny seketika meneriakinya. “Itu punya Ibu Guru. Awas aja kalau diambil. Paman, kalau mau ya ambil sendiri di dapur. Sekalian temani Bi Muna yang kecapean.”
“Lha!” Firman pun berdecak. “Udah mulai berani ya kalian. Kamu juga Jenny. Masa mentang-mentang udah punya Ibu Guru, sekarang mau lupain paman. Tega!” serunya lagi.
“Dih, Paman!” Jenny menyeringai puas. “Kalau mau ya ambil Sendiri aku bilang. Dah lha sana. Aku mau lanjutin makan!” sambungnya seraya melahap habis sisa makanannya.
“Ya, ampun. Ya, ampun. Dah berani ngusir dia rupanya.’ Firman pun langsung melipat kedua tangannya itu di d**a. Bibirnya mengerucut persis anak kecil yang kehilangan jatah jajan. “Nggak bakal paman belikan ice cream lagi lho. Awas aja kalu minta jajan sama Paman juga,” sambungnya.
Sementara itu, Delia dan Luis yang mendengarnya pun langsung menahan tawa. Keduanya sibuk menyimak sambil melanjutkan sarapannya. Pun dengan Jenny yang tak menghiraukan Firman sama sekali. Ia justru asyik menyantap sarapannya itu.
“Wah ... ayah, anak, sama gurunya sama aja ternyata. Nyesel aku masuk ke sini. Taunya cuman dijadikan nyamuk aja!’ sungut Firman, sebelum akhirnya melengos pergi untuk meminta jatah sarapannya pada Bi Muna.
Namun, setibanya di dapur, Firman pun tertawa karena tak tahan dengan kepura-puraannya saat merajuk. Ia bahkan sampai terpingkal dan membuat Bi Muna keheranan.
“Mas Firman ini kesurupan setan mana, sih?” tanya Bi Muna seraya menggelengkan kepalanya, tanpa menghentikan apa yang sedang ia kerjaan.
“Setan cinta!’ serunya, di tengah-tengah gelak tawa.