Bab. 53. Ragu
“Telepon dari siapa, Sayang?” Delia yang baru saja selesai mandi itu pun menghampiri Jenny di ranjangnya. Ia duduk di samping Jenny seraya menggosok-gosok rambutnya yang basah. “Ayahmu lagi?”
“Bukan, Bu.” Jenny pun bermuka masam karena cemas dengan keadaan ayahnya di rumah. “Yang nelepon itu paman. Dia bilang Ayah cedera karena jatuh dari tangga,” sambungnya yang seketika langsung menangis. Ia menyapu air mata dan ingusnya bergantian sebelum kemudian berdiri dan mengajak Delia untuk cepat-cepat bersiap.
“Iya-iya, Sayang.” Delia yang juga terkejut oleh kabar tersebut pun seketika tercengo. Ia bahkan langsung gelagapan saat Jenny menyuruhnya untuk segera bersiap. Bingung, apa yang harus diutamakan.
Buru-buru Delia pun mengambil pakaiannya dalam lemari. Lantas, segera ia memakainya dengan gerakan cepat. Ia tak peduli dengan rambutnya yang masih basah setelah tadi melakukan keramas. Terpenting, ia harus cepat mengantarkan Jenny sekian untuk menengok Luis.
“Kapan ayahmu itu jatuhnya, Sayang?” tanya Delia usai memakai pakaiannya satu per satu. Lantas ia berdiri di hadapan cermin sambil menyisir rambutnya yang basah. Ia tak kan punya cukup waktu untuk mengeringkannya, sehingga membiarkan rambutnya itu tergerai dalam keadaan basah.
“Tadi malam, Bu. Usai nelepon sama Jenny.” Gadis kecil yang berdiri dan mengikuti ke mana pun Delia pergi itu menimpali ibu gurunya sambil terisak.
“Astaga. Jangan-jangan,” gumam Delia mengingat dirinya semalam merasa kesal karena Luis menutup telepon. “Dia menutup teleponnya karena jatuh?” sambungnya seraya cepat memakai pelembab di wajahnya. Lantas memoles sedikit bedak dan lipstik. “Ayo!” Ia pun berbalik ke arah Jenny.
Jenny yang sudah tak sabar itu pun mengangguk seraya meraih uluran tangan Delia yang hendak menggandengnya. Dan keduanya pun bergegas keluar kamar, setelah Delia meraih tas selendangnya di balik pintu kamar.
“Tapi.” Delia menghentikan langkahnya begitu keluar dari kamar. Ia melihat Jenny yang berjalan di sampingnya. “Kamu belum sarapan, Sayang.”
“Nggak apa-apa, Bu. Jenny sarapan di rumah aja nanti. Bi Muna pasti sudah masak kok. Ibu kan belum sarapan juga. Nanti kita sarapan bareng.”
“Ibu harus langsung berangkat kerja, Sayang. Nggak bisa lama-lama. Lagian, kemarin ibu udah bolos kerja. Sekarang pun ibu pasti akan datang terlambat.” Delia kembali melangkahkan kakinya menuju dapur untuk berpamitan terlebih dahulu pada ibunya.
“Bu, aku mau berangkat antar Jenny sekarang,” katanya di ambang pintu dapur.
“Lho ... nggak sarapan dulu? Kasian kalau nyampe rumahnya dia kelaparan. Ntar dikira kita telantari lagi,” timpal ibunya yang baru saja selesai memasak untuk sarapan. Ia mematikan kompornya, kemudian menghampiri Deli.
“Ayahnya Jenny jatuh dari tangga, Bu. Makanya Jenny minta cepat-cepat diantar pulang. Dia dah khawatir banget sama ayahnya.”
“Jatuh? Ya, ampun.” Ibunya pun menangkup mulutnya karena terkejut. “Kalau gitu kamu bawa sarapannya ke sana, deh. Biar nanti kalian makan di sana sama-sama.”
“Nggak usah lha, Bu. Jenny bilang, pekerja di rumahnya pasti sudah masak kok. Aku berangkat dulu, ya, bu. Assalamualaikum,” katanya, seraya buru-buru melengos pergi tanpa melepas genggam tangannya pada Jenny.
“Jangan nangis lagi, ya. Ibu berangkat sekarang. Ayahmu juga pasti nggak kenapa-kenapa, kok.” Jenny yang mengintil di sampingnya itu pun mengangguk sembari menyeka air mata juga ingusnya bergantian. Lantas berhenti nangis karena Delia sudah hendak membawanya pergi.
“Gimana kalau Ayah nggak bisa jalan, Bu? Kan, kasihan banget ayahku. Dia itu nggak bisa melihat, masa harus nggak bisa jalan juga. Ayah pasti makin kesusahan,” keluh Jenny yang begitu sangat mengkhawatirkan ayahnya itu. Ia pun kemudian naik ke motor yang sudah Delia hidup kan. lantas, ia memeluk erat wanita yang memboncengnya itu.
“Nggak lha. Ibu yakin kalau ayahmu baik-baik saja. Karena kalau parah, Paman Firman pasti udah bawa ayahmu itu ke rumah sakit. Benar tidak?” tanya Jenny, meski ia sendiri tak yakin dengan ucapannya.
“Benar juga. Tapi, tetap saja Jenny takut ayah kenapa-kenapa, Bu.” Suara Jenny melemah. Bahkan hampir tak terdengar karena terbawa embusan angin.
“Berdoalah. Minta sama Allah agar doamu itu dikabulkan.” Deli pun mengucapkan kata-kata andalan yang biasa ia terapkan untuk dirinya sendiri, tiap kali merasa cemas.
Jenny pun melakukannya. Ia terpejam sembari melantunkan doa untuk ayah tercintanya. Ia meminta agar ayahnya itu benar-benar tidak kenapa-kenapa. Namun, karena ada hal lain yang ia inginkan, doanya pun tak hanya seputar itu.
“Ya, Allah ... jadikanlah Ibu Delia jadi ibunya Jenny. Jenny mau punya Ibu kaya Ibu Delia karena Ibu Delia itu orangnya baik dan sayang banget sama Jenny. Ibu Delia juga pasti bisa merawat aku dan ayah,” katanya dalam hati.
“Kabulkan doa anak kecil yang sedang merasa cemas ini, Ya Allah.” Delia pun memohon dalam hatinya agar setiap doa yang dilangitkan Jenny terlaksana. Tanpa tahu, kalau Jenny sedang merayu Tuhan untuk menjadikannya sebagai ibu. Ia tersenyum, tapi kesedihan yang muncul karena kecemasannya pun tersirat jelas di wajahnya yang cantik.
“Jenny udah berdoa, Bu. Apa ibu mendoakan ayah juga?” Jenny kembali bersuara setelah sebelumnya bicara dalam hati saja pada tuhannya.
“Iya, Sayang. Ibu udah doain ayahmu biar dia nggak kenapa-kenapa. Ibu juga minta agar Tuhan mengabulkan doa kita,” jawabnya sambil tersenyum. Ia melajukan motornya lebih cepat lagi, karena situasi di jalan tak begitu ramai oleh lalu lalang. Namun, ia tetap mengutamakan kehati-hatian.
“Tuhan pasti kabulin doa Jenny sama Ibu,” balas Jenny yakin. Setelah tadi merasa begitu cemas, Jenny pun akhirnya sedikit merasa tenang dan lega. Ia mengeratkan pelukannya kembali karena merasa kalau laju motornya kian mengencang.
***
Sesampainya di halaman rumah Luis, Jenny yang baru saja turun dari motor pun berlari ke dalam rumah. Ia tak sabar untuk segera bertemu dengan ayahnya. Sementara itu, Delia yang bingung memilih antara masuk dulu atau langsung pergi ke kantor pun masih berdiri di samping motor.
Delia menatap lekat-lekat rumah bosnya yang pernah ia singgahi beberapa waktu lalu itu. Keinginannya untuk masuk dan menengok Luis sangat lah besar. Namun, ia juga tak mau datang terlambat ke tempat kerjanya.
“Aku langsung ke kantor saja lah. Nengok dia kan bisa sepulang dari sana, dari pada aku harus terlambat,” batinnya seraya kembali naik ke motor. Namun, belum juga ia nyalakan mesin motornya itu, seseorang sudah memanggilnya dari dalam.
Delia sontak menoleh dan melihat orang yang memanggilnya itu. “Duh!” batin Delia begitu melihat Firman mendekat ke arahnya. Padahal, ia baru saja akan berlangsung pergi ke kantor. Tak mau membuat Firman merasa diabaikan, Delia pun kembali turun dari motornya. Ia menyeringai saat Firman sudah berada dekat.
“Mau ke mana?” Firman berlagak resek di hadapan Delia. Ia tahu kalau teman satu pekerjaannya itu baru saja akan meninggalkan kediaman Luis.
“Kerja, lha. Aku pasti terlambat kalau nggak buru-buru pergi.” Delis menjelaskan sembari membenahi anak rambutnya yang sedikit berantakan karena embusan angin. Ia memalingkan tatapannya ke sembarang tempat karena ingin menghindari pertanyaan juga tatapan Firman yang tampak seperti orang sedang menyelidik.
“Kenapa nggak masuk dulu? Yang sakit bos kita sendiri lho. Masa nggak nengok?” pancing Firman, sengaja untuk membuat Delia semakin tak keruan. Pasalnya, dari reaksi Delia saja dia tahu, kalau temannya itu sedang merasa bimbang.
“Ntar sore lha aku mampir. Sekarang beneran udah telat aku tuh. Ya, aku pergi dulu, ya?” timpalnya seraya hendak kembali naik. Namun, tiba-tiba saja ia mendengar ucapan Firman yang mengejutkan. “Meninggal? Dih! Jan bercanda kamu! Masa Cuma jatuh dari tangga meninggal?” sambungnya.
“Aku tau kalau lukanya itu tidak begitu parah. Malah, sekarang lagi diobatin sama dokter Vie. Tapi, maksud aku, apa nggak sebaiknya nengok sekarang aja? Umur nggak ada yang tau lho.” Firman pun kembali menjelaskan maksud dari ucapannya barusan.
“Ya, iya. Tapi—“
“Nggak usah tapi-tapi lha. Ayo!” seru Firman seraya menarik sebelah tangan Delia. Ia membawanya masuk untuk menemui Luis di kamar tamu.
“Ya, ampun, Firman. Lepasin aku! Aku nggak mau nengok sekarang. Aku harus kerja. Nanti aja aku nengoknya!” cerocos Delia sembari berusaha menahan tarikan Firman. Sayangnya, tenaganya itu jauh lebih lemah daripada Firman. Ia kalah telak sehingga langkah kakinya sudah ada di dalam.
Namun, detik berikutnya, tangan Delia seketika terlepas dari genggaman Firman. Lelaki yang baru saja menyeretnya itu langsung menautkan kedua tangannya karena melihat Dokter Vie keluar dari kamar.
“Sudah selesai, Dok?” tanyanya, sembari memasang wajah caper. Firman bahkan sampai melupakan Delia yang mematung di belakangnya.
“Ish! Ketemu cewek cantik aja, langsung deh lebai!” batin Delia sambil berdecak. Ia yang tak mau melihat lebainya Firman pun langsung memalingkan wajah juga pandangan ke arah lain.
“Sudah. Alhamdulillah, lukanya nggak begitu parah. Dia hanya mengalami lebam-lebam karena benturan saja. Yang di bagian kepala pun sudah aku perban, kok. Nanti tinggal diganti aja kalau abis mandi,” jawabnya dengan lugas. Gadis seusia dengan Luis itu pun memerhatikan Delia barang sekejap sambil bertanya-tanya dalam hatinya.
“Syukurlah. Kalau gitu, mari biar aku antar ke luar Bu Dok,” katanya sembari mempersilakan Dokter Vie, dengan gerakan tangan lurus ke samping.
“Nggak apa-apa. Aku bisa keluar sendiri, kok. Kamu kan lagi ada tamu,” katanya, sengaja menyinggung soal kehadiran Delia di sana. Sebab, ia ingin tahu tentang wanita yang ia lihat itu.
“Ah ... dia mah bukan tamu, kok. Mari-mati,” katanya sambil melengos, menggiring Dokter Vie keluar tanpa memedulikan kehadiran Delia lagi. Meski, itu hanya sebagai upayanya untuk membuat Delia kesal sendiri.
“What?” Delia langsung menatap tajam ke arah Firman yang sudah melewatinya dengan tanpa peduli. “Kalau aku bukan tamu di rumah ini, ngapain coba narik-narik tangan kek barusan? Haish!” sungutnya. Ia benar-benar kesal sekarang, sehingga akan buru-buru keluar untuk berangkat kerja.
Namun, lagi-lagi, langkah Delia terhenti karena adanya panggilan dari seseorang. Delia kembali urung untuk meninggalkan rumah tersebut, usai melihat adanya Jenny yang berdiri tak jauh dari posisinya. Gadis kecil itu menyeringai lebar sebelum akhirnya kembali mendekati Delia.