Dokter Cinta

1778 Kata
Bab. 52. Dokter Cantik Luis langsung menutup teleponnya usai mendengar Jenny menyerahkan ponsel pada Delia. Ia tak bisa bicara lagi setelah sebelumnya merasa kikuk saat panggilan yang dilakukan Firman diangkat oleh Delia. Matanya terpejam sesaat sambil memelak pinggang. Ia juga memasang telinga, untuk bisa mengecek apakah Firman ada di sana atau tidak. Namun, karena tak ada apa pun yang dapat Luis dengar, ia pun yakin kalau Firman sudah kabur sejak tadi. “Oh ... Oh ... Oh, astaga!” desisnya sembari menepuk-nepuk d**a. Luis Pun menarik napasnya dalam-dalam, sembari mengembuskannya kemudian. “Sial! Dasar brengsek.” Luis mengumpat lagi dan lagi karena apa yang sudah dilakukan sopirnya membuat ia hampir merasa kehilangan detak jantung, karena copot saking cepatnya berdebar-debar. Ia juga berulang kali menendang kursi sampai kesakitan sendiri. Karena sudah malam, Luis pun berjalan pelan menuju kamarnya yang terletak di lantai atas. Ia menaiki satu per satu anak tangga dengan begitu hati-hati. “Tapi, gue seneng juga sih karena udah denger suara mereka. Sekali dayuh, dua pulau terlampaui. Begitulah. Ahaha!” batinnya sambil tertawa. Ia juga sempat berterima kasih pada Firman setelah sebelumnya mengumput habis-habisan. Namun, karena terlalu antusias, tiba-tiba saja Luis kurang kehati-hatian. Ia terpeleset di anak tangga yang ke delapan belas, sampai akhirnya jatuh dan menggelinding sampai ke bawah. Luis mengaduh kesakitan, ia juga meringkuk sembari memegang kedua kakinya saking merasa sakit akibat benturan demi benturan di betis. “Oh, astaga. Astaga sakit!” serunya sambil mengusap-usap betis kakinya itu. Ia juga meminta tolong, sampai akhirnya Firman dan Bi Muna datang dalam waktu yang hampir bersamaan. “Pak Luis? Oh, ya Tuhan. Aduh,” desis Bi Muna yang seketika duduk berjongkok di samping Luis. Ia menyentuh pergelangan tangan bosnya itu untuk membantu Firman. “Kenapa nggak nelepon gue kalau mau naik ke atas? Astaga!” omel Firman yang justru memarahi Luis karena khawatir. “Gimana kalau lu patah tulang? Geger otak? Cedera—“ “Angkut gue ke kamar, b******k. Malah ngomel lu!” umpat Luis, yang seketika kembali kesal pada Firman. Pasalnya, tadi ia sempat mencari sopirnya itu untuk minta diantar ke kamar. Tapi, Firman tak ada di dekatnya. “Ini juga mau elah. Ayo, bangun!” timpal Firman seraya mengangkat tubuh berat bosnya itu, dengan dibantu Bi Muna. Ia cemas, tapi bibirnya justru menyungging karena menahan tawa. Sebenarnya, Firman yakin kalau Luis begini karena terlalu senang setelah mendengar suara Delia. “Sakit kaki gue.” Luis mengeluh saat berusaha terbangun. Lantas, ia berdiri dengan hanya menapakkan satu kakinya saja. “Mau ke rumah sakit?” tanya Firman sembari menarik sebelah tangan Luis ke pundaknya. Lantas, ia pun membantu bosnya itu berjalan menuju kamar tamu. Keadaan Luis tak memungkinkan jika harus pergi ke lantas atas. “Nggak usah. Panggil dokternya aja besok. Gue mungkin Cuma cedera ringan.” Luis menimpali sopirnya itu dengan suara tertahan, sebab rasa sakit di kakinya membuat ia ingin meringis. “Gimana kalau cederanya parah? Gue nggak mau ya kalau lu nggak bisa jalan juga!” seru Firman, yang pada akhirnya kesal sempurna. Bosnya itu memang susah jika diajak memeriksa kesehatannya sendiri. Tidak seperti pada orang lain yang selalu lebih diperhatikan. “Berdoa saja. Gue yakin, Tuhan bakalan ngabulin doa kita. Dia pasti kasihan juga sama gue yang buta ini. Masa harus pincang juga?” timpal Luis sambil tertawa. “Tapi, Man. Gue nggak tau kenapa, meski rasanya sakit, tapi hati gue tetep merasa senang.” “Itu karena lu lagi jatuh cinta. Ah ... Astaga! Segera lah kirimkan jodoh untuk jomblo yang satu ini. Kasian gue liatnya!” Firman menengadahkan wajahnya sekilas, sembari mengucapkan seuntai doa. Namun, Luis justru menoyor kepalanya itu kuat-kuat. “Jomblo, jomblo l! Sendirinya apaan?” tanyanya sambil tergelak. “Ya, jomblo juga. Emangnya apa lagi?” timpal Luis, yang seketika membuat tawa keduanya kian menggelegar di tengah malam. Bi Muna yang melihatnya bahkan menggeleng heran, karena keakraban bos dan sopir itu. Ia pikir, orang-orang seperti mereka itu hanya ada satu banding seribu. *** “Aish!” desis Firman saat Luis lagi-lagi menolak untuk dibawa ke rumah sakit. Padahal, Firman tahu kalau cedera di kaki bosnya itu cukup parah. “Punya Bos keras kepalanya nggak ketulungan. Udah tau cedera juga,” sambungnya. Luis yang mendengar sungut Firman sedari tadi pun hanya tersenyum-senyum tipis sambil menggelengkan kepala di pembaringan. Sedari malam, ia memang tak beranjak ke mana pun karena kakinya itu susah untuk dipakai jalan. “Emang lu nggak bosen di rumah sakit? Gue sih kemarin aja bosen. Jadi, ya, udah. Mending lu panggil dokternya ke sini ajalah.” Luis akhirnya menjawab omelan Firman yang tak henti-henti sedari pagi. Perlahan ia pun duduk karena merasa ingin buang air kecil. “Mau ke mana lu?” tanya Firman saat Luis beringsut dari ranjangnya. “Ke kamar mandi. Bantuin napa? Sakit, nih, kaki gue!” seru Luis, usai menurunkan kedua kakinya ke lantai. Ia menoleh, melihat Firman dengan tatapan kosong yang hanya berdiri di sampingnya sambil memelak pinggang. “Hilih! Giliran butuh bantuan gue aja lu, minta tolong. Tapi nggak nurut lu sama gue,” sungut Firman, sambil beranjak membantu Luis. “Ngomel mulu, sih, lu?” Luis balas bersungut saat Firman mulai membantunya berdiri. Kemudian berjalan, dengan kaki terpincang-pincang. “Ikhlas nggak sih lu nolongin Bos sendiri?” sambungnya. “Kalau nggak ikhlas ya ngapain gue di mari dari semalam? Dah lah buruan, gue mau nelepon dokter cantik.” “Dokter cantik? Sapa, sih?” Luis yang baru saja sampai di ambang pintu kamar mandinya itu pun mengangkat sebelah alisnya. Ia tak merasa kenal dengan dokter cantik mana pun. “Vie Zebek. Siapa lagi?” “Haish!” Luis langsung mendesis sambil menundukkan wajahnya sesaat. “Dokter sengklek dia tuh!” sambungnya, yang seketika tergelak, mengingat Vie Zebek adalah teman semasa kuliahnya dulu. “Sengklek juga cantik, Bos. Kalau nggak malu sama jabatan, udah gue kawinin dia tuh. Serius,” timpal Firman sembari memasang wajah sok keren. “Gosah ketinggian mimpinya. Tenggelem tau rasa lu.” Luis kian terbahak karena kehaluan Firman yang mendadak kumat. Padahal, kemarin, sopirnya itu menghalalkan Adel untuk jadi istrinya. “Dah lah, tungguin gue di sini. Kencing dulu gue!” “Haish! Kencing, kencing lha sana. Gue mau telepon Dokter Vie dulu juga,” timpal Firman seraya beranjak pergi dari tempatnya berdiri. Ia menghampiri ranjang dan duduk di sana sambil cengengesan. Diteleponnya dokter yang ia maksud, dan panggilan pun langsung tersambung. Namun, panggilannya itu diangkat setelah beberapa detik lamanya Firman menunggu. Ia langsung berdeham dan menyapa balik, usai Vie menyapa lebih dahulu. “Siapa, ya?” tanya Vie, yang memang tak menyimpan nomor Firman. “Wah, wah, wah. Nomorku nggak di save ternyata?” Firman bersungut lagi sambil melihat layar ponselnya yang menunjukkan panggilan terhadap nomor yang benar. “Maaf?” Vie pun seketika merasa sedikit kesal, karena dirimu sedang bertugas di rumah sakit. “Kalau nggak ada hal penting atau darurat, sebaiknya jangan telepon!” “Aku Firman. Sopirnya Pak Luis. Ingat?” timpal Firman, sembari memperkenalkan dirinya. Padahal, beberapa waktu lalu, ia pernah berpapasan dengan dokter cantik itu, sampai mendapatkan nomornya. “Ah ... sopirnya si Kampret ternyata,” timpal Vie sambil berdecak, dan menyeringai. Ia tak mungkin melupakan teman sewaktu kuliahnya dulu. “Aish! Kalian ini kenapa saling mengejek, sih? Bukannya dulu itu temenan?” Firman menggeleng saling herannya. Ia tak mengerti, dengan apa yang membuat mereka seolah menjadi musuh bebuyutan yang kalau ketemu di jalan saja, selalu terlihat seperti orang ingin gelut. “Ada apa, sih? Atau, si Kampret itu menyuruhmu untuk meneleponku?” selidik Vie, yang seketika merasa percaya diri. “Aish! Bukan ...,” timpal Firman sambil berdecak. Ia yang kesal sendiri pun meremas rambutnya sendiri dengan sebelah tangan. “Lalu?” “Dia jatuh dari tangga semalam. Kakinya cedera. Tapi nggak mau dibawa ke rumah sakit. Gimana nggak stres aku tuh?” rengek Firman. Ia harap, orang yang diteleponnya mau membantu. “Apa?” Vie yang baru saja selesai bersiap untuk pergi bekerja itu pun berdiri. “Ngapa nggak bilang dari tadi?” sambungnya, seraya langsung beranjak meninggalkan kamar. Lantas, telepon tertutup seketika. “Aish?” sungut Firman kembali. “Giliran tau Bos gue sakit aja, cepet!” sambungnya. “Apaan yang cepat?” tanya Luis yang baru saja keluar dari kamar mandi. Ia menyibak rambutnya yang sedikit panjang itu ke belakang. Lantar bersandar di kusen pintu sambil melipat kedua tangan di d**a. Ia tak melihat ke arah Firman. Melainkan tertunduk sambil tersenyum-senyum. “Gada! Dah, buru baring-baring lagi sana. Dokter Vie langsung jalan ke sini,” katanya, sambil membuang napas berat. Meski dalam keadaan tidak melihat, bosnya itu selalu saja menjadi yang utama. “Serius?” Luis tak percaya. Pasalnya, dia dan Vie sudah lama tak berkomunikasi. Bahkan, saat mereka berpapasan di mall sama Firman pun, Vie tak memberi respons banyak. “Serius lha. Dia kan dokter. Apa pun masalah di antara lu sama dia, dia pasti bisa bersikap profesional.” Firman pun lantas menuntun Firman menuju ranjang lagi. “Tapi, omong-omong, gue belum ngasih tau Jenny. Gue juga belum dapat perintah. Jemput atau gimana?” tanyanya. “Jemput lha. Kasian Delia, direpotin mulu.” Luis membuang napas berat juga, mengingat dirinya yang tiba-tiba kehilangan nyali untuk membuktikan perasaannya pada Delia. “Woke! Gue telepon dulu lha,” balas Firman seraya menghubungi nomor Delia.. panggilannya langsung tersambung dan diangkat. “Hallo, Del?” sapanya lebih dulu. “Paman?” Yang menimpali Firman justru Jenny. “Sayang. Ibu gurunya mana?” tanya Firman. “Lagi di kamar mandi.” “Ho ... kalau gitu, bilangin sama Ibu guru, Paman mau otw jemput kamu gitu, ya?” ujar Firman kembali. Ia yang baru saja membantu Luis berbaring di ranjangnya pun bergegas keluar dari kamar. “Nggak usah, Paman. Ibu guru mau nganterin aku, kok.” Jenny pun tersenyum-senyum senang usai berhasil membujuk Delia untuk mengantarkannya dulu sebelum bekerja. “Ha ... baguslah kalau gitu. Soalnya, semalam, ayah Jenny jatuh dari tangga. Jadi, biarin Ibu Delia sekalian jenguk Ayah, ya?” pinta Firman, dengan sengaja memberitahu Jenny. Padahal, Luis sudah melarangnya. Ia tetap membandel. “Jatuh? Terus Ayah gimana sekarang? Ayah nggak kenapa-kenapa, kan?” Jenny langsung cemas. “Nggak apa-apa. Cuma cedera dikit aja di kaki sama kening.” Firman memberitahu Jenny lagi. “Ya, sudah. Kalau gitu udah dulu, ya.” “Iya, Paman. Tapi tolong jagain Ayah sebelum Jenny datang, ya?” pinta Jenny, seiring dengan air mata berderai. Ia takut kalau ayahnya itu kenapa-kenapa. “Iya, Sayang. Iya. Sekarang kamu siap-siap pulang, ya. Paman tunggu,” katanya, seraya menutup telepon usai mendengar Jenny mengiyakan kata-katanya. “Kekuatan cinta. Ya ... gue rasa, kekuatan cinta lah yang akan membuat Luis sembuh. Baik luka fisik, mau pun luka batin.” Ia bergumam sambil menyunggingkan bibirnya lebar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN