Rindu

1363 Kata
Bab. 51. Rindu Usai melewati drama Adel yang tiba-tiba muncul sambil bernyanyi hanya menggunakan handuk saja, keluarga semuanya pun melakukan makan bersama sebelum Luis pulang dan meninggalkan Jenny di rumah wanita yang disukainya itu. Namun, karena itu adalah pertemuan pertama mereka, Luis merasa sedikit canggung dengan obrolan mereka. Ia bahkan lebih banyak diam dan menjadi pendengarnya saja. Tidak ada obrolan spesial memang. Tapi, pertemuan keluarga tersebut menciptakan kesan manis di hati Luis. Ia menginginkan pertemuan itu kembali. Dan, kapan pun rasanya ia akan siap. Namun, karena sekarang waktunya sudah semakin sore, Luis un pamit tak lama setelah acara makan selesai. Lelaki berparas tampan itu meninggalkan anaknya dengan berat dan tak enak hati. Namun, perhatian yang diberikan Delia mau pun ibunya membuat ia yakin kalau mereka tulus dan tak keberatan. Lebih-lebih Delia, wanita itu terus saja mengajak Jenny bicara. Bahkan, tanpa Luis tahu ... Delia kerap membelai dan mencium puncak kepala anaknya itu. Ditinggalkannya rumah sederhana yang ditinggali tiga anggota keluarga itu. Luis dan Firman keluar dari halaman rumah menggunakan mobil yang dikendarainya. Lantas, keduanya pun sudah begitu jauh dalam waktu sekejap saja. Sementara itu, Delia yang baru saja dititipi anak itu pun langsung membawa Jenny ke dalam lagi. Hari sudah hampir gelap. Sebentar lagi adzan Maghrib akan berkumandang. Dan, mereka pun harus segera bersiap-siap untuk melakukan salat. “Jenny mau salat bareng sama Ibu apa sendiri aja?” tanya Delia usai masuk dan kembali duduk di ruang keluarga, sembari menyalakan televisi. Delia tahu kalau anak sekecil itu masih suka acara kartun. “Bareng Ibu aja, ya. Tapi, mukena Jenny kan nggak ada, Bu.” Jenny yang baru saja duduk itu pun seketika fokus pada apa yang dilihatnya dalam televisi. Kartun Upin-Ipin yang tayang menjelang Maghrib itu memang favoritnya. “Nggak apa-apa. Ibu punya cara lain untuk membuat mukena. Jenny pasti nggak tau.” Delia pun mencubit pipi anak gadis di sampingnya itu sambil tertawa kecil karena gemas. Ia bahkan mencubit keduanya sampai membuat Jenny sedikit bereaksi karena geli. “Apa itu, Bu?” tanya Jenny pada akhirnya. Meski telat, Jenny tetap merespons apa yang dikatakan ibu gurunya itu. “Ada lah. Nanti aja kamu liat sendiri, ya?” Jenny pun mengangguk-anggukkan kepalanya usai memahami apa yang dikatakan Delia, bahwa ... apa yang akan dikenakannya untuk salat pun masih rahasia. ia mengerti, meski tak cukup sabar menunggu adzan pada akhirnya. “Omong-omong, kenapa Ibu nggak mau ikut nganterin Jenny pulang? Kenapa tadi malah mau pulang duluan?” Jenny pun memfokuskan tatapannya pada Delis Sekarang. Sebab apa yang ditontonnya baru saja iklan. “Ibu pegel-pegel, Sayang. Ini ibu baru bangun tidur, istirahat bentar tadi. Lagian, kalau semisal tadi ibu nggak pulang, Jenny nggak mungkin nginep di sini. Coba, kira-kira Jenny milih yang mana? Ibu antar pulang, atau nginep di sini?” tanyanya, sambil menggerak-gerakkan sebelah alis pada Jenny. “Nginep!” timpal Jenny seketika. Ia juga langsung menghambur ke dalam pelukan Delia. “Jenny mau tau, gimana rasanya jauh dari Ayah.” “Lho, kenapa Jenny mau jauh dari Ayah?” tanya Delia Sembari mengelus puncak kepala gadis kecil yang memeluknya itu. Ia juga menciumnya di sana. “Nggak apa-apa, sih, Bu. Tapi, sejak Ibu meninggal, aku hampir nggak pernah jauh dari Ayah. Jadi, aku mau tau rasanya sekarang.” Jenny semakin erat memeluk. Namun, sejurus kemudian ibu dari Delia datang dan mengingatkan Adzan yang baru saja berkumandang. “Kita salat berjamaah, ya. Di mana Adel?” tanyanya. “Di kamar, Bu. Biar aku yang ingatkan,” timpal Delis sembari mendorong sedikit tubuh Jenny. Gadis kecil itu pun melepaskan pelukannya. Namun, adiknya itu tiba-tiba muncul dan menyahut. “Aku di sini,” katanya. “Ah ... Syukurlah kau keluar lebih dulu. Kalau nggak—“ “Tonjok!” sela Adel sambil tertawa. Lantas, ia pun pergi berlari ke kamar mandi. “Haish! Anak itu!” umpat Delia, sambil menahan tawanya. Membuat Jenny yang masih di sampingnya justru tertawa karena melihat ekspresi Delia. *** “Menurutmu, sedang apa dia sekarang?” Di ruang keluarga, Luis membuka mulut setelah sedari tadi hanya diam dan menikmati rokok yang diisapnya perlahan-lahan. Ia mencocokkan puntung rokoknya itu di asbak. Firman sedang bersamanya. Mereka sama-sama sedang menikmati malam sambil merokok. “Ya, mana gue tau, Bos. Telepon lha!” timpal Firman, sembari menahan tawa. Ia tahu kalau Luis tak hanya sedang memikirkan Jenny, tapi juga memikirkan Delia. Diisapnya dalam-dalam rokoknya itu, sebelum kemudian ia embusan lewat mulut juga hidungnya sampai mengeluarkan banyak kepulan asap. “Nggak usahlah. Pasti mereka udah tidur.” Luis menolak karena malu, dan takut kalau sampai dirinya itu mengganggu. Lebih-lebih, ia takut dikira berlebihan. Namun, perasaannya justru kian tak tenang. “Lha, kalau nggak dicoba ya nggak bakal tau. Gimana kalau Jenny nggak bisa tidur gegara jauh dari lu. Dia kan nggak pernah ke mana-mana tanpa ayah kesayangannya ini.” Firman memanasi bosnya itu agar sedikit lebih berani untuk memulai lebih dulu. “Iya, sih. Tapi, kan—“ “Ya, dah. Sini biar gue yang telepon!” sela Firman sembari mengambil ponsel Luis di meja. Bosnya itu seketika berlonjak dan hendak merebut ponselnya lagi. Tapi, karena tak dapat melihat apa-apa, ia tak bisa menangkap Firman. Sopir yang sudah dianggapnya sebagai keluarga sendiri itu sudah berdiri dan menghindari Luis sambil menahan tawa. Firman langsung menelepon nomor Delia meski Luis berulang kali melarangnya. Panggilannya bahkan langsung diangkat begitu tersambung. Dan, Firman pun langsung menyerahkan ponselnya pada Luis. Teleponnya diangkat!” bisik Firman usai mengembalikan ponsel Luis. Ia terkikik dan kemudian berlari meninggalkan Luis sendiri. Ayah dari Jenny itu berdeham kikuk sebelum akhirnya berucap pelan. “Assalamualaikum. A-aku, itu ... Jenny?” tanyanya. “Waalaikum salam. Sebentar,” timpal Delia, sama kikuknya. Ia yang sedang bercerita untuk mengantar Jenny tidur pun langsung memberikan ponselnya pada Jenny. “Ayahmu, Sayang. Dia ingin bicara.” “Nggak mau, ah. Ibu aja yang bilang kalau aku baik-baik saja,” timpal Jenny yang sedang melihat-lihat buku bergambar milik Delia. “Lho ... kok, Ibu. Ini, ngomong sebentar aja nggak apa-apa,” ucap Jenny, memaksa karena ia tak mau kalau Luis sampai kecewa. “Ish! Ayah ini mengganggu saja,” sungutnya seraya duduk. Jenny juga menutup buku bergambarnya. “Sini, Bu. Biar Jenny omeli dulu,” sambungnya. “Lha,” desis Delis Sembari menyerahkan ponselnya. “Omelin aja ding nggak apa-apa,” batinnya sambil tertawa. Namun, setelah beberapa menit Jenny berbincang dengan ayahnya itu, yang terdengar oleh Delia justru obrolan asyik dan manis. Ia tak mengira kalau Luis adalah sosok ayah yang hangat. Lelaki yang mengaku menyukainya itu mengurus Jenny seorang diri. Tapi, ia berhasil membuat Jenny menjadi anak yang baik. Di samping Jenny, entah kenapa Delia merasa hatinya itu terenyuh. Ia bahkan sampai berkaca-kaca, sebab merindukan ayahnya yang telah tiada juga. Dulu, Jenny selalu mengobrol penuh hangat seperti itu saat ayahnya bekerja di luar kota. “Oh, iya, Ayah. Tadi tuh, ya. Pas salat Maghrib, aku pake kain sarung yang dibikin kayak mukena lho. Ibu guru yang buat. Dibikin kayak ninja dulu awalnya. Pokonya bagus, deh. Ayah pasti nggak tau.” Jenny kembali bercerita. Dan, ceritanya itu pun sukses membuat Delia akhirnya senyum sambil menangis. Wanita berparas cantik itu buru-buru menyapu air matanya sambil menghela napas. Ia masih ingin mendengarkan obrolan Jenny dan Luis. “Iya, kah? Ayah emang nggak tau kayaknya, Sayang.” “Iya, Ayah. Abis salat, jadinya aku sama Bu Guru main ninja-ninjaan. Aku jadi ninjanya.” “Wah, seru.” Luis pun ikut tertawa saat Jenny menertawakan dirinya sendiri. “Seru dong. Apalagi kalau ada Ayah. Pasti tambah seru. Sayangnya Ayah nggak ada. Tapi, Ayah ... Jenny ngantuk. Jenny tidur, ya?” “Ha, iya, Sayang. Udah jam delapan juga sekarang. Kamu pasti udah ngantuk banget, kan?” “Huum,” timpal Jenny sambil menguap. “Ayah lanjut ngobrol sama Ibu Delia aja, ya? Nih, Bu!” sambungnya sembari menyerahkan ponsel tanpa mendengar jawaban Luis terlebih dahulu. “Heh?” Delia mengernyitkan wajahnya. “Udah?” “Jenny mau bobok. Ibu aja lanjutin ngobrolnya. Ayah pasti susah tidur gara-gara aku nggak ada. Kasian,” jawabnya. “Ah, i-iya.” Delia menjawab kikuk. Lantas, ia pun menempelkan ponselnya di telinga. Namun, ia justru tak mendengar apa-apa sehingga cepat melihat layar ponselnya dulu. “Haish! Teleponnya mati?” batinnya sambil berdecak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN