Semakin Manis

1639 Kata
Bab. 50. Semakin Manis Firman membangunkan Luis begitu ia sudah sampai di depan rumah Delia yang jauh dari kata mewah seperti rumah yang dimiliki Luis. Lelaki yang masih memeluk Jenny pun membuka matanya seketika. Ia mengedip-ngedipkan matanya, berusaha mengingat apa yang sedang ia lakukan setelah lelap dalam perjalanannya. “Sudah nyampe?” tanyanya seraya berdeham dan kemudian duduk tegak tanpa melepaskan pelukannya dari Jenny. Ia bahkan langsung mengecup puncak kepala anaknya itu sebagai upaya membangunkan. Kemudian mengusap-usap rambutnya dengan lembut sampa Jenny menggeliat “Udah. Itu rumahnya.” Timpal Firman seraya menunjuk rumah sederhana bercat biru muda. Di depannya terdapat taman kecil dengan beberapa bunga sebagai hiasannya. Luis menoleh, ingin melihat, namun ia mau pun Firman lupa kalau Luis adalah seorang buta yang tak dapat melihat apa-apa. Bibirnya yang semula menyungging senang pun akhirnya tersenyum pedih. Ia sadar akan dirinya. “Jenny. Sayang. Ayo, bangun, Nak. Kita udah sampai di depan rumahnya Ibu Delia.” Luis pun mengelus-elus kepala anaknya itu kembali sambil berbisik. Kali ini Jenny membuka mata setelah menggeliat lagi dan lagi. Ia juga tersenyum saat mendapati wajah ayahnya begitu bangun. “Kita udah sampai, Ayah?” tanyanya sambil menguap. “Huum,” timpal Luis sembari melebarkan senyumannya. “Ayo, turun.” Jenny yang bahkan masih belum sepenuhnya sadar itu pun langsung turun dari gendongan ayahnya. Ia ingin segera turun sehingga cepat-cepat beringsut dan membuka pintunya cepat-cepat. Pun dengan Firman, ia turun lebih dulu dari Luis sehingga dapat melihat Delia lebih dulu juga. Gadis berambut panjang dan lurus itu baru saja kelua dari rumahnya dengan pakaian santai. Kaos merah muda, beserta boxer cewek sepaha. Firman menyengir begitu Delia menyadari kedatangannya. Sementara itu, Delia yang baru keluar langsung mengucek mata karena tak percaya. Ia keluar karena sumpek setela memikirkan Luis terus. Tapi sekarang, Luis justru ada di hadapannya. Buru-buru ia pun masuk dan mencondongkan kepalanya saja. “Mereka ini ngapain coba ke sini? Hih! Kok, jadi berasa horor.” Delia bergidik ngeri karena merasa diikuti terus menerus oleh Luis. “Baru juga aku pulang, eh ... mereka malah ke sini.” Diintipnya Firman dan Luis yang sudah berjalan menuju rumahnya. Delia pun kabur saat teman dan bosnya itu sudah semakin dekat. Ia tidak sedang memakai pakaian sopan, sehingga perlu untuk menggantinya terlebih dahulu sebelum menyambut tamu. Ia membuka pintu kamarnya dengan keras. Pun saat menutupnya karena terlalu buru-buru. Lebih-lebih karena jantungnya itu berdebar amat kencang, sehingga membuatnya tiba-tiba saja gugup dan tak keruan. Delia menyandarkan tubuhnya di balik pintu. Ia juga memegang dadanya dengan kedua tangan saking merasa kalau jantungnya itu akan meloncat. “Tenang, Delia. Tenang.!” Batinnya seraya mengatur napas. Ia terpejam kuat saat menarik napas, kemudian mengembuskannya sambil membuka mata. Lantas, setelah merasa dirinya sedikit jauh lebih baik, Delia pun beranjak mengambil pakaian untuk ia pakai. Setidaknya, ia ingin mengganti celana pendeknya dengan celana panjang. Kemudian memakai sweater dari kain rajut. Namun, baru saja ia memakai celananya itu, suara ketukan pintu terdengar nyaring. Ucapan salam bahkan terdengar lebih nyaring lagi, saat Deli cepat-cepat memakai sweaternya. Ia pun berteriak, “Tunggu sebentar!” katanya seraya buru-buru merapikan rambut yang tampak sedikit berantakan. Akan tetapi, ibunya yang juga mendengar ucapan salam pun langsung keluar dari kamar. Ia hendak membuka pintu sehingga Delia keduluan. Ibunya itu melihat satu per satu orang di hadapannya begitu membuka pintu. Ia sama sekali tak mengenalnya, kecuali Firman. “Nak Firman?” sapanya sambil tersenyum. “Ayo, masuk. Duh ... maaf lama buka pintunya. Tadi, ibu lagi nanggung. Delia juga kayaknya baru beres mandi.’’ “Nggak apa-apa, Bu. Kami justru nggak enak karena udah mengganggu istirahatnya Ibu. Tapi, Ibu udah sehat, kan?” tanya Firman setelah dipersilakan masuk. Ia, Luis dan Jenny pun duduk di kursi tamu. “Ngerepotin gimana? Ibu justru senang kalau Nak Firman datang. Tapi, ini siapa, ya kok cantik banget?” tanyanya pada Jenny. Ia bahkan mencubit pelan pipi Jenny yang gembil itu. “Jenny, Nek.” Gadis kecil itu menjawab sendiri saat ditanya tentang siapa dirinya bagi Firman. “Itu omnya aku. Dan ini ayahnya aku,” sambungnya sembari menunjuk Firman dan Lis bergantian. “Oh ... pantas cantik, ya? Om sama ayahnya ganteng-ganteng.” Ibu dari Delia itu bicara lagi sambil tersenyum. Lantas, ia pun pamit untuk memanggil Delia dulu. “Sekalian Ibu ambilkan minum, ya. Sebentar,” sambungnya. Jenny mengangguk. Pun dengan Luis dan Firman yang seketika mengiyakan. Namun, baru saja wanita paruh baya itu berbalik, Delia sudah ada di hadapannya. Ia langsung berseru, “Nah ... itu Delia. Sini, Nak. Itu lho temanmu datang. Ibu mau ambil minuman dulu. Kamu temani, ya.” “Iya, Bu.” Delia menjawab kikuk setelah tadi mendengarkan percakapan ibu dan temannya itu dulu. Lantas, ia pun bergabung di ruang tamu bersama Luis dan firman. Hening. Ruang berukuran tiga kali tiga meter itu seketika berubah hening. Tak ada obrolan apa-apa sampai akhirnya Jenny yang memulai obrolan lebih dulu. Gadis kecil itu langsung menyampaikan apa yang tak bisa disampaikan Luis, bahwa ia akan menginap. “Menginap?” tanyanya seketika. Pandangan yang semula tertuju pada Jenny pun beralih pada Luis dan Firman bergantian. Namun, dua lelaki di hadapannya itu tak menjawab. “Kenapa?” sambungnya. “Nggak boleh, ya, Bu?” Jenny justru balik bertanya, dengan tatapan melas. Bibirnya bahkan berkedut, seperti orang yang sedang menahan tangis. Ia sedih karena Delia seperti hendak menolak keinginannya untuk menginap. “Bukan nggak boleh—“ “Berarti boleh?” sela Jenny yang seketika kembali mengubah air mukanya dalam sekejap mata berkedip. Ia langsung merasa senang kembali meski Delia belum benar-benar membolehkannya. “Iya, tapi kenapa, Sayang?” tanya Delia lagi yang masih tak mengerti dengan jalan pikiran Jenny. Bahkan, tatapannya pun masih sesekali tertuju pada Firman dan Luis bergantian “Karena Ayah, Bu.” Jenny pun menjawab. “Lho ... kenapa ayahnya?” Delia semakin penasaran. Bahkan sampai mikir kalau ayahnya Jenny sudah dengan sengaja meminta Jenny untuk menginap agar hubungan mereka semakin dekat. Namun, pemikirannya itu seketika terbantahkan oleh jawaban Jenny. “Jadi ... hanya karena ayah nggak mau belikan ice cream, Jenny mau nginep di sini?” sambungnya. “Iya, Bu. Ayah tuh pelit banget, kan? Masa Cuma mau ice cream aja nggak boleh?” Jenny pun beringsut mendekati Delia. Lantas, ia pun bergelendot pada gurunya itu. “Jadi, Jenny beneran boleh nginep di sini, kan?” Delia menatap Lis dan Firman lagi sebelum mengangguk atau menggeleng. Ia bingung harus menjawab apa. Tatapannya itu menyiratkan pertanyaan pada Firman, tentang apa yang harus dikatakannya pada Jenny. Karena Firman ingin agar Jenny menginap saja, ia pun menganggukkan kepalanya pada Delia agar menyetujui saja yang diinginkan anak dari bosnya itu. Karena selain kondisi Jenny yang belum sempurna pulih, ia pun ingin agar hubungan Luis dan Delia semakin dekat. “Aku sudah melarang dan membujuknya, Delia. Tapi dia tetap ingin pergi ke sini. Aku tak punya pilihan. Tapi maaf kalau itu akan merepotkanmu. Aku akan membawa Jenny pulang saja.” Luis pun berucap sebelum Delia sempat menjawab keinginan Jenny. “Jenny nggak mau pulang, Ayah. Jenny mau di sini!” rengek Jenny pada akhirnya. Ia yang tak ingin pulang pun langsung memeluk Delia dengan erat. Delia yang bingung pun akhirnya memeluk Jenny juga sembari menariknya ke dalam gendongan. “Jenny mau nginep di sini, Sayang?” tanyanya. “Iya, Bu. Jenny nggak mau pulang!” timpal gadis kecil itu sambil terisak. “Baiklah kalau gitu, Jenny boleh nginep di sini. Tapi, Jenny nggak boleh minta ice cream lagi sama Ayah ya? Jenny juga nggak boleh marah sama ayah. Ayo, sana minta maaf dulu,” katanya seraya meraih kedua pipi gadis kecil itu sambil tersenyum. Ia menatap kedua mata Jenny sambil mengangguk-angguk. “Iya, Ibu.” Jenny pun tersenyum di sela-sela tangisnya. Kemudian itu turun dari pangkuan ibu gurunya itu untuk menghampiri Luis segera. “Maafin Jenny ya Ayah,” sambungnya seraya memeluk Luis. ‘Iya, Sayang. Kamu juga nggak oleh nakal di sini, ya? Kalau mau pulang, segera minta Ibu Guru untuk hubungi ayah. Paham?” “Jenny nggak bakal mau pulang, kok,” jawabnya yang seketika membuat Delia tertawa keci. Anak bosnya itu benar-benar lucu. “Ya, kan kalau, Sayang. Kali kamu nggak betah dan mu dipeluk Ayah. Kan biasa juga gitu.” Luis berdeham usai bicara karena merasa sudah dipermalukan oleh anaknya sendiri. Namun, ia tetap berusaha terlihat tenang. Padahal, jauh di dalam lubuk hatinya, ia amat sangat tak keruan di dekat Delia. “Kalau gitu, Ayah pulang dulu, ya?” sambungnya. “Lho, kok pulang? Ini minumannya belum diminum.” Ibu dari Delia pun datang di waktu yang tepat. Karena meski pun perasaannya tak keruan saat berada dekat dengan Delia, Luis masih ingin berlama-lama di sana. Ia tersenyum tipis, karena senang. Lebih senang lagi karena Delia pun melarangnya untuk pulang cepat-cepat. “Aku jadi merepotkan, Bu. Maaf sekali,” timpal Luis. Ia yang seketika tambah tak keruan itu pun menautkan kedua tangannya karena gemetar. Ia merasa seperti sedang menghadapi calon ibu mertua, untuk meminta anaknya untuk dinikahi. “Ngga apa-apa. Tapi, omong-omong, kalian ini kenal di mana sama Delia? Ibu kok baru kali ini liat kalian?” tanyanya. Namun, saat Luis hendak menjawab, tiba-tiba saja terdengar suara perempuan sedang menyanyi dengan suara cempreng dan fals. Semua yang ada di ruang tamu pun seketika menoleh ke arah sumber suara. “Astaga!” seru Delia, Firman dan juga ibunya itu hampir bersamaan. Pasalnya, wanita yang baru saja menyanyi itu adalah Adel. Adik dari Delia itu baru selesai mandi sehingga tak mengetahu adanya tamu, sampai saat dirinya melewati mereka dengan hanya memakai handuk saja, ia menjerit kaget. “Hua ...!” teriaknya seraya menangkup kedua belah dadanya dengan tangan. Kemudian lari ke kamar. Sementara itu, Firman yang juga menaruh hati pada Adel itu pun memalingkan tatapannya sambil menelan ludah dengan susah payah. “Apa itu tadi?’ batinnya sambil menghela napas panjang. “Kenapa dia tampak semakin manis saat hanya memakai handuk saja?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN