Bab. 49. Ingin Menginap
Luis menggaruk pelipisnya dengan telunjuk, sesaat setelah dia mengabulkan permintaan Jenny untuk menginap di rumah Delia. Ia benar-benar tak mengerti dengan jalan pikirnya sendiri. Belum lama berlalu sejak ia membahas soal kedekatannya dengan Delia pada Firman, sekarang dia justru akan membuat hubungan Jenny dan Delia semakin dekat. Padahal, sebelumnya, ia sudah memutuskan untuk tidak menggunakan Jenny sebagai alasan kedekatan mereka.
Lelaki berpenampilan necis itu pun berdiri sembari menghela napas panjang. Kemudian mengembuskannya sembari mengangguk pasrah dengan apa yang akan terjadi setelahnya. ia tak kan menciptakan batas dengan sengaja. Atau menghindar hanya karena tak enak hati. Ia akan menjalaninya sesuai takdir yang direncanakan Tuhan.
‘’Man ... lu cek gih ke bagian administrasi. Kali, berkas-berkasnya udah siap dan tinggal lu ambil,’’ titahnya pada Firman usai berdiri dan merapikan pakaiannya.
Sebenarnya, Luis pun sudah merasa sumpek karena seharian di rumah sakit terus. Itu kenapa dia ingin sekali segera pulang. Terlebih, tujuannya sekarang adalah rumah Delia. Ia tak bisa memungkiri hati kalau dirinya sangat menyukai debar di dadanya tiap kali bertemu dengan gadis yang dipujanya itu.
Firman mengangguk, menurutinya. Lantas ia segera pergi menuju tempat administrasi. Namun, baru saja hendak berdiri, perawat yang ditunggunya datang membawa berkas. Ia tak jadi pergi.
‘’Sodara Jenny sudah boleh pulang sekarang, ya. Jangan lupa untuk beristirahat total sampai benar-benar merasa baik, ya, Sayang,” katanya pada Jenny setelah memberikan berkas yang dibawanya pada Firman. Perawat yang sering kali memberi perhatian lebih pada setiap pasien itu pun tersenyum sembari mengusap rambut Jenny.
“Makasi, Suster,’’ timpal Jenny sembari membalas senyuman perawat tersebut dengan cengiran khasnya yang lucu.
Perawat itu pun pamit seraya menganggukkan kepalnya saat pamit. Sehingga membuat Luis seketika memerintahkan Firman untuk menggendong Jenny. Sementara ia menjinjing tas bekas baju ganti Jenny selama di rumah sakit. Ia juga memegang ujung jas Firman agar tak salah jalan saat membuntutinya dari samping.
‘’Nasib, nasib!” serunya seraya menghela napas panjang. Ia benar-benar kesusahan tanpa anjingnya.
Namun, beruntungnya, anjing itu sudah sehat betul. Sehingga besok bisa ia bawa ke kantor untuk mempermudah aktivitasnya. Dengan begitu, ia juga tak kan kesusahan saat hendak pergi ke kantin saja. Meski jarang sekali Luis bepergian karena keadaan dan pekerjaan yang selalu menumpuk. Tapi kali ini, ingin selalu unjuk diri di hadapan Delia.
Perjalanannya menuju halaman rumah sakit tak mendapati kendala. Mereka sampai dengan aman meski harus terpatah-patah Luis karena matanya yang tak bisa melihat itu. Ia beruntung karena adanya Firman yang tak pernah keberatan tiap kali dimintai pertolongan.
“Jenny duduk sama Ayah di depan, ya.” Luis pun menggiring anaknya itu setelah diturunkan dari gedongan Firman. Lantas, ia menyuruh anaknya untuk masuk terlebih dahulu. Barulah setelah itu, dirinya masuk dan duduk di samping Jenny.
“Besok jangan langsung jemput Jenny, ya, Ayah.” Anaknya itu memulai pembicaraan setelah Firman masuk dan hendak menyalakan mesin mobil yang dibawanya.
‘’Lho ... kenapa? Bu Delia kan besok kerja, Sayang. Terus kamu sama siapa dong?”
Luis langsung menggeleng karena merasa, mungkin, anaknya itu sudah keterlaluan dalam meminta segala hal yang menyangkut Delia. Lebih keterlaluan lagi saat Jenny menjawabnya, bahwa ia akan meminta pada Delia untuk ikut ke kantor. Anaknya itu menyengir lebar sembari melihat Luis yang juga menoleh ke arahnya.
“Tapi, Sayang. Kamu, kan harus istirahat. Kalau ikut ke kantor, itu artinya kamu kan kecapean. Memangnya kamu mau kalau nanti masuk rumah sakit lagi?’’ tanya sang Ayah yang terpaksa membohongi anaknya itu hanya agar tak meminta yang jauh lebih nggak penting lagi.
“Istirahat itu kan bukan berarti harus tidur, Ayah. Aku harus berkeringat tiap hari,” timpa Jenny seraya kemudian fokus pada jalanan yang ia lihat lewat jendela kaca mobil. Ia menarik kedua sudut bibirnya itu karena barus saja melihat adanya anak kecil yang berjalan dengan langkah ceria di pinggiran jalan.
“Suka-suka kamu lah Jenny,” timpal Luis pada akhirnya. Dia yang tak lagi dapat mengendalikan anaknya sendiri pun akhirnya pasrah. Sesuatu yang diinginkan Jenny yang menyangkut Delia memang tak bisa i larang sama sekali. Jenny selalu saja keras kepala dan punya jawabannya sendiri.
“Gitu dong. Bar namanya ayah Jenny. Tapi Paman, bisa berhenti sebentar nggak?” pintanya kemudian pada Firman.
“Apa lagi, sih, Sayang? Ini kita lagi di jalan lho.” Luis berkomentar sambil menggeleng juga berdecak.
“Ih ... si Ayah. Itu lho ada anak kecil cewek yang lagi mondar-mandir di jalan ikutin ibunya kayaknya. Jenny ada uang sedikit. Jenny mau kasih.” Jenny pun membuka jendela mobilnya itu. Lantas ia melambai dan berteriak pada anak gadis yang dimaksudnya untuk mendekat.
Gadis kecil yang penampilannya saja jauh berbeda dengan Jenny itu berlari menghampiri mobil yang ditumpangi Jenny. Segera Firman pun menepi karena situasinya, dia sedang di jalan raya. Ia tak bisa berhenti begitu saja tanpa menepikan mobilnya dahulu ke luar jalan.
Luis seketika terharu dengan sikap anaknya itu. Memang bukan yang pertama. Jenny kerap melakukannya tiap kali berhenti di lampu merah. Tapi, menyuruh Firman untuk berhenti karena ingin memberi adalah hal pertama. Ia tak mengira kalau anaknya memiliki kesensitifan tentang hal-hal semacam itu.
“Hai,” sapa Jenny begitu anak yang dipanggilnya itu sudah berada di samping pintu mobil. Ia memberikan senyum terbaik seraya menyodorkan tangan. “Aku Jenny. Kamu sapa?” tanyanya kemudian.
Gadis di hadapannya itu tidak langsung menjawab. Ia mengedarkan pandangannya terlebih dahulu ke dalam mobil, karena takut kalau itu sebenarnya adalah penculikan. Namun, seolah paham, Jenny pun mengatakan kalau orang yang ada di dalam itu adalah ayah dan pamannya.
“Kamu mau beli ice cream nggak?” tanya Jenny kembali, masih menyodorkan tangannya sambil tersenyum lebar.
Anak kecil berambut sebahu dengan pakaian kumuh itu kemudian mengangguk dan menerima uluran tangan Jenny. Ia tersenyum ragu pada awalnya sembar memberitahu namanya. “Aku Anisa. Terima kasih,” katanya.
‘’Wah ... namamu cantik, ya? Sebentar, aku ada sesuatu buat kamu.” Jenny pun menarik tangannya itu setelah mendapat uluran tangan. Ia segera meraih tas berisi pakaiannya.
Tas yang dibawa Firman saat pulang untuk membawa baju ganti Jenny itu telah diisi satu boneka juga oleh Bi Muna. Namun, Jenny sama sekali tak memainkannya karena sibuk dengan ponsel yang ia pinjam dari Firman. Itu kenapa, karena ia punya banyak boneka juga, ia hendak memberikan boneka tersebut.
“Ini,” katanya seraya menyodorkan tangannya lagi ke luar mobil. “Buat kamu,” sambungnya sambil menyunggingkan senyum paling tulus.
“Buat aku?” tanya Anisa. Ia heran sekaligus bingung karena takut kalau dirinya itu baru saja salah mendengar.
“Iya, Nisa. Itu buat kamu. Coba kamu liat dalam saku bonekanya. Di sana aku simpan uang untuk kamu beli ice cream.” Jenny tersenyum lagi. Kali ini senyuman itu berarti rasa bangga pada dirinya sendiri.
‘’Serius ini buat aku? Aku suka sekali. Sekali lagi makasih, ya, Jenny. Aku pasti merawat boneka pemberian dari kamu ini baik-bik. Dan, aku harap, suatu hari anti kita bisa bertemu lagi. Aku ingin membelikanmu ice cream juga,” timpal Anisa dengan riangnya. Ia tak peduli dengan uang yang diberikan Jeny. Karena boneka saja rasanya sudah cukup membuat oa bahagia.
“Aamiin. Semoga Allah mendengar doamu, doa kita.” Jenny mengangguk seraya mengaminkan kata gadis seusianya itu. “Tapi, maaf ... sekarang aku harus buru-buru. Sampai jumpa lain kali, ya, Anisa. Bye!’’ sambung Jenny sembari melambaikan tangan.
Gadis kecil d hadapannya itu pun melambaikan tangannya sambil tersenyum semeringah. Sementara mobil yang ditumpangi Jenny itu kembali bergerak dan melaju sehingga membuatnya semakin jauh dengan Jenny.
“Anak Ayah kok pinter gitu, sih? Siapa yang ajari coba?” tanya Luis, sesat setelah mobil yang ditumpanginya itu melaju cepat, meninggalkan tepi jalan.
“Ibu Delia dong. Dia bilang, kita itu harus pintar-pintar berbagi. Dan, karena berbagi itu harus dengan cara yang tulus, maka ... cara untuk mengecek ketulusan kita adalah dengan memberi sesuatu yang amat sangat kita sukai. Bukan malah sesuatu yang sudah tidak layak,” jawabnya fasih.
Luis seketika tercengo karena ternyata, anaknya itu sudah memiliki pemikiran yang bagus mengenai berbagi dengan sesama. Lebih kaget lagi karena ia mendengar nama Delia yang disebut oleh Jenny.
Ia pikir, pantas lah Jenny begitu dekat dengan gurunya itu. Karena yang ia lihat sekarang, hubungan Jenny dan Delia tidak hanya sebatas guru dan murid. Melainkan lebih dari sekadar itu. Meski mungkin, hanya Jenny yang berharap penuh terhadap Delia.
“Anak pintar. Ayah jadi seneng dengernya.” Luis pun meraih pundak anaknya itu, kemudian menarik dan membuat Jenny bersandar penuh padanya.
“Bilang makasih makanya sama Ibu Delia. Dia itu udah baik dan sayang banget soalnya sama aku,” timpal Jenny seraya memejamkan matanya dalam pangkuan sang Ayah. Lantas, ia berdoa dalam hatinya. “Aku hanya minta satu hal untuk ayahku, Ya Allah. Aku ingin agar Ayah bisa bahagia bersama Ibu Delia.”
“Iya, Sayang. Nanti ayah bilang makasih sama ibu gurumu itu, ya.” Luis mengangguk-angguk seraya memejamkan matanya juga. Perjalanan mereka masih lumayan jauh. Ia merasa lelah sehingga perlu untuk beristirahat sebentar.
Begitu pula dengan Jenny yang tanpa sadar sudah terlelap begitu saja dalam pangkuan juga dekapan ayahnya itu. Ia merasa sangat ngantuk karena siang tadi tak sempat tidur. Perasaannya tak keruan setelah ditinggal pulang oleh Delia.