Bab. 48. Akhirnya Menyerah
‘’Bos. Lu ngapa izinin Delia pulang? katanya mau diboyong ke rumah saat Jenny pulang nanti.’’
Di luar ruangan, usai mendapati Jenny tertidur, Firman dan Luis pun duduk santai berdua. Awalnya mereka sibuk dengan ponsel masing-masing, sampai akhirnya Firman memecah keheningan di antara mereka. Ia memasukkan ponselnya itu ke dalam saku jas bagian dalam.
‘’Ya, awalnya emang mau gitu. Tapi, setelah gue pikir-pikir, kagak bak bikin maksa anak orang biar nyaman sama kita. Gue kesanya maksa banget. Padahal, kayaknya Zia nggak nyaman deh ada di dekat gue.’’
Luis yang baru saja selesai menelepon rekan kerjanya itu menghela napas panjang sembari memasukkan ponselnya ke dalam saku jas juga. Sadar kalau dirinya sudah terlalu agresif sampai berani mencium wanita yang bahkan bukan siapa-siapa baginya itu.
Lelaki berpenampilan necis itu menundukkan kepalanya sembari membuang napas bera. Ia benar-benar kurang beruntung karena memiliki mata yang tidak bisa melihat sama sekali. Meski, kalau dia ingin, ia bisa melakukan operasi. Namun, baginya tidak semudah itu.
‘’Lha terus, misi kita untuk membuat Delia jatuh cinta sama lu itu gimana? Lu nggak ada niat mundur, kan, Bos? Masa lu cetek banget,’’ sambung Firman, sengaja meledek bosnya itu agar kepanasan.
‘’Ya, kagak. Gue akan terus berjuang buat dapetin cintanya itu. Tapi, gue nggak mau gunain Jenny sebagai alat. Yang gue mau, Delia nyaman ada di samping gue. Bukan terpaksa karena kasian sama Jenny, Man.’’
Luis mengangkat wajahnya itu, kemudian menatap kosong dan gelap ke arah Firman yang duduk di sebelah kanannya. Lantas ia berpikir, cara apa yang tepat untuk bisa mencuri perhatian juga cinta Delia dengan cepat dan tepat.
‘’Iya, juga, ya. Lu bener, Bos. Yang enak dirasai itu cinta yang tulus emang. Kalau kepaksa mah nantinya nggak bakal tahan lama,’’ timpal Firman sembai mengangguk-angguk setuju dengan apa yang dikatakan bosnya itu.
‘’Nah, iya gitu tuh bener. Setelah lama gue nggak ngerasa jatuh cinta karena hanya ibu Jenny yang menjadi dambaan hati, gue mau, Delia ini yang terakhir, Man. Nggak lagi-lagi,’’ jawabnya sambil menyengir lebar.
Firman pun tertawa begitu melihat ekspresi Luis yang tampak malu-malu saat mengungkapkan perasaannya. Padahal, selama ini, memang hanya Firman yang selalu menjadi tempatnya mencurahkan isi hati. Namun, kali ini, Luis benar-benar merasa malu sendiri.
Ia sudah lama menutup hati hanya karena ingin setia pada wanita yang sudah melahirkan Jenny. Itu sebabnya, merasakan kembali getaran-getaran di hatinya membuat ia merasa canggung. Terlebih, perasaannya pada Delia terasa lain dengan apa yang dirasakannya dulu pada sang istri.
Jika dulu ia harus memaksa diri sampai akhirnya jatuh cinta setelah berbulan-bulan menjalani pernikahan, apa yang dirasakannya terhadap Delia terasa mengalir tanpa paksaan. Pernikahannya memang dikarenakan perjodohan. Tai, hanya karena wanita yang dijodohkan ibunya adalah seorang gadis baik-baik juga soleha, cintanya pun akhirnya muncul setelah melewati beberapa purnama.
‘’Ok. Terus sekarang lu mau apa? Besok-besok udah boleh unjuk diri lho di kantor. Delia kan akhirnya tahu kalau lu itu bosnya.’’ Firman kembali menyambung percakapan mereka sembari sesekali melihat ke sekitar.
Di rumah sakit memangnya tempatnya orang-orang sakit. Itu kenapa, sedari tadi yang dilihatnya adalah lalu-lalang orang yang diangkut ke ruang rawat inap. Dan, beberapa di antaranya adalah para penengok.
Firman menghela napas dalam sebelum kemudian mengembuskannya perlahan. Sebab sesak sebenarnya tiap kali ia menginjakkan kakinya di rumah sakit. Dulu, jauh sebelum Luis mengalami kecelakaan, ibunya yang sudah sepuh dan sakit-sakitan itu akhirnya meninggal dalam masa perawatan di rumah sakit.
Terlebih, Firman yang saat itu sedang di luar kota bersama Luis pun tak dapat melihat ibunya di detik-detik terakhir saat meregang nyawa. Ia benar-benar terpukul dan merasa begitu menyesalkan dirinya sendiri.
Itu sebabnya, sebagai orang yang membuat Firman berada jauh dari ibunya saat sakit, Luis pun menjadikannya lebih dari sekadar sopir pribadi. Ia selalu memberikan apa pun yang dinginkan Firman, meski Firman tak memintanya.
Hanya saja, Firman bukan orang serakah yang menginginkan belas kasih orang lain. Ia bahkan menolak saat Luis memintanya untuk tinggal di rumah yang sama. Ia justru memilih menyewa kontrakan yang tak jauh dari rumah bosnya itu.
‘’Sepertinya, meski Delia udah tau gue siapa, tetap aja ... toh, gue nggak berkeliaran seperti lu. Waktu gue habis di ruang kerja sendiri, Man. Jadi ya nggak bakal ada perubahan apa-apa.’’
Luis tertawa canggung karena lagi-lagi menyadari kekurangannya sebagai seorang ayah juga seorang pengusaha kaya raya. Ia menunduk lagi sebelum akhirnya berdiri. Ia ingin merokok.
‘’Mau ke mana, Bos?’’ tanya Firman seraya ikut berdiri. Ia harus sigap karena Lus tak hafal seluk-beluk rumah sakit.
‘’Gue mau ngerokok. Lu mau ikut?’’ tanyanya balik.
‘’Emang kalau gue nggak ikut, lu bisa jalan sendiri?’’ Firman bertanya lagi, tak dengan nada ngeledek. Melainkan prihatin.
‘’Lha iya, bener. Gue lupa,’’ timpal Luis yang sejurus kemudian menertawakan dirinya sendiri. ‘’Ya, dah ... ayo ikut!’’ sambungnya sembari menunggu arahan Firman sebagai petunjuk jalan.
***
Firman melihat jam di dinding ruangan, waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Jenny sudah diputuskan pulang hari ini. Tapi, perawat belum memberikan dokumen-dokumen tentang perkembangan kesehatan Jenny.
Luis yang duduk di samping Firman sembari mendengarkan musik dengan head set itu pun mulai merasa bosan menunggu. Ia bahkan ingin sekali tidur karena terbuai oleh alunan musik yang didengarkannya. Namun, matanya enggan terpejam meski rasa kantuk melandanya.
Sementara itu, Jenny yang sudah sehat betul sedang asyik menonton video yang dipinjamkan Firman belum lama tadi. Gadis kecil itu sesekali tertawa karena merasa lucu sendiri dengan apa yang ditontonnya. Lantas, beberapa menit kemudian ia pun menyudahi tontonannya.
‘’Ayah, kapan kita pulangnya? Kok, lama banget?’’ tanyanya pada Luis, yang seketika membuat ayahnya itu mengerjap kaget.
‘’Ya, Sayang. Ada apa?’’ tanyanya lagi. Luis yang semula duduk bersandar pun menegakkan tubuhnya tanpa beranjak.
‘’Kapan kita pulang, Ayah? Tadi katanya sebentar lagi? Tapi, kok, lama?’’ cerocos Jenny seraya turun dari ranjangnya. Lantas ia bergegas menghampiri Firman untuk memberikan ponsel yang dipinjamnya tadi.
‘’sebentar lagi susternya pasti datang, Sayang. Sabar, ya?’’ pinta ayahnya itu sembari mematikan musik yang didengarkannya. Lantas, ia juga memasukkan head set yang dipakainya itu ke dalam saku. ‘’Sini, Sayang. Duduk sama Ayah.’’
Jenny berjalan dengan riangnya ke arah Luis setelah memberikan ponsel pada pemiliknya. Ia duduk di samping ayahnya itu sembari menghela dan membuang napas panjang. ‘’Aku lapar, Ayah. Mau ice cream,’’ katanya kemudian.
‘’Lho ... lapar kok mau ice cream? Makan dong?’’ Luis langsung menyunggingkan bibirnya pada Jenny. Ia rasa, anaknya itu sedang bercanda.
Namun, ternyata bukan candaan karena Jenny memang benar-benar menginginkan ice cream. Ia merangkul sebelah tangan ayahnya itu sambil memelas. Lantas bergelayut sebagai upaya merayu ayahnya itu.
‘’Kamu kan belum sembuh betul, Sayang. Kenapa harus ice cream? Yang lain, deh. Ice cream nggak bisa ayah beliin untuk sementara waktu. Tunggu sampai kamu sembuh total, ya?’’ pinta ayahnya sembari mengusap lembut puncak kepala Jenny yang masih bergelayut di pundaknya itu.
‘’Ah ... ayah pelit. Masa mau ice cream doang nggak boleh? Yang kecil aya nggak apa-apa, deh.’’ Jenny mendongakkan wajahnya sehingga tepat menatap wajah Luis.
‘’Nggak boleh dulu, Sayang. Kata dokternya kan juga gitu? Kamu harus makan yang sehat-sehat dulu. Ya?’’ bujuk Luis kembali.
Jenny yang tetap menginginkan ice cream pun merajuk. Ia menarik diri, kemudian melipat kedua tangannya di d**a seiring dengan bibir mengerucut. Andai Luis bisa melihat, ia pun pasti akan tertawa seperti Firman yang tergelak seketika melihat ekspresi wajah Jenny.
‘’Paman juga jahat. Bilangin ayah sih supaya mau beliin Jenny ice cream,’’ sungutnya sembari melihat kesal ke arah pamannya itu.
‘’Ya, nggak bisa dong, Sayang. Bisa-bisa, paman ini dipecat sama ayahmu kalau ngelawan. Emang, Jenny mau gitu nggak liat Paman lagi?’’ tanyanya, sembari memasang wajah sedih.
‘’Ya, nggak mau. Tapi kan Jenny mau ice cream. Masa nggak boleh?’’ sungutnya lagi. Dan, Jenny pun kembali melihat ayahnya yang tengah menahan tawa.
‘’Minta yang lain, Sayang. Pasti ayah kabulin,’’ katanya sambil menyengir. Luis harap, anaknya itu tak meminta sesuatu yang aneh.
‘’Nginep!’’ timpal Jeny sehingga membuat ayah dan pamannya mengernyit heran. ‘’Aku mau nginep di rumah Ibu Delia. Titik!’’ sambungnya seraya menarik wajahnya yang imut itu dari pandangan Luis dan Firman.
Jenny mengangguk-angguk sembari menunggu jawaban yang tak juga diberikan ayahnya dalam waktu singkat. Ia mendelik kesal sembari menghela dan membuang napasnya dengan kasar.
‘’Mampus!’’ batin Firman sembari menahan tawanya karena melihat ekspresi kaget Luis. Ia menangkup mulutnya itu dengan sebelah tangan sembari memalingkan wajahnya ke arah lain.
‘’Nggak ada yang lain lagi, Sayang?’’ tanya Luis, penuh harap agar Jenny memiliki keinginan lain selain ice cream dan menginap di rumah Delia.
‘’Nggak ada. Kalu nggak boleh nginep, beliin aku ice cream lha. Ya?’’ timpal Jenny.
‘’Nggak!’’ balas Luis dalam hatinya. ‘’Yang ada ntar dia masuk rumah sakit lagi. Terus minta Delia menginap lagi. Parah ini. Nggak boleh. Tapi, ngebiarin Jenny nginep di rumah Delia juga malu-maluin.’’
‘’Ayah!’’ Jenny berseru lantang.
‘’Ah, iya?’’
‘’Gimana, ih? Boleh nggak Jenny nginep di rumah Bu Delia?’’
‘’Sayang ... kalau Ibu Delia nya nggak izinin gimana?’’ tanya Luis, mencoba untuk membujuk Jenny.
‘’Bu Delia nggak mungkin nolak keinginan Jenny, Ayah. Orang Cuma nginep doang juga. Ya?’’ ungkapnya dengan percaya diri. ‘’Kalau nggak boleh, Jenny nggak mau pulang aja, deh. Jenny di sini aja nggak apa-apa. Dah ... sana ayah sama paman pulang aja!’’ sambungnya seraya beranjak pergi.
‘’Eh ... Sayang, jangan gitu. Kan kamu udah dibolehin pulang sama dokter. Masa mau di sini terus?’’
‘’Ya, makanya ... anterin Jenny ke rumah Ibu Delia aja kalau gitu.’’
“Ok!” timpal Luis pada akhirnya. Ia menyerah.