Tersipu Malu

1256 Kata
Bab. 47. Tersipu Malu Tak ada yang lebih membahagiakan untuk saat ini selain cinta yang diungkapkan Putra padanya sewaktu di kantin tadi. Adel benar-benar merasa beruntung karena sudah menjadi satu-satunya wanita yang dipilih Putra sebagai cinta dan pacar pertamanya. Bahkan setelah sebelumnya tak yakin atau pun percaya karena ia merasa waktunya begitu cepat. Mereka baru beberapa hari menjadi teman dekat. Lalu, tiba-tiba saja Putra mengatakan perasaannya dengan sungguh-sungguh. Adel sempat ingin meminta waktu, tapi bibirnya justru menerima perasaan Putra saat itu juga. Sekarang, setelah mereka resmi jadian, Adel pun merasa sedikit aman. Meski, itu tak memungkinkan membuatnya selamat dari incaran Rasya dan teman satu gengnya. Suatu waktu, Adel yakin kalau dirinya akan kembali mendapat perlakuan kasar dari mereka. Namun, tak seperti sebelumnya, kali ini Adel memutuskan untuk melawan seandainya ada yang mengusiknya karena kedekatannya dengan Putra. Ia tak kan tinggal diam meski harus melawan sendirian. ‘’Lagi mikirin apa, sih?’’ tanya Putra setelah mendapati Adel tak kunjung bersuara. Padahal, ia sudah berjalan cukup lama setelah keluar dari gerbang sekolah menuju jalan pulang. Kali ini, Putra memang tak membawa motor. Ia merasa akan terlalu sebentar bersama Adel jika mengantarnya dengan motor. Tidak seperti jalan kaki yang setidaknya membutuhkan waktu setengah jam untuk sampai. ‘’Aku nggak lagi mikirin apa-apa, kok.’’ Adel menyengir lebar sembari menoleh dan melihat kekasihnya itu sekilas. Ia kembali melihat jalan sembari menundukkan pandangan. Batinnya, ‘’Dia ini sudah seperti punya indra ke enam saja. Mpe tau kalau aku lagi mikirin sesuatu.’’ ‘’tapi, kok kelihatannya ... kamu itu lagi mikirin sesuatu. Kalau semisal ada masalah, kamu bisa cerita sama aku, kan? Kita bukan hanya sekadar teman lho sekarang. Aku bahkan mau ... agar kamu selalu menganggapku ada untuk menceritakan apa pun yang kamu rasa.’’ ‘’Serius. Aku nggak mikirin apa=-apa, kok. Mungkin ... itu karena kamu terlalu merhatiin aku, Put.’’ Adel menyengir lagi karena kepercayadiriannya yang kembali membuat ia begitu pintar bercanda’. ‘’Iya, kali, ya? Hm ... aku nggak bisa berhenti merhatiin kamu soalnya,’’ timpal Putra balas bercanda. Tapi, ia juga serius. ‘’Tapi ... omong-omong, kamu capek nggak jalan kaki? Maaf, ya, karena aku nggak bawa motor.’’ ‘’Aku justru khawatir sama kamu, Put. Kamu capek nggak?’’ ledek Adel yang sudah biasa berjalan kaki. Ia menatap kekasihnya itu tanpa menghentikan langkah kaki. ‘Putra menyengir. ‘’Dikit,’’ timpalnya sembari balas menyengir. ‘’Kasian ... tapi, motormu emang ke mana? Kenapa nggak bawa motor kek biasanya?’’ selidik Adel, heran. ‘’Um ... motorku ada, sih. Tapi emang sengaja pen jalan kaki aja aku tuh,’’ jawabnya tanpa mengalihkan tatapan dari jalanan. Ini adalah kali pertamanya setelah tiga tahun bersekolah, ia berjalan kaki. Biasanya, kalau tak bisa bawa motor, ia selalu naik ojek. ‘’Lha ... kenapa gitu? Enakkan juga naik motor. Cepat sampai dan nggak harus capek pula. Beda lagi sama aku yang emang udah biasa jalan kaki.’’ ‘’Aku juga pen biasa sama kek kamu, Del. Makanya aku nyobain jalan kaki. Dan ternyata, meski pun cape, rasanya lebih seru.’’ Putra langsung menimpali Adel sembari meraih sebelah tangan kekasihnya itu. ‘’Apalagi kalau sambil gandengan gini. Beuh!’’ sambungnya sembari menggenggam erat jemari Adel. Lantas, ia mengayunkannya seirama dengan gerakan langkah kaki. ‘’Wah ... kata-katamu terkontaminasi bucin, Put. Haha!’’ seru Adel diiringi dengan gelak tawa yang renyah juga kentara bahagianya. Ia benar-benar tak mengira kalau Putra akan pandai berkata-kata seperti anak muda pada umumnya. ‘’Dih ... ngeledekin. Seneng kek digombalin gitu. Aku belajarnya lama lho.’’ Putra merajuk, meski pun hanya pura-pura hanya untuk membuat obrolan mereka semakin asyik. Namun, Adel justru makin tergelak. ‘’Aku seneng kok digombalin. Tapi, kamu itu jadinya lucu kalau ngomong kek gitu,’’ katanya. ‘’Ish! Kalau seneng tuh jangan ngetawain. Peluk kek.’’ Putra pun ikut tertawa karena tak tahan dengan ucapannya sendiri. ‘’Astaga. Kenapa aku jadi sebucin ini? Gara-gara kamu tau nggak, Del.’’ ‘’Lha .. nyalahin aku? Bucin ya bucin aja, Put. Dahlah. Bengek aku ketawa terus. Lagian, nih ya ... emang kamu nggak malu gitu dipeluk pinggir jalan gini? Banyak orang pun. Hiiih,’’ timpalnya sambil merinding. Adel bergidik setelah membayangkan dirinya memeluk Putra. Lantas, warga melemparinya karena tak tahu malu. ‘’Ah ... iya, juga, ya. Kalau gitu, aku minta dipeluknya di tempat sepi aja, deh.’’ Putra menggoda Adel kembali, sembari menahan tawa. Sehingga membuat Adel seketika menghentikan langkahnya, ‘’Dih!’’ ujarnya seketika. Adel bergidik lagi. ‘’Lha ... kenapa bergidik gitu?’’ tanya Putra seraya menoleh ke belakang. ‘’Ngga apa-apa. Ayo, cepetan jalan lagi. Panas!’’ timpalnya seraya melanjutkan langkah. Adel bahkan berjalan lebih dulu sehingga menjadi ia yang menarik tangan Putra. *** Setibanya di rumah, Adel tersenyum-senyum sendiri sembari melepaskan sepatu. Ia tak bisa berhenti membayangkan apa yang dilaluinya hari ini bersama Putra. Lebih-lebih saat Putra menggendongnya paksa di perjalanan menuju pulang tadi, sampai-sampai ia tak bisa berhenti tertawa dalam waktu yang lama. ‘’Jangan ketawa terus, Del. Au ikutan geli.’’ Putra menyuruhnya untuk diam, tadi. ‘’Iya-iya.’’ Adel pun berusaha untuk menahan tawanya, meski akhirnya ia tak bisa. ‘’Ish ... malah makin kencang ketawanya. Jatuh nanti kamu.’’ ‘’Akunya nggak tahan geli, Put. Turunin deh buruan. Malu juga aku diliatin orang. Ntar mereka kira kita ini lagi ngapain coba?’’ sungut Adel di tengah-tengah gelak tawanya. Sesekali ia melihat ke sisi kiri dan kanan. Orang-orang memang sedang memperhatikannya. ‘’Lha ... aku lagi gendong kamu, kan? Emang ngapain? Mereka aja yang sirik mungkin karena nggak pernah gendong dan digendong. Iya, kan?’’ timpal Putra. Kali ini ia juga tertawa. ‘’Ya, tapi ... kan—‘’ ‘’Gosah tapi-tapi. Diam aja udah!’’ sela Putra setelahnya. Adel tergelak usai melepaskan sepatu dan kaus kakinya. Ia benar-benar merasa lucu sendiri usai mengingat kejadian beberapa menit lalu, sebelum akhirnya Putra menurunkan Adel karena sudah sampai. ‘’Amboi ... senangnya adik akak, nih. Lagi kasmaran rupanya,’’ goda Delia yang sudah sedari tadi memperhatikan adiknya diam-diam. Di belakang adiknya itu Delia tergelak julid. ‘’Baru ditembak cowok, ya?’’ ‘’Dih!’’ Adel langsung menoleh dan mendongakkan kepalanya untuk dapat melihat Delia. Lantas ia berdiri sembari melengos pergi. ‘’Kepo!’’ sambungnya sembari menjulurkan lidahnya pada Delia. ‘’Lha ... dia malu.’’ Delia pun kian tergelak seraya mengikuti adiknya yang hendak pergi ke kamar mereka berdua itu. “”Udah tau adiknya malu, masih aja digodain!” Adel pun merutuk setibanya di kamar. Ia melempar tasnya itu ke ranjang. Kemudian, ia melemparkan tubuhnya juga ke sana sambil menghela napas panjang. Ia merentangkan kedua tangannya di sana sambil tersenyum. Perasaannya benar-benar sedang dilanda cinta. “Jadi ... ceritanya kamu itu beneran ditembak sama cowok? Wih, keren. Tapi sama siapa? Um, jangan-jangan cowok yang semalam itu, ya?” lanjut Delia, karena belum puas meledek adiknya itu. “Ish! Orang jomblo nggak usah mikirin kisah cinta orang. Kalau ngiler kan bahaya.” Adel balas menggoda. Sehingga membuat kakaknya marah dan melemparnya dengan sandal jepit yang dipakai Delia. “Sakit, Kak!” serunya. “Bodo!” timpal Delia seraya kabur, meninggal Adel yang kesakitan, sambil tergelak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN