b***k Cinta

1518 Kata
Bab. 46. b***k Cinta Adel berdiri dengan susah payah karena kedua lututnya itu sedikit terluka. Tatapannya masih mengarah pada tiga sekawan yang baru saja mengeroyoknya hanya karena ia dapat lebih dekat dengan Putra. Ia berdecak kesal, tak suka dengan cara para siswa yang mengedepankan kekerasan itu. Adel ingin sekali membalas perbuatan mereka. Namun, selain karena tidak suka adanya keributan, ia juga tak yakin bisa mengalahkan tiga orang sekaligus. Sudah pasti dirinya tetap kalah meski pun sudah mengeluarkan tenaga untuk membalas. Akhirnya Adel memilih untuk diam dan meninggalkan toilet saja dengan rasa sakit di kakinya. Ia juga tak berencana untuk memberitahu Putra demi untuk menghindari adanya pertengkaran. Dilihatnya tiga sekawan tadi sedang berjalan menuju kantin juga, sembari menertawakannya. Delia berdecak sebelum akhirnya berjalan cepat dan menyusul mereka. Dan, ia pun menabrak mereka tanpa menghentikan langkah kakinya. Ia terus berjalan meski tiga sekawan itu mengaduh dan seketika berteriak, mengumpatnya. Bahkan, ia sengaja melambaikan tangan pada Putra, seperti tidak sudah terjadi apa-apa begitu sampai di kantin. ‘’Aku mungkin tidak bisa melawan perbuatan kasar kalian. Tapi, akan aku buktikan kalau aku justru lebih berharga di mata Putra jika dibanding dengan kalian.’’ Adel tersenyum sinis sembari berucap yakin dalam hatinya. Lantas, ia tersenyum lebar dan manis pada Putra yang membalas lambaiannya. Ia yakin dengan ucapannya barusan sehingga menjadikan dirinya jauh lebih berani lagi. ‘’Sial!’’ umpat Rasya yang berdiri di antara Nina dan Noni. Ia menyapu pundaknya yang tadi ditabrak Adel dengan sengaja. ‘’Beraninya di menabrakku?’’ sambungnya sambil berdecih, seiring dengan tatapan sinis tertuju pada Adel yang baru saja duduk di samping Putra. ‘’Nggak bisa dibiarin itu, Sya. Lu harus bertindak biar si anak kampung itu nggak makin ngelunjak sama lu,’’ ucap Noni sembari ikut menatap sinis pada Adel. Ia sama tak sukanya dengan Rasya, pada Adel. ‘’Gue setuju. Si anak katrok itu harus lu kasih pelajaran yang lebih kejam biar kapok.’’ Nina menyambung obrolan kesal mereka dengan tatapan sama sinis ke arah Adel, yang baru saja mendelik ke arahnya. ‘’Lihat! Di sombong sekali karena sudah berada di dekat Putra. Cih! Memang siapa dia? Gue yakin ... paling-paling, si Putra ini hanya kasihan padanya yang katrok.’’ Namun, alih-alih menjawab ocehan kedua temannya itu, Rasya justru berbalik dan melengos, meninggalkan koridor menuju kantin. Ia yang hanya fokus menatap Adel pun sebenarnya tak begitu mendengarkan kedua temannya. Nina dan Noni pun akhirnya mengejar Rasya yang berjalan lebih dulu tanpa sepatah kata. Mereka juga memanggil-manggil temannya itu karena Rasya tak kunjung menunggunya. Rasya teramat kesal dengan sikap berani Adel yang tak ia sangka sebelumnya. Sementara itu, di meja kanti, Adel tengah asyik menikmati hidangan pesanannya yang masih hangat. Ia tersenyum-senyum senang karena akhirnya berhasil membuat Rasya dan teman-temannya merasa kesal. Namun, lebih senang lagi karena Putra terus saja menatap dan memperhatikannya dengan saksama. Lelaki di hadapannya itu bahkan tersipu malu saat Adel balas menatap sembari menggerakkan sebelah alis, ambil bertanya ada apa. Pasalnya, Adel merasakan sesuatu yang beda dari tatapan temannya itu. Ia menghentikan suapannya, sembari melipat kedua tangan di d**a. ‘’Malah senyum? Kenapa kamu menatapku terus dai tadi? Makananmu hampir dingin kayaknya.’’ Adel mengulang ucapannya sambil bersandar di sandaran kursi, seiring dengan kepercayadirian penuh. ‘’Terpesona, ya? Hehe. Aku memang secantik itu,’’ sambungnya sambil tertawa kecil. Putra yang mendengarnya pun ikut tertawa sembari memalingkan wajahnya sekilas. Ia bena-benar tak mengira kalau Adel akan senarsis itu. Namun, apa pun, Putra tetap menyukai apa yang ada di diri Adel. ‘’Lucu sekali pernyataanmu itu, Del. Tapi, kamu memang benar.’’ Akhirnya Putra menjawab sembari menyunggingkan senyumannya kembali. Ia juga menyeruput jusnya setelah itu. ‘’Aku benar?’’ ulang Adel seraya menyeringai. Ia benar-benar tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya barusan. ‘’Huum. Aku terkesima karena kamu begitu manis dan cantik.’’ Putra tertawa kecil saat mengungkapkan pendapatnya tentang Adel. Ia juga langsung menggaruk pelipisnya, meski sama sekali tidak terasa gatal. ‘’Wah ... sungguh pengakuan yang tak bisa dipercaya,’’ ujar Adel yang sengaja tak langsung menunjukkan rasa senangnya saat dipuji seseorang. Ia ingin tahu, tentang seberapa besar Putra dapat berkata jujur. ‘’Percaya atau tidak, tapi ... itu benar adanya.’’ Putra pun akhirnya berdeham agar tampak lebih serius di mata Adel. Ia belum pernah mengungkapkan perasannya pada siapa pun, meski usianya sudah cukup dewasa untuk mengenal arti kata cinta. ‘’Aku tersentuh. Terima kasih,’’ timpal Adel yang seketika kembali mencondongkan tubuhnya ke depan untuk kembali menikmati makanannya lagi. ‘’Tapi maaf, aku nggak ada receh untuk membayar pujianmu itu.’’ ‘’Baiklah. Nggak apa-apa kalau memang nggak ada receh,’’ timpal Putra yang juga kembali hendak menikmati makanannya. Ia menahan tawa. ‘’Tapi, cintamu ada, kan?’’ sambungnya tanpa menatap Adel karena ia sedang meraih minumannya terlebih dahulu. Adel langsung terbatuk. Ia bahkan langsung menepuk-nepuk dadanya karena tersedak. ‘’Cinta?’’ gumamnya sembari menatap Putra yang sedang menenggak minumannya sampai habis. ‘’Huum,,’’ timpal Putra sembari mengangguk-angguk. Lantas, ia tersenyum lebar dan manis. ‘’Kamu bilang nggak ada receh untuk membayar pujianku bukan? Aku memang nggak mau uang sebagai balasannya. Melainkan cintamu kalau memang ada. Ah, aku harap ada, sih.’’ Adel langsung menelan ludahnya dengan susah payah. Sampai berbunyi karena seketika sesenggukan. Putra yang mendengarnya pun seketika menyodorkan minuman Adel seraya menyuruhnya untuk segera minum. Adel menurut. Ia lekas mengambil gelas yang disodorkan Putra barusan, kemudian menenggak isinya sampai habis. ‘’Kamu nggak apa-apa?’’ tanya Putra setelah Adel menyimpan gelasnya itu di meja. Ia cemas, sehingga takut kalau Adel justru kenapa-kenapa setelah mendengar pengakuan cintanya barusan. ‘’Aku nggak apa-apa. Aku nggak apa-apa, kok.’’ Adel berdeham-deham seraya merasakan apakah sesenggukannya sudah hilang atau belum. Dan, ternyata memang langsung hilang. ‘’Kamu kaget ya aku ngomong gitu barusan? Maaf, aku nggak bermaksud apa-apa, kok.’’ Putra pun langsung menundukkan pandangannya karena merasa bersalah. Ia juga berdeham sebelum akhirnya kembali menatap wajah cantik Adel. ‘’Tapi, aku hanya berusaha untuk berkata jujur.’’ ‘’Aku Cuma kaget. Nggak nyangka aja denger kamu ngomong gitu. Hehe,’’ timpal Adel sembari menyengir. ‘’Lagi pula, apa iya seperti itu? Secara, kamu tahu sendiri kalau nama panggilanku saja adalah cewek katrok. Jadi ... apa mungkin kalau seorang Putra akan menyukai aku yang katrok ini?’’ ‘’Aku nggak mungkin salah menafsirkan perasaanku sendiri, Del. Jujur, aku sudah menyukaimu sejak lama. Hanya saja, seperti katamu, awalnya aku tak yakin dengan perasaanku sendiri. Tapi, melihatmu tak masuk sekolah sehari saja sudah membuat aku merasa tidak tenang. Lalu, setelah kita dekat dalam waktu beberapa hari ini saja, aku sudah merasa senang dan nyaman. Kau juga tau aku, kan? Aku tak pernah merasa nyaman dengan kehadiran siapa pun. Tapi, bersamamu, aku baik-baik aja.’’ Panjang lebar, Putra menjelaskan tentang apa yang dirasakannya selama ini. ia menatap serius gadis di hadapannya itu, agar setiap ucapannya tak dikira hanya main-main semata. Hening. Adel mau pun Putra kemudian saling berdiam diri. Keduanya seolah bicara dari hati ke hati mengenai apa yang diasakan keduanya. Bahkan, meski di kantin begitu ramai oleh siswa dan siswi lain, yang dirasakan keduanya justru senyap dan damai sampai beberapa lam kemudian, barulah Adel berucap pelan. ‘’Aku nggak tau harus ngomong apa,’’ katanya, sambil menyengir. Diraihnya kedua tangan Adel yang bergetar di meja. Putra pun menggenggamnya erat sambil tersenyum. ‘’Mau jadi pacar ku nggak?’’ tanyanya, penuh harap. Adel pun langsung menundukkan wajahnya karena malu. Ia kian tersipu sampai merah kedua pipinya itu. ‘’Aku harus jawab apa? Kalau aku langsung menerimanya, dia pasti langsung tau kalau aku juga sudah menyukainya sejak dulu, dan, kesannya, pasti aku dikira gampangan. Tapi, kalau aku meminta waktu, apa nggak mungkin kalau dia akan berubah pikiran? Aku akan menyia-nyiakan kesempatan emas kalau emang begitu,’’ batinnya, bingung. ‘’Del?’’ tanya Putra sembari menggerakkan tangan Adel sedikit dalam genggamannya. ‘’Ah, iya. Aku mau,’’ jawab Adel yang seketika membuat ia menarik kedua tangannya dari genggaman Putra. Kemudian menangkup mulutnya dengan rapat. ‘’Aku ngomong apa barusan?’’ batinnya, seiring dengan mata melotot pada Putra. ‘’Kamu kenapa?’’ Putra sampa keheranan. ‘’Tapi, aku nggak salah dengar, kan?’’ sambungnya sambil tersenyum. Adel langsung menggeleng tanpa melepas tangannya dari mulut. Ia juga masih menatap Putra dengan mata melebar. ‘’Aku nggak apa-apa,’’ jawabnya, sambil menelan ludah. ‘’Syukurlah. Tapi, tanganmu ....’’ Putra pun kembali meraih tangan Adel dan menggenggamnya kembali. ‘’Makasih, ya. Aku nggak ngira kalau kamu akan menerima perasaanku.’’ ‘’Aku ...,’’ ‘’Aku paham. Kamu nggak perlu jelasin apa-apa. Terpenting, sekarang kita udah terikat satu sama lain. Jadi ... mulai sekarang, jangan coba-coba lari atau menghindar dari aku. Oke?’’ sela Putra, sebelum Adel menyelesaikan ucapannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN