Bab. 45. Gadis Katrok

1519 Kata
Bab. 45. Gadis Katrok Adel merengut begitu mendengar Putra menggodanya lagi dan lagi. Ia memang menguntit sejak pagi. Tapi tak mengira kalau Putra akan menyadarinya. Padahal, ia sudah bersikap dengan begitu hati-hati agar tak ketahuan. Namun, kenyataannya, Putra justru memergokinya yang sedang menguntit. Adel memejamkan matanya sambil menangkup wajah. Ia benar-benar mau menghadapi Putra sekarang. Namun, tiba-tiba saja tangannya itu Putra sentuh. ‘’Sudahlah. Ayo, kita ke kantin. Kamu pasti mau jajan setelah malu kayak gini, kan?’’ ucapnya seraya menarik tangan Adel dan membawanya berjalan menuju kantin. ‘’Ish. Udah tau juga masih aja ngeledekin,’’ sungut Adel di belakang Putra. Namun, kedua sudut bibirnya itu menyungging karena merasa senang meski Putra terus meledek. ‘’Dari pada aku melarangmu melakukannya lagi, hayo?’’ Putra terus berjalan. Ia tak peduli meski Adel terus bersungut. Yang ia tahu sekarang, Adel pasti menyukainya juga. Atau, paling tidak, penasaran terhadapnya. ‘’Ya, bukan gitu juga. Lagian, aku nggak ada niat untuk menguntitmu lagi,’’ balas Adel. Ia pun kemudian menyusul langkah kaki Putra sehingga sejajar dan melangkah bersamaan. ‘’Bisa-bisa, ntar kamu kepedean,’’ sambungnya. ‘’Lha ... ngapain aku kepedean. Aku itu udah biasa kali dikuntit dan diidolakan semua cewek di sekolah. Jadi, jangan kira aku akan kepedean hanya karena kamu menguntit,’’ timpalnya sambil menahan tawa. Namun, senyumnya berhasil mengembang tipis dan manis. ‘’Serah lah!’’ Adel membalasnya dengan berungut. Ia tak tau harus bicara apa lagi karena sudah pasti akan selalu kalah telak dari Putra. Seperti saat sebelum makan bersama tadi malam, Adel akhirnya diam dan melarang apa pun yang ingin dilakukan Putra di rumahnya. Karena, Adel tak bisa menghentikan keras kepala Putra sama sekali. ‘’Gitu, dong. Cewek tuh katanya selalu benar. Tapi, bagiku, cewek itu harus banyak ngalahnya. Iya, nggak?’’ tanya Putra. Kali ini ia menoleh dan mengedipkan sebelah matanya pada Adel. ‘’Dih! Genit tau nggak?’’ ledek Adel, sambil mendelik. Padahal, ia sangat menyukai sikap apa pun yang ditunjukkan Putra padanya. ‘’Tapi suka, kan?’’ balas Putra, bertanya lagi. Kali ini ia tak menahan tawanya lagi. Melainkan langsung tergelak, karena sikap refleks Adel yang lucu. ‘’Astaga! Serah kau lah mau ngomong apa juga. Sekarang aku lapar, pen jajan. Bye!’’ serunya seraya menarik tangannya dari genggaman Putra. Lantas ia berlari lebih dulu menuju kantin yang tak lagi jauh dari tempatnya berlari. ‘’Eh?’’ Putra pun refleks berlari dan mengejar Adel di antara para siswa dan siswi yang lain. Membuat mereka seketika terheran-heran dengan sikap Putra belakang ini. Pasalnya, Putra adalah siswa paling tampan, tapi paling dingin dan jutek juga kepada siswa atau pun siswi lain. Tapi sekarang, dia justru selalu ceria bersama Adel. Beberapa di antaranya bahkan selalu bergosip. Bahwa Adel dan Putra sebenarnya sudah menjalin hubungan asmara. Sehingga mereka seketika iri dan membenci Adel yang sebelumnya memang kurang bergaul. Mereka pikir, Adel tak pantas berpacaran dengan Cowok setampan Putra. Adel hanyalah siswa kuper yang bahkan berpenampilan kampungan. Beda dengan siswa kebanyakan yang sudah mengenal dunia pergaulan zaman. Mereka cantik, selalu tampil modis dan bahkan memiliki ketenaran di sekolah. Oleh karena itu, begitu tiga wanita dalam satu geng itu melihat Putra mengejar Adel pun langsung menganga, tak percaya. ‘’Apa-apaan ini? Kenapa Putra sama si cewek katrok itu semakin dekat? Ini nggak bisa dibiarkan. Kita harus mendatanginya nanti,’’ ucap salah satu dari mereka yang merupakan ketua geng. ‘’Betul! Masa lu kalah sing sih sama si cewek katrok itu? Bisa turun pasaran lu, Sya! Timpal salah satu temannya yang berdiri di samping Rasya. Wanita itu mangut-mangut usai mengompori ketua gengnya. ‘’Gue ada ide. Kita harus mengikuti dia saat dia ke kamar mandi. Oke?’’ sambungnya. ‘’Setuju!’’ timpal satu teman yang lain. Rasya yang merupakan ketua geng itu pun mengangguk sambil tersenyum sinis. Ia setuju dengan apa yang dikatakan temannya. Nina dan Noni yang tak lain adalah satu-satunya siswa kembar di sekolah. Sementara itu, Adel yang berlari lebih dulu pun berhasil Putra kejar. Ia baru saja ditangkap oleh teman dekatnya itu sampai tertarik dan berbalik badan, menghadap Putra. Ia mengerjap sebelum akhirnya menghela dan membuang napas panjang. ‘’Lepas,’’ bisiknya, karena Putra justru memelik dan mendekapnya. ‘’Di sini banyak orang!’’ sambungnya. Seketika Putra mengerjap. Ia juga melihat ke sekeliling sekilas sebelum akhirnya berdeham. ‘’Aki lupa kalau kita sedang di sekolah. Lagian kamu ngapain lari-lari kek dalam film India aja,’’ bisik Putra sembari menegakkan tubuhnya. Lantas, ia berjalan sembari menarik sebelah tangan Adel. ‘’Lha ... aku lari karena ingin segera sampai di kantin. Kamu ngapain ikut lari dan menangkapku kayak tadi? Orang-orang liatin kita. Aneh kali, ya?’’ ucapnya sambil tersenyum lebar. ‘’Bodo amat sama mereka. Aku nggak peduli. Yang penting, aku sudah berhasil menyusul dan menangkapmu lagi,’’ balas Putra, dengan suara berat. ‘’Serah, dah!’’ Adel pun kembali bingung, harus bicara apa. Sampai di kantin, Putra langsung memilih alah satu meja untuk mereka makan berdua. Lantas, ia meninggalkan Adel sebentar untuk memesan makanan. Namun, tanpa ia tahu, geng Anyelir sudah membuntutinya. Bahkan, Rasya yang sedang memegang minuman dinginnya itu sengaja menumpahkannya ke lengan Adel, dengan dalih tak sengaja. ‘’Aduh ... maaf, Del. Aku nggak sengaja. Jadi kotor gini kan baju sama tanganmu,’’ katanya dengan nada, sengaja dibuat-buat agar seolah ia benar-benar tak sengaja. Putra yang melihatnya usai memesan makanan pun segera menghampiri Adel dan bertanya, ‘’ Ada apa?’’ katanya, sembari melempar tatapan sinis pada Rasya. Ia tahu, Rasya adalah siswa paling julid di sekolah. ‘’Nggak apa-apa, kok.’’ Adel yang masih terkejut itu pun berusaha bersikap setenang mungkin, ia tersenyum pada Putra agar tean dekatnya itu tak perlu berkata apa-apa. ‘’Aku nggak sengaja numpahin ini,’’ ucap Rasya, sembari menunjukkan minumannya yang hanya tersisa sedikit. Kemudian ia menyeruputnya sampai habis. ‘’Yakin nggak sengaja?’’ pancing Putra seraya menatap Rasya semakin lekat dan penuh curiga. ‘’Benar kok, Put. Nggak apa-apalah. Aku bisa bersihin ini kok. Kamu nggak apa-apa, kan aku tinggal dulu?’’ tanya Adel, menyela amarah Putra yang tertuju pada Rasya. Ia seketika berdiri. ‘’Jangan lama,’’ timpal Putra, sembari menahan rasa kesalnya terhadap Rasya dan kedua anggota geng wanita itu. Putra tahu kalau hal yang menimpa Adel itu bukan karena tidak sengaja. Namun, ia tak bisa melakukan apa pun saat Adel sendiri tak merasa keberatan. Namun, seandainya hal itu terjadi lagi, Putra tak akan tinggal diam. Ia tak kan segan membalas Rasya dengan hal serupa. Ia benar-benar akan melakukannya tanpa ragu, sekali pun Adel melarangnya. Rasya dan yang lainnya pun menyusul Adel ke kamar mandi yang tak jauh dari kantin. Mereka bahkan langsung mengunci pintu kamar mandi demi untuk tidak adanya orang lain yang menyaksikan ancaman mereka terhadap Adel. Adel yang menyadari kedatangan Rasya beserta teman se gengnya itu pun berusaha tersenyum ramah sembari membasuh lengan bajunya di wastafel. Namun, ia tak ada niat untuk bicara. ‘’Omong-omong, lu ada hubungan apa sama si Putra? Kok, kelihatannya dekat gitu?’’ tanya Rasya begitu sudah berada di samping Adel Adel yang mendengarnya pun seketika menghentikan aktivitasnya yang sedang membasuh tangan. Lantas, detik berikutnya ia menutup keran. ‘’Nggak ada hubungan apa-apa, kok. Aku sama Putra Cuma temenan,’’ jawabnya sambil menghadap Rasya. Ia juga tersenyum sehangat mungkin sebelum hendak melengos pergi. Namun, Rasya yang tak suka dengan gelagat Adel yang sok cantik menurutnya itu pun langsung menarik rambut panjang Adel saat sudah berjalan. Membuat Adel seketika mendongak dan bahkan hampir terjatuh ke belakang. Ia meringis kesakitan seraya langsung meraih rambut yang ditarik Rasya barusan. ‘’Sakit, Sya. Kenapa kamu menarik rambutku gini?’’ Adel pun memelas tanpa bisa berbuat apa-apa karena tarikan di rambutnya. Sementara Rasya bersama dua temannya itu justru tertawa penuh kebencian. Mereka tak peduli meski pun Adel meringis kesakitan. ‘’Itu karena lu sudah berbohong. Dan, itu karena lu sudah berani dekat dengan Putra. Ingat, ya ... kamu itu nggak pantas buat dia. Dasar cewek katrok!’’ umpat Rasya sembari menarik rambut Adel semakin kencang. ‘’Bohong apa? Aku sama Putra emang Cuma teman, Sya. Nggak lebih.’’ Adel kembali memelas. Berharap, Rasya akan melepaskan cengkeraman dari rambutnya. ‘’Orang juga tau kalau lu sama Putra itu nggak hanya teman. Jadi, gue harap, mulai sekarang lu baiknya putus sama dia. Paham!’’ seru Rasya sembari mendorong Adel sampai tersungkur. Ia memelak pinggang. ‘’Ayo, Gaes! Nggak tahan gue deket-deket sama cewek katrok!’’ sambungnya sembari melengos pergi. ‘’Ish!’’ desis Adel sembari menyapu kedua lututnya yang nyeri, akibat menapak lantai saat terjatuh. ‘’Dasar payah! Di depan Putra aja, sok manis. Padahal, lebih parah dari monster!’’ umpatnya dalam hati. ‘’Apaan coba nyuruh orang buat jauhin Putra? Usaha aja, sih, kalau emang suka. Bukan malah maen curang!’’
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN