Bab. 44. Ngintil
Di halaman rumah sakit, Delia mengembuskan napas leganya dengan panjang. Ia benar-benar senang karena akhirnya dapat keluar dari ruangan di mana dari semalam sebenarnya merasa terpenjara. Padahal, ia hanya menemani Jenny saja. Tapi keberadaan Luis membuatnya benar-benar gila.
Lelaki buta berparas tampan itu benar-benar membuat Delia merasa ada di alam mimpi. Menjadikannya berkhayal, akan dirinya yang akan menjadi nyonya besar di rumah kalangan ternama itu. Untungnya Delia segera sadar, bahwa khayalannya itu hanya akan membuat ia kesakitan saat tak menjadi kenyataan.
“Kek lega gitu kamu?”” tanya Firman yang mengantarnya sampai ke depan atas perintah Luis. Ia tersenyum di belakang Delis seraya memperhatikan wanita di hadapanku itu
“Ya, gimana nggak lega? Bosmu itu semalam ... eh, nggak deh.” Delia pun menyengir kikuk karena hampir saja membicarakan perihal semalam pada Firman. Padahal, itu adalah privasinya.
“Dih?! Semalam apaan?” selidik Firman, yang padahal sudah mengetahuinya dari Luis. Bosnya bilang, ia sudah mengutarakan perasaannya pada Delia. Namun, tak langsung mendapatkan jawaban pasti.
“Nggak apa-apa. Bukan apa-apa,” timpal Delia semakin kikuk. Ia bahkan menggaruk-garuk pelan kepalanya yang tak terasa gatal, sembari merapikan rambut. “Dahlah, aku mau pulang. Bye!” sambungnya.
“Eh, sebentar!” seru Firman, sengaja menahan kepulangan Delia karena masih ada yang ingin dibicarakan. Ia melangkah lebih dekat karena Delia sudah ada di motornya.
“Apa lagi?” Delia pun menoleh. Ia mendelik ke arah di mana Firman sudah berdiri di hadapannya.
“Semalam kamu ditembak bos, kan? Cie ... yang baru saja ditembak bos. Gimana, diterima nggak?” goda Firman. Ia bahkan menggerak-gerakkan kedua alisnya bersamaan sambil tertawa renyah.
“Dih ... apa, sih? Nggak ada tembak-tembakan juga. Lagian, siapa aku siapa dia, woi? Sadar diri lha.” Delia pun melengoskan wajahnya itu, karena ingin menahan senyum sipu. Bahkan, ia yakin, wajahnya langsung semerah tomat.
“Hilih! Ngaku aja kali. Lagian, cinta itu nggak mandang rupa, harta, ataupun takhta, Del. Kenapa lu nggak terima?” cerocos Firman kembali. Ia seolah menunjukkan kalau dirinya tahu semua. “Aku tau lho kalau si bos itu suka banget sama kamu.”
“Cuma suka, kan? Ya, udahlah. Banyak kok yang suka sama aku,” jawabnya sambil tertawa. Lantas, segera ia nyalakan motornya itu.
“Ih, serius. Dia cinta banget juga sama kamu.” Firman bersikukuh memberitahu Delia, agar wanita di hadapannya itu segera membuka hati untuk bosnya.
“Dah, ah. Gada cinta-cintaan. Aku mau pulang dulu. Capek. Mo istirahat. Bye!” ucapnya seraya menancap gas. Delia pun melesat menggunakan motornya, keluar dari halaman rumah sakit.
Sementara itu, Firman pun menggelengkan kepala setelah Delia pergi. Ia benar-benar tan mengira kalau Delia akan berpikir terlebih dahulu untuk bisa menerima Luis. Padahal, mengingat seberapa kaya Luis, seharusnya, tak kan ada wanita yang menolaknya meski Luis asal seorang buta.
Lekas Firman pun kembali masuk ke dalam. Bosnya itu pasti sudah menunggu informasi apa yang dilakukannya dengan Delia selama mengantar sampai ke depan. Namun, karena adzan Dzuhur baru saja berkumandang, Firman pun menuju mesjid terlebih dahulu agar nanti tak haris bolak-balik.
***
“Oh, astaga. Seberapa banyak yang Firman tahu tentang bosnya itu? Memang nggak aneh. Luis dan Firman kayaknya emang lebih dari sekadar bos dan sopir. Tapi, apa masalah perasaan pun Luis bagi cerita dengan sopirnya itu?
“Haish! Betapa malu nanti kalau aku ketemu Firman. Dia pasti godain terus untuk mengetahui perasaanku yang sebenarnya. Padahal, tadinya, aku ingin menyembunyikan ketertarikan ini agar tak perlu menjawab perasaan Pak Luis.
“Tapi, rasa-rasanya, kalau Firman tau semua, semua itu akan terasa sulit. Dia pasti bersikeras meyakinkan aku kalau bosnya itu tak main-main. Aku tau. Dan mungkin saja memang benar. Tapi, lihatlah aku? Haha. Pulang saja pake motor butut begini.”
Sekeluarnya dari halaman rumah sakit, Delia bersungut-sungut karena apa yang dibahasnya dengan Firman barusan. Berulang kali ia berdecak, berulang kali pula ia tertawa. Ia sama sekali tak menyangka kalau dirinya akan mengalami hal semacam itu.
“Bos, jatuh cinta sama karyawannya sendiri? Apa nggak kayak dalam film-film FTV itu? Haha. Ini tak bisa dipercaya. Rasanya tuh nggak mungkin banget gitu. Secara, banyak kok di luaran sana yang bahkan lebih cantik dariku. Yang dari kalangan sama. Yang jauh lebih berpendidikan. Kenapa milih aku coba?
“Mana pake acara ciuman pula! Oh, Tuhan. Ampuni hamba-Mu ini yang sudah begitu kurang ajar. Belum lama ini, temanku sendiri berusaha memperkosa. Tapi semalam, aku justru menerima ciumannya yang ... argh, kenapa rasanya beda. Ciumannya itu berasa enak dan nyaman sekali.
“Gila! Ini sih gila. Ya, ya. Kamu harus berhenti memikirkannya, Delia. Lupakan dan kembal normal seperti biasa. Anggap, ciuman itu hanya ada dalam mimpimu. Ok?!” tanyanya pada diri sendiri, setelah bersungut-sungut kembali.
Namun, Delia justru merengek. Wajahnya benar-benar dibuat seperti anak yang cengeng. “Tapi aku nggak bisa melupakannya begitu saja. Ciuman itu benar-benar berputar dalam ingatan. Gimana bisa dilupain?” sambungnya, sebelum kemudian ia berusaha kembali bersikap normal. “Kamu pasti bisa. Pasti bisa!”
Dilajukannya dengan cepat motor yang ia bawa di bawah sengatan matahari. Delia ingin segera sampai untuk bisa melakukan mandi, sebagai upaya melupakan semua yang terjadi semalam
Ia harus mengguyur kepalanya yang terasa begitu panas. Ia juga harus menggosok wajah beserta bibirnya agar dapat membantu prosesnya menghilangkan ingatan tentang semalam. Terlebih, ia harus segera melaksanakan salat Dzuhur.
Ditatapnya lulur ke depan. Jalanan sedikit ramai oleh lalu-lalang kendaraan yang sepertinya tiada henti meski di bawah panas terik matahari. Ada saja orang yang berkendara, bahkan dengan sepeda. Delia melihatnya dari jauh, seseorang tengah bersepeda sehingga pikirannya sedikit teralihkan.
“Enak kali, ya, kalau sepedaan gitu? Tapi nggak di siang bolong kek gini juga. Pagi, atau sore gitu misalkan? Hm ... tapi, kerja di kantoran kek gini mana ada waktu libur, kan? Ada pun hari minggu, yang ada waktunya habis dipakai molor.”
Delia pun menertawakan dirinya sendiri. Kebiasaan dalam tidurnya mungkin memang aneh dan beda dari kebanyakan wanita lain. Di mana ia akan menghabiskan waktu seharian dengan tertidur saat menginginkannya. Padahal, ia tak bergadang. Tapi sanggup tertidur pulas di siang hari.
Bangun-bangun, hanya waktunya salat dan makan saja, meski itu tak di setiap waktu senggang. Ia melakukannya hanya jika ingin melakukannya. Atau, hanya saat banyak pikiran seperti kemarin lalu setelah hampir saja diperkosa oleh Billi.
Karena malu, tegang, dan kecewa, Delia habiskan waktunya dengan tertidur pulas. Bangun, hanya karena ingat kalau ibunya sedang dirawat di rumah sakit. Lantas, setelah itu, perasaan kacaunya pun berkurang.
Jarak dari rumah sakit ke rumahnya tidak begitu jauh. Waktu tempuh satu jam saja cukup untuk membuatnya tiba di halaman rumah. Apalagi sekarang, karena Delia memasang gas kencang-kencang tanpa kendur, kurang dari setengah jam saja dirinya sampai.
Adel belum pulang dari sekolah. Sehingga rumahnya itu sepi karena tak ada suara dari orang terbawel menurutnya. Delia pun bergegas mengetuk pintu sembari mengucap salam. Lantas masuk tanpa menunggu dibukakan pintu.
Hal pertama yang ingin dilakukannya adalah menemui sang Ibu di dalam kamar. Sehingga cepat dirinya itu masuk ke sana usai menyimpan sandalnya di rak dalam ruang tamu. Ia juga melempar kantong keresek berisikan baju kotornya ke sembarang tempat.
“Bu ...!” sapanya sembari membuka pintu kamar. Ia tak langsung masuk. Melainkan mencondongkan kepalanya dahulu untuk mengecek keberadaan ibunya itu. Ibunya tak ada di dalam kamar. “Lho, kok nggak ada?” sambungnya seraya kembali menutup pintu.
Dan, tepat ketika Delia menarik wajahnya lagi, wanita yang sudah melahirkannya itu ada di sampingnya sambil menyengir. “Ibu?! Oh, astaga. Ibu dari mana? Aku sampek kaget,” katanya.
“Wudu. Tuh, liat ...,” katanya sembari menunjukkan wajah yang basah. “Ibu baru mau salat. Tadi ketiduran soalnya. Kamu udah salat?”
“Belum. Ini juga baru mau. Tapi, aku sengaja nengok Ibu dulu. Taunya nggak ada,” timpal Delia sambil balas menyengir. “Ya, dah. Aku mau mandi dulu juga soalnya, Bu. Papai,” sambungnya sambil melengos pergi.
“Ya, ampun!” batin sang Ibu yang seketika menggeleng-gelengkan kepala. Heran, karena anaknya itu memiliki sikap dan sifat yang menyerupai ayahnya. Padahal, suaminya sudah mewanti-wanti kalau anaknya harus anggun seperti ibunya.
***
Di sekolahnya, Adel yang baru saja menyelesaikan pelajarannya itu pun mencuri-curi pandang ke arah Putra. Pasalnya, teman satu kelasnya itu sudah membuat ia terbayang-bayang tentang makan malam emalam.
Dan begitu Putra melihatnya, ia buru-buru berpaling dan berpura-pura tengah sibuk dengan pelajarannya itu. Ia takut ketahuan karena Putra pasti akan menggodanya dengan kata-kata mencuri pandang sepanjang waktu.
Namun, Putra bukan seseorang yang bodoh sehingga tidak dapat menangkap gelagat Adel yang mencurigakan. Ia yakin kalau teman wanitanya itu sedang mencuri pandang ke arahnya sedari tadi.
Putra tersenyum senang, karena akhirnya dapat dengan jelas menangkap perasaan Adel terhadapnya. Dengan begitu, ia tak perlu repot-repot mencari perhatian agar Adel dapat menerima perasaannya itu.
Putra bangkit dari duduknya. Kemudian ia beranjak pergi meninggalkan kelas untuk memancing Adel keluar juga dari sana. Jam pelajaran memang baru saja selesai, sehingga semua murid bebas untuk beristirahat.
Lelaki berparas keras dan tampan itu tersenyum tipis saat langkahnya sudah mencapai pintu. Sebab, ia baru saja melihat dengan ekor matanya kalau Adel juga beranjak dari duduknya. Wanita itu, memang hendak mengikuti Putra dari jauh.
Namun, karena Putra ingin memergoki Adel, ia yang baru saja keluar dari ruangan pun berdiri dan bersembunyi di balik dinding ruangan. Sehingga begitu Adel keluar, ia langsung menarik teman wanitanya itu.
‘’Astaga!’’ seru Adel begitu tangannya diraih dan ditarik seseorang, tanpa tau, siapa orang tersebut. Namun, setelah mengerjap kaget, ia pun lebih terkejut lagi karena yang dilihatnya itu adalah Putra.
‘’Kenapa? Kaget? Kamu kan ngikutin aku. Kok, kaget gitu?’’ tanyanya sembari melebarkan senyuman. Sementara tangannya masih erat menggenggam tangan Adel. Ia ingin agar Adel jujur padanya,
‘’Apaan? Mana ada aku ngikutin kamu? Ini jalan umum. Semua murid juga jalan sini kalau mau.” Adel pun beralasan karena tak mau ketahuan.
“Hilih!” seru Putra, meledek. “Ngintil kok nggak mau ngaku!”