Memohon Lagi

2188 Kata
Bab. 43. Memohon Lagi Delia membuka mata perlahan begitu bangun dari tidurnya. Namun, kesadarannya belum sempurna karena mimpi terlalu membuatnya terlelap semalaman penuh. Bahkan, dia tak langsung sadar kalau dirinya itu sedang ada di rumah sakit. Matanya mengerjap sesekali sebelum akhirnya ia terperanjat karena melihat seseorang yang langsung disadarinya. ‘’Oh astaga! Aku kesiangan,’’ katanya sambil buru-buru mengucek mata. Delia juga menyapu wajahnya itu dengan cepat. Namun, begitu ia hendak berdiri untuk pergi ke kamar mandi, tubuhnya tiba-tiba tidak seimbang. Ia hampir saja jatuh kalau tak buru-buru kembali duduk. ‘’Kamu nggak apa-apa?’’ tanya Luis yang seketika bangkit dari duduknya. Ia memang tak melihat Deli saat akan terjatuh, tapi suara dari ringisan Delia terdengar jelas di telinganya. ‘’Aku nggak apa-apa, kok. Cuma kaget aja ini hampir oleng,’’ jawabnya sambil menyengir. Ia juga lupa kalau Luis tak dapat melihat sehingga buru-buru dirinya itu hendak ke kamar mandi untuk mencuci wajah karena malu. ‘’Kamu mau ke mana emang?’’ tanya Luis kembali. Ia ingin mendekat. Tapi, keadaan membuatnya hanya diam dan berdiri saja tanpa bergerak. ‘’Ke kamar mandi. Sekarang udah jam enam. Aku harus buru-buru pulang meski tetap akan terlambat masuk kantor.’’ Delia pun berdiri lagi. Namun kali ini ia dapat menyeimbangkan dirinya. ‘’Nggak usah ngantor nggak apa-apa. Udah telat banget juga, kan?’’ Luis kembali mengajak Delia berbicara sebagai upaya pencegahannya. Ia bahkan menggerakkan kakinya perlahan untuk menghampiri Delia yang di rasanya ada di hadapannya. Padahal arahnya tidak tepat. Delia yang melihat Luis meraba-raba dalam melangkah pun segera menghampirinya. Ia bertanya, ‘’Mas mau ke mana?’’ ‘’Mau nyamperin kamu. Takutnya ngeyel dan tetap pergi ninggalin aku sendiri.’’ Luis menyengir sehingga tampak gigi putih nan rapinya itu. Ia merasa kikuk. ‘’Tapi kan aku harus tetap pergi, Mas. Aku harus mandi.’’ Delia pun memelankan suaranya itu agar tak didengar Jenny. ‘’Nggak mandi juga tetep cantik kayaknya. Aku mau kamu di sini sehari ini lagi saja, Del. Jenny bisa pulang kok nanti sore. Ya?’’ pintanya dengan sangat. ‘’Aku nggak ada teman ngobrol. Nggak ada teman makan juga,’’ sambungnya. ‘’Firman?’’ tanya Delia yang sudah dari semalam tak melihat adanya Firman lagi. Ia bahkan langsung mengedarkan pandangan. Dan, Firman memang tidak ada di sana. ‘’Dia ijin pulang semalam. Pas kamu udah tidur. Terus sekarang dai harus pergi ke kantor untuk mewakilkan aku,’’ katanya dengan ucapan lambat. ‘’Oh ....’’Delia pun mangut-mangut. Namun, otaknya masih bingung. Apa yang harus ia putuskan sekarang. ‘’Kamu mau, kan?’’ tanya Luis pada akhirnya. Dari suaranya, terdengar jelas kalau ia sangat berharap agar Delia mau. ‘’Gimana, ya? Aku—‘’ ‘’Mau aja, sih? Emang kamu nggak kasihan sama aku gitu? Aku mau apa-apa susah nanti.’’ Sela Luis yang benar- benar menginginkan Delia ada di sampingnya. Ia melangka maju, sehingga hampir menubruk Delia, kemudian meraba untuk meraih tangan Delia. Delia sedikit mengerjap. Ia juga menatap tangannya saat digenggam oleh Luis. ‘’Y-ya, sudah kalau gitu. Tapi aku mau ke kamar mandi dulu sekarang.’ ‘’Jangan kabur, ya?’’ Luis pun tertawa pelan. Lantas segera melepas tangan Delia yang digenggamnya itu. ‘’Nggak. Paling juga ilang biar kek jin,’’ timpal Delia sambil tertawa juga. Kemudian ia berjalan mundur sebelum akhirnya melengos pergi dari ruangan. Sementara itu, Luis yang kepalang senang pun langsung menghampiri Jenny yang sibuk dengan ponselnya lagi. Ia duduk setelah meraba-raba kursinya dulu. ‘’Ayah sudah berhasil membujuk ibu gurumu, Sayang. Dia akan di sini sampai kamu pulang nanti,’’ katanya. ‘’Cuma sampai aku pulang aja? Kenapa nggak sekalian ajak pulang ke rumah?’’ tanya Jenny seraya menangkupkan layar ponselnya. Ia memandang ayahnya yang cengengesan itu. ‘’Ibu guru pasti mau kalau ayah yang ajakin,’’ sambungnya. ‘’Ayah nggak yakin kalau soal itu, Sayang. Tapi nanti Ayah coba, ya?’’ jawabnya sambil menyengir. Karena berhasil membujuk Delia bukan hanya membuat Jenny senang. Dirinya juga bahagia saat berada dekat dengan Delia. ‘’Sekarang ayah tunggu Bu gurumu itu dari kamar mandi. Setelah itu akan yah ajak ke kantin untuk membeli sarapan. Jenny nggak apa-apa ayah tinggal sendiri?’’ tanyanya. ‘’Nggak apa-apa, Ayah. Jenny udah gede, kan?’’ Gadis yang bahkan usianya belum genap enam tahun itu sudah merasa cukup dewasa. Padahal, tak jarang ia masih suka mengompol saat malam. Namun, itu menjadi rahasianya dengan Bi Muna. ‘’Iya, sayang. Kamu udah gede. Makanya pinter,’’ timpal sang ayah dengan bangganya. ‘’Tapi ... sayangnya masih suka mengompol.’’ Luis menggoda. ‘’Ih ... kata siapa aku masih suka ngompol. Nggak juga, kok. Ayah kali suka ngompol, ya?’’ Jenny justru membalikkan pakta tentangnya dengan wajah tersipu malu. ‘’Ayah liat sendiri pas celanamu basah, Sayang. Ahaha. Tapi nggak apa-apa. Yang penting anak ayah cantik,’’ katanya sambil tertawa-tawa. ‘’Ish ... Ayah ini. Jangan bilang-bilang, ya?’’ pinta Jenny. *** Di kamar mandi, Delia yang baru selesai membasuh wajahnya dengan air itu bergeming di depan cermin. Ia menatap pantulan dirinya dalam cermin sambil menelaah wajahnya sendiri. Dilihatnya dengan saksama sambil bergumam, ‘’Benarkah aku secantik itu?’’ Disentuhnya wajahnya itu sambil tersenyum. Delia senang saat seorang Luis tiba-tiba mengatakan perasaannya, meski ada sesuatu yang sedikit mengganjal dalam hatinya. Ia adalah seorang tak punya yang bahkan harus membiayai ibu dan adiknya seorang diri. Sementara Luis adalah seorang bos di salah satu perusahaan ternama. Dia memiliki kekayaan dan ketampanan meski pun memiliki kebutaan permanen setelah terjadinya kecelakaan. Delia pikir, ia tak cukup pantas untun bersanding dengan lelaki sekaya dan sekeren Luis jika dibandingkan dengan dirinya yang hanya seorang karyawan, di kantor Luis sendiri. Kembali Delia membasuh wajahnya itu dengan air yang diambilnya dari keran. ‘’Apa aku salah, ya, dengan memberinya kesempatan untuk mendekat?’ secara ... dia ini siapa, aku siapa? Jauh banget bedanya, kan?’’ tanyanya dalam hati. Delia menghela napas panjang, kemudian mengembuskannya perlahan sembari melap wajahnya itu dengan handuk kecil yang semalam dibelikan Luis juga. Wajahnya sudah kembali kering, sehingga buru-buru Delia memakai pelembab wajah. Namun, ia tak memakai bedak karena ingin terlihat lebih natural. Hanya saja, ia mengoleskan sedikit lipstik. Buru-buru Delia keluar dari kamar mandi usai memakai lipstiknya itu. Luis pasti sudah cemas menunggu, pikirnya dalam hati. Pandangannya mengedar sebelum kemudian ia melanjutkan langkahnya menuju ruang di mana Luis dan Jenny sudah menunggunya. ‘’Apa sebaiknya aku sudahi aja kedekatan ini? Makin cepat menghindar kan makin bagus? Aku nggak harus baper-baperan lagi. Soal ciuman semala apalagi coba? Hih ... malu-maluin.’’ Di sepanjang jalan Delia bergumam dalam hatinya. Ia bergidik sesekali karena kelakuannya yang sudah dengan mau menerima kecupan Luis. Padahal, itu tak seharusnya ia lakukan. ‘’Tapi, untuk sekarang sebaiknya aku di sini ajalah dulu. Toh dia yang punya kantor ini. Gajiku pasti nggak bakal kena potong karena bolos untuk menemani anaknya itu,’’ sambungnya sambil meraih gagang pintu ruangan. Delia mencondongkan wajahnya ke dalam seraya memanggil Luis. Kemudian ia izin pergi ke kantin dulu untuk memberi sarapan. ‘’Mas mau apa? Jenny mau apa, Sayang?’’ tanyanya. ‘’Aku ikut, Del. Udah bilang kok sama Jenny juga kalau aku sama kamu mau ke kantin dulu untuk beli sarapan. Ya?’’ tanyanya balik. Luis yang semula duduk pun berdiri menghadap ke arah sumber suara. ‘’Biar aku sendiri aja, Mas. Jenny nggak ada temannya nanti,’’ timpal Delia. Padahal bukan karena itu alasannya. Melainkan karena ia ingin menghindar dan membuat jarak dengan Luis. ‘’Jenny nggak apa-apa, kok. Ya, Jenny, ya?’’ tanyanya pada Jenny. Anaknya itu mengangguk sembari membenarkan apa yang dikatakan Luis. ‘’Kasihan juga kalau Ayah di sini terus, Bu. Biarin ayah keluar sambil cari udara segar.’’ Jenny menyengir pada Delia. Ia tengah bersekongkol dengan ayahnya itu untuk menaklukkan perasaan Delia. ‘’Oh.’’ Delia pun mengangguk kikuk, karena tak mungkin menolak keinginan seseorang untuk ingin keluar, meski dirinya tak menginginkan hal itu. ‘’Ya, sudah kalau gitu. Ayo,’’ sambungnya sembari membuka pintunya lebar-lebar. Luis tersenyum tipis untuk menyembunyikan rasa bahagianya yang mungkin akan terlihat berlebihan kalau ia tersenyum lebar. Kemudian ia berjalan pelan seraya meraba-rabakan tangannya ke depan agar tak menabrak. Delia yang melihatnya pun berdecak pelan sembari melangkah maju. Terpaksa, karena tak tega melihat orang buta merayap-rayap di hadapannya. Dihampirinya Luis, Delia pun meraih tangan bosnya itu. ‘’Biar kubantu,’’ katanya pelan. ‘’Oh, iya. Makasih,’’ balasnya sambil tersenyum. Bahkan, ia merasa begitu bahagia sekarang setelah lama tak merasakan sentuhan perasaan. Jantung Luis seketika berdetak kencang, ia bahkan merasakan panas dingin di seluruh tubuhnya tiap kali berdekatan dengan Delia. Ia pikir, Delia adalah obat penenang yang akan membuatnya ketagihan. Sehingga ia perlu solusi untuk menuntaskan ketergantungannya itu sendiri. Terlebih lagi, bayangan-bayangan yang menunjukkan kemungkinan betapa cantik dan manisnya Delia, membuatnya hampir gila. Tangan lembut Delia, bibir manis dan seksi Delia, juga semua yang menyangkut kewanitaan Delia, ia membayangkannya sampai susah untuk tertidur tadi malam. Lalu sekarang, aroma dari tubuh wanita di sampingnya itu bahkan menusuk-nusuk hidungnya sampai dalam. Membuat Luis sesekali menghidu panjang sambil terpejam saat merasakan keharuman wanita yang disukainya itu. Kemudian mengembuskannya dengan lega. Andai dirinya dapat memiliki Delia, tak kan ia lepas wanita itu dari peluk dan genggamannya. Namun, Luis tak yakin kalau Delia akan menyukainya. Karena yang ia rasakan, Delia hanya sedang merasa ingin menebus rasa bersalah setelah tak sengaja menabrak anjingnya itu. Terlebih, apalah dirinya yang bahkan tak bisa melihat apa-apa. ‘’Tapi aku tak kan menyerah. Lama-kelamaan, kamu pasti akan menyukaiku. Iya, kan?’’ gumamnya. ‘’Apa?’’ tanya Delia yang mendengar sedikit dari ucapan Luis barusan. Ia menoleh sembari menghentikan langkah kaki. ‘’Eh ... itu, kita udah sapai belum?’’ Luis pun menoleh, meski tak dapat melihat apa-apa. Lantas ia menyengir karena mengira kalau Delia pasti merasa heran dengan tingkahnya itu. ‘’Belum. Kita belum sampai. Yuk, jalan lagi,’’ katanya seraya melanjutkan langkah tanpa melepas genggam tangannya dari jemari Luis. Kasihan, pikir Luis pada akhirnya. Wanita yang menuntunnya itu menjadi terlihat seperti anjing pemandu. Bahkan, ia yakin kalau Delia pasti tak nyaman karena harus membantunya berjalan. Namun, Luis tak tahu seluk beluk rumah sakit. Ia tak bisa berjalan sendiri seperti dalam rumahnya karena sudah terkuasai. Meski menjadi buta selama beberapa tahun membuatnya peka terhadap apa pun, tetap saja, Luis masih merasa lemah jika berjalan seorang diri tanpa anjingnya di luar rumah. ‘’Maaf, ya.’’ Luis bergumam lagi. Delia dengan raut wajah masamnya itu juga menoleh lagi. ‘’Maaf untuk apa?’’ tanyanya, tanpa menghentikan langkah kaki. Mereka hampir ampai di gerbang belakang, di mana akan membawanya ke kantin. ‘’Karena aku sudah merepotkanmu. Lagi dan lagi,’’ jawabnya, pelan dan penuh dengan penyesalan. Luis cukup sadar diri. Tapi, ambisi dan semangatnya membuat ia lupa berpikir, bahwa bisa saja Delia kurang suka. ‘’Kita sudah membahas ini semalam. Aku nggak keberatan karena Jenny sudah kuanggap sebagai adik sendiri.’’ Delia menghentikan langkahnya sekarang. Ia sedang ada di tepi jalan sehingga perlu untuk berhati-hati sebelum menyeberang. ‘’Tetap saja. Rasanya, aku terlalu memaksakan kehendakku dan juga Jenny. Aku tak seharusnya menahanmu di sini. Seharusnya aku membiarkanmu pulang untuk beristirahat. Tapi ... sekarang, aku justru membuatmu seperti anjing pemandu orang buta’’ katanya, semakin penuh dengan penyesalan. ‘’Lha ... kok gitu mikirnya? Aku nggak keberatan, kok. Suer!’’ timpal Delia seraya menatap wajah Luis. Ia baru saja berbohong karena sebenarnya, ia sangat-sangat tidak nyaman berada di rumah sakit, ia juga tak nyaman jika harus selalu berdekatan dengan Luis yang jelas-jelas adalah bosnya sendiri. ‘’Serius?’’ Luis memastikannya kembali. Lagi-lagi ia menoleh meski tak dapat melihat apa-apa. ‘’Aku serius, Mas. Tapi, kalau bisa, aku mau pulang siang nanti. Ibuku khawatir pasti kalau anaknya nggak pulang-pulang.’’ ‘’Ha ... iya, bener. Aku malh mau mengajakmu pulang ke rumah sore nanti saking nggak tahu dirinya,’’ timpal Luis. ‘’Maaf. Tapi aku emang nggak bisa ikut mengantar Jenny pulang, Mas. Aku harus pulang dulu.’’ Delia pun akhirnya merasa tak enak hati. Padahal, tadi, ia sudah begitu mantap untuk mencipta jarak. ‘’Nggak apa-apa. Kamu emang harus pulang. Biar nanti aku kasih pengertian lebih ke Jenny, dia pasti paham, kok.’’ Luis tersenyum, meski hatinya berkata itu tidak benar. Ia ingin kalau Delia ikut. ‘’Aku akan bantu jelaskan juga. Sekalian akan mengatakan kalau aku akan sering berkunjung untuk menengoknya nanti. Jenny pasti paham.’’ Delia balas tersenyum. Kemudian ia kembali melangkahkan kakinya setelah tidak ada lalu-lalang kendaraan. Delia merasa lega karena akhirnya bisa pulang cepat setelah sebelumnya khawatir akan kembali Luis tahan dengan Jenny sebagai alasan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN