Bab. 42. Suka Sama Kamu
“Aku suka sama kamu.”
Sekali lagi Luis tegaskan tentang perasaannya terhadap Delia. Ia bergeming, andai dapat sembari melihatnya. Pun dengan Delia yang seketika terpaku setelah menelan ludahnya dengan susah payah. Gadis berambut hitam dan panjang itu tak bisa berucap karena mengkhawatirkan pendengarannya. Ia takut salah mendengar.
Lama keduanya tenggelam dalam diam sembari menghadap masing-masing, dengan pikiran masing-masing pula. Jika Luis yang terus berdoa agar perasaannya itu dapat diterima, Delia justru berulang kali meminta agar Luis kembali mengucapkan perasaannya. Pasalnya, ia tak mau menanggung malu seandainya yang ia dengar hanyalah sebuah kesalahpahaman. Atau, barangkali Luis sedang bercanda. Delia tak ingin bereaksi sedikit pun.
Karena tak kunjung mendapatkan respons, Luis pun berdeham sembari meraba-raba ke arah Delia. “Kamu masih di hadapanku, kan?” tanyanya.
“I-iya. Aku masih di sini.” Delia pun berdeham lagi karena suaranya yang mendadak serak.
“Ah, iya.” Luis pun kembali menarik tangannya setelah dapat memastikan kalau Delia memang ada di hadapannya. “Tapi, kenapa kamu diam?” Ia pun tertawa kecil, disertai dengusan. “Atau, apa yang aku ucapkan tadi itu memang benar, kan? Buktinya, kamu sendiri sepertinya kaget dengan ungkapan perasaanku barusan. Lebih-lebih, sepertinya kamu tidak menginginkan hal itu, kan? Aku tau itu. Aku memang tidak sempurna.”
“Bukan begitu,” sela Delia setelah dirinya merasa terlalu banyak diam. “Aku, aku hanya kaget. Tapi, aku sangat menghargai perasaanmu. Toh, perasaan itu harusnya diungkapkan bukan. Karena hanya dengan begitu, kamu akan mengetahui perasaan orang lain.”
“Lalu, bagaimana dengan perasaanmu padaku?” sela Luis, tak sabaran. Ia bahkan beringsut maju, sehingga berada begitu dekat dengan Delia. Lantas, ia meraba lagi sampai akhirnya dapat menyentuh tangan Delia tanpa salah.
“Aku ....” Delia menelan ludahnya lagi tanpa mengalihkan tatapan dari wajah Luis yang sudah sejak kemarin memang menggodanya. Tapi, sebagai perempuan, ia merasa terlalu cepat dan terkesan gampangan jika harus menjawabnya saat itu juga.
“Kamu nggak suka aku, kan?” Luis kembali membuka mulut sambil tersenyum. Tapi, ia tak melepaskan tangan Delia begitu saja. Ia justru menarik dan menciumnya dalam-dalam.
“Aku, aku nggak tau harus ngomong apa. Kita baru saja bertemu setelah beberapa insiden terjadi di antara kita. Aku rasa—“
“Terlalu cepat?” tanya Luis, mendahului. Lagi-lagi sambil tersenyum, meski hatinya dilanda getir karena takut menghadapi penolakan. “Itu adalah alasan klasik, Del. Aku menginginkan jawabannya sekarang.”
“Tapi—“
“Kamu tidak perlu menerima perasaanku sekarang, Del. Tapi, setidaknya beri aku alasan untuk berjuang, atau menyerah.” Luis menyela saat Delia hendak menyangkal.
“Maksudnya?”
“Katakan ya, jika kamu memang mengizinkan aku untuk berjuang. Tapi, segera katakan tidak, kalau kamu memang tidak akan memberikan alu satu Kesempatan pun,” jawabnya seraya menggenggam erat jemari Delia, karena ia benar-benar sedang berharap penuh.
“Um, aku.” Delia benar-benar bingung sekarang. “Gimana ini? Apa yang harus aku katakan Padanya?” Ia membatin.
“Katakan saja. Aku akan menerima apa pun jawabanmu.” Luis berusaha untuk bersikap tegar, meski takut akan penolakan. “Setidaknya ... jangan biarkan aku menunggu terlalu lama.”
“Ya!” seru Delia tiba-tiba. Ia bahkan sampai terpejam kuat saat mengatakannya.
Namun, Luis justru berlonjak senang begitu mendengarnya. Bahkan, ia hampir saja berdiri untuk melakukan loncatan kalau saja tak ingat akan rasa malu yang pada akhirnya membuat ia memilih untuk memeluknya Delia saja.
“Aku senang mendengar jawabanmu. Makasih,” bisiknya tepat di samping telinga sebelah kana Delia.
Gadis dalam pelukannya itu mengangguk tanpa kata karena masih tak percaya juga dengan apa yang baru saja diucapkannya. Ia hanya tersenyum-senyum sambil berdeham sesekali.
Luis memeluknya semakin erat sebelum kemudian menarik diri, dengan memegang kedua belah pundak Delia. Ia menatap wajah Delia dalam gelap sembari membayangkan betapa cantik dan manis wanita di hadapannya itu seperti apa yang selalu dijelaskan Firman. Kemudian ia meraba sehingga naik kedua tangannya sampai ke pangkal leher.
Luis mendekatkan wajahnya meski tak tahu, apa yang akan dikecupnya. Namun, karena Delia tiba-tiba saja terpaku tanpa bisa menolak apa yang hendak dilakukan Luis padanya, ia pun refleks bereaksi dengan menempatkan sasaran Luis sehingga tepat mengenai bibirnya yang serupa merah jambu.
Dan, setelah sekian tahun, Luis pun kembali merasakan sentuhan bibir seseorang. Ia melumatnya dengan begitu lembut dan penuh perasaan, sampai hasrat tiba-tiba saja memuncak. Ia menurunkan sebelah tangannya sehingga berada di pinggang Delia untuk memeluknya erat.
Luis tahu dirinya ada di mana. Sehingga beberapa detik kemudian ia berhenti dan segera menarik diri. Pun dengan Delia yang seketika salah tingkah. Ia beringsut mundur sembari mengucapkan kata maaf pada Luis.
“Aku yang seharusnya minta maaf. Tapi, kalau boleh jujur, aku bahagia atas jawaban yang kamu berikan tadi. Sekali lagi makasih,” timpalnya seraya menautkan kedua tangan erat-erat. Tubuhnya itu masih bergetar akibat hasrat yang terpaksa ia putus agar tak terjadi sesuatu di antara mereka.
“A-aku, harus ke kamar mandi dulu sebentar. Kamu nggak apa-apa sendiri?” Delia langsung berdiri dan menghadap Luis sembari pamit.
“Oh. Iya, nggak apa-apa. Silakan. Tapi ... jangan lama,” katanya, khawatir kalau Delia justru kabur karena apa yang dilakukannya barusan.
“Iya. Aku segera kembali!” katanya seraya buru-buru melengos pergi. Jantungnya itu berdebar tak keruan. Tubuhnya juga gemetar seperti orang kelaparan. Delia tahu itu karena sikap yang ditunjukkan Luis padanya. Dan, ia merasa perlu untuk menghindarinya sebentar.
“Astaga ... apa itu tadi?” Delia bergumam dalam hatinya begitu sampai di luar ruangan. Ia tak sedang ingin ke kamar mandi. Melainkan ingin menghirup udara segar setelah beberapa saat terjerat oleh hal yang mendebarkan.
“Dia menciumku? Dan ... aku menerima ciumannya?” Delia bergumam lagi seraya menyandarkan tubuhnya di dinding luar ruangan. Ia menangkup mulut, meraba dan mencecap-cecap bibirnya cepat.
“Gila, sih, ini! Wanita macam apa aku ini? Sehingga mau dicium begitu saja sama dia? Oh, astaga. Dia pasti mengira, kalau aku ini benar-benar w**************n. Udah mah main bilang iya-iya. Eh, mau dicium juga. Duh ...!”
Kali ini Delia memukul-mukul kening dengan kepalan tangannya yang membulat. Ia menggeleng sambil terpejam, seraya memikirkan bagaimana dirinya bisa menghadapi Luis setelah ini. Ia pasti akan selalu merasa malu tiap bertemu.
Terlebih lagi sekarang, karena ia sedang dam akan bersama Luis semalaman untuk menemani Jenny sampai pagi. Tapi, Delia merasa tidak akan sanggup melewati malamnya itu tanpa gangguan. Jantungnya pasti terus berdebar kencang. Pun dengan tubuhnya yang pasti terus gemetar.
“Astaga! Sekarang aja aku udah bingung mau ngapain. Masuk, atau pulang aja sekalian?” batinnya lagi, setelah merasa begitu putus asa karena ulahnya sendiri. “Tapi, aku nggak mau menyakiti perasaan Jenny. Dia pasti nggak bakal percaya aku lagi kalau sekarang aku pulang. Ish! Aku harus gimana sekarang?!” Ia memukul kening lagi. Kali ini lebih keras.
“Ok-ok. Ini demi Jenny. Aku pasti bisa. Ok-ok!”
Delia lantas berdeham-deham sembari menegakkan tubuhnya. Ia mencoba menetralkan perasaan, tubuh, serta jantungnya agar dapat bekerja sama, hingga pagi nanti saja. Lantas ia melangkah ragu, sebelum akhirnya berangsur lebih santai.
“Sudah kembali?” tanya Luis, yang seketika menyambutnya dengan senyuman.
“Ya!” timpal Delia, hanya sepatah kata. Kemudian, is kembali duduk di kursi yang sedikit lebih jauh dari Luis. “Tapi, sekarang aku ngantuk. Bisa, kalau aku minta jangan diganggu?” sambungnya dengan percaya diri. Luis mencintainya. Delis pun merasa perlu untuk memanfaatkan perasaanmu itu.
“Oh ... iya-iya, silakan. Sekarang memang udah malam banget. Jenny juga udah tidur. Sekarang giliranmu untuk beristirahat. Ayo,” timpal Luis seraya bergeser lebih jauh agar Delia dapat menaikkan kedua kakinya itu saat berbaring.
“Kamu juga, Pak. Istirahatlah!” timpal Delia, dengan tanpa sengaja memanggil Luis dengan sebutan itu.
“Panggil aku dengan sebutan lain. Jangan ‘Pak’,” ucap Luis.
“Aku harus panggil apa dong? Mas, Abang atau apa?’’ Delia menyengir lebar sembari menatap Luis yang juga menyeringai padanya itu. Ia bahkan tersipu sampai merah kedua pipinya itu karena malu.
‘’Ya, pokonya apa aja lah yang penting jangan pak aja. Soalnya, meski pun aku sudah tua dan punya satu anak ... panggilan pak itu terlalu anu.’’
‘’Baiklah kalau begitu biar aku panggil Mas aja, ya?’’ Delia menyengir lagi?, kali ini sembari menyandarkan dirinya itu di sandaran kursi. Hari sudah cukup melelahkan baginya. Ia ingin sekali beristirahat untuk bisa kembali segar esok hari.
‘’Ide bagus. Sekarang tidurlah. Aku yakin kamu pasti cape setelah bekerja seharian, kan? Ditambah lagi dengan permintaan Jenny yang tak bisa aku kendalikan.’’
Luis pun bersandar sembari menyapu wajahnya yang sudah begitu kusut. Ia juga mengambil napas berat karena sama lelahnya dengan Delia. Pekerjaan di kantor, ditambah dengan perasaan yang terus mengganggunya membuat ia merasa begitu letih. Belum lagi dengan sakitnya Jenny ... kacau sudah pikirannya itu.
‘’Nggak apa-apa, Mas. Aku masih bisa memahaminya. Lai pula, Jenny sudah seperti adik bagiku. Aku tak mungkin membiarkannya sedih hanya karena ingin aku temani.’’
‘’Adik?’’ Luis menoleh meski tak dapat melihat Delia dengan kedua matanya yang buta itu. Ia cukup terkejut dengan pernyataan Delia barusan.
‘’Iya. Kenap memangnya? Aku salah ya?’’ Delia membuka matanya setelah tadi sempat menutup kedua matanya itu untuk beristirahat. Ia menoleh melihat Luis yang juga menghadap padanya itu.
‘’Nggak. Bukan salah. Hanya kaget saja karena kamu menganggapnya sebagai adik. Apa tidak sebagai anak saja?’’ tanyanya, sengaja untuk menggoda Delia. Ia tahu kalau Delia pasti akan tertawa atau tersenyum saat menanggapinya.
Dan, apa yang dipikirkan Luis ternyata benar. Delia seketika menertawakannya bahkan hampir saja terpingkal kalau saja tak ingat sedang di mana. Delia menangkup mulutnya itu dengan kedua tangan sembari celingukan. Barangkali, ada yang melihatnya tersenyum-senyum begitu.
‘’Kenapa? Aku salah tah? Kan Cuma nanya,’’ ucapnya sambil menyeringai.
‘’Bukan salah. Aku hanya heran saja. Kenapa aku harus menganggap Jenny sebagai anakku. Ya, meski dia memang anakku sebelumnya. Anak didik.’’ Delia balas menyengir.
‘’Ya bukan karena apa-apa. Itu kan hanya semisal. Lagi pula ... aku sudah mengungkapkan perasaanku bukan? Kali, nanti kamu mau menerimaku. Jadi ... sudah pasti kalau Jenny akan jadi anakmu juga.’’
‘’Um ... aku mau tidur. Good night, Mas.’’
‘’Lho ... malah tidur dia. Tapi nggak apa-apalah. Siapa tahu, keajaiban muncul setelah ia bangun,’’ katanya, lagi- lagi untuk menggoda Delia yang ia tahu tak mungkin langsung tidur.
Delia yang berbalik membelakangi Luis pun menyeringai. Ia benar-benar merasa kalau Luis itu adalah seseorang yang lucu. Tidak seperti perkiraannya sebelumnya yang ia pikir adalah galak dan jutek.
‘’Semoga saja apa yang aku dengan tadi bukan hanya sekadar mimpi,’’ batin Delia yang seketika menyimpan banyak sekali harapan.