Adalah Kamu

1837 Kata
Bab. 41. Adalah Kamu Bruk! Delia yang kaget setelah bertemu seseorang itu membuka pintu dengan keras tanpa sengaja. Ia bahkan terus berlari sebelum akhirnya duduk di kursi, tanpa menyadari adanya Firman dan Luis yang duduk di dekat ranjang. Bos dan temannya yang sedang membujuk Jenny untuk makan itu pun seketika menoleh dan melihat Delia, dengan heran, tanpa bicara. “Kenapa dia?” Firman mencolek bosnya itu tanpa mengalihkan tatapannya pada Delia. “Ya, mana gue tau, Man. Lu tanya sana!” titah Luis. Meski, sebenarnya, dia ingin menghampiri Delia untuk bertanya. Namun, urung karena tak cukup enak. Mereka tidak begitu dekat. Sehingga mungkin akan terasa aneh jika dirinya tiba-tiba mendekat. Akan tetapi, Firman yang paham akan perasaan bosnya itu pun menolak. Ia justru menyuruh agar Luis saja yang mendekati Delia. “Sana!” serunya lagi, dengan suara teramat pelan. Sementara itu, Jenny yang akhirnya mau melahap makanannya itu tengah menatap satu per satu dari Ayah dan pamannya. Kemudian beralih pada Delia yang duduk tertunduk dengan kedua tangan menangkup wajah. “Bener kata paman, Ayah. Ayah saja sana yang tanya. Paman kan lagi menyuapi aku. Iya, kan, Paman?” bisik Jenny. Ia bahkan menyengir agar ayahnya itu mau menurutinya. “Lha ... gimana, ya? Gue nggak akrab sama dia. Masa udah berani nanya-nanya?” Luis balas berbisik. “Kalau lu kan udah ketahuan, Man!” “Gimana mau akrab kalau Cuma mau nanya aja males-malesan? Ya, sudah. Biar gue yang urus!” Firman pun memutuskan untuk mendekati Delia. Ia menggeleng sebelum kemudian melangkah. Namun, tiba-tiba saja Luis menghentikannya. Ia mendesis, menyuruh Firman untuk berhenti. Ia terlihat gelagapan sebelum bicara. Barulah setelah Firman bertanya apa, Luis mengatakan maksudnya. “Biar gue aja. Lu suapi Jenny lagi,” katanya. “Nah, gitu dong. Iya, kan, Jenny?” Firman pun mengacungkan tangannya pada Jenny untuk melakukan tos saat Jenny mengangguk. “Tos dulu kita!” bisiknya. Setelah mengira-ngira langkahnya harus ke mana, Luis pun berbalik dan mengarah ke arah Delia dengan bantuan Firman. Lantas ia berjalan pelan, bersama tangan menjulur ke depan untuk meraba apa yang mungkin dapat ia tabrak. Karena tak ada perabot apa pun, juga jarak antara mereka tidak begitu jauh, Luis pun akhirnya sampai di hadapan Delia. Ia sedikit menendang kaki Delia tanpa sengaja sampai wanita itu mengerjap kaget. “Eh, maaf!” Luis pun akhirnya duduk berjongkok di hadapan Delia. Tapi, aku rasa kok kamu lagi nangis. Kenapa?” tanyanya. Delia yang terkejut karena kedatangan Luis pun langsung menarik napas sembari menyapu air matanya. Ia juga merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. “Aku nggak apa-apa, kok. Kamu kenapa-kenapa duduk di situ? Sini pindah,” katanya sembari menutupi lutut dengan kedua tangannya itu. “Jangan bohong.” Luis tak memedulikan posisi duduknya. Di atas maupun di bawah tak masalah. “Kamu nggak suka sama bajunya?” “Aku, aku nggak bohong, kok. Bajunya aku suka. Makasih, ya.” Delia tetap tak mau mengakui kalau dirinya baru saja bertemu dengan seseorang. Karena memberitahu Luis, sama saja dengan mengingatkan bosnya itu lada kejadian tempo lalu. “Kalau gitu katakan. Apa yang membuatmu menangis?” Dan, Luis pun tetap bersikeras bertanya. Ia benar-benar ingin tahu, masalah apa yang sedang ditangisi Delia. Meski mungkin susah, ia ingin kalau Delia dapat mempercayainya. Delia pun seketika melirik Firman yang ternyata tengah memperhatikan sambil tersenyum. Ia merasa senang dengan kedekatan bos dan temannya itu. Lantas, saat melihat tatapan Delia yang seolah meminta tanggapan itu, Firman pun mengangguk. “A-aku,” Delia mulai bimbang. Ia yang tadinya tak ingin memberitahu siapa pun, akhirnya merasa ingin mengatakannya pada Luis. “Katakan!” batin Firman, seolah Delia akan mendengarkannya. Namun, Delia memang benar-benar mendengarkannya. “A-aku bertemu seseorang barusan. Dia mengingatkanku terhadap sesuatu.” Helaan napasnya pun terasa hangat di wajah Luis yang mendongak menatap Delia. Luis terpejam barang sebentar merasakan hangat dan wanginya embusan napas Delia. Ia berucap lagi, “Siapa?” tanyanya. “Billi!” timpal Delia. “Argh! Astaga ... Kenapa dia meski ada di sini juga coba? Tapi, apa yang terjadi sehingga kamu menangis? Apa ... Billi menyakitimu? Atau—“ “Dia tak melakukan apa pun, Pak. Hanya saja, melihatnya membuatku merasa sakit dan terhina. Aku tak bisa memaafkannya.” Delia pun akhirnya menunduk dan menangis lagi. Membuat Luis seketika hendak menyentuh tangan Delia dengan hati-hati karena takut salah. Tapi, dia memang salah. Karena yang disentuhnya itu justru kedua lutut terbuka Delia. Luis kaget sendiri sampai kembali ia tarik kedua tangannya itu. Kemudian, ia hendak meraih pundak Delia dengan menerka-nerka letaknya. Namun, sebelum itu, Luis justru keduluan Delia. Delia memeluknya lebih dulu sambil menumpahkan tangis. “Eh?!” Luis langsung bergeming. Kedua tangannya masih merentang sebelum akhirnya ia peluk tubuh Delia perlahan-lahan. “Jangan menangis,” katanya kikuk sendiri. “Tapi aku ingin menangis. Hidupku benar-benar menjijikkan.” Delia bergumam, merutuki dirinya sendiri. Sampai-sampai ia merasa begitu lepas kontrol karena kesedihannya itu. “Ah ... ya, sudah kalau begitu. Menangislah lagi,” timpal Luis, bingung. Yang bisa ia lakukan memang hanya diam dan mendengarkan tangisan Delia. Sementara itu, Firman yang sedang menyuapi Jenny pun menyuruh Jenny untuk membelakangi ayah dan gurunya itu. Ia masih terlalu kecil, meski hanya untuk melihat dua orang tanpa ikatan halal, berpelukan. “Sayang, mau lagi nggak makannya?” bisik Firman pada Jenny. Ia menyengir karena masih terbawah suasana bahagia atas apa yang sedang dilakukan Luis pada temannya itu. “Aku udah kenyang, paman. Habiskan saja sama paman. Ya?” Jenny menyengir lagi. “Baiklah. Biar paman lahap saja kalau begitu. Tapi, setelah ini kamu tidur, ya?” bujuknya. “Aku mau tidur sama Bu Delia, Paman.” “Lho, Ibu Delia kan lagi sedih. Kasihan dong nanti?” bujuk Firman kembali. Berharap, anak bosnya itu mau memejamkan matanya. Karena hanya setelah Jenny tidurlah, Firman berani untuk meninggalkan ruangan. “Baiklah, baiklah. Aku mau tidur, Paman.” Jenny menurut. Ia yang semula telentang itu pun meringkuk ke sebelah kanan, sehingga membelakangi Firman, juga Delia dan ayahnya. Namun, ia tak benar-benar langsung terlelap. Melainkan hanya pura-pura karena belum merasa ngantuk sama sekali. Sementara itu, setelah mengira Jenny tertidur, Firma pun berdeham sambil berdiri. Membuat Luis dan juga Delia mengalihkan perhatiannya. Buru-buru Delia mengusap air matanya saat itu juga sambil berpaling, untuk menyembunyikan kesedihannya. “Gue keluar dulu, Bos. Mo cari angin bentar, ya?” katanya pada Luis setelah berdiri dan menghadap bosnya itu. Firman menyengir lebar sembari menautkan kedua tangannya. “Jenny udah selesai makan?” Luis pun langsung menanyakan perihal Jenny. Karena sebelum ia menghampiri Delia, dia dan Firman sedang membujuk anaknya itu untuk makan. “Udah tidur malah,” timpalnya pada Luis. Lantas, Firman pun segera meninggalkan ruangan untuk memberi ruang dan waktu bagi bos dan temannya itu. Ia bergumam, “Semoga aja si bos berani ngomong. Kan, sayang, ya, kalau nggak gunain kesempatan dalam kesempitan tuh.” Setibanya di luar, Firman tertawa pelan karena merasa lucu sendiri setelah menyaksikan dan mendengar betapa Luis menyukai Delia. Namun, bosnya itu justru tak mempunyai cukup keberanian karena kekurangannya dalam melihat. Sementara itu, di dalam ruangan, suasana justru kembali hening dan canggung. Delia sudah menghentikan tangisnya, meski masih merasa begitu sedih. Ia rasa cukup untuk berlarut-larut dalam kesedihan. Terlebih, adanya dia di sini bukan untuk menumpahkan rasa sedih. Dan, Luis yang tak lagi mendengar isak tangis Delia pun bernapas lega sambil bersandar di sandaran kursi. Ia melipat kedua tangan kekarnya di d**a dengan tatapan kosong ke arah Jenny. Dalam hatinya terus bicara. Tapi, tak sepatah pun keluar dari mulutnya. “Aku menyukaimu. Tapi tak tahu, harus dengan cara apa mengatakannya. Lagi pula, aku sadar diri dengan kebutaan ini. Kamu pasti tak sudi, kan?” batinnya sambil mendengkus dan menyeringai. Delia yang memperhatikannya sesekali pun berucap. “Ada apa?” tanyanya, dengan suara pelan dan parau. Setelah merasa jauh lebih tenang berkat Luis, ia pun merasa perlu untuk menanyakan apa yang dipikirkan lelaki tampan di hadapannya itu. “Eh, itu. Bukan apa-apa, kok. Memang kenapa?” Luis justru balik bertanya seraya menarik tubuhnya dari sandaran kursi. Ia kemudian menghadap Delia sembari memasang senyum. “Tidak. Bukan apa-apa. Cuman, aku heran aja kok kamu ... kayak lagi mikirin sesuatu.” Delia berdeham pelan. Ia yang tak mengungkiri ketampanan Luis itu pun menatap lelaki di hadapannya sambil tersenyum tipis. Amat tipis karena ia segera sadar dengan senyumnya yang dirasa aneh itu. “Oh. Aku emang lagi mikirin sesuatu,” timpalnya seraya menyengir dan buru-buru memalingkan wajahnya sekilas. Ia ingin membicarakannya Sekarang. Tapi, dengan sedikit perumpamaan. “Iyakah?” Delia pun ikut menyengir. Lebih-lebih setelah melihat merah di kedua pipi Luis yang putih mulus. “Huum.” Luis kembali menghadap Delia sembari menangkupkan kembali mulutnya. “Itu kenapa, aku merasa sedikit bingung,” sambungnya. “Bingung kenapa? Eh, maaf. Aku nggak ada maksud buat tanya lebih lanjut, kok. Maaf.” “Nggak apa-apa. Aku, sepertinya menang perlu berbagai untuk bisa mengambil keputusan,” sela Luis secepat kilat. Ia bahkan tak mau kehilangan kesempatan untuk terus mengobrol dengan Delia. “Jadi, bingung kenapa?” tanya Delia lagi, pada akhirnya. Meski, dirinya merasa tak enak hati karena sudah terlalu ikut campur. “Aku menyukai seseorang. Tapi, aku tak yakin untuk mengungkapkannya karena apa yang aku punya ini.” Senyum Luis mengembang saat mengucapkan apa yang ingin dikatakannya pada Delia, sembari menunjuk mata. “Maksudnya?” Delia pura-pura tak memahaminya untuk mendengar penjelasan lebih lanjut. Sementara tatapannya, justru terfokus pada kedua mata Luis yang tampak kosong dan gelap. “Aku buta. Siapa kiranya wanita yang mau menerimaku bukan? Itu sebabnya aku ragu untuk mengutarakan perasaan ini.” “Oh.” Delia pun menelan ludahnya dengan susah payah. Ia cukup tertarik dengan ketampanan dan kebaikan Luis. Tapi, tiba-tiba saja harus membuang ketertarikannya itu karena Luis sudah menyukai seseorang. “Aku benar, kan?” Luis pun langsung mengejutkan Delia yang tadi sempat bergeming dalam pikirannya sendiri. “Um, itu. Aku kira, kamu salah,” katanya ragu. Delia berdeham sebelum kemudian kembali melanjutkan kata-katanya. “Karena mau bagaimana pun, perasaan itu harus diungkapkan agar kita tahu ... apa yang mereka rasakan itu seperti apa. Kalau hanya menebak-nebak, gimana bisa kita tahu?” “Jadi, menurutmu, aku harus mengungkapkan perasaanku ini meski apa pun yang terjadi setelahnya?” tanya Luis dengan senang hati. Ia benar-benar merasa bahagia meski hanya sedang mengobrol saja dengan Delia. “Tentu,” timpal Delia, meski dirinya itu tidak merasa yakin sama sekali. Pasalnya, selama ini, Delia pun kerap memendam perasaannya sendiri sampai hilang tanpa diketahui siapa pun. “Baiklah. Kalau gitu, aku akan mengungkapkannya sekarang juga.” “Sekarang? Terus Jenny?” “Kenapa Jenny? Aku nggak bakal ke mana-mana, kok.” Luis langsung tertawa pelan agar tak membangunkan Jenny yang baru saja terlelap setelah pura-pura tertidur. “Oh, iya. Kamu pasti cuman mau telepon, ya? He. Maaf,” Delia pun menyengir lebar sambil menggaruk pelipisnya yang tak gatal sama sekali. “Nggak juga,” timpal Luis sembari menelan ludahnya dengan susah payah demi untuk menghilangkan rasa gugup. “Karena orang yang aku suka ada di hadapanku sekarang.” “Eh?” Delia pun langsung tercengo dan menatap lelaki di hadapannya itu dengan heran. “M-maksudnya?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN