Menghindar

1433 Kata
“Nggak, kok. Nggak apa-apa. Ayo, silakan masuk dan duduk. Ibu pergi dulu sebentar, ya.” Wanita paruh baya itu pun melengos setelah mendapati anggukan setuju dari Putra. Kesehatannya belum pulih betul. Ia masih sering merasa pusing dan sakit di kedua kakinya yang sedikit membengkak itu. “Ayo, duduk. Biar aku ambilkan minum dulu,” bisik Adel sambil menyengir. Namun, begitu Putra mendapati ibunya Adel masuk ke kamar, ia justru memilih untuk mengikuti Adel ke dapur daripada duduk sendiri di ruang tamu. Niatnya datang memang karena Adel membatalkan janji mereka. Dan, dia ingin memastikannya sendiri kalau Adel tak bohong tentang kakaknya yang tak pulang. “Lho, kok malah ngikutin aku? Sana duduk di depan. Aku nggak enak kalau bikin kamu bau bawang juga,” ujar Adel begitu menyadari Putra sedang mengikutinya. Dan, alih-alih menjawab atau menuruti Adel, Putra justru tersenyum sambil membalik tubuh Adel sehingga membelakanginya. Kemudian, ia mendorong temannya itu sampai tiba di dapur. “Ih, ngeyel, ya?” Adel tertawa pelan saat Putra tak mendengarkannya sama sekali. Dalam hatinya merasa begitu senang, karena tiba-tiba seolah mendapatkan kejutan. Ya! Tentu saja begitu. Bagaimana mungkin Kehadiran seorang Putra di rumahnya tidak menjadi sebuah kejutan? Karena sebelumnya, jangankan untuk sapat bicara seakrab itu, menyapa atau membalas sapaan pun tak pernah Putra lakukan. “Dah, buruan lanjut masak. Aku harus apa?” Di samping Adel, Putra sudah bersiap dengan melipat kedua belah lengan baju panjangnya sampai ke sikut, bergantian. Ia mengembangkannya senyuman saat bicara dan melihat Adel. “Um ....” Adel berpaling. Ia benar-benar tak bisa menahan rasa hangat di wajah sampai memalingkannya untuk menghindari tatapan. “Apa, ya?” sambungnya, kikuk. “Sebenarnya sudah beres. Aku hanya tinggal memasak air untuk membuat teh tawar panas.” “Hoo ... ya, dah. Biar aku yang masak kalau gitu. Pake ini?” tanyanya seraya menunjuk panci kecil yang menggantung di hadapannya. Tepat di atas kompor. Kepala Adel refleks berputar dan melihat apa yang ditunjuk Putra. Lantas, ia menganggukkan kepalanya sekaligus sampai membuat rambut hitamnya terurai ke depan. Putra terkesima oleh uraian rambut Adel yang juga lurus dan panjang. Bagian itu memang yang paling ia sukai dati wanita. Rambut. Sigap Putra pun meraih dan mengusapnya. “Eh?!” Adel mengerjap kaget, bahkan sampai terperanjat dan beringsut mundur. “Ada apa?” tanyanya, seraya menyentuh rambutnya juga. Ia berusaha berpikir positif, dengan berpikir, mungkin ada sesuatu di rambutnya. Namun, Putra justru berkata jujur. “Aku suka rambutmu. Hitam, lurus, dan panjang,” katanya, lagi-lagi sambil tersenyum. “Ah, gitu?” Adel pun kian merasa kikuk. Ia bahkan sampai tak tahu harus bicara apa. “A-aku ... biar aku yang masak airnya. Kamu duduk di sini?” katanya pada akhirnya. Bahkan, Adel langsung menyeret temuannya itu sampai duduk di kursi meja makan. “Biar aku aja, sih?” protesnya pada Adel. Namun, Adel tetap menolak. Ia menggeleng dan kemudian berbalik. Panci yang ditunjuk Putra, ia ambil. Kemudian segera mengisinya dengan air sebelum ia didihkan. Di depan kompor Adel berdiri tegak. Ia enggan berbalik untuk mengobrol dengan Putra. Ia justru memilih diam sembari memperhatikan air yang lama-kelamaan mulai mendidih. “Dibantuin kok nggak mau. Heran!” umpat Putra, berbisik. Ia bahkan menggeleng dan berdecak kesal tanpa mengalihkan tatapannya dari Adel. “Aku mendengarmu!” timpal Adel. Ia masih menghadap kompor meski tiba-tiba merasa begitu panas. Padahal, api kompornya ia kecilkan. Tapi, keberadaan Putra di sana memang begitu membuatnya kegerahan. Lebih-lebih saat tahu kalau Putra terus menatapnya. “Baguslah! Aku memang sengaja biar kamu mendengar ucapanku. Paham?” balas Putra. Ia tersenyum, dan lagi-lagi sambil menggeleng meski tahu kalau Adel begitu karena sikapnya yang tiba-tiba berubah. Putra tak pernah mendekati siapa pun. Bahkan meski sudah menyukai Adel sejak lama, tak sekali pun ia menunjukkannya. Dan baru sekarang, itu pun setelah merasa khawatir saat Adel tiba-tiba tak masuk kelas selama tiga hari. “Auk! Aku nggak paham sama sekali.” Adel mencebik. Ia ingin mencoba mengubah suasana di antara mereka, agar tidak terlalu kikuk dan canggung. “Halah dasar!” umpat Putra lagi. Kali ini sambil tertawa kecil dan tapi renyah. Ia benar-benar menyukai gaya bicara Adel selama ini. “Dah matang belum airnya? Dilihatin mulu perasaan. Duduk, sih?” “Bentar lagi matang ini. Aku masaknya nggak banyak kok. Sabar! Kamu pasti lapar, ya?” Adel menyengir sambil menoleh dan melihat Putra sekilas. Namun, tiba-tiba saja Putra meraih pergelangan tangannya. “Eh?” desisnya. “Duduk sini,” katanya seraya beranjak bangkit. Kemudian ia mendudukkan Adel di kursi, tempatnya duduk barusan. “Biar aku yang tuang airnya ke teko. Panas itu. Nanti tanganmu bisa terluka.” “Aku bisa, kok!” Adel bersikukuh. Ia kembali berdiri dan menyingkirkan Putra dari depan kompor. Kemudian segera ia matikan kompornya itu karena airnya sudah mendidih. “Aku nggak pernah terluka saat menuang air,” sambungnya sembari merentangkan tangan ke arah Putra agar temannya itu tidak perlu mendekat. Ia hendak menuang air. “Baiklah!” Desis Putra, merasa putus asa. Padahal, ia hanya ingin membantu. “Aku duduk saja!” “Lebih baik memang begitu, Put. Tamu mah duduk aja udah.” Adel tergelak saat air yang dituangnya masuk semua ke dalam teko. Lantas, sebelum memindahkannya ke meja makan yang tak begitu jauh dari meja kompor, ia menuangkan teh terlebih dahulu. Biasanya, mereka makam di ruang tengah. Tapi karena ada tamu, ibunya menyuruh Adel untuk menyiapkannya di dapur saja. Mereka akan makam di sana. “Habis itu makan. Pulang, deh. Iya, kan?” tambah Putra, sembari memasang wajah masam. “Pintar!” timpal Adel, kian tergelak. Suasana tegang di antara mereka akhirnya berubah seiring waktu terus berjalan. Lama-lama mencair, bahkan sampai membuat Adel merasa seperti sudah akrab begitu lama dengan Putra. Keduanya banyak bicara. Saling menimpali sampai semuanya telah siap dihidangkan. “Aku panggil Ibu dulu, ya?” Adel yang baru saja menata piring di meja makan pun menatap Putra, sembari menyelipkan anak rambutnya di balik telinga. Namun, saat dirinya hendak melangkah, lagi-lagi Putra membuat ia merasa kikuk karena sentuhan tangannya. “Apa?” Ia mengernyit heran. Putra bergeming. Ia tak berucap atau pun melakukan hal apa pun, selain hanya menatap Adel sambil tersenyum. Gadis di hadapannya itu seketika tersipu dan memalingkan wajahnya sekilas karena malu. “Apa, sih?” tanya Adel kembali. Ia masih tak dapat melihat Putra karena malu. “Aku mau manggil Ibu,” sambungnya. “Jangan lama!” pinta Putra pada akhirnya. Adel menoleh, melihatnya dalam sebelum kemudian menggeleng. “Cuman sebentar. Tunggu, ya,” katanya. Putra mengangguk sembari melepas cengkeraman tangannya perlahan-lahan. Bibirnya masih tersungging, sebelum akhirnya ia menunduk dan membuang napas panjang. Putra menyukai Adel. Dari dulu. Dan sekarang, ia tak dapat menahannya kembali. *** Delia baru saja selesai mandi. Ia bercermin dan menepuk-nepuk wajahnya yang terasa begitu segar dan kenyal sambil tersenyum. Dilihatnya pantulan dirinya di balik cermin, ia tak percaya kalau dirinya itu baru saja menerima sepasang pakaian yang dibelikan bosnya sendiri. Delia sentuh perlahan kain baju yang dipakainya itu tanpa mengalihkan tatapan dari pantulan diri. Kemeja putih polos dengan aksesoris kancing cantik itu membuatnya terlihat manis dan elegan. Belum lagi saat ia menyadari kainnya yang halus. “Pasti harganya mahal.” Delia bergumam pelan seraya mengalihkan sentuhannya ke bagian rok selutut yang ia pakai. Rok hitam berenda di bagian tengahnya itu membuatnya terlihat seksi. Padahal, ia jarang sekali memakai rok sependek itu. “Dan, gajiku pasti dipotong banyak untuk membayar ini,” katanya lagi sembari menghela dan membuang napas kasar. “Harusnya belikan aku pakaian murah. Kalau yang mahal gini, gajiku tekor banyak pasti. Ish!” Karena tiba-tiba merasa kesal sendiri, Delia pun bersiap untuk keluar dari kamar mandi yang dipakainya sedari tadi. Ia merapikan rambutnya yang sedikit terkena basah. Kemudian menyemprotkan sedikit wewangian agar terasa lebih segar. Namun, karena hari sudah begitu malam, ia tak memakai riasan sama sekali. Wajahnya itu benar-benar tanpa polesan apa pun, sampai terlihat begitu polos dan apa adanya. Akan tetapi, dengan begitu, ia justru terlihat lebih menarik. Sayangnya, hanya Firman dan Jenny yang akan melihat kesempurnaannya sebagai wanita manis, cantik dan menarik itu. Luis tidak karena keterbatasan pisiknya yang membuat ia tak bisa melihat apa-apa. Segera Delia pergi keluar. Dan, ternyata, sudah ada beberapa orang yang menunggunya keluar. Delia pun seketika menyengir kikuk sembari meminta maaf. Ia memang terlalu lama menggunakan kamar mandi tersebut. “Permisi,” katanya lagi sebelum kemudian melengos pergi. Namun, saat kakinya baru saja melangkah beberapa kali, seseorang dengan suara familier membuatnya berhenti lagi. Delia menoleh untuk mencari sumber suara. Dan, dia pun tak salah mengira. Lelaki di belakangnya itu tersenyum tipis usai menyapa. Namun, Delia justru berubah sedih dan seketika berlari meninggalkan lelaki tersebut. Bahkan, meski lelaki itu memanggilnya berulang kali. Delia tetap pergi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN