Berkat Bu Delia

1392 Kata
Seseorang yang Delia tahu dari suaranya itu tiba-tiba menyapa sambil membuka pintu. Delia dan Jenny seketika menoleh dan melihat ke arah pintu di mana Luis dan Firman baru saja datang, dengan membawa beberapa belanjaan di tangan. Jika Firman mengacungkan dua kantong keresek berisi makanan, lain halnya dengan Luis yang mengacungkan dua kantong paper bag berisi pakaian untuk Delia dan sopirnya sendiri. Keduanya menyengir lebar begitu masuk dan disambut oleh Tatapan Delia. “Dari mana saja kalian? Kok, lama banget!” Delia pun mulai menginterogasiku. Pasalnya, ia benar-benar kewalahan saat menghadap ucapan demi ucapan yang dikatakan Jenny padanya sedari tadi. Sampai-sampai membuat ia bingung sendiri. “Cari pakaian, terus cari makanan. Nih!” timpal Luis dari kejauhan. Ia juga menyodorkan apa yang dibawanya itu. Padahal, jarak antara dirinya dengan Delis lumayan jauh. Delia yang semula duduk pun berdiri. Kemudian ia melangkah, menghampiri Luis yang masih berdiri di tempatnya bersama Firman. “Untukku?” tanyanya seketika, setelah mengambil paper bag itu. “Iya, benar. Itu untukmu, Del. Kamu kan pasti gerah gara-gara belum mandi. Makanya, tadi, aku dan Firman beliin kamu pakaian ganti. Um, ya ... sebagai tanda terima kasih juga karena sudah bersedia kembali untuk Jenny.” “Oh. Ya, sama-sama!” timpalnya, sembari melihat Firman. Temannya itu mengangguk sambil tersenyum. “Kalau gitu, aku mandi dulu,” sambungnya sambil melengos. “Eh, tunggu!” sergah Luis, tanpa beralih dari tempatnya berdiri. Hanya sebelah tangannya yang seketika terulur sebagai upaya pencegahan. Meski, Delia sudah tak berada di depannya. “Ya?” Delia pun berhenti dan berbalik seketika. “Aku beli sabun juga,” timpalnya sembari memilah kantong keresek. “Eh, yang mana, ya?” “Biar kubantu,” ucap Firman seraya meletakkan kantong keresek yang dipegangnya terlebih dahulu di kursi. “Yang ini,” katanya sembari memberikan kantong keresek itu pada Luis. Lantas, satu keresek lain ia ambil untuk di simpan juga di kursi. Pasalnya, itu adalah baju kotor mereka, setelah tadi membersihkan diri terlebih dahulu sebelum pergi ke kamar Jenny. “Oh, iya. Makasih.” Delia semakin kikuk, meski akhirnya ia dapat mengendalikan dirinya dari rasa itu sendiri. Cepat Delia pun beranjak meninggalkan ruangan. Ia benar-benar sudah tak tahan dengan rasa gerah juga bau dari keringatnya sendiri. Bahkan, ia sempat berpikir tak akan dapat tidur dengan kondisi seperti itu. Namun, setelah mendapati pakaian serta sabun dari Luis, ia langsung merasa lega. Setidaknya, meski ia tak dapat pulang karena kasihan terhadap Jenny, ia tetap bisa merasa nyaman dengan kondisi tubuh yang segar juga wangi. Diraihnya pintu kamar mandi yang terletak di ujung ruang Melati, ia membuka dan kemudian menutupnya setelah masuk. Sementara itu, di dalam ruangan, Luis lekas menghampiri Jenny di ranjangnya. Anaknya itu senyum semeringah tanpa bisa ia lihat. “Gimana keadaanmu sekarang?” tanyanya. “Baik karena ada Bu Delia, Ayah.” Jenny tersenyum lagi karena tak bisa mengendalikan rasa senangnya itu. “Ish, ish, ish. Bu Delia mana bisa bikin rasa sakitmu itu sembuh, Sayang?” Luis pun meraba puncak kepala Jenny. Ia mengisapnya kemudian sebelum akhirnya dapat mencubit hidung bangir anaknya itu. “Bisalah. Ini, buktinya Jenny dah baik-baik aja. Itu pasti karena Bu Delia ada di sini,” katanya bersikukuh. Sampai-sampai membuat Luis tersenyum girang. Sebenarnya, Luis tahu kalau energi positif bisa menyembuhkan luka ataupun sakit. Dan, energi positif yang diberikan oleh kehadiran Delia itulah yang membuat Jenny merasa baik-baik saja. Namun, tetap, Luis tal boleh lengah karena penyakit demam berdarah itu lumayan bisa mematikan kalau tal tertangani dengan benar. Itu kenapa, meski Jenny mengaku baik-baik saja, ia tak akan membawa anaknya itu pulang. “Apalagi kalau Ibu Guru mau nemenin Jenny di rumah. Um, pasti rasanya makin baik.” Jenny berucap lagi. Berharap, apa yang diinginkannya itu dapat dikabulkan oleh sang Ayah. “Aih?!” Luis terkejut begitu mendengar keinginan Jenny yang dirasanya semakin menuntut banyak. “Bu Delia kan punya pekerjaan, Sayang. Dia pasti sibuk kalau siang. Malamnya, Bu Delia juga harus bertemu dengan keluarganya.” “Jenny tau!” timpalnya, dengan seringai ketus. “Jenny cuman berharap. Kalau nggak bisa, ya sudah!” sambungnya, semakin ketus. “Duh ... anak Ayah kok merajuk gini? Mending kamu makan, ya, sekarang? Ayah beli macam-macam rasa donat. Mau?” “Mau kalau Ibu Guru yang suapin.” “Eh?” Luis langsung mengernyit. “Ini anak, kenapa jadi semakin terobsesi gitu sama mantan gurunya? Heran!” batinnya sambil menggeleng. Pun dengan Firman yang sedari tadi mendengar dan memperhatikan. Ia merasa heran juga dengan Jenny yang terobsesi dengan Delia. Namun, detik berikutnya ia pun sadar, Jenny begitu karena sudah tak lagi dapat menahan rasa rindunya terhadap ibunya yang sudah tiada. “Paman yang suapi mau?” tanya Firman karena Luis tak lagi bicara. “Nggak!” timpal Jenny, yang bersikukuh dengan keinginannya. *** Di rumahnya, Adel yang tahu kalau Delia sedang di rumah sakit pun sibuk menyiapkan makan malam untuk ibu dan dirinya sendiri sambil mengomel sesekali. Tak setuju saat mendengar kakaknya itu tak jadi pulang dan memilih untuk menginap di rumah sakit. Pasalnya, malam ini, Adel telah berjanji pada Putra untuk nonton dan jalan-jalan sebentar di mall. Tapi, pesan dari kakaknya itu membuat Adel tak bisa ke mana-mana karena harus menyiapkan makanan untuk ibunya. Terlebih, Delia tak mengizinkan ibunya itu ditinggal sendirian. “Apaan coba? Kenapa Kak Delia mau-maunya jagain anak orang? Sementara adik sendiri dibiarin tersiksa kayak gini? Aku kan malu karena harus membatalkan janji pada Putra. Dia pasti kesal karena aku sudah membingungkannya. Pertama bilang mau. Terus bilang nggak jadi tiba-tiba!” Adel tak henti-hentinya mengomel sedari saat ia menuangkan sayur dari wajan ke dalam mangkuk. Sampai-sampai, tangannya itu sedikit tersiram air panas karena ceroboh. Adel meringis dan mengulumnya cepat karena kepanasan. “Gara-gara Kak Delia, nih! Aku jadi kesiram gini, kan?” omelnya lagi, tak henti-henti. Tapi karena masih ada makanan lain yang harus ia pasak, Adel pun terpaksa tak memedulikan rasa panas di tangannya itu. Ia lanjut menggoreng tempe. Namun, baru saja Adel hendak menyalakan kompor kembali, seseorang terdengar memanggil sambil mengetuk pintu. Ia bergeming sesaat sembari menajamkan telinganya itu, untuk mendengarnya sekali lagi. Dan, ia tak salah dengan pendengarannya itu. Buru-buru Delia pergi, keluar dari dapur untuk segera membuka pintu. Ia tak tahu siapa yang datang. Tapi, ia pikir, barangkali tamunya itu adalah seseorang yang penting. Akan tetapi, begitu membuka pintu, Adel justru mendapati Putra di hadapannya. Matanya seketika melebar saking tak percaya dengan apa yang ia lihat. Mulutnya pun bahkan menganga sehingga buru-buru Adel tangkup dengan kedua tangannya yang panas dan bau bawang itu. Putra yang ia kenal dengan seragam putih abunya, sekarang tampak keren dengan pakaian santai dan rapi. Sementara ia sendiri, justru semerawut dengan pakaian tidurnya. “P-Putra?” “Iya, ini aku. Bukan hantu, kok.” Bibirnya langsung menyeringai, tersenyum lebar usai menjawab Adel dengan lelucon. “Eh, bukan gitu. Maksudku, kok ada di sini? Ngapain?” Pandangannya masih saja tak percaya dengan apa yang ia lihat, bahkan dengan mata kepalanya sendiri. “Nggak boleh, ya? Ya, sudah ... aku balik aja lagi kalau gitu.” “Eh, bukan gitu juga!” Adel langsung merasa salah tingkah begitu mendapati Putra di hadapannya. Itu kenapa, ia tak dapat mengontrol apa yang hendak ia ucapkan. “Siapa, Del?” Ibunya yang juga mendengar ketukan pintu seketika keluar dari kamar. Ia juga seketika bertanya sambil menghampiri anaknya itu. “Putra, Bu. Temannya Adel.” Adel yang seketika terkejut juga dengan suara ibunya itu langsung berbalik dan melihat ibunya sudah ada di belakangnya. “Ah ... ya, sudah. Suruh masuk, Sayang. Ajak makan bersama sekalian. Kamu sudah selesai masak, kan?” Ibunya itu kian mendekat sambil tersenyum ramah. “I-iya, Bu.” Adel pun kembali berbalik dan menghadap Putra sebelum mengajaknya masuk. “Aku belum selesai masak tapi. Bisa tunggu sebentar?” tanyanya. “Aku bantuin, mau?” Putra pun langsung menawarkan jasanya untuk membantu Adel. Dan, itu sukses membuat Adel semakin salah tingkah dengan sikap Putra yang terkesan perhatian. “Ngerepotin nanti. Nggak apa-apa tunggu aja, ya? Sebentar lagi, kok.” Adel menolak karena tak enak hati jika Putra sampai masuk ke dapur hanya untuk membantunya di sana. Meski, mengingat dalam film, itu adalah hal yang romantis. Adel tetap tidak mau melakukannya. “Adel benar Nak Putra. Hanya sebentar. Tunggu saja, ya. Nanti, biar Adel siapkan minum dulu.” “Aku jadi ngerepotin, Bu.” Senyum yang terpancar dari bibirnya pun tak kalah ramah dan manis saat menjawab ibu dari temannya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN