Betapa senang begitu Jenny mendapati ibu gurunya itu kembali setelah melakukan salat. Padahal, Jenny sudah berkecil hati karena harus melewati malam tanpa seseorang yang dia ingin ada di sisinya. Bukan Luis, bukan Firman, bukan pula Bi Muna. Tapi Delia.
Merah merona di kedua pipi gadis berambut panjang itu saat mendengar suara panggilan dari Delia. Senyum seketika mengembang lebar, bahkan sampai membuat ia hampir saja bangun dari tidurnya. Namun, Delia tahan karena takut membuat jarum infusan di tangan Jenny terlepas.
Ia memegang kedua pundak gadis kecil di hadapannya itu. Kemudian menyuruh Jenny untuk kembali berbaring saja sembari mendaratkan kecupan di kening Jenny setelahnya sambil tersenyum.
“Jenny seneng Ibu datang. Ibu nggak jadi pulang, kan?” tanya gadis kecil itu sambil tersenyum lebar. Bahkan, ia langsung meraih kedua tangan Delia karena tak sabar menunggu jawaban pasti.
Delia menggeleng mantap. Ia memang memutuskan tak jadi pulang, mengingat Jenny yang tadi Seketika merajuk. Ia bahkan tak peduli, meski dirinya sama sekali belum mandi. Padahal, tubuhnya terasa begitu lengket oleh karena keringat. Belum lagi bau di bagian ketiak yang ia cium sendiri benar-benar terasa kecut.
Jenny berlonjak senang seraya melepas tangannya dari tangan Delia. Bahkan, ia langsung menjulur dan menarik tangannya itu dengan sekali entakkan. “Yes!” serunya, lantang. Senyum yang tadi sempat pudar, kini kembali terang.
Delia yang memang seorang gadis penyayang itu seketika merasa senang saat melihat kebahagiaan di wajah Jenny. Ia bahkan mencubit pipi gemas anak bosnya itu sambil memainkannya ke sisi kiri dan kanan.
“Lucu banget, sih kamu. Coba aja kalau kamu dah sembuh. Pasti tambah cantik!” ucap Delia setelah melepas cubitannya tersebut. Ia kemudian memelak pinggang sambil berdiri karena belum sempat duduk di kursi samping ranjang, bekas suduknya tadi.
“Jenny pasti sembuh, kan? Aku tuh mau cepat pulang buar bisa bawa Ibu ke rumah,” ocehannya, menimpali Delia yang asyik bicara. Mereka, bahkan terlihat seperti Ibu dan anak.
“Pasti, Sayang. Tapi maaf, besok, Ibu harus pulang dulu. Nggak apa-apa, kan? Ibu kalau nggak masuk kerja ya nggak bisa dapat uang nanti. Parahnya, Ibu bisa dipecat,” bujuk Delia dengan begitu hati-hati. Pasalnya, ia takut kalau sampai membuat Jenny merajuk lagi.
“Malah bagus kalau dipecat, Bu. Ibu bisa balik ngajar di sekolah lagi, kan?” tanya Jenny, dengan senangnya. “Atau, kerja di rumah Ayah saja. Di rumah Ayah itu sepi. Kalau ada Ibu, pasti ramai,” sambungnya sambil menyengir.
“Kamu ini.” Gemas Delia dibuatnya. Sampai-sampai ia menggeleng karena tak tahu harus bicara apa. “Kerja di tempat orang nggak semudah yang kamu pikir, Sayang. Ada hal-hal yang harus Ibu patuhi, dan kamu pasti nggak bakal ngerti.”
“Aku ngerti,” timpal Jenny. Wajahnya seketika berubah murung. “Makanya Jenny bilang, biar Ibu dipecat sekalian. Ayah sering gitu soalnya. Kalau ada yang nggak beres, pasti marah-marah di rumah. Habis itu nyuruh asistennya buat memecat karyawan yang bikin marah.”
“Nah, itu kamu tau, Sayang. Dan, dipecat itu bukan sesuatu yang baik. Ah, tapi kenapa kita jadi bahas hal yang seperti ini. Pembahasan ini terlalu berat untuk kamu yang masih kecil, Sayang.”
“Jenny suka pembahasan apa pun, kok, Bu. Jenny juga udah sering banget dengerin Ayah ngobrolin hal semacam ini sama Paman Firman.” Gadis kecil itu sama sekali tak menyerah, karena mengharapkan Delis kembali jadi gurunya. Bahkan, tiap kali selesai bicara, dia ini berdoa dalam hati agar Tuhan mau mengabulkannya.
Namun, Delia juga sama kekehnya. Ia akan tetap mempertahankan pekerjaan barunya itu. Bukan karena tak lagi punya rasa kasih terhadap anak kecil. Tapi, ia hanya menginginkan kehidupan yang lebih layak dari sebelumnya. Menjadi guru di sekolah TK, dengan bekerja sebagai karyawan di salah satu PT terbesar itu jelas ada begitu banyak perbedaannya. Mulai dari apa yang harus dikerjakan, sampai dengan upah.
Jika bekerja di TK hanya pas untuk biaya hidup sehari-hari, kerja di perusahaan Luis justru membuatnya akan mempunyai uang lebih untuk ditabung. Termasuk juga untuk membiayai adiknya yang sebentar lagi akan memasuki masa kuliah. Sebab, ia tak mau kalau adiknya itu hanya seorang lulusan SMA seperti dirinya sendiri.
“Bu?” tegur Jenny saat mendapati Delia diam membisu. Ia juga menyentuh tangan gurunya itu perlahan sebelum kemudian melepaskannya lagi.
“Ya, Sayang?” Delia langsung menjatuhkan tatapannya ke arah Jenny. “Ada apa?” tanyanya.
“Ibu pasti BT ya di sini? Bengong gitu soalnya. Tapi, Bu. Aku mau tidur di sini kalau ada ibu aja. Kalau Ibu pulang, Jenny juga mau pulang,” katanya. Air muka Jenny yang selalu ceria itu masih saja tampak murung karena apa yang dipikirkannya itu. Ia yang sangat menyayangi Delia, seolah menjadi terobsesi saat dalam keadaan seperti itu.
“Lho ... kan Jenny sakit, Sayang. Pulang kalau dah sembuh dong. Kalau Ibu, pulang ya karena harus mandi dan ganti baju. Ibu juga punya adik dan ibu juga untuk diurus. Tapi, Jenny jangan khawatir. Ibu pulangnya besok, kok. Jadi, malah ini kita tidur sama-sama, ya,” terang Delia panjang kali lebar, seraya meraih kedua tangan mungil Jenny. Ia menggenggamnya pelan sebelum kemudian menciumnya di sana.
Gadis kecil itu seketika tersenyum saat mendapatkannya kecupan hangat dari orang yang disayanginya. Air matanya pun saat itu langsung membendung di pelupuk. Tak lama, kemudian jatuh perlahan melewati pipinya.
“Jenny rindu Ibu,” katanya yang seketika membuat Delis segera menarik wajahnya lagi.
“Rindu Ibu?” ulang Delia, dengan pandangan tercengo. Ia tak paham dengan ucapan Jenny. Ia juga tak mau salah menafsirkan ucapan anak dari bosnya itu.
“Iya. Jenny rindu Ibu. Ibu yang tak kan pernah bisa Jenny temui lagi. Makanya, Jenny senang kalau Bu Delia ada di sini,” jelasnya dengan sungguh-sungguh. Rasa rindunya itu sudah tertahan sejak lama. Tapi, setelah ia bertemu Delia saat masuk sekolah, rasa rindunya sedikit lebih terobati.
Jenny tak pernah lagi mogok sarapan. Ia juga tak pernah lagi menangis diam-diam. Semua itu karena ia mendapatkan kasih sayang dari Delia. Kasih sayang yang telah terenggut eh kematian ibunya sendiri.
“Syukurlah. Semoga kehadiran Ibu di sini, bisa membuat rasa rindu elah Jenny berkurang, ya?” harap Delia. Kali ini, tangannya itu beralih menyentuh kepala Jenny. Ia mengusapnya perlahan. Berulang kali.
“Sudah berkurang sejak Jenny bertemu Ibu Guru. Tapi, akan lebih berkurang lagi kalau Ibu Guru nau jadi ibunya Jenny. Selain itu, rumah Ayah pasti menjadi lebih hidup. Nggak sepi kayak kuburan!” Jenny tersenyum tipis saat mengatakan hal tersebut. Pasalnya, rumah ayahnya itu memang beneran sepi. Bahkan, ia rasa, jauh lebih sepi daripada kuburan.
“Um—“
“Malam, semua ....”