Alih-alih menjawab, Jenny justru berbalik badan dan membelakanginya Delia. Sambil memejamkan matanya itu, Jenny pun menahan tangis. Hanya saja, karena Jenny merasa sangat sedih, ia pun tak lagi dapat membendung air matanya itu.
Delia tak mengecek. Tapi, ia tahu kalau gadis kecil di hadapannya itu sedang merajuk. “Aneh, deh. Dari sekian wanita di bumi ini, kenapa harus aku?” batinnya lagi. Kali ini sambil mengelos sembari mengucapkan salam.
Luis yang mendengarnya seketika membalas salam. Lantas, ia yang tahu akan kesedihan Jenny pun langsung menghampiri anaknya itu dengan langkah meraba-raba. Sampai di sisi ranjang, Luis duduk di kursi bekas Delia. Ia bergeming lama sebelum akhirnya bicara.
“Sayang,” bisiknya sembari mengelus puncak kepala Jenny. “Kamu sedih, ya, gara-gara Bu Delia pulang? Sabar dong, Sayang. Besok, Bu Delia pasti ke sini lagi. Atau, kalau bisa, Jenny harus bikin tubuhnya kuat sampai sehat, nanti, Ayah bakal bawa Bu Delia ke rumah.”
“Ayah salat lah. Ajak paman!” timpal Jenny tanpa menoleh atau berbalik badan. Ia tetap membelakangi ayahnya itu sambil menyapu pelan mata dan pipinya yang basah karena air mata.
“Um, emang Jenny nggak apa-apa di sini sendirian? Nggak takut?” tanyanya pada Jenny. Padahal, ia tahu betul kalau Jenny itu penakut.
“Nggak berani aku,” timpal Jenny.
“Nah, makanya, kan. Sekarang biar ayah bangunkan Pamanmu dulu, ya? Meski dia sedang tertidur, denger suara ayah pasti bangun!” katanya, dengan yakin.
“Ya, sudah.” Jenny kembali menjawab asal.
Ayahnya yang tahu kesedihan Jenny pun seketika berjalan pelan dan meraba-raba ke arah Firman. Karena tak dapat melihat apa-apa, ia sampai salah dan malah menabrak meja. “Astaga!” serunya sembari mengusap lutut. “Sakitnya!” Ia bergumam.
Mendengar pekikan Luis, Firman yang tengah pulas pun benar-benar terbangun. Ia yang tanpa memedulikan rasa kantuknya itu langsung berdiri dan menghampiri Luis yang sedang meringis-ringis. “Bos, nggak apa-apa?” tanyanya sambil mengerjap. Pasalnya, matanya itu terasa sepat dan perih.
“Nggak apa-apa dengkulmu! Sakit ini kejedot meja.” Luis merutuk, masih sembari membungkuk dan mengusap lututnya yang ngilu itu.
“Aeh, si Bos. Jan marahlah!” Firman langsung menyengir. Ia juga mengusap ujung belakang kepalanya karena merasa bersalah.
“Ya, udah nggak apa-apa. Tapi ini, gue mau salat! Jenny nggak ada temannya tuh!” Luis mengomel lagi sembari menoleh ke arah Jenny, maksudnya. Namun, karena tak melihat, ia justru menoleh ke sembarang tempat.
“Lho, Delia mana?” Firman mengernyit heran, karena begitu melihat ke arah Jenny, tidak ada Delia di sana.
“Pulanglah! Sekarang kan dah Magrib. Sebentar lagi juga gelap. Makanya Jenny merajuk. Dia diam ... aja, pas gue ajakin ngobrol. Nangis juga kayaknya.”
“Duh. Gimana dong?” Firman pun bingung.
“Ya, nggak gimana-gimana. Orang udah balik dianya. Kasihan juga kan belum mandi. Ibunya pasti khawatir juga. Biarin lha! Lu telepon Bi Muna aja mending. Kasihan Jenny kalau kita tinggal-tinggal. Tapi, lu anterin gue ke masjid dulu lah. Sekalian salat. Biar Jenny kita titip dulu ke perawat!” cerocosnya sembari kembali berdiri tegak. Lantas, ia melangkah maju dengan dibantu Firman.
“Oh, ok!” timpal Firman dengan segera. Lantas, ia pun hendak membimbing bosnya itu untuk pergi ke masjid rumah sakit bersama. Namun, begitu membuka pintu, langkah kaki Firman seketika berhenti. Ia terbengong saat melihat orang lain di hadapannya.
“Kenapa berhenti, Man?” Luis yang dituntunnya pun heran karena Firman berhenti.
“Ada Delia, Bos!” timpalnya, yang kemudian menyengir pada Delia. “Bukannya kamu pulang?”
“Ada Delia?” batin Luis. Ia langsung berdeham dan kemudian menoleh ke sembarang tempat saat Firman bertanya pada Delia.
“Nggak jadi. Biar aku nemenin Jenny di sini ajalah,” timpal wanita berambut panjang, diikat satu itu. Ia juga balas menyengir pada Firman. “Kalian mau ke mana?”
“Salat!” timpal Luis dan Firman, bersamaan.
“Oh. Ya, sudah kalau begitu. Silakan!” Delia yang berdiri tepat di hadapan dua lelaki ini, kemudian bergeser pelan ke arah samping untuk memberi jalan.
“Huum. Kamu tunggu di dalam, ya. Aku titip Jenny sebentar. Tapi, ada kemungkinan aku sama Firman ke luar dulu buat cari makan.” Luis pun akhirnya bicara panjang, setelah tadi memutuskan untuk diam dan mendengarkan. Tapi, dia seolah tak tahan jika tidak berucap. Bahkan, dalam benaknya seketika terpikir sesuatu.
“Baik, Pak.” Delia langsung tersenyum simpul. Pasalnya, ia langsung mengingat kejadian tatap-tatapan tadi.
“Ya, sudah. Aku sama Firman pergi dulu,” katanya sembari kembali menarik tangan Firman. Kemudian, sopirnya itu pun menganggukkan kepala pada Delia sebelum pergi.
“Bos,” ucapnya setelah agak jauh dari ruang inap Jenny. “Delia baik banget, ya? Pantesan si Bos ini langsung jatuh hati padanya.”
“Stt! Jaga bicaramu itu. Kalau dia dengar gimana?” Luis pun menyikut tangan sopirnya itu.
“Lha, nggak apa-apa dong. Kan, emang harus dikasih tahu Delia nya. Tapi, ya kali Delia dengar. Kita udah jauh dari pintu masuk ruangan. Delia juga udah nggak ada di luar.”
“Iyakah?” tanya Luis, memastikan.
“Iyalah!” Firman pun tertawa renyah.
“Ho, syukurlah. Tapi, Man. Gue kok kepikiran sesuatu, ya?” katanya pada Firman.
“Apa, tuh?”
“Delia kan pasti belum mandi? Lu beliin pakaian lah untuk dia ganti baju nanti,” jawabnya dengan yakin.
“Dih, si Bos. Ya, masa aku beliin. Malu lha dia nanti. Ada pakaian dalamnya apa lagi.” Firman pun tertawa renyah kembali. Ia benar-benar tak habis pikir dengan ucapan bosnya itu.
“Iya, sih. Tapi, ya nggak usah sama celana dalamnya lah. Baju sama celana panjang aja gitu biar dia nggak risi sama pakaiannya sekarang. Sekalian lu beliin sabun sama sikat juga. Biar tuh cewek mandi.”
“Gimana, ya?” Firman masih merasa ragu. Pasalnya, dia justru takut kalau Delia tak terima. Secara, saat membeli pakaian untuk temannya itu, Firman pasti membayangkan ukuran tubuh Delia.
“Gosah banyak mikir, deh. Lu beli lah nanti setelah salat. Titik!” timpal Luis. Dan, dia tak mau mendengar penolakan lagi.
“Ya, ya, ya! Baiklah kalau begitu. Tapi, si Bos wajib ikut. Titik!” balasnya, tak mau diganggu gugat juga.
“Astaga! Tapi, ya sudahlah. Sambil beli makanan kita. Lapar lha pasti nanti malam.” Luis pun akhirnya tertawa kecil juga setelah sedari tadi merasa terikat untuk tertawa karena rasa cemasnya. Cemas kalau Delia akan merasa tidak nyaman karena tak mandi.
“Pastilah, Bos. Tapi, kita sendiri nggak mandi gitu? Bau gini perasaan!” Firman langsung mencium keteknya itu.
“Lha, iya. Ya, sudah. Beli sekalian nanti!”
“Cakeeeep!” Firman langsung setuju. Benar-benar setuju, karena sudah lama juga, Luis tidak membelikannya baju.
***
Selesai salat, Luis dan Firman langsung bergegas untuk keluar dari rumah sakit. Mereka hendak membeli makanan juga pakaian. Di luar, langit sudah berganti gelap. Tak tampak awan atau pun burung seperti tadi saat mereka baru saja di rumah sakit. Yang ada justru munculnya satu per satu bintang di antara terangnya bulan.
Firman yang melihatnya pun berdecak kagum atas salah satu keindahan Tuhan di malam hari, sebelum kemudian ia pun masuk ke mobil setelah menuntun Luis lebih dulu. Mesin mobil ia nyalakan cepat. Lantas, gasnya pun ia injak perlahan-lahan sampai akhirnya keluar dari parkiran.
Dari sana, barulah Firman mengebut. Pergi ke toko pakaian adalah tujuan pertamanya sebelum pergi ke penjual makanan di pinggir jalan. Ada beberapa pilihan saat Firman melihat-lihat dengan saksama. Tukang mie ayam, bakso, dan sate. Tapi, ada juga tukang martabak, roti goreng, sampai donat.
“Kalau tak salah ingat, ada toko baju di sekitar rumah sakit sini, Man. Udah nemu belum?” tanya Firman.
“Belum. Tapi, aku tau tempatnya karena sempat liat tadi sore saat kita lewat.” Firman tetap fokus pada kendaraannya saat menjawab. Sesekali, ia menundukkan kepalanya untuk melihat ke arah yang lebih jauh. Dan, begitu ia masuk belokan, pandangannya pun langsung tertuju ke tempat tujuan. “Nah, itu tokonya.”
“Ketemu?”
“Iya! Sebentar lagi kita sampai,” jawabnya seraya mengencangkan laju mobil sedikit. Ia pun kemudian sampai dan berhenti tepat di depan samping kiri toko. “Kita turun, Bos.”
Luis pun langsung membuka sabuk pengamannya. Kemudian ia membuka pintu mobil segera sebelum akhirnya ia berdiri tegak di samping mobil, menunggu instruksi Firman. “Man?” panggilnya, segera.
“Yups!” timpalnya saat itu juga. Firman pun sudah berdiri di samping Luis. Kemudian, ia menuntun bosnya itu kembali ke dalam toko.
“Ada yang bisa saya bantu?” tanya pelayannya dengan begitu ramah.
“Ada, Mbak. Saya cari dua kemeja untuk kami berdua, berikut dengan celananya. Terus, satu pasang pakaian untuk wanita usia dua puluh limaan, ya.” Firman menjawab dengan santai.
“Boleh. Kalau gitu, silakan masuk dan tunggu sebentar selagi saya pilihkan, ya?” ucapnya, lebih ramah. Kemudian, setelah mendapati senyum dan anggukkan Firman, pelayan tersebut langsung pergi.
Firman mengajak Luis berjalan semakin ke dalam. Kemudian ia menuntun bosnya itu untuk duduk di sofa yang tersedia. Begitu juga dengan dirinya sambil melihat-lihat ke arah sekitar. Baju-baju di tempat itu bagus-bagus modelnya.
“Pilih yang paling bagus, Man!” usul Luis.
“Siap!” timpal Firman dengan senangnya. Karena hari ini, ia akan mendapatkan pakaian baru nan bagus karena rasa kasih Luis terhadap Delia. Firman benar-benar merasa beruntung karena hal sepele itu.