Bagaimana mungkin seorang Delia bisa jadi istrinya seorang Luis? Cocoknya, hanya sepantar sopir, bukan bos, yang menjadi pendamping hidupnya itu. Pikir Delia, sambil menggeleng. Ia benar-benar ingin tertawa sekarang, sampai ia harus mengalihkan keinginannya itu dengan merogoh ponsel di dalam tas selendangnya.
“Jenny nggak bercanda. Jenny serius!” Gadis kecil berhidung bangir itu pun kembali berucap. Ia bahkan menekuk wajahnya, karena takut duluan kalau Delia akan menolak.
“Tapi, Sayang. Ibu sama ayahmu itu cuman teman. Mana bisa, Ibu jadi ibunya Jenny?” Delia yang melihat raut wajah sedih Jenny pun merasa bingung sampai akhirnya mengutarakan kata-kata, yang ia sendiri tak tahu, benar ataukah salah.
“Memangnya, kalau Ibu temannya Ayah, Ibu nggak bisa jadi ibunya Jenny?”
“Duh, aku harus jawab apa sekarang? Firman sama Luis kenapa pula meski tidur? Aku bingung sendiri ini. Mana udah Magrib pula sekarang. Astaga!” batinnya, sambil menyengir kikuk pada Jenny.
“Nggak bisa, ya, Bu?” Jenny kembali memastikan, seiring dengan raut wajah kian ditekuk. Bahkan, kedua matanya seketika memerah karena ingin menangis.
“I-iya, Sayang. Nggak bisa.” Delia yang bingung sendiri itu pun menjawab sekadarnya. Karena ia pikir, lebih naik menciptakan alibi daripada menolak secara langsung, atau justru menerimanya tanpa tahu bagaimana perasaan Luis.
“Terus, untuk bisa jadi ibunya Jenny, Ibu harus jadi apanya Ayah?” Tanya Jenny kembali.
“Duh ... Ibu nggak tau, Sayang. Nanti, Jenny tanya aja ke ayah, ya? Barangkali, ayahnya Jenny tau, kan? Sekarang, karena udah Magrib, Ibu tinggal dulu ke masjid nggak apa-apa? Ibu belum mandi pula ini. Gimana, ya?” ucapnya, dengan begitu hati-hati.
“Ibu mau pulang?” tanya Jenny, kian terdengar bergetar. Matanya pun kian memerah meski tak tampak adanya air menggenang di sana.
Delia pun akhirnya semakin bingung. Ia melihat ke arah Luis dan Firman. Bos dan temannya itu masih tertidur. Padahal, seharusnya tak sampai tidur sore-sore. Kemudian, Delia pun meminta Jenny untuk menunggunya sebentar tanpa menjawab terlebih dahulu.
Dihampirinya Firman yang sudah meringkuk di kursi empuk. Delia mencolek pinggang temannya itu sembari melirik Jenny sesekali sambil menyengir. Berharap, gadis kecil itu tidak memikirkan hal yang tidak-tidak.
“Bangun, ih!” serunya, sembari terus mencolek. Bahkan, saat Firman tak kunjung bangun, ia pun mengguncangnya. “Bangun kubilang!”
Firman merespons. Tapi, alih-alih terbangun, temannya itu justru berbalik membelakangi Delia tanpa berucap. Firman sama sekali tak mendengar panggilan Delia saking lelapnya.
“Astaga! Kebo ini mah,” ucapnya, kesal. Padahal, Delia ingin agar Firman bangun dan membantunya menjelaskan pada Jenny, kalau dirinya itu harus pulang.
“Bangunkan Ayah saja, Bu. Paman memang susah dibangunin kalau udah tidur!” seru Jenny yang sedari tadi mengamati Delia.
“Udah deh nggak apa-apa. Kasian kalau harus bangunkan ayahnya Jenny. Dia pasti capek.”
“Nggak apa-apa. Kan, Ayah juga mesti salat, Bu.” Jenny bersikukuh agar Delia mau membangunkan ayahnya itu.
“Oh, iya, ya. Tapi nggak enak, ah. Biarin aja, deh.”
“Nggak apa-apa, Bu. Kasian kalau nggak dibangunin. Ayah nggak salat dong nanti,” bujuknya, dengan pintar.
Delia yang masih berdiri di samping Firman pun bergeming barang sebentar. Ia pikir, ucapan Jenny ada benarnya juga. Ia tak boleh mengabaikan orang lain dalam hal kebaikan. Lantas, setelah memberanikan dirinya beberapa saat, ia pun melangkah menuju kursi lain di mana ada Luis di sana.
Melirik Jenny sekilas karena ragu, Delia pun akhirnya memanggil nama bosnya itu setelah mendapati senyum dan anggukkan Jenny. “Pak, Magrib!” katanya untuk kedua k ”Bangun,” sambungnya.
Luis yang dicoleknya itu pun langsung menggeliat dan mengucek matanya pelan. “Duh, maaf. Aku ketiduran, ya,” katanya, parau.
“Iya,” timpal Delia kikuk. Ia yang berdiri tak jauh dari Luis pun bergeser sedikit demi sedikit sampai sedikit jauh sebelum kemudian berucap lagi. “Sudah Magrib. Aku boleh pulang, Pak?”
“Oh, iya-iya. Si Firman mana? Biar dia anterin kamu pulang, ya?” ucapnya, sama kikuk.
“Tidur juga, Pak. Nggak apa-apa. Aku bisa pulang sendiri, kok. Kan, bawa motor.”
“Ih, nggak apa-apa. Biar dia antar sampai keluar aja, kan. Bentar. Biar aku yang bangunin,” katanya sambil berusaha berdiri dari duduknya.
Namun, karena masih lingkung setelah tidur sebentar, Luis yang hendak berdiri itu justru kembali ambruk di kursi. Membuat Delia yang melihatnya sontak membantu. Tapi, alih-alih terbantu, Delia justru ikut tertarik oleh pegangan tangan Luis.
“Astaga!” batin Delia saat tubuhnya itu menimpa Luis. Ia bahkan mengerjap-ngerjap karena wajahnya tepat berada di depan wajah Luis.
Luis mungkin tak melihatnya. Tapi, Delia dapat dengan jelas melihat wajah beserta seringai Luis yang sama terkejutnya dengan dirinya. Hening. Delia yang awalnya terkejut pun justru terbengong karena kesima dari wajah bosnya itu.
***
Delia berkedip lambat saat melihat dengan jelas wajah Luis yang begitu tampan juga rupawan. Ia benar-benar terkesima sampai tak lagi ada yang dipikirkan selain hanya ketampanan dan kerupawanan Luis. Sementara Luis sendiri, ia justru tak dapat melihat apa-apa selain hanya gelap gulita. Hanya saja, kedua tangannya itu tak sengaja menggenggam tangan Delia. Sehingga dapat dengan jelas ia rasakan, bahwa kulit wanita di hadapannya itu begitu halus.
Luis menelan ludahnya dengan cepat, saat aroma dari helaan napas Delia terasa hangat di wajahnya. Bahkan, ia sampai terpejam saking hanyut dalam tatap yang ia sendiri justru tak dapat melihat apa-apa. Namun, dalam benaknya, ia membayangkannya Delia serupa bidadari.
Hanya saja, perputaran waktu yang dirasa keduanya berhenti dalam sejenak itu terus berputar. Satu detik terlewat, bahkan bisa lebih dari satu menit lamanya kalau saja suara deheman Firman tak mengejutkan mereka. Delia yang seketika sadar pun langsung menarik diri sembari meminta maaf berulang kali. Ia bahkan sampai terbata-bata karena gugup saat mengatakannya.
Sedangkan Luis, lelaki yang pakaiannya berantakan akibat tidur barusan justru bertingkah tak keruan. Padahal, orang yang baru saja berdeham itu sama sekali belum terbangun dari tidurnya. Ia hanya terbatuk sambil menggeliat.
Delia yang melihatnya pun seketika menghela dan mengembuskan napas lega. Ia pikir, “Syukurlah! Aku pikir kamu bangun. Bisa-bisa, aku malu tujuh turunan kalau kepergok sedang dalam posisi seperti tadi. Sudah cukup aku malu karena ditelanjangi Billi. Tak lagi-lagi!” batinnya.
Namun, Jenny yang berada jauh dari Delia seketika tertawa-tawa sambil menutup wajahnya dengan kedua mata. “Ibu sama Ayah udah lepasin tangan masing-masing belum? Jenny pegal ini!” katanya.
“Tuhan! Aku sampai lupa kalau Jenny ada di sini,” batin Delia yang seketika merasa semakin kikuk. Lantas, ia berucap pada Jenny sambil mendekat. “Sayang, Ibu salat dulu, ya. Tapi, kemungkinan langsung pulang. Nggak apa-apa, kan, kalau Ibu pulang duluan? Jenny bisa istirahat di sini sama Ayah, sama Om Firman juga.”