Terkesima

1133 Kata
Tak henti-henti Delia menatap wajah polos dan pucat Jenny. Ia bahkan menyapu air matanya sesekali saat tiba-tiba saja merasa iba pada gadis kecil di hadapannya itu. Sejak mereka di pertemukan di sekolah, Jenny memang kerap bercerita tentang siapa dan bagaimana dirinya selama ini. Termasuk juga cerita tentang ibunya yang sudah meninggal. Delia pikir, ia hanya akan sebatas menjadi pendengar setia. Tapi Tuhan, nyatanya mempersatukan mereka dengan hubungan yang kuat. Kadih sayang yang dimiliki Delia begitu tulis. Pun dengan kasih sayang Jenny, yang bahkan jauh lebih tulus dari Delia. Dan karena itulah, mereka seperti punya hubungan batin karena kerap merindukan masing-masing. “Ibu kenapa nangis? Jenny nggak apa-apa, kok. Jenny udah sembuh.” Gadis kecil yang tetap terlihat cantik meski dalam keadaan pucat karena sakit itu pun berucap, setelah menyadari adanya air mata di pelupuk mata ibu gurunya itu. Kunyahannya bahkan berhenti saking khawatir dengan Delia. Dan, Luis yang sedari tadi mengamati keadaan pun mendengar ucapan Jenny juga. Namun, ia tetap diam dan pura-pura tak mendengar apa-apa. Sama seperti Firman, karena meski matanya fokus ke layar ponsel, telinganya yang tajam sedang memantau juga. “Ibu nggak nangis. Siapa bilang?” Kedua sudut bibir Delia langsung menyungging lebar. Ia memang menangis. Dan itu karena rasa ibanya pada Jenny. Namun, ia tak mau seorang pun mengetahui tangisnya itu. Terjadi Jenny sendiri. “Tadi, Ibu usap-usap mata terus. Pasti karena nangis, kan?” selidik Jenny, semakin jauh dalam menyimpulkan sesuatu. Ia menang seorang pengamat yang baik. Dan pengamatannya itu selalu saja benar, meski orang yang diamatinya kadang menyangkal. Seperti Delia saat ini. Ia menggeleng karena tak mau membuat Jenny khawatir. “Gatal, Sayang. Makanya Ibu usap. Kamu mau lagi rotinya? Ini masih ada satu,” katanya sembari mengalihkan topik pembicaraan. Sengaja, agar Jenny tak mengamatinya terus. “Pintar sekali Ibu yang satu ini. Bisa-bisanya dia mengalihkan topik pembicaraan, saat Jenny mengiranya sedang menangis. Padahal, aku tahu betul kalau anakku itu tak salah. Tapi, seandainya iya, apa yang membuat gadis itu menangis? Apa mungkin karena melihat kondisi Jenny? Sesayang itu kah dia pada anakku?” Jenny mengangguk sembari menyunggingkan senyuman tipis. Ia senang betul karena akhirnya ada wanita lain selain Bi Muna yang selalu menyuapinya. Dan, momen seperti inilah yang ia rindukan setelah kepergian sang Ibu. “Tapi, Ibu Guru juga makan, ya?” sambungnya, sambil mengunyah suapan pertama. Saat bicara, suaranya bergetar. Jenny yang merasa bahagia itu juga merasa haru, sampai membuat matanya berkaca-kaca. Delia yang melihat genangan air mata di pelupuk Jenny pun langsung mengangguk, sebelum kemudian ia sapu perlahan cairan bening tersebut sambil tersenyum. “Kita makan bareng-bareng, ya, Sayang. Tapi, Ibu belum mandi lho ini. Kecium nggak bau acemnya?” tanya Delia, dengan suara pelan. Ia ingin menggoda dan menghibur Jenny. Tapi tidak ingin orang lain mendengar ucapannya barusan. Jenny mengangguk sambil cengengesan. Namun, dia juga merentangkan tangannya ke arah Delia. “Peluk aku, Bu,” katanya. “Aih. Bau acem pun,” timpal Delia malu-malu. Bahkan, ia yang seketika cengengesan itu langsung menangkup mulutnya dengan sebelah tangan. “Nggak apa-apa. Jenny suka,” balasnya, kian melebarkan senyuman. Setelah mempertimbangkannya sesaat, Delia pun akhirnya merangkul Jenny perlahan sebelum kemudian ia memeluk muridnya itu dengan erat. “Cepat sembuh, Sayang.” Ia berbisik sembari menciumi kepala dan pipi Jenny. “Biar nanti bisa sekolah lagi. Jenny kan anak pintar,” sambungnya. Jenny yang seketika menitikkan air matanya itu pun mengangguk dalam pelukan Delia. Ia melirik ayahnya yang duduk di kursi sembari memperhatikannya sekilas. Luis sedang duduk dengan kedua kaki menyelonjor. Ia juga bersandar di sandaran kursi sembari memejamkan matanya. Sementara kedua tangan berototnya itu melipat di d**a. “Jenny mau Ibu, Yah,” batinnya seketika. Lantas, pelukan pun ia eratkan di tubuh Delia. Sementara itu, Firman yang juga duduk di kursi justru sedang memperhatikan apa yang terjadi di hadapannya. Ia, sebagai sopir yang sudah dianggap dan menganggap Luis sebagai kakaknya sendiri itu merasa senang melihatnya. Delia dan Jenny sudah cocok jika menjadi Ibu dan anak. “Mudah-mudahan aja mereka ini ada jodohnya. Kan, kasihan Jenny kalau nggak. Kelihatan sayang banget dia sama Delia,” batinnya seraya menahan kantuk. Karena lelah, matanya itu benar-benar terasa berat. Firman yang awalnya sibuk bermain dengan ponselnya pun lama-lama terlelap. Di ruangan VIP yang menyediakan ruang paling nyaman itu pun berubah menjadi lebih sunyi. Hanya saja, sesekali terdengar suara obrolan sama dari kamar sebelah, juga langkah kaki yang kebanyakan adalah dari lalu-lalang keluarga pasien. Delia yang sudah merasa cukup lama memeluk Jenny pun menarik diri. Ia kembali duduk tegap, masih dengan sebungkus roti di tangan. Bibirnya menyungging begitu melihat Jenny tersenyum lebih dulu. “Mau lagi?” tanyanya, sembari mengacungkan roti ke arah Jenny. Namun, Jenny kemudian menggeleng dan menyuruh Delia untuk memakan rotinya itu. “Tapi, Ibu juga udah kenyang, Sayang. Um, apa kasih ke Om Firman aja, ya?” “Kok, kek Om Firman? Kasih Ayah aja, Bu!” timpal Jenny, seolah cemburu saat Delia menyebutkan nama Firman. Ia bahkan langsung melihat ayah dan sopirnya itu. “Tapi, mereka udah tidur kayaknya, Bu.” “Eh, iyakah?” ucapnya, seraya menoleh ke arah Luis dan Firman. “Lho, pantesan sunyi dari tadi. Ternyata, kita ditinggal tidur, Sayang.” Delia pun langsung menahan tawanya dengan tangkupan tangan. “Iya. Dasar emang. Tapi, mungkin karena Ayah capek, Bu. Dia kan kerja terus tiap hari. Padahal, Jenny sering minta Ayah buat tinggal di rumah aja biar Jenny ada temannya. Tapi Ayah selalu bilang sibuk. Alhasil, Jenny sama Bi Muna lagi, sama Bi Muna lagi,” ungkapnya, yang seketika tampak BT. Jenny bahkan berdecak dan setelahnya mengerucutkan bibir. Delia yakin, gadis kecil di hadapannya itu benar-benar merasa kesepian meski dikelilingi oleh harta yang diberikan ayahnya. Satu pekerja, mainan, rumah mewah dan luas, belum lagi uang untuk membeli apa saja, kenyataannya tak membuat Jenny merasa hidup. Ia tetap saja merasa mati dan sendiri. “Jenny tuh mau Ibu sebenarnya,” sambung Jenny sembari melirik Delia. Dia juga menyengir lebar setelah mengucapkan keinginannya itu. “Eh, Ibu?” Kening Delia langsung mengernyit. Sebelah alisnya pun bahkan langsung terangkat. Ia tak mengerti dengan ucapan anak kecil di hadapannya itu. “Ibu apa maksudnya?” “Ya, Ibu Delia.” Jenny menyengir lagi. Kali ini, kedua seketika langsung saling terpaut. “Ibu?” Delia pun menunjuk dirinya sendiri sambil menahan senyum. Entah kenapa, ia ingin tertawa saat Jenny mengatakan ingin dirinya. Ia pikir, keinginan anak dari bosnya ini aneh-aneh. “Ibu harus apa, Sayang? Kan, Ibu udah ada di sini.” “Jadi ibunya Jenny, Bu.” Dan, Jenny pun akhirnya mengutarakan hal itu dengan sungguh-sungguh. Bahkan, suaranya terdengar bergetar karena terlalu berharap penuh. “Apa?” tanyanya, memastikan. Namun, sejurus kemudian tangannya langsung menangkup bibir sembari melihat ke arah Luis dan Firman. Ia takut kalau dua lelaki di ruangan itu mendengar ucapan Jenny. “Duh, bercandanya.” Delia pun menepis keinginan Jenny yang konyol itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN