“Ya, Bos. Ini gue sama Delia,” timpal Firman sembari masuk. Ia kemudian mendorong pelan tubuh Delia, karena temannya itu justru berhenti maju saat sudah di dalam ruangan. “Ayo, sana duduk!” bisiknya.
“Tapi kan ada dia. Nggak enak aku,” katanya, balas berbisik pada Firman. “Aku di sini ajalah nggak apa-apa.”
“Oh ... sama ibu gurunya Jenny, ya? Mari, Bu ... duduk di sebelah Jenny. Maaf karena sudah merepotkanmu. Tapi, aku khawatir karena Jenny memanggil ibu gurunya terus tadi,” katanya, setelah mencuri dengar bisikan-bisikan Delia dan Firman.
“Nggak apa-apa, Pak. Emang sudah kewajibanku untuk menjenguk anak didik. Apalagi Jenny. Kebetulan kami dekat. Sayangnya, aku memang udah nggak ngajar lagi.”
Setelah menelan ludah dengan susah payah, Delia pun menimpalinya Luis sambil melangkah maju. Kemudian ia pun duduk di kursi yang berseberangan dengan Luis. Ia di sisi kiri Jenny. Luis di sisi kanan Jenny. Sementara Firman, temannya itu berdiri tak jauh dari mereka.
Mendengar apa yang dikatakan Delia pun Luis langsung berdeham. Pasalnya, ia sudah tahu tentang pekerjaan Delia yang baru. Pun dengan Delia. Meski sudah tahu kalau bosnya itu adalah Luis, ia tetap berpura-pura.
“Jenny pernah cerita. Dia sedih sekali,” karanya, pelan dan gugup. Padahal, yang mereka bahas adalah tentang Jenny. Tapi, Luis justru merasa seperti tengah menghadapi ujian.
“Mungkin karena belum terbiasa dengan guru yang lain. Nggak apa-apa. Nanti juga terbiasa sendiri. Tapi, Pak ... maaf. Gimana kondisi Leo? Apa anjingmu itu sudah kembali sehat?” tanyanya, yang dengan menggunakan kesempatan dalam kesempitan, Delia pun menanyakan perihal hewan yang tak sengaja ia tabrak.
“Leo sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Tapi, aku tak lagi menjadikannya anjing pemandu. Kasihan dia. Takutnya nanti celaka lagi. Terlebih, ia belum bisa berlari seperti sedia kala,” jawabnya dengan senang hati.
Namun, tiba-tiba saja Jenny berucap lagi. Dan, ucapannya itu adalah hal yang sama seperti tadi. “Ibu guru. Ibu Delia.”
Terus saja seperti itu sampai-sampai membuat Delia refleks meraih sebelah tangan Jenny. “Ini ibu, Sayang. Bangunlah. Ibu ada di sini,” bisiknya, sebelum kemudian mendaratkan kecupan hangat di punggung tangan Jenny yang panas.
“I-ibu ... Ibu guru,” gumam Jenny kembali. Namun, kali ini sembari membuka mata.
Jenny sadar dari pingsannya itu. Ia bahkan langsung melihat pekan ke arah sumber suara. Dilihatnya Delia, seiring dengan jatuhnya setetes air dari sebelah sudut mata.
“Iya, Sayang. Ini Ibu.”
“I-Ibu.” Bibir Jenny berucap lagi. Kali ini diiringi dengan senyuman tipis. Gadis kecil itu merasa begitu senang karena akhirnya dapat bertemu dengan orang yang ia rindu. “J-jangan pergi,” sambungnya.
“Nggak. Ibu pasti di sini terus buat nemenin kamu sampai sembuh. Jadi, Jenny harus semangatnya, ya. Harus kuat juga kamunya.”
Pelan, Jenny yang baru saja sadar dari pingsannya itu mengangguk pelan. Ia juga menarik yang Delia sampai di dadanya. Kemudian, Jenny mendekapnya di sana sampai ibu gurunya itu condong ke depan.
Sementara itu, Luis mau pun Firman langsung merasa haru. Keduanya bahkan berkaca-kaca, seraya menyapunya segera. Bos mau pun sopir sama-sama tidak mau terlihat cengeng.
“Jenny mau apa sekarang. Lapar nggak, Sayang?” tanya Delia.
Namun, belum sempat Jenny menjawab, suster yang merawat Jenny pun datang. “Untuk ruang rawatnya sudah siap. Bapak dan Ibu, silakan bersiap-siap. Saya antar sampai ke tempat tujuan,” katanya.
Lekas Firman dan Luis pun ingin membantu Jenny untuk duduk terlebih dahulu. Gadis kecil itu harus dipindahkan ke kursi roda yang dibawa suster untuk memudahkan proses pemindahan.
Setelah itu, semuanya pun beranjak meninggalkan ruangan untuk pergi ke ruangan lain yang jaraknya lumayan jauh dari UGD. Firman, Luis dan Delia pun mengikuti ke arah mana Suster membawa Jenny. Mereka bahkan melewati beberapa lorong, tanjakan dan turunan sebelum akhirnya sampai di ruang inap.
Hening.
Luis mau pun Delia tak berucap sepatah kata pun sedari berangkat. Kecuali Firman yang beberapa kali sempat bicara dengan suster. Dia juga mengucapkannya banyak terima kasih saat suster di hadapannya sudah selesai memeriksa dan membenahi infusan Jenny.
“Sama-sama, Pak. Tapi, sebaiknya jangan terlalu berisik juga di sini, ya. Biarkan pasien untuk beristirahat. Dan, kakau ada apa-apa kalian bisa panggil perawat jaga di ruang depan, ya,” jawabnya, sebelum kemudian suster itu pergi meninggalkan ruangan.
Firman pun akhirnya bernapas lega karena sekarang Jenny sudah ditempatkan di ruangan VIP. Setidaknya, dia tidak perlu melihat pasien-pasien mengerikan di UGD. Namun, begitu Firman menyadari diamnya Delia dan juga Luis, ia pun berdeham pelan.
“Kok, kayak di kuburan gini, ya?” singgungnya sembari meraih salah satu kursi. Kemudian duduk di sana, sembari menyilang sebelah kaki. “Sepi!” sambungnya.
“Kan, nggak boleh berisik atuh!” timpal Delia, yang seketika meraih kursi juga. Kemudian ia menariknya sampai persis di samping ranjang. Dilihatnya gadis kecil yang sudah bangun dari tidurnya itu sambil tersenyum. “Gimana keadaanmu sekarang, Sayang?” tanyanya.
“Pusing, Bu.” Jenny menjawab parau. Wajahnya benar-benar pucat. Sementara tatap matanya begitu sayu.
“Sabar, Sayang. Ibu yakin kamu pasti sembuh.” Diusapnya puncak kepala Jenny, Delia pun mendaratkan kecupan di kening anak bosnya itu sembari melafalkan doa di dalam hati.
Sementara itu, Luis yang akhirnya bingung sendiri meraba-raba sekitar. Ia hendak duduk, tapi akhirnya justru menyentuh pundak Jenny tanpa sengaja. Jenny menoleh dan melihatnya seketika. Ia juga melihat Firman yang malah sibuk dengan ponselnya.
Terpaksa, karena yakin kalau Luis sedang mencari tempat duduk, Delia pun berdiri terlebih dahulu untuk menghampirinya. Kemudian ia menuntun bosnya itu sambil berucap, “Biar kubantu,” katanya ragu-ragu. Takutnya, Luis justru tersinggung.
Mendengar itu, Firman pun memperhatikannya sembari pura-pura sibuk melihat ponsel. Ia tersenyum senang melihat adegan yang ada di hadapannya. Terlebih saat Luis dengan senang hati menerima bantuan Delia.
“Makasih, ya. Maaf juga karena sudah ngerepotin kamu, Del. Aku nggak punya pilihan lain saat Jenny menyebut namamu terus,” katanya sambil berjalan melewati Firman. Kemudian, ia pun duduk di salah satu sofa dekat pintu.
“Nggak apa-apa. Kebetulan, aku juga kangen sama Jenny. Dah seminggu kayaknya kita nggak ketemu. E, tau-tau malah sakit.” Delia pun memasang senyum, meski tahu kalau Luis tak kan melihatnya.
Luis pun benar-benar bersyukur karena mendapati adanya wanita yang menyayangi Jenny. Bahkan, dalam hatinya, ia berharap lebih dari sekadar mendapati kehadirannya saja. Melainkan ingin kalau Delia menjadi pendamping dalam hidupnya.
“Aku juga kaget begitu dengar Jenny sakit. Padahal, paginya dia masih ceria. Tapi, omong-omong, kamu udah makan belum? Tadi aku ada nyuruh Firman untuk beli makanan. Dia pasti masih punya.”
“Iya, nih. Masih banyak sisanya. Mau nggak, Del?” timpal Firman, tanpa mengalihkan tatapannya dari layar ponsel.
“Kalian sendiri udah makan?” tanya Delia balik. Tapi, dia memang merasa lapar.
“Udah. Ini tinggal buat kamu sama Jenny aja rotinya. Nih!” timpal Firman. Kali ini sembari melihat dan menyodorkan kantong kereseknya pada Delia.
“Oh, ya sudah. Aku makan bareng Jenny, deh. Jenny pasti lapar juga,” jawabnya, seraya mengambil kantong keresek yang disodorkan Firman. Kemudian, ia pun kembali duduk di kursi samping ranjang. “Ibu suapin. Mau, ya?”
Dan, Jenny pun mengangguk dengan senangnya.