“Dia pasti sembuh. Gue juga udah nelepon Delia. Dia akan datang. Jadi, sebaiknya sekarang tenang dan minum dulu. Tadi katanya lapar bukan? Jangan buat tubuh lu sakit juga, Bos.”
Sembari menahan rasa sedih dan cemasnya, Firman pun bersikap seolah-olah kuat dan tegar. Ia bahkan menarik kedua sudut bibirnya itu lebar-lebar, untuk menunjukkan kepura-puraannya itu.
Luis akhirnya menerima botol minuman itu. Dia juga menerima sebungkus kue sebelum kemudian meminum dan memakannya perlahan. Samar, Jenny kembali mengigaukan nama Ibu gurunya sampai membuat Luis kembali cemas.
“Jangan cemas, Bos. Itu biasa terjadi saat anak-anak sedang demam. Sebelum sakit, Jenny kerap menyebut gurunya itu bukan? Dia juga mengeluh rindu pada gurunya. Itu kenapa, sekarang, yang ada dalam pikirannya hanya Delia.”
Luis pun mengangguk setelah mendengar ucapan Firman barusan. Sopirnya itu benar. “Lu juga makan, Man. Jenny pasti marah kalau kita kelaparan kayak gini. Lu tau sendiri juga kalau dia itu paling bawel soal makan. Padahal, usianya masih sangat belia.”
“Tentu. Gue lapar juga dari tadi Bos. Ini udah abis sebungkus rotinya,” timpal Firman, diselingi bercanda untuk menghidupkan suasana di ruang tersebut. “Tapi, kapan Jenny pindah ruangan? Dia dirawat inap, kan?” sambungnya, setelah menenggak setengah dari minumannya terlebih dahulu.
“Ini lagi diurus-urus dulu, Man. Kita tinggal nunggu suster buat antar ke kamar inap. Tapi, apa Delia langsung ke sini? Atau, dia pulang dulu?” tanyanya, ingin tahu tentang kesanggupan Delia lebih lanjut. Pasalnya, tiba-tiba saja Luis merasa gugup begitu ingat kalau Delia akan datang.
“Langsung, Bos. Sebentar lagi juga pasti datang.”
“Baguslah. Selain karena Jenny memanggilnya terus, gue juga nggak sabar pen ketemu dia di sini,” gumamnya, setengah berbisik.
“Apa, Bos?” tanya Firman yang samar-samar mendengar ucapannya.
“Nggak. Nggak apa-apa. Gue cuman khawatir sama kondisi Jenny aja. Takutnya Delia bohong.” Luis yang tak mau perasaannya itu ketahuan pun berbohong. Lantas, ia yang sudah selesai dengan makanannya pun kembali meraih sebelah tangan Jenny. Tangan mungil berjemari lentik itu masih terasa panas dalam genggamannya.
“Nggaklah, Bos. Dia pasti datang kok. Dia langsung khawatir begitu aku kasih tau kondisi Jenny soalnya.”
Luis mengangguk tanpa menimpali sopirnya lagi. Kemudian ia bertumpu di tepi ranjang sembari menggenggam tangan Jenny dengan kedua tangannya. Ia juga setengah mendekap dan menciumi tangan mungil nan halus itu sambil terpejam.
Ayah dati satu anak perempuan itu memang tidak bisa melihat. Tapi, dapat dengan jelas ia rasakan sakit yang diderita anaknya itu. Bahkan, ia merasa semakin sakit tatkala ingatannya menarik paksa dirinya pada kejadian tempo dulu.
Setelah sadar dari pingsannya selama pengobatan, Luis terkejut karena tak mendapati apa pun begitu membuka mata. Yang ada hanya gelap gulita, juga sakit di sekujur tubuhnya saat ia bergerak sedikit saja.
Pelan, suaranya yang serak memanggil-manggil sang istri juga sang buah hati. Tapi yang menimpalinya justru seseorang dengan suara asing. Luis tak mengenalnya sebelum kemudian suster tersebut menyuruhnya untuk tetap tenang. Pasalnya, tiba-tiba saja Luis berontak dan hendak turun dari ranjang. Lantas, dirinya hampir saja terjatuh.
Lantang suaranya kemudian berucap, “Kenapa di sini gelap sekali? Di mana istri dan anakku?”
Dokter yang dipanggil lewat tombol darurat pun datang. Ia langsung menenangkan Luis sebisa yang ia mampu dengan menjelaskan di mana Luis sekarang. Tapi tidak dengan memberitahu tentang istri dan anak pasiennya itu.
Luis tetap berontak sembari menanyakan keberadaan keluarganya terus-menerus, sampai akhirnya ia berangsur tenang karena obat penenang yang disuntikkan dokter. Setelah itu, segera dokter pun menyuruh suster untuk mencatat apa yang dialami Luis. Bahwa, pasiennya itu ada kemungkinan mengalami kebutaan.
Karena itu adalah merupakan informasi penting, segera dokter pun memanggil keluarganya yang sejak semalam menunggu di ruang khusus keluarga pasien. Kemudian ia memberitahu kemungkinan tersebut, termasuk dengan apa yang harus dilakukan terhadap pasien.
Operasi mata.
Namun, beberapa jam kemudian setelah Luis kembali sadar, ia pun yakin kalau ruangan tersebut itu tidaklah gelap. Melainkan matanya yang memang tidak bisa melihat. Seketika ia terpukul. Bahkan sampai menyakiti dirinya sendiri.
Namun, kali ini Ibu dan ayahnya yang berhasil menenangkan Luis. Mereka memberikan semangat juga kepercayaan diri yang tinggi. Bahwa Luis bisa melakukan operasi untuk bisa melihat lagi.
Akan tetapi, sebelum Luis menyetujui operasi untuk matanya, ia meminta satu hal terlebih dahulu. “Aku ingin bertemu dengan istri dan anakku dulu. Antar aku ke tempat mereka,” katanya.
Dan sayangnya, saat tak satu pun orang tidak menjawab, Luis pun langsung merasa yakin kalau istri dan anaknya tidak selamat. Oleh karena itu, saat itu juga, Luis pun menolak untuk melakukan operasi.
Seberapa keras pun ibu dan ayahnya membujuk sembari memberitahu kalau Jenny selamat, Luis tetap tak mau menjalani operasi mata. Ia merasa tak mengapa walaupun tidak bisa melihat. Karena meski begitu, ia tetap bisa melihat istri tercintanya dalam hati.
“Bos!” seru Firman, yang seketika mengejutkan bosnya itu.
Ingatan Luis yang mundur begitu jauh, seketika tertarik dan kembali ke masa kini. Ia menoleh, seiring dengan mata yang dibasahi air matanya sendiri. “Apa?” tanyanya.
“Delia udah ada di depan. Gue ke depan dulu, ya?”
“Oh!” Luis pun langsung menyapu air matanya itu, karena takut tertangkap basah sedang menangis. “Ya, sudah cepat jemput. Jenny pasti tak sabar untuk bisa ketemu dengan gurunya itu.”
Padahal, dia sendirilah yang tak lagi dapat menahan sabar.
***
Setelah keluar dari ruang rawat, Firman pun segera meluncur ke luar rumah sakit untuk menjemput Delia. Temannya itu memang langsung mengirimi pesan begitu sampai karena tak tahu harus pergi dan masuk ke ruangan mana.
Melewati lorong demi lorong rumah sakit, Firman tak mengedarkan pandangannya ke sisi kiri maupun kanan. Bukan takut, tapi ia merasa ngeri sendiri karena banyaknya pasien gawat darurat yang tampak dari lorong yang ia lewati.
Ada yang terbaring dengan darah masih berlumuran karena habis tabrakan. Ada ibu-ibu dan juga bapak-bapak yang terbaring dengan rupa-rupa penyakit sampai menunjukkan beberapa tubuhnya dalam keadaan memprihatinkan. Belum lagi ruang ibu melahirkan yang meski untuk ruangan itu tertutup, suara rintihan para pasien terdengar samar begitu melewatinya.
Firman sempat bergidik ngeri dibuatnya. Sampai-sampai ia hanya memandang lurus sampai akhirnya tiba di pintu keluar. Di sana, ia langsung mengedarkan pandangan. Dan, seketika mendapati Delia sedang duduk di kursi samping pintu keluar nomor dua.
“Del!” sapanya, begitu sudah di samping Delia.
Gadis berwajah cantik itu pun langsung mendongak. “Eh, Firman. Aku lama, ya? Di jalan macet banget ya Allah,” katamu, seiring dengan tampaknya raut wajah khawatir. Sebab, di sepanjang jalan, Delia memang tak bisa tenang. Dalam hatinya itu terus saja terpikir tentang Jenny.
“Nggak apa-apa. Ayo! Jenny sudah nungguin kamu dari tadi soalnya.” Firman pun langsung mengantongi ponselnya yang sedari tadi ia genggam. Lantas berjalan lebih dulu begitu Delia sudah berdiri.
“Jenny udah sadar?” tanya Delia setelah menyejajarkan langkahnya dengan Firman. Sesekali, ia juga melirik temannya itu karena penasaran.
“Belum, Del. Tapi dia ngigau mulu dari tadi. Dan, dia itu manggil-manggil kamu terus. Makanya, Luis nyuruh kamu untuk datang,” jelasnya pada Delia. Sama seperti temannya itu, Firman juga melihat Delia sesekali.
“Terus, Jenny bakal dirawat lebih lanjut?”
“Katanya, sih, iya. Luis bilang tinggal nungguin informasi dari suster.”
“Hm ... syukur, deh kalau gitu. Biar Jenny sehat dulu, baru pulang.”
“Huum. Tapi, kamu ada ngasih tau ibu sama Adel kan soal ini? Takutnya mereka cemas karena kamu belum pulang,” tanya Firman kembali. Sekarang, mereka hanya tinggal melewati satu ruangan untuk sampai di ruangan Jenny. Firman mempercepat langkahnya agar cepat sampai di sana.
“Tentu saja. Bisa jantungan ibuku kalau aku nggak pulang jam segini tanpa alasan,” jawabnya sambil menyengir. Pasalnya, Delia juga ingat akan hal di mana dulu dirinya pernah pulang terlambat. Pulang-pulang, ibunya itu mengomel sampai puas sendiri.
“Baguslah. Luis juga nggak bakal setuju kalau kamu nggak izin ibu dulu,” katanya seraya menghentikan langkah. “Kita sampai,” sambungnya.
Perlahan, Firman pun membuka pintu ruangan tersebut. Kemudian ia mempersilakan Delia untuk melangkah masuk lebih dulu. Luis yang seketika mendengar adanya orang lain masuk langsung menoleh.
“Man?” tanyanya, memastikan.