Akhirnya Bertemu

1308 Kata
“Pastilah. Jangankan dia, aku aja khawatir.” Delia langsung membalas lagi, tanpa beranjak sedikit pun dari tempatnya berdiri. Padahal, seharusnya ia sudah berangkat untuk pulang. Kenyataannya malah asyik. “Huum. Tapi, kenapa kamu belum pulang? Sekarang udah lebih dari jam empat lho. Malah, sudah hampir jam lima. Pulanglah!” titah Firman saat itu juga. Sebagai seorang lelaki yang kebetulan sudah lumayan lama menjomblo, ia tahu betul kalau para lelaki jomblo lainnya itu akan berkeliaran di sekitaran jalan rumah Delia. “Kalau tadi aku balik, kita nggak bakal chating kek gini, kan? Dan, aku pasti penasaran setengah mati karena belum mendapatkan balasan dari pertanyaanku!” “Oooh ... jadi, itu karena kamu mengkhawatirkan bos kita. Begitu?” Firman pun menggoda temannya itu. Ia bahkan tertawa-tawa kecil di ruang tunggu saat mengetik pesannya itu. Luis yang juga sedang duduk di sana pun melihatnya dengan tatapan heran. Ia bahkan mengernyit, seraya menyikut sopirnya itu. “Apa?” bisiknya. “Eh, Bos. Nggak. Ini ... lagi chatting.” Firman yang awalnya tertawa itu pun langsung bungkam, dengan sisa-sisa tawa di bibirnya. Lantas, ia menyembunyikan ponselnya itu sejenak untuk tidak membuat Luis penasaran. Pasalnya, ia takut kalau Luis akan berpikir yang tidak-tidak jika sampai tahu dirinya sedang berbalas pesan dengan Delia. “Oh. Sama siapa? Asyik banget kayaknya.” Luis pun benar-benar penasaran. Karena suara tawa Firman benar-benar mengacaukan pikirannya yang sedang mengkhawatirkan Jenny. “Biasalah, teman. Emang saklek orangnya.” “Cewek?” Kekepoan Luis benar-benar melebar. Malah, ia merasa kalau Firman sedang berbalas pesan dengan gadis yang disukainya. “Cowok lah, Bos. Saklek gini!” Firman berbohong. Ia benar-benar tak mau membuat bosnya cemburu. Terlebih setelah dirinya itu mendengar pengakuan Luis tentang perasaannya terhadap Delia. Ia tak mau mematahkan perasaan bosnya itu. “Oh ... gue lapar omong-omong. Lu bisa beliin makan dulu nggak ke luar?” tanyanya. Terakhir makan adalah sebelum Dzuhur siang tadi. Itu kenapa, Luis merasakan perutnya keroncongan. “Bisa dong. Gue beli dulu kalau gitu. Apa aja, kan?” Luis pun berdiri sembari mengepal kuat ponselnya sebelum kemudian kembali melihat pesan dari Delia setelah mendapati Luis mengangguk. Temannya itu mengiriminya lima pesan, dengan nada kesal karena susah diabaikan. “BUKAN BEGITU, Firman! Tapi, ya memang aku ingin tau saja. Kamu sama bos kita itu mau ke mana buru-buru gitu, kan.” “Dih! Malah ilang. Keadaan Jenny gimana sekarang? Dia baik-baik aja, kan?” “Oi!” “Tok-tok-tok!” “Hello ...!” Membaca pesan dari temannya itu kembali membuka Firman tertawa lagi. Kali ini dengan suara tertahan, agar tak diperhatikan orang. Lorong rumah sakit terlihat ramai oleh lalu-lalang pendatang dan para suster. “Sorry. Bos kita nyuruh aku buat nyari makanan dulu, Del. Kamu sebaiknya cepetan pulang, deh. Kemagriban si jalan loh nanti,” balas Firman pada akhirnya, tepat ketika ia sudah ada di luar rumah sakit. Di luar, langit sudah semakin gelap. Namun, orang yang datang dan pergi seolah tak surut-surut sedari tadi. Firman mengedarkan pandangan tanpa menghentikan langkahnya menuju mini market di seberang rumah sakit. Sementara ponselnya sudah ia kantongi dalam kemeja. Namun, baru saja langkahnya tiba di gerbang, ponselnya itu berdering nyaring. Satu panggilan masuk membuat Firman segera mengambil dan mengangkatnya dengan santai. Dikira, situasinya tidak akan semenegangkan sekarang setelah Luis memberitahunya perihal kondisi Jenny. “Terus gimana, Bos?” tanyanya, cemas. Bahkan, Firman langsung lupa dengan tujuannya ke luar dari rumah sakit. “Telepon Delia. Suruh dia datang ke sini! Kalau perlu lu jemput aja, Man!” timpal Luis, yang seketika membuat Firman mengangguk mengiyakannya. *** Usai menutup panggilan dari bosnya itu, Luis pun segera menelepon Delia meski dirinya tahu kalau Delia susah pasti sedang mengendarai motor. Namun, penting baginya untuk memberitahu Delia tentang kondisi Jenny. Gadis kecil itu menginginkan gurunya ada di sana. Panggilannya itu tersambung. Tapi, untuk beberapa saat tidak diangkat oleh Delia. Firman pun mencobanya lagi dan lagi, bahkan sampai lebih dari lima kali sampai akhirnya Delia mengangkat panggilan itu. “Hallo!” seru Firman, saat itu juga. Ia yang masih bergeming di dekat gerbang pun langsung menyapa Delia lebih dulu, dengan suara penuh dengan rasa cemas. “Aku lagi di jalan ini. Ada apa? Tadi, katanya suruh cepat pulang.” Suara Delia terdengar jelas dari seberang telepon. Membuat Firman seketika merasa sedikit lega karenanya. “Di mana lokasimu sekarang?” tanyanya. “Di ... um, belum jauh dari kantor, sih. Ada apa?” selidik Delia langsung terpikir akan kondisi Jenny. “Gadis itu sudah membaik, kan? Dia udah nggak demam, kan?” sambungnya. “Itu dia, Del. Suhu tubuh Jenny semakin tinggi. Dia bahkan mengigaukan namamu terus. Barangkali , Jenny memang ingin bertemu kamu. Makanya, Pak Bos nyuruh aku buat menghubungimu. Kamu bisa datang, kan? Aku takut dia kenapa-napa sumpah. Ngeri.” “Sebentar. Tadi, saat kita chat ... aku lupa nanya kalau Jenny itu panas kenapa. Apa sudah ada hasil?” Di pinggir jalan, tanpa turun dari motornya, Delia memastikan kondisi Jenny terlebih dahulu sambil melihat-lihat sekitar. Jalanan ramai oleh lalu lalang kendaraan bermotor dan bermobil. “Dia kena demam berdarah. Kondisinya drop. Please, aku harap kamu bisa datang.” Firman yang sudah menganggap Jenny sebagai adiknya sendiri itu begitu cemas hingga memohon dengan sangat pada Delia. “Atau mau aku yang jemput?” sambungnya. “Oh, nggak usah, Man. Aku mau ke rumah sakit. Sekarang aja langsung OTW. Kamu jangan khawatir, Jenny pasti selamat. Dia anak yang kuat. Aku tahu itu!” timpalnya, seraya meyakinkan Firman akan kondisi Jenny. Meski, sebenarnya, dia juga sangat khawatir. “Ya, sudah. Aku sampai lupa kalau tadi mau beli makanan. Si Bos pasti lupa juga sama rasa laparnya. Tapi, dia harus makan.” Firman berucap pelan sembari memperhatikan sekitar. Saat jalan tampak lengang, ia berlari menuju seberang. “Kamu juga,” timpal Delia sembari menyapu air di kedua sudut matanya. Ia memang gampang menangis tiap kali mendengar kabar duka. “Iya, Del. Hati-hati di jalan kalau gitu. Jangan ngebut.” Usai berucap, Firman yang sudah merasa jauh lebih baik karena ucapan Delia pun menutup telepon setelah mengucap dan mendengarkan salam dari Delia. Lantas ia segera masuk ke mini market dan langsung memilih beberapa makanan dan minuman. Ingat akan Jenny dan Delia, ia pun sekalian membeli beberapa lagi. “Semuanya jadi enam puluh namun tiga rubu, Mas.” Penjaga kasir pun memberikan setruk dan belanjaan Firman setelah dihitung otomatis, sembari menyuguhi senyuman tipis nan ramah. Firman langsung menyerahkan uang yang dipegangnya sedari menghampiri kasir. Dan kemudian menerima kembalian, sebelum kembali bergegas pergi. Dilewatinya orang-orang tengah mengantre, dilewatinya pula jalanan saat sepi. Sementara dalam hatinya, sebait demi sebait doa membumbung tinggi ke langit. Firman harap, Tuhan akan mengabulkan doanya secepat ia melangkah menuju ruang di mana Luis sedang menunggu Jenny. “Kasihanilah dia. Sembuhkanlah dia. Berilah kesempatan bahagia baginya, setelah melewati masa-masa penuh sulit dan sedih ... Tuhan. Jenny anak yang baik. Dia juga soleha. Karena setiap waktu, aku dengan dia kerap memujimu dengan penuh suka cita. Maka kabulkanlah doaku, doa kami.” Usai melangitkan doanya itu Firman terpejam kuat barang sesaat, tanpa menghentikan langkah kaki. Kata Aamiin kemudian terucap pelan dari bibirmu yang gemetar. Demam berdarah itu adalah salah satu penyakit yang berbahaya jika tak lekas ditangani. Itu sebabnya lagi-lagi Firman memohon ... agar Tuhan mau mengangkat penyakit tersebut dari Jenny. Sampai di ruang tunggu, Firman tak melihat Luis di sana. Ia yakin kalau bosnya itu sudah di dalam. Itu kenapa, ia pun langsung masuk dan juga langsung mendapati Luis sedang duduk di kursi samping ranjang tanpa seorang suster ataupun dokter. Mereka, sepertinya sudah selesai menangani Jenny. “Bos, minum ...,” katanya setelah berdiri tepat di samping Luis. Ia menyodorkan sebotol minuman segar dan dingin pada bosnya itu. “Jenny, Man. Dia belum sadarkan diri. Badannya masih panas.” Alih-alih menerima botol minuman yang diberikan Firman, Luis justru berucap perihal keadaan Jenny. Matanya tidak lagi berkaca-kaca seperti tadi. Melainkan sudah berurai, karena tak kuat menahan sedih juga cemas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN