“Permisi, Pak. Saya—“
“Masuklah! Duduk,” timpal Luis menyela saat panggilannya masih tersambung. Dan, begitu Firman mengangkatnya, dia langsung menyuruh sopirnya itu untuk kembali masuk. “Saya ada urusan penting, Luna. Berkas-berkas yang harus saya tanda tangani biar saya bawa pulang dulu aja, ya,” sambungnya pada Luna.
Asistennya itu mengangguk tak mengerti setelah melihat raut wajah bosnya sendiri. Luis menang tampak begitu khawatir karena kondisi Jenny sekarang. Ia bahkan langsung bersikap tak keruan.
“Baik, Pak. Berkas-berkasnya sudah saya satuin di sini.” Luna pun kembali berdiri usai menyimpan berkas yang dipegangnya di atas meja. Kemudian pamit dan keluar, bertepatan dengan Firman yang baru saja masuk.
“Ada apa?” bisik Firman, secepatnya.
“Nggak tau. Tapi, kayaknya ada hal gawat, deh. Si Bos cemas gitu wajahnya,” timpal Luna.
“Ho ... ya, sudah. Kerja lagi sana,” titahnya, diiringi dengan senyum jahil. Membuat Luna seketika mencubit pinggangnya sambil berlalu. “Ada apa, Bos? Baru juga nyuruh pergi ... e, udah nyuruh datang lagi,” sambungnya pada Luis.
“Kita pulang sekarang!”
Luis yang seketika mendengar kedatangan Firman pun langsung berdiri, dengan sikap cemasnya. Ia juga buru-buru meraih jas yang disimpannya di sandaran kursi. Kemudian memakainya sambil berjalan, menghampiri Firman.
“Lho, ada apa? Kok, mendadak gini? Tadi, katanya nau ketemu Delia?” Firman benar-benar tak paham, tak mengira juga tentang kesehatan Jenny.
“Jenny demam. Panasnya nggak turun-turun. Kita harus membawanya ke rumah sakit. Segera!” timpalnya, setelah melewati Firman yang justru terpaku. “Ayo!”
“Ah, iya. Ayo-ayo. Tapi, Jenny kok tuba9 sakit?” tanyanya, yang seketika merasa ikut cemas. Pasalnya, tadi pagi, Jenny masih ceria.
“Namanya juga penyakit, Man. Mana bisa ditebak?” Omel Luis, tanpa menghentikan langkah kaki. Meski sembari meraba-raba dinding di sepanjang lorong menuju lift, ia tampak baik-baik saja dengan keadaannya yang buta itu.
Sampai di lift, buru-buru Firman pun membukakan liftnya. Setelah Luis, ia menyusul masuk dan kembali menekan nomor lantai tujuannya segera juga. Sebagai orang yang ikut andil dalam membesarkan Jenny, Firman merasakan hal sama seperti Luis. Ia cemas, khawatir, bahkan tak sabar untuk segera sampai di rumah.
Namun, naik lift yang biasanya terasa cepat, tiba-tiba saja menjadi terasa lambat. Waktu, bahkan seolah berjalan menyerupai orang buta. Merayap. Firman mau pun Luis kemudian sama-sama menautkan kedua tangan. Dalam hatinya bahkan berucap penuh mohon agar Jenny tidak kenapa-kenapa.
Sampai!
Buru-buru Firman pun membantu Luis keluar dari lift. Bahkan, Sekarang ia membantunya juga menuju parkiran. Sebab, bosnya itu terlihat lemas karena rasa cemasnya yang berlebihan.
Tanpa sadar, Delia yang baru saja kembali dari toilet pun melihat keduanya. Ia sempat ingin berteriak untuk menanyakan ke mana mereka akan pergi. Namun, ingat akan pesan Firman yang menyuruhnya untuk diam pun ia urung.
“Kok, kayak buru-buru gitu, ya? Um ... apa aku chat aja dia? Kali ada hal darurat,” gumamnya sembari merogoh ponsel dari tas kecil dalam genggamannya. Kemudian ia langsung mengirim pesan.
***
Pesan yang dikirim Delia belum juga mendapatkan balasan. Bahkan, w******p Firman tak aktif-aktif sejak satu jam terakhir. Pesannya itu centang satu, meski berulang kali Delia lihat untuk mengeceknya.
Karena khawatir, Delia yang harus mengerjakan pekerjaannya itu berusaha fokus dengan susah payah. Meski, kenyataannya ia tak mampu berpaling dari apa yang sedari tadi ada dalam pikiran. Firman tampak buru-buru saat menggandeng Luis keluar dari lift. Delia pikir, bosnya itu sedang mengalami masalah besar.
Delia menggigit ujung pulpen yang sebelumnya ia ambil dari wadahnya di samping komputer. Pandangannya mengedar ke sisi kiri dan kanan bergantian. Berharap, tiba-tiba Firman datang dan berdiri di hadapannya. Sayangnya, orang yang ia cemaskan itu tak tampak sama sekali. Yang ada justru rekan-rekannya yang sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
“Dia ini ke mana sebenarnya?”
Delia pun akhirnya menyerah sambil menghela napas panjang. Bahkan langsung mengembuskannya kasar seraya mengetuk-ngetukkan pulpen yang ia pegang ke meja. Ia harus mengerjakan tugasnya lagi, karena Firman tak mungkin datang di jam-jam menuju waktunya pulang.
Untungnya, pekerjaan Delia tidak sebanyak hari kemarin. Ia tidak terlalu sibuk, Sehingga pekerjaannya itu pun selesai sebelum tiba pada waktunya ia untuk pulang. Tinggal setengah jam lagi. Delia pun mengisi waktunya itu dengan membasuh wajah di kamar mandi. Kemudian kembali memasang make up tipis-tipis.
Sebelum beranjak pergi, ia kembali menyempatkan dirinya untuk melihat laman w******p-nya dengan Firman. Dan, centangnya pun baru saja berubah menjadi dua. Bahkan, saat itu w******p Firman terlihat online.
“Aktif?” batinnya, yang seketika merasa senang. Bahkan, perasaan cemasnya sedikit hilang dari pikiran. “Tapi belum dibaca. Um, apa aku tungguin bentar, ya? Kali dia balas pas aku lagi di jalan, kalau pulang sekarang.”
Tanpa mengeluarkan layar utamanya dari laman w******p, Delia pun keluar dari toilet untuk kemudian menunggu balasan dari Firman di luar kantor. Bahkan, sambil berjalan, ia terus melirik pesannya itu.
“Ish! Online, tapi pesanku nggak dibalas-balas! Nggak tau gitu, kalau aku khawatir sama bosnya itu? Belum juga ketemu untuk mengucapkan banyak terima kasih, masa dia ... eh, amit-amit, ding. Otakku ini ngapa traveling ke mana-mana coba?”
Mulut Delia seperti orang sedang berkomat-kamit saat mengomel pada dirinya sendiri. Sesekali, Delia pun mengerucutkan bibirnya itu karena gemas. Namun, sejurus kemudian, centang dalam pesannya untuk Firman berubah biru. Tanda, kalau Firman baru saja membukanya.
“Nah, biru juga akhirnya!” Ia berseru, pelan sambil berdecak. “Tapi awas aja kalau nggak ngebalas!” sambungnya.
“Aku baru sampai di rumah sakit, Del. Maaf telat balas. Kamu dah balik?”
Pesan balasan dari Firman, seketika membuat bola mata Delia membesar. Ia bahkan refleks menganga sebelum akhirnya sadar dan segera menangkupnya dengan sebelah tangan. Sementara tangan yang lain ia gunakan untuk membalas lagi.
“Rumah sakit? Ngapain?” batinnya, seraya mengetikkan kata-kata tersebut. Namun, pikirannya seketika traveling. Bahkan, mengira telah terjadi sesuatu pada bosnya. “Pak Luis sakit?” sambungnya.
“Nganter yang sakit lah, Nyai. Masa, ke rumah sakit mau camping?” Emoticon ngakak seketika bertaburan di bawah pesan balasan Firman, sebelum kemudian ia menambahkan. “Yang sakit bukan si Bos. Tapi Jenny.”
“Lho ... Jenny sakit apa?”
Kali ini Delia yang menyebarkan emoticon mata berkaca-kaca. Dan, kaca-kaca itu pun langsung menghiasi matanya sendiri. Bagaimana tidak? Seperti kata Jenny, Delia memang sangat menyayangi anak-anak didiknya. Terlebih lagi kepada Jenny karena mereka begitu dekat. Delia bahkan sedih, karena seketika mengingat tempat mengabdinya.
“Demam, Del. Panasnya nggak turun-turun. Makanya, si Bos langsung bawa Jenny ke rumah sakit. Dia cemas banget.” Firman menimpalinya, sering dengan tampaknya ekspresi cemas bercampur sedih. Pasalnya, dia tak lagi menganggap Jenny sebagai orang lain.