“Oke. Sekarang gue mau jujur sama lu, Man. Tentang perasaan gue terhadap Delia, itu memang benar. Tapi ... ada tapinya, Man.”
Di kantor, sesaat setelah Luis selesai menghadiri rapat, ia mulai membuka diri terhadap Firman. Sebelum mengungkapkannya pada Delia, Luis pun ingin membicarakannya dahulu pada sopirnya itu. Pasalnya, ada beberapa poin yang membuat Luis masih saja tidak percaya diri.
“Lha, tapi apa, Bos?”
Di hadapan Luis, Firman yang baru saja datang atas undangan bosnya itu pun tertawa kecil disertai batuk bohongan. Ia bahkan berdeham-deham demi untuk menggoda Luis yang tampak begitu malu-malu. Padahal, Firman pikir, itu tak seharusnya.
Luis adalah seorang bos di salah satu perusahaan besar. Dia pun memiliki tubuh atletik, putih dan bahkan tampan. Bahkan, kebutaannya itu tak membuat ia buruk di mata orang. Tetap saja, Luis adalah orang terpandang.
“Gue ragu dan kurang percaya diri.” Luis pun menimpali sopirnya itu segera, sembari memelankan suara. Luis pikir, ia tak mau kalau sampai ada yang tahu tentang perasaannya itu.
Selain karena terkenal dengan kesetiaannya terhadap mendiang istri, Luis pun dikenal sebagai seorang bos yang tak pernah bermain hati. Itu kenapa, sebelum semuanya jelas dan pasti, Luis ingin menjaga rahasianya itu.
“Apa yang harus dibikin ragu, sih, Bos? Kenapa mesti nggak percaya diri juga? Heran! Cewek cantik di depan mata lho. Jangan diabaikan kalau nggak mau direbut orang. Gimana kalau direbut buaya darat macam si Billi itu, mau?” seloroh Firman, dengan mulusnya. Ia bicara panjang kali lebar. Bahkan sudah dengan berani menceramahi bosnya sendiri. Padahal, sebelumnya, ia tak pernah merasa seberani itu.
“Gue takut kalau Delia sampai menolak. Lu tau sendiri kalau gue ini buta, kan? Itu masalahnya!”
Luis pun langsung menghela napas berat selepas menimpali Firman kembali. Kali ini seraya duduk bersandar, setelah sebelumnya bersedekap di meja. Ia tak main-main dengan ucapannya. Karena ketakutannya itu adalah nyata.
“Ish, ish, ish! Coba dulu lha, Bos. Masa, belum apa-apa udah nyerah? Mana Luis yang terkenal dengan keberaniannya dalam berbisnis? Karena percintaan pun tak jauh beda dengan berbisnis. Bayangkan saja jika sekarang, lu sedang mengincar satu buah proyek, Bos. Kira-kira ... apa yang harus dilakukan pertama kali sebelum terjun ke lapangan? Modal duit dan alibi bukan? Nah, di dunia percintaan pun kira-kira begitu. Meski kadang, uang tidak menjamin segalanya, tetap saja. Uang itu nomor satu. Dan, lu harusnya bisa gunain duit yang lu punya untuk menaklukkan hati wanita mana pun, termasuk Delia!”
Lagi, dengan entengnya Firman bicara panjang kali lebar. Namun, itu ia lakukan menang demi untuk membuat Luis merasa percaya diri. Bosnya itu tak mungkin jika harus terus memendam perasaannya. Luis harus memulai langkah awal. Setidaknya, dengan mengakui dirinya sebagai bos di perusahaan tersebut.
“Lu benar, Man. Tapi ... gue pikir-pikir lagi lah!” timpalnya sambil tergelak. Saking pusingnya, Luis sampai meremas kepala dengan kedua tangan. “Pusing gue lama-lama!”
“Pusing ya karena dibikin pusing. Coba kalau dibikin enjoy. Nggak bakal tuh rasa pusing, mual, dan atau ingin muntah. Yang ada, lu pasti ketagihan!” singgung Firman. Di dunia percintaan, Firman memang jauh lebih berpengalaman dibanding Luis. Bahkan, mantannya yang juga bekerja di perusahaan Luis itu tak hanya ada satu dua. Melainkan lebih daripada itu.
“Ya, lah. Iya! Gue tau kalo lu idah banyak pengalaman. Pengalaman mutus-mutusin pacar tapi,” timpal Luis, kali ini sambil menarik kedua tangannya itu dari kepala. Lantas ia mendongak sembari menahan tawa.
“Somplak emang punya Bos! Dikasih tau malah ngeledek. Ampun dah gue!” Firman, dengan seringai bodo amatnya itu pun kembali menimpali Luis. Tapi, ia tak mau menyerah begitu saja. Bosnya itu harus ia kompori sampai merasa kepanasan. “Padahal, si Delia itu hampir aja salah paham sama perhatian gue. Ya, coba aja pikir Bos. Gadis mana yang nggak bakal jatuh cinta sama gue yang ganteng ini? Diperhatiin pula tiap hari,” sambungnya.
“Hilih! Gosah sok kecakapan lu. Mana mungkin Delia bisa jatuh hati secepat itu? Ngasal!” rutuk Luis. Padahal, dalam hatinya ia percaya. Bahkan, seketika merasa ketar-ketir kalau Delia benar-benar salah paham dengan perhatian yang diberikan Firman.
“Lha, dibilangin nggak percaya. Serius gue. Orang baper itu kelihatan kok reaksinya, mimik wajahnya, dan semuanya. Pokoknya, gue yakin kalau si Delia itu udah baper duluan sama gue. Cuma, ya gue tahan-tahanin lha biar dia nggak makin baper.”
“Ok, gue percaya. Tapi tetap saja, gue rasanya belum siap kalau harus ketemu Delia dalam keadaan seperti ini.”
“Bagus. Tapi, ya jangan kapan-kapan juga siapnya. Keburu disambit orang, tau rasa lho!” Firman pun senang setelah mendengar pengakuan Luis terhadap pernyataan palsunya tentang Delia. Ia pikir, bosnya itu harus selalu dikompori.
“Ya, pokoknya nanti. Nunggu gue siap!”
“Nanti, setelah lu tumbuh uban? Astaga!” Firman langsung menggeleng sambil tertawa. Ia benar-benar merasa jengkel sendiri.
“Ya, kali selama itu, Man ... Man. Dah lah, sana. Gue mau istirahat bentar. Pusing gue denger lu ngoceh terus. Ocehannya gada yang bisa gue ambil sebagai dukungan. Isinya cuman kompor doang!”
“Hilih! Kalau nggak dikompori, kapan majunya lu, Bos? Come on! Seorang Luis, harusnya memiliki banyak sekali ide untuk bisa menaklukkan seorang gadis. “ Kali ini Firman bertepuk tangan, untuk menyemangati Luis kembali. “Gue dukung pokoknya!”
“Ya, ya, ya. Gue percaya kalau lu itu setia sama gue. Tapi, untuk sekarang, pergi dulu sana! Gue mo istirahat sambil mikir!”
“Lho, istirahat kok sambil mikir. Tapi ya, wes lah. Gue balik kanan kalau gitu. Ngantuk juga sekarang.”
Sembari tertawa kecil lagi, Firman pun bangkit dari duduk santainya. Kemudian ia melengos, meninggalkan Luis sendiri. Namun, ia tahu, kalau bosnya itu sudah mulai merasa panas. Dan, itu pasti akan membuat Luis berpikir tentang bagaimana dirinya harus memulai pendekatannya dengan Delia. Secara, Luis dan Delia memang hanya kenal sekilas. Pertemuan mereka bahkan baru tiga kali.
Firman benar. Karena setelah dirinya hilang dari pandangan Luis, bosnya itu langsung berpikir keras. Ia yang mulai merasa was-was akan perasaan Delia pun duduk tegak di kursinya. Keduanya tangan kekarnya itu bertumpu di atas meja, sebelum kemudian jemarinya bergerak-gerak sampai menciptakan bunyi gertak.
Tak-tok-tak-tok. Begitu terus sampai akhirnya Luis bosan sendiri. Ia yang terus saja terpikir perihal ucapan Firman, kemudian menimbang-nimbang antara terus menyembunyikan statusnya di kantor itu, atau terus terang untuk bisa selalu berkomunikasi.
Luis pun menghela napas panjang sembari menyapu wajahnya itu perlahan. Ia juga mendongak, sambil meminta petunjuk pada tuhannya. Namun, sejurus kemudian Luis pun yakin, kalau dirinya harus mulai berterus terang.
“Firman mungkin benar. Lama-lama, Delia pasti suka dengan caranya memberi perhatian. Astaga! Aku harap, itu tidak terjadi sama sekali,” batinnya. Kali ini sembari beranjak bangun dari duduknya. Kemudian, Luis berjalan pelan ke belakang kursi, sembari memeganginya. “Tapi, gue harus apa sekarang?”
***
“Gue mo ketemu dia hari ini juga, Man. Lu bisa bantu?”
Selepas makan siang, Luis pun kembali memanggil Firman ke ruangannya. Di sana, ia juga kembali membicarakan perihal perasaannya terhadap Delia. Bahkan, setelah keputusannya bulat, Luis akhirnya dapat membuat keputusan.
Ia yakin sekarang, kalau dirinya memang harus mulai berterus terang tentang siapa dirinya itu di kantor tempat Delia bekerja. Karena Luis sama sekali tak mengetahui tentang Delia yang justru sudah mengetahui semuanya dari Firman.
“Serius?”
Firman yang semula duduk bersandar dengan posisi sebelah kaki menyilang di sebelah kakinya yang lain itu pun langsung tercengo. Ia menarik diri dari sandaran kursi, juga meletakkan kembali sebelah kakinya yang ia silang ke lantai. Sementara kedua tangannya langsung bertumpu di atas meja, seiring dengan tatapan tak percaya kalau bosnya akan berubah pikiran dalam waktu singkat.
“Lu pikir, perasaan gue ini main-main?”
Luis langsung balik bertanya. Ia tersenyum tipis, amat tipis, saking tak dapat menahan bahagianya itu. Namun, Firman tetap dapat menangkap kebahagiaan bosnya itu meski berusaha disembunyikan. Ia pun ikut merasa senang.
“Ya, nggak gitu juga. Gue cuman kaget aja, Bos. Secara, dadakan gini!” timpalnya sambil tertawa kecil. Ia bersandar lagi, setelah merasa lega karena jawaban Luis ysng begitu memuaskan. Ia pikir, bosnya itu benar-benar serius.
“Ya, kan lu bilang nggak boleh sampai tumbuh uban di kepala gue. Gimana, sih?” omelnya, pada akhirnya. Meski tetap, seringainya adalah seringai orang yang sedang merasa bahagia.
“Baguslah kalau gitu. Jadi, apa rencana kita selanjutnya? Bos, mau gue lakuin apa?” tanya Firman, langsung pada inti obrolan mereka. Dia yang baru saja menghabiskan sebatang rokok, kemudian kembali menyulut rokoknya lagi dengan korek gas. Lelaki di hadapan Luis itu mengisapnya dalam-dalam sebelum menghembuskan asapnya cepat ke udara.
Luis tak dapat melihat itu. Bahkan, sebenarnya Firman sedang menahan tawanya Sampai tak bersuara. Pasalnya, Delia sudah ia beritahu tengah Luis yang tak lain adalah bos mereka. Tapi, ia tetap berpura-pura agar tak mendapat omelan.
“Ya, gimana kek biar gue dapat ketemu sama Luis. Tapi atur kek kita ketemu nggak sengaja. Gimana?” usul Luis, sebenarnya dengan perasaan luar biasa tak sabar. Ia benar-benar ingin segera bertemu dengan wanita yang sudah mencuri hatinya itu.
“Boleh juga. Tapi, kira-kira si Bos mau ketemu dia di mana? Di kantin? Tapi, Delia udah makan kayaknya. Gimana kalau nanti di parkiran aja. Pas dia mo pulang gitu.”
“Boleh-boleh. Sekarang, gue balik kerja lagi lah. Lu juga, tolong suruh asisten gue masuk secepatnya ya. Biar kelar kerjaan sebelum pulang nanti.”
“Siap, Bos!” timpal Firman setelah mengisap rokoknya lagi dan lagi. Bahkan, ia langsung dengan sigap berdiri untuk segera pergi. “Gue keluar dululah,” pamitnya.
Luis mengangguk-angguk sembari merogoh ponselnya dari saku celana. Karena terasa mengganjal, ia pun meletakkan ponselnya itu di meja. Namun, sesaat kemudian ponselnya itu justru berdering. Satu panggilan baru saja masuk dari rumah
“Hallo. Dengan Luis Bramasta di sini. Siapa, ya?” tanyanya dalam sapa. Ia yang baru saja hendak melanjutkan pekerjaan pun urung karena yang meneleponnya itu ternyata Muna, pembantunya.
“Ada apa, Bi? Jenny baik-baik aja, kan?” Otak Luis pun langsung tertuju pada sang buah hati tiap kali telepon yang diterimanya dari Muna. Bahkan, dia yang semula duduk santai, seketika sedikit tegang.
“Itu, Pak. Non Jenny tiba-tiba demam. Ini lagi bibi kompres, setelah diberi obat penurun panas. Tapi, panasnya nggak turun-turun. Malah kayaknya makin naik.”
Suara Muna terdengar amat sangat khawatir saat menjelaskan kondisi Jenny. Sejak kemarin, sebenarnya Luis sadar kalau anaknya itu sedikit sayu. Tapi, ia pikir, itu bukan tanda-tanda gejala akan sakit.
“Ya Allah, Bi. Tolong kamu siapkan pakaianmu saja. Diganti, ya. Saya pulang sekarang, buat bawa Jenny ke rumah sakit.” Luis yang mendengarnya pun tam kalah cemas. Ia bahkan lupa tentang rencananya dengan Firman barusan.
Pekerjanya itu mengiyakan sebelum kemudian menutup telepon. Sementara Luis langsung menghubungi Firman dengan hanya menekan tombol darurat. Dan, tepat ketika telepon tersambung, asistennya masuk sembari membawa berkas-berkas untuk ditanda tangani.