“Ayaaaah!”
Jenny yang sedang bermain boneka di halaman depan rumahnya pun tersenyum sambil menghamburkan diri pada sang Ayah. Dipeluknya Luis erat sambil mendongak. Membuat rambut pirang sepinggangnya itu menjuntai semakin ke bawah.
Gigi gingsulnya tampak jelas saat Jenny tersenyum semakin lebar. Mencipta kesan manis di wajahnya yang cantik. Belum lagi adanya lesung pipit di sebelah pipi kirinya itu, Jenny semakin mirip dengan ibunya.
“Sayang, kamu lagi ngapain di luar gini?”
Kedua tangan Luis langsung meraba dan kemudian menggenggam kedua pipi anaknya itu sambil tersenyum. Ia memang tak bisa melihat kecantikan yang terpancar dari wajah anaknya lagi. Tapi, Luis masih ingat tentang bagaimana rupa si buah hati.
“Jenny lagi main boneka, Yah. Ini!” Jenny pun menunjukkan boneka yang dipegangnya, meski tahu kalau ayahnya itu sama sekali tak bisa melihat. “Ayo, sekarang kita masuk. Ayah pasti capek, kan?” lanjutnya, seraya menarik sebelah tangan Luis. Jenny membawa ayahnya itu masuk tanpa lupa mengajak Firman yang baru saja muncul di belakang Luis.
“Paman juga masuk. Ayo!” serunya pada Firman. Ia melempar senyum lebar pada Firman sebelum kemudian kembali menarik ayahnya lagi. “Jenny sengaja belum makan. Nungguin Ayah dulu soalnya. Ayah belum makan, kan?”
Pertanyaan demi pertanyaan terlontar dari mulut manis dan mungilnya itu. Sampai-sampai membuat Luis dan Firman menggeleng, saking gemasnya dengan tingkah Jenny. Terlebih lagi Firman, karena dia dapat melihat dengan jelas.
“Ayah belum makan, Sayang.”
“Kalau Paman?” tanya Jenny pada Firman sembari melihat sopirnya itu sekilas. Sementara langkahnya tetap berlanjut menuju ruang makan.
“Paman juga belum makan, Sayang.”
“Wah ... kita makan rame-rame dong kalau gitu.” Seringai bahagia benar-benar kian kentara di wajah Jenny. Sayangnya, saat tiba-tiba ia mengingat ibunya yang tekah tiada, langkah kakinya langsung melambat. “Sayang, Ibu nggak ada, ya, Ayah. Coba kalau ada. Pasti lebih seru.”
Hening.
Luis dan juga Firman seketika membungkam. Keduanya tak berucap sedikit pun, setelah mendengar pernyataan Jenny barusan. Terlebih lagi Luis. Dia yang tahu persis bagaimana perasaan anaknya itu langsung merengut, meski akhirnya cepat-cepat bersikap baik-baik saja.
“Memangnya Ibu ke mana, Sayang? Ayah, kan, sudah bilang ... Ibu akan selalu ada di sini. Di hati kita,” ungkapnya sembari menghentikan langkah kaki. Luis pun menghadap Jenny sembari mendekap dadanya.
“Ah, iya. Kenapa aku bisa lupa, ya, Ayah?” Wajah Jenny yang tadi sempat merengut, seketika berubah lagi, meski tidak seceria tadi. “Ya, sudah. Kalau gitu, ayolah. Aku udah lapar banget lho, Ayah.”
“Iya. Ayo, Sayang!” timpalnya seraya melanjutkan langkahnya, dengan diikuti Firman dari belakang.
Sopirnya itu sama merasa sedih seperti Luis. Ia yang bekerja sedari remaja di rumah keluarga Luis, tahu betul bagaimana sakit dan terpuruknya Luis di bulan-bulan pertama setelah istrinya meninggal dalam kecelakaan. Pun dengan Jenny, anak dari bosnya itu tak pernah berhenti menanyakan sang Ibu setiap hari.
Beruntung, setelah tahun berganti tahu, kesedihan di antara Ayah dan anak itu akhirnya berkurang banyak. Mereka dapat menerimanya dengan ikhlas, setelah melewati masa-masa sulit dengan susah payah.
Sampai di ruang makan, Bi Muna yang sudah menyiapkan makanan pun menyiapkan piringnya juga. Kemudian ia menuangi satu per satu gelas dengan air putih. Sementara itu, Jenny masih dengan celoteh menggemaskannya terus saja bicara.
“Ayah, Ibu Guru Delia nggak pernah masuk sekolah lagi. Aku sedih,” katanya, begitu duduk dan bersedekap di meja makan. Ia juga menumpukan dagunya di sana sambil merengut. Bahkan, bibir mungilnya uang tipis itu tampak memoncong.
“Benarkah?” tanya Luis, pura-pura tak tahu. Padahal, sudah jelas jawabannya karena Delia alih profesi.
“Tentu saja Jenny. Ibu gurumu itu memang sudah alih profesi. Dia bukan lagi seorang guru sekarang. Melainkan karyawan di kantor ayahmu.” Sambil menyengir tipis, Firman bergumam dalam hatinya. Ia juga menggeleng, setelah mendengar jawaban Luis yang berpura-pura tidak mengetahui hal itu.
“Iya, Ayah. Aku kesepian kalau Ibu Guru Delia nggak masuk. Biasanya kan dia yang selalu nemenin aku pas istirahat.”
“Um, kira-kira kenapa, ya?” Luis kian pandai berbohong. Bukan mengapa, untuk saat ini, ia menang tak ingin memberitahu Jenny. Karena kalau sampai anaknya itu tahu, bisa-bisa, setiap hari dirinya minta ikut ke kantor untuk bisa bertemu dengan Delia.
“Nggak tau, Ayah. Tapi, kata Ibu Guru yang lain, Ibu Delia pindah. Dia nggak bisa jadi guru lagi sekarang. Aku nggak paham maksudnya apa, Ayah.” Jeni mendesah. Ia benar-benar dibuat sedih okeh ketiadaan Delia di sekolah. “Ibu guru Delia kan teman Ayah. Masa Ayah nggak tau?” tanyanya.
“Ayah nggak tau, Sayang.” Luis menyengir saat menimpali anaknya itu. “Lagian, masih ada guru lain, kan? Jenny nggak perlu sedih. Sekarang, mending kita makan. Lihat, Pamanmu pasti udah kelaparan.” Luis langsung menuduh Firman sebagai pengalihan obrolan mereka, sambil tertawa pelan. Sampai-sampai membuat Firman mengernyit diiringi senyum tipis.
“Kebiasaan!” batin Firman. Ia menang sudah biasa menjadi sasaran Luis.
“Ah, iya. Paman ... ayo, makan! Kenapa nungguin Jenny?” katanya, seraya menarik diri dari posisi semula. Sekarang, Jenny sudah duduk dengan punggung tegak. Ia juga menarik piringnya untuk diisi nasi.
“Lupa,” timpal sopir ayahnya itu, sambil menyengir kikuk. Entah apa yang dikatakannya barusan. Bahkan, Firman tak sadar karena sibuk memperhatikan dus orang di hadapannya itu.
“Ya, ampun. Paman ini!” seru Jenny. Kemudian, ia pun sibuk mengambil makanannya.
***
“Jeni, Sayang. Sebenarnya, gurumu itu kerja di kantor Ayah. Tapi maaf, Ayah belum bisa ngasih tau kamu soal ini. Pasalnya, Ayah juga belum ngasih tau ibu gurumu itu, kalau ayahlah yang menjadi bosnya.”
Di kamar, saat Luis selesai menidurkan anaknya itu, ia bicara terus terang. Diusapnya puncak kepala Jenny dengan sentuhan sedikit meraba-raba. Luis pun mendaratkan satu kecupan hangat dan lembut di sana, sembari memejamkan matanya.
Napasnya berembus lembut. Luis merasa jauh lebih tenang setelah sebelumnya ia selalu merasa sedih tiap kali melihat Jenny. Kali ini tidak. Ia benar-benar merasa tenang, meski ia sendiri belum mengetahui, apa yang sudah membuatnya merasa seperti itu.
“Tapi, Nak. Ayah janji padamu. Ayah akan membawa gurumu itu ke rumah ini. Nanti, setelah Ayah berani menghadapinya dengan kekurangan yang dimilikiku. Ya, Sayang. Ayah janji!” katanya lagi, seiring dengan senyum semeringah dari bibirnya.
Dan karena sudah larut, Luis pun merebahkan dirinya di samping Jenny. Ia harus segera tidur agar bangun dengan tubuh bugar besok pagi. Terlebih, ada rapat yang harus dilakukannya besok.
“Untukmu yang jauh di sana, maafkan aku. Nyatanya, aku tidak bisa menetapkan hati di satu hati saja sekarang. Aku mencintai seseorang, Sayang. Entah kenapa. Padahal, dia adalah wanita yang sudah menabrak Leo. Tapi, aku rasa, Jenny pun membutuhkannya juga. Karena akhir-akhir ini, Jenny kerap meminta ibu baru padaku. Aku pikir, yang dikatakannya itu adalah konyol. Tapi, sepertinya dia menang membutuhkan sosok ibu, untuk menemani pertumbuhannya.”
Ada rasa sesal saat Luis bicara demikian. Pasalnya, saat istrinya itu meninggal, ia berjanji untuk tidak berpaling ke lain hati. Bahkan, buktinya, sampai saat ini Luis memilih dalam keadaan buta agar dapat terhindar dari zina mata. Namun, pada akhirnya Luis pun gagal menjaga hati. Ia jatuh cinta pada wanita lain, yang bahkan hanya mengenal lewat suara saja.
Meski, untuk mengungkapkan perasaannya itu, Luis belum cukup berani.