“Itu lho, Bu.” Delia pun menyela untuk bisa membebaskan Adel dari rasa tegangnya. “Aku itu ada berbuat baik sama temen. Eh, taunya malah nipu.”
“Lho, kok Ibu nggak tau? Kapan kejadiannya? Ditipu emang?” tanyanya lagi. Kali ini dengan seringai marah di wajahnya. Ia benar-benar ingin tahu, apa yang sebenarnya terjadi.
“Ibu lagi sakit waktu itu. Aku takut membuat Ibu sampai syok. Jadi, ya nggak aku kasih tau. Lagian cuman nipu uang dikit, kok. Dasar aja si Adel.”
“Astagfirullah, tetep aja harusnya Ibu tau, Nak. Terus, sekarang gimana?” Rahma masih saja terus bertanya. Padahal, Delia sedang bersandiwara untuk bisa menyembunyikan masalahnya dengan Bili.
“Sudah selesai, Bu. Alhamdulillah. Um, aku mau mandi dulu lah. Dah kenyang banget makan. Ntar, bisa-bisa gendut kalau makan terus.” Untuk menghindari ibunya itu, Delia pun segera bangkit dari duduk bersilanya. Ia juga membawa piring kotor bekas dirinya makan untuk disimpan dalam baskom piring cucian.
“Adel juga udah, ah. Alhamdulillah, kenyang banget!” ucapnya, seraya berdiri juga. Sama seperti Delia, piring bekas makannya itu ia bawa ke dapur.
Di sana, Delia sudah menunggunya sambil memelak pinggang. Bahkan, ingin rasanya ia menjewer dan memutar mulut adiknya itu. Namun, melihat Adel cengengesan sambil menangkupkan kedua tangan, Delia pun hanya menggeleng-geleng kepala sambil berbisik.
“Kamu ini kenapa, sih? Di depan ibu, kamu nggak boleh ngomongin soal kejadian kemarin. Lagi pula, aku nggak mau mengingat-ingatnya lagi. Kenapa mesti dibahas?”
“Anu, maaf ... Kak. Aku keceplosan!” timpal Adel sambil melebarkan cengirannya.
“Ya, sudah. Sana ambilin handuk. Aku mau langsung mandi!” titahnya pada Adel. Adiknya itu mengangguk sebelum akhirnya lari terkocar-kacir ke kamar Delia.
Sementara Delia sendiri, ia langsung bergegas masuk ke kamar mandi. Selain gerah karena obrolan barusan, ia juga merasa tubuhnya itu begitu lengket karena keringat yang keluar sedari pagi.
Ia berdesis pada dirinya sendiri sambil menghadap cermin. Sebelah tangannya terangkat, dan, ia mencium keteknya sendiri berulang kali. “Astaga! Bau gini, ketek!”
***
“Jadi, gimana perasaan Delia hari ini, Man? Dia nggak sedih-sedih ke kemarin-kemarin itu, kan?”
Sekembalinya Firman dari rumah Delia, satu pertanyaan yang selalu sama itu pun terlontar lagi. Bahkan, Luis yang menunggu Firman di ruang resepsionis itu tak membiarkan sopirnya itu untuk duduk terlebih dulu.
“Nggak ada, Bos. Dia bahagia-bahagia aja keknya.” Sembari duduk dan menghela napas berat, Firman pun menimpali bosnya itu. Ia juga bersandar setelahnya sambil menumpukan sebelah pundak tangannya di kening. Capek, setelah bolak-balik antara kantor dan rumah Delia, sekarang dirinya harus membawa Luis pulang.
“Lha, terus lu kenapa kok kayaknya bingung gitu?” Luis tahu dari helaan napas berat yang dilakukan Firman barusan. Itu kenapa, ia langsung menanyakan keingintahuannya.
“Capek, Pak Bos. Sek, istirahat dulu lah aku. Jan dulu minta pulang sekarang, ya?” jawabnya, sembari melebarkan senyuman. Meski pun Luis tak melihatnya, tetap saja, Firman selalu mengekspresikan perasaannya itu lewat mimik wajah. Sekarang, meski capek, ia tetap merasa senang.
Bukan setahun dua tahun Firman kerja bersama Luis. Melainkan sudah tujuh tahun lamanya. Bahkan, sejak Luis masih dapat melihat seluruh dunia dengan kedua matanya. Itu kenapa, ia senang setelah memberi tahu Delia perihal perasaan Luis.
Meski, sebenarnya Firman tak tahu benar tentang perasaan Luis. Namun, sebagai sesama lelaki, ia tahu betul kalau bosnya itu sudah tertarik berat pada Delia. Firman juga berharap banyak atas kejujurannya sore tadi. Sehingga dalam doanya terus terlantun, agar Delia mau membuka hati untuk bosnya itu.
“Lu ini. Siapa juga yang mau minta pulang langsung? Gue tau kalau lu lemah, lunglai dan lesu. Istirahat dululah sebentar. Gue juga nggak mau kalau lu sampai drop, gara-gara keinginan gue.”
Luis yang sadar akan perintahnya yang berlebihan itu akhirnya menyengir lebar, seiring dengan tatapan mengabur. Kondisinya yang buta, memang membuat Luis menatap tak tentu arah.
“Ya, baguslah, Bos. Gue bisa atur napas dulu kalau gitu. Tapi, omong-omong, kapan rencana Bos mau ngasih tau Delia soal ini? Dia nanyain bosnya mulu lho. Mungkin, dia udah punya feeling kalau bosnya itu adalah seorang Luis. Luis, yang anjingnya tak sengaja ia tabrak kemarin lalu.”
***
Dengan ringannya Firman membahas tentang apa yang dicemaskan Luis. Bosnya itu kemudian terlihat salah tingkah. Luis sebenarnya ingin segera bertemu Delia. Tapi, karena perasaannya itu membuat ia merasa malu jika bertemu Delia.
“Si Bos malah cengengesan. Gimana?” tanyanya lagi.
“Ntar ajalah. Biar dia tau sendiri nanti,” timpalnya pada akhirnya. “Lu udah istirahatnya? Kalau udah, ayo pulang! Gue tetiba inget Jenny. Tuh anak pasti rewel sama bibinya “
Berdiri tegak di samping Firman, Luis pun menunggu sopirnya itu untuk mendampinginya sampa9 ke mobil. Biasanya ada Leo yang selalu ia genggam erat talinya untuk menuntun jalan. Tapi, Leo masih dalam masa pemulihan.
Lagi pula, entah kenapa, Luis justru merasa kapok. Ia takut kalau sampai hal semula menimpa Leo lagi. Luis pikir, ia tak mau menggunakan Leo lagi sebagai penuntutnya. Anjingnya itu akan selalu di rumah.
Segera setelah Luis berdiri, Firman yang sudah merasa agak enakkan itu pun menyusul. Ia berdiri sembari merapikan diri. Pekerjaannya memang hanya seorang sopir. Tapi, Firman tetap mengedepankan gaya.
“Ya, sudah. Kalau gitu, mari kita let’s go home!” timpalnya, sembari cengengesan. Kemudian, Firman langsung menuntun bosnya itu. Sambil berjalan, Firman bahkan tak berhenti bicara. Ia terus saja mengoceh, persis burung beo milik bosnya itu.
Sesekali Luis menggeleng karena ocehan sopirnya yang nyeleneh. Sesekali ia tergelak juga saat mendapati kata-kata yang sangat menghibur hati. Terlebih saat Firman membicarakan masalah Delia yang kehabisan uang juga kuota.
Luis tidak sedang merasa senang dengan kondisi Delia. Melainkan merasa lucu, karena Firman menceritakannya dengan bahasa lelucon. Delia bukan orang yang mudah akrab. Tapi, dengan sopirnya itu Delia justru terbuka akan banyak hal.
“Terus-terus, gimana itu pas lu bilang mau anterin dia pulang?” tanya Luis penasaran. Dia benar-benar antusias sekali.
“Sek! Biar aku buka dulu pintunya. Kita lanjut pembicaraan rahasia kita ini di dalam mobil,” timpal Firman. Mengatakan hal itu saja Firman tergelak. Hari ini, ia rasa hari-harinya penuh warna.
“Baiklah,” timpal Firman, seraya menggerak-gerakkan kedua tangannya. Ia meraba-raba pintu mobil sebelum akhirnya masuk dan duduk seiring dengan perasaan bahagia.
Hanya mendengar tentang Delia saja sudah kentara di wajahnya yang dermawan itu, bahwa dia telah menaruh hati pada karyawan barunya itu. Namun, tiap kali Firman bertanya, selalu saja Luis menyangkal. Ia bilang, itu karena dirinya sudah menganggap Delia sebagai teman.
“Oh, astaga! Delia girang betul saat aku mendatanginya. Meski tetap, sebelum masuk dan duduk, Delia marah-marah nggak jelas. Bahkan, sampai rumahnya pun, Delia terus saja bicara. Ya, persis burung beo di rumah lu itu, Bos. Ahaha!”
Firman tergelak usai membahas Delia lagi. Pasalnya, ia telah menyamaratakan Delia dengan burung. Padahal, Luis pikir, Firman pun sama bawelnya. Luis ikut tertawa, senang kalau mendengar Delia senang. Namun, sayangnya, ia belum berani mendekat secara terus terang.
“Ha, iya. Dia bahkan mengundangku untuk makan malam di rumahnya lain kali. Kalau sudah ada duit buat belanja dulu tapi, katanya. Haduh. Sebenarnya, dia itu orangnya jutek, Tapi seru kalau udah kenal dekat, Bos.”
Sebenarnya, untuk apa yang dikatakannya barusan adalah teknik agar Luis merasa panas dan cemburu. Dengan begitu, ia harap, antusias bosnya terhadap Delia akan semakin meningkat. Terlebih dengan rasa percaya dirinya. Yang Firman harap, akan kembali bangkit.
“Makan malam?” tanya Luis, dengan intonasi penuh penekanan. Ia pikir, makan malam adalah sesuatu yang romantis. Ada sebuah arti dari tersendiri dengan hal itu.
“Ya, tentu saja. Dia bilang, kalau udah gajian, gue wajib makan di rumahnya yang sederhana itu.” Sembari berucap mantap, Luis melirik Delia sekilas. Ia ingin tahu, reaksi apa yang ditunjukkan bosnya itu.
Dan, apa yang diharapkannya itu ternyata benar. Luis tampak sedikit masam. Yang artinya, bosnya itu pasti sedang berpikir yang aneh-aneh. “Ayolah! Katakan sesuatu,” batinnya, sambil menahan tawa. “Jatuh cinta kok diam-diam. Nggak setu!” sambungnya lagi.
“Ya, baguslah. Itu artinya, kalian sudah semakin dekat, bukan? Tapi, apa mungkin kalau Delia itu menyukai lu, Man? Secara, perhatian lu padanya itu gila-gilaan.” Luis tertawa kecil. Tawa yang sumbang dan dipaksakan. Firman tahu itu.
“Hampir!” timpal Firman dalam hatinya. Delia menang telah salah paham akan perhatiannya. Tapi, Firman sudah meluruskannya sore tadi. Pasalnya, ia tak mau kalah Delia sampai aalaj6 sasaran.
“Lha, ya, nggak dong. Itu hanya sebagai tanda terima kasih, katanya. Nggak lebih. Tapi, gue nggak tau kalau besok-besok Delia justru bakal kesemsem sama gue. Lu jangan cemburu, Bos. Takdir emang sejahat itu kalau kita tak punya keberanian,” timpal Firman. Dalam kata-katanya itu, sengaja ia taburi bara agar Luis semakin kepanasan.
“Firman benar. Tapi, dalam kondisi seperti ini rasanya sulit untuk bisa membuat kepercayadirian gue muncul,” batinnya.