Jangan Bicara Lagi!

1298 Kata
“Assalamualaikum, Bu ... Del!” Masuk setelan mengetuk pintu, Delia yang baru saja pulang dari tempat kerjanya itu pun langsung menuju kamar Rahma. Ia ingin memastikan keadaan ibunya dengan mata kepalanya sendiri. “Waalaikumsalam, Sayang. Kamu dah pulang?” Rahma menimpali anaknya itu dari kamar, tepat ketika Delia membuka pintu. Selengkung merah kehitamannya itu melengkung tipis, tersenyum menyambut kedatangan Delia. Ia yang sedari tadi terbaring di ranjangnya pun beranjak bangun, kemudian duduk di tepi ranjang. “Iya, Bu. Ibu gimana, udah sehat?” Delia pun duduk di samping Rahma. Ia meraih kedua tangan ibunya itu sembari ia kecup kemudian. “Udah makan?” tanyanya lagi. “Ibu udah sehat, kok, Sayang. Kalau makan, Ibu sama Adek sengaja nungguin kamu. Kamu, kan pasti lapar juga?” tanyanya, balik. Diusapnya punggung tangan Delia yang semula menggenggamnya. “Oalah. Ya, sudah kalau gitu. Mau makan dulu, apa akunya mandi dulu?” Melepas genggam tangannya kemudian, Delia pun berucap sambil berdiri. Karena hari sudah begitu sore, ia pun harus bergegas. “Udah salat?” tanya Rahma, yang seketika membuat anaknya itu mengangguk. Delia memang sudah melaksanakan salat, sebelum pulang sore tadi. “Oh, ya sudah kalau gitu. Kita makan dulu aja. Mandinya nanti, kalau udah kenyang.” “Hehe. Iya, Bu. Kebetulan, aku emang lapar banget. Yuk!” ajaknya seraya menyodorkan kedua tangan. Meminta tangan Rahma untuk dibantunya berdiri. Namun, saat Delia baru saja membantu Rahman berdiri, seseorang yang lain mengejutkannya dengan suara cempreng. Siapa lagi kalau bukan Adel, adiknya yang paling bawel. Adel berseru dari ambang pintu. Ia memanggil Delia, seiring dengan seringai bahagia. “Astaga, Dek. Kamu ini ngagetin aku. Sumpah! Kaget banget aku,” teriaknya, sambil tertawa-tawa kesal. Ia ingin segera mencubit adiknya itu kalau sudah membantu Rahman berdiri. Sayangnya, Adel yang tahu kalau kakaknya itu sedang menahan gemas, seketika berlari untuk menghindar. Is buru-buru pergi ke dapur untuk menyiapkan makan sore mereka. Karena dengan makanan, biasanya Delia luluh. Diambilnya nasi dalam rice cooker yang sudah ia cabut sedari tadi. Nasinya juga susah ia kipasi biar pulen. Lantas, bergegas ia membawanya ke ruang keluarga untuk makan bersama. Di sana, ibu dan kakaknya sudah duduk bersila. “Bantuin aku kenapa?” Adel merajuk karena kenyataannya, Delia justru duduk manis juga di sana. “Lha ... Kakan baru balik ini, Dek. Cape banget tau nggak? Masa, angkut piring aja kudu aku bantuin?” timpal Delia, seraya balik bertanya. Ia tertawa dalam hatinya. Puas karena sudah membuat Adel merajuk. “Dah, sana!” titahnya kemudian. Sementara itu, Rahma justru menggeleng saking herannya pada mereka. Dari kecil, adik-berkakak ini selalu saja bertengkar. Padahal, yang jadi masalah biasanya hanya karena sesuatu yang sepele. Kadang berebut remot. Kadang berebut mainan. Kasang juga karena rebutan ibu atau ayahnya. “Ish! Aku, kan baru balik dari sekolah juga. Abis itu masak. Capek, Kak!” Adel kian merajuk. Tapi, langkah Kakinya kemudian membawa ia sampai ke dapur. “Resek emang!” umpatnya kasar, sekaligus kesal. “Jangan lupa bawain air dingin!” teriak Delia dari ruang keluarga. “Gada air dingin! Adanya air panas!” Adel pun tak mau kalah. Karena memang, Adel atau Delia ternyata lupa akan satu hal. Bahwa mereka, tak sempat mengisi satu botol pun untuk dimasukkan ke kulkas. *** “Tuhan! Punya adik sebiji aja Masya Allah banget. Masa nggak ada air dingin? Hoo ... pasti karena dia nggak ngisi air buat dimasuki ke kulkas. Astaga!” omel Delia di ruang keluarga. Ia yang sudah merasa begitu lapar kemudian mengambil piring. Ia juga mengisinya dengan nasi. Tapi, pertama-tama, piring tersebut ia berikan pada ibunya. “Sudahlah, Nak. Kalian ini kok ribut aja kerjaannya? Ini kita mau makan. Nggak apa-apalah minumnya air anget. Nalah lebih enak, kan? Lagian, kenapa nggak isi sendiri aja botolnya kalau kamu lebih suka minum air dingin?” Sembari menerima piring yang sudah Delia isi nasi, Rahma pun menceramahinya dengan suara lembut. Ia juga memasang wajah semeringah agar Delia tak balik marah. Atau, setidaknya Delia luluh dan tak melanjutkan omelannya pada Adel. “Bener tuh kata Ibu. Harusnya Kakak isi sendiri.” Sebang bukan main dirinya, saat mendapati Rahma sedang menceramahi Delia. Membuat Adek seketika tertawa kecil sembari duduk dan meletakkan teko stainles berisi air hangat yang ia pasak tadi. Kemudian, ia menuangkannya pada satu per satu gelas. “Hilih! Kalau Kakak yang isi pun, airnya tetep abis, kan? Siapa lagi kalau bukan kamu yang abisin? Harusnya, kalau botolnya udah kosong, ya kamu isi lagi dong. Inisiatif gitu loh. Masa nggak bisa?” rutuk Delia lagi. Barusan, sebenarnya ia sudah merasa perlu untuk menuruti apa yang dikatakan Rahma. Tapi, mendengar adiknya bicara lagi, emosinya kembali. “Sudah-sudah! Kita ini mau makan, atau mau debat? Kalian itu sama saja. Ibu nggak ada bela siapa-siapa,” selanya sambil menyendok sedikit sayur ke piringnya. Kemudian, ia mulai melahap makanannya, tanpa menunggu Adel mau pun Delia dulu. “Iya, Bu. Iya!” timpal Delia yang juga baru saja akan melahap makanannya. Tapi, sejurus kemudian ia mendelik pada adiknya sambil mendesis. “Dasar!” “Apa?” desis Adel juga. “Ya, ampun!” batin Rahma sambil menggeleng. Karena nyatanya, Adel mau pun Delia masih saja beradu mulut. Katanya, “Gimana pekerjaanmu, Del? Lancar?” “Um, Alhamdulillah lancar, Bu. Aku bakalan betah kayaknya. Karena, di sana itu orangnya baik-baik, ramah-ramah dan ... tempatnya juga nggak sumpek.” Sambil mengunyah, Delia menimpali ibunya itu dengan begitu antusias. Apa yang ia katakan menang benar. Selain Firman, orang-orang baru yang Delia kenal pun mempunyai pribadi yang jauh lebih baik. Lebih-lebih setelah mengetahui orang yang menjadi bosnya itu. Delia kian merasa akan semakin betah saja. Secara, dilihat dari bagaimana dirinya busa masuk di perusahaan tersebut, tak lain karena atas bantuan Luis. Dan, itu adalah sebuah keberuntungan besar dalam hidupnya. “Syukurlah kalau lancar. Ibu sempat khawatir tadi. Ibu takut, kalau pekerjaannya Itu ternyata butuh tenaga banyak. Kamu pasti capek, kan, kalau gitu caranya?” Kunyahan Rahma terhenti, tepat ketika ia berhenti bicara. Ia menelannya perlahan sembari mengamati wajah Delia. Rahma pikir, anaknya itu sedang merasa bahagia setelah sekian lama selalu saja tertekan karena penyakit yang dideritanya. Ia ikut merasa senang jika memang ada satu hal yang membuat Delia bisa bahagia selalu. Namun, lebih senang lagi jika Delia sudah menemukan tambatan hati. Karena diusianya sekarang, seharusnya, Delia sudah dapat merancang kehidupannya sendiri. Dengan siapa ia akan menjalani masa depannya. Bukan malah mengurus wanita tua dan juga penyakitan seperti dirinya itu, pikir Rahman. “Kerjaku cuman duduk, Bu. Nggak capek. Cuman, ya, itu. Pegel aja dikit.” Delia pun tersenyum usai menelan kunyahannya. Karena hampir tersedak, buru-buru ia pun menenggak air hangat yang sudah disediakan Adel dalam gelas. Adiknya itu hanya diam menyimak. Ia pikir, ia tak selalu harus tahu tentang kakaknya. Eh karena itu, ia tak begitu memperhatikan. Hanya saja karena Delia hampir tersedak, barulah Adel merespons. “Hati-hati makanya! Jangan makan sambil cengengesan,” katanya usai membantu Delia mengisi air ke dalam gelasnya lagi. “Ngejek aja bisamu. Aku, kan, lagi cerita sama Ibu. Ya, nggak, Bu?” Delia pun menyimpan gelasnya lagi di samping piring. Kemudian ia melihat ibunya yang juga sedang tersenyum-senyum tipis. “Tuh, Ibu aja senyum!” lanjutnya. “Ngeles mulu emang,” singgung Adel. Dia yang sudah melahap makanannya sampai habis itu pun kemudian mengambil air minumnya. Sebelum menenggaknya ia pun bicara lagi. “Tapi, aku sih ikut seneng kalau emang pekerjaanmu lancar dan menyenangkan. Cuman, hati-hati aja, jan sampai terlalu baik sama orang. Kakak harus inget sama kejadian kemarin itu lho!” “Kejadian kemarin? Kejadian apa?” Rahma yang tak mengetahui apa pun perihal Billi, akhirnya bergeming sambil menunggu jawaban atas pertanyaan-pertanyaan barusan. “Eh, itu, Bu.” Adel yang baru sadar atas ucapannya yang tak semestinya dibicarakan di depan Rahma pun akhirnya kebingungan. Ia tak tahu, alasan apa yang dapat membuat ibu percaya. “Itu apa?” tanya Rahma kembali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN