Ternyata Oh Ternyata

1200 Kata
“Aku?” Delia masih tak percaya. Ia pun seketika mengedarkan pandangannya, melihat ke sekeliling termasuk ke dalam mobil dari jarak jauh. Tapi, Luis memang tak tampak di sekitarnya. Bosnya itu tak bersama Firman. Dan, tak seorang pun juga ada di sana. “Lha, iya! Kamu ngapain malah celingukan? Nyari si Bos? Dia masih ada kerjaan. Daripada bosan, mending aku anterin kamu dulu lah. Lagian, aku tahu kalau kamu lagi gada duit, kan? Ahaha!” cerocosnya, persis kereta api yang baru saja melaju cepat. Tak bisa direm. Delia yang mendengarnya pun balas menyengir. Bahkan jauh lebih lebar saking malunya. Firman benar soal uang yang tak dimilikinya itu. Firman juga benar kalau Delia sedang mencari keberadaan Luis. Buru-buru Delia pun masuk. Ia duduk di jok depan, seperti pagi tadi. Pasalnya, kata Firman, kalau Delia duduk di belakang, ia berada jadi sopirnya. Padahal, ia adalah sopir Luis yang selalu menerima perintah apa pun. “Kamu, sih. Tadi kan aku bilang juga nggak usah berangkat bareng. Aku bisa bawa motor. E, malah ngeyel! Sekarang jadinya harus anterin aku balik.” Begitu masuk, Delia langsung nyerocos. Ia bahkan belum mau berhenti kalau saja Firman tak menghentikannya dengan satu pengakuan. Bahkan, pengakuan itu sampai membuat Delia menutup mulut rapat-rapat. Pasalnya, Delia belum paham betul dengan apa yang diceritakan Firman barusan perihal Luis. Yang katanya, perintah Luis lah di balik semua yang terjadi. Mulai dari saat Firman menawari pekerjaan, sampai sekarang sedang mengantar Delia pulang. “Tapi kenapa?” Akhirnya Delia bicara lagi setelah beberapa menit terdiam. “Mungkin, karena Luis menyukaimu?” Firman pun menoleh sekejap saja pada wanita di sampingnya itu. Kemudian kembali fokus pada kendaraannya. Ia tak boleh lengah, jika ingin selamat. “Menyukaiku?” batinnya, tak percaya. Delia menggelengkan kepala, seiring dengan seringai heran di wajahnya. “Bagaimana mungkin?” tanyanya pada Firman yang justru cengengesan di hadapannya. “Mungkin saja, Delia. Dia juga laki-laki. Dan, laki-laki mana yang tak kan menyukaimu? Kamu itu cantik dan manis.” Selengkung merah kehitaman milik Firman terurai. Ia tersenyum begitu mengatakan yang sebenarnya. Delia memang memiliki wajah yang cantik juga manis. “Tapi—“ “Dia buta, kan? Ya! Bosku itu memang buta. Tapi dia mengetahui tentang dirimu. Semuanya.” Firman menyela, dengan perasaan bahagia. Dia yang selalu merasa takut kalau Delia justru salah paham akan perhatiannya, akhirnya dapat dengan leluasa berkata jujur. “B-bagaimana itu mungkin? Dia, bahkan tak bisa melihat mataku saja, Fir?” Delia menggelengkan kepalanya lagi. “Jangan bercanda. Aku nggak suka. Lagi pula, seandainya kamu tahu kalau Luis menyukaiku, perhatianmu—“ “Itu atas perintahnya,” timpal Firman, kembali menyela wanita di hadapannya itu. “M-maksudnya?” Kening Delia mengerut cepat. Sebelah alisnya pun seketika terangkat. “Bosku itu tau semua tentangmu dariku. Aku yang menceritakan setiap apa pun yang terjadi padamu. Bahkan, aku sampai mendiktekan bagaimana rupamu. Ya, begitulah!” timpal Firman seiring dengan gerakan kepala yang mengangguk-angguk. Ketakutannya ternyata benar. Delia hampir saja menyalahartikan kebaikan dan perhatiannya. “A-apa?” “Sudahlah, Del. Aku tau kamu paham. Sekarang, sebaiknya kamu diam dan resapi saja setiap ucapanku. Yang aku katakan itu benar.” “Tapi, aku—“ “Gosah tapi-tapi mulu. Dah, sana turun!” titah Firman seraya menginjak rem. Mobil yang dikemudikannya pun berhenti. “Turun?” Delia pun akhirnya seperti orang linglung. “Lho, kok turun?” “Ya, iya. Kan ... udah nyampe?” “Nyampe? Astaga! Duh ... kok, aku nggak sadar?” “Bengong mulu! Mikir mulu! Anu mulu!” Firman bahkan langsung tergelak usai mengucapkannya. Ia benar-benar merasa lucu sendiri karena sikap dan ulah Delia yang grasak-grusuk di sampingnya, hendak turun. “Dih! Dahlah. Aku turun dulu kalau gitu. Tapi, sebelumnya makasih, ya. Besok gosah jemput! Aku mo bawa motor sendiri!” “Iya-iya. Dah sana! Ngoceh mulu, dah kek burung. Burungnya kakak tua!” *** Sepulang dari sekolah, Adel yang saat itu langsung membuka pesan dari Deli pun langsung menghangatkan nasi sisa tadi pagi. Ia memasak sayur yang sengaja disisakannya pagi tadi juga. Selain dirinya yang sudah merasa lapar, Rahma, ibunya yang sudah jauh lebih baik pun pasti sudah kelaparan. Belum lagi kalau Delia pulang. Kakaknya itu pasti langsung nanyain nasi. Karena gerah, selesai masak pun Adel mandi. Waktu pun memang sudah menunjukkan pukul tiga sore juga. Sebentar lagi Adzan Ashar. Tentu, Adel harus segera salat setelah itu. Sembari menggosok tubuhnya dengan sabun, Adel menyanyi diiringi dengan perasaan senang dan antusias karena Putra. Karena Putra juga, hari yang dilaluinya itu menjadi begitu spesial. Bahkan sangat berkesan dan membekas dalam ingatannya. “Kalau sampai si Putra begitu lagi besok pagi, aku yakin ... dia itu, pasti menyukaiku.” Di sela-sela menyanyinya, Adek berucap sambil membasuh tubuh dari mulai kepala sampai ke kaki berulang kali. “Ya, gimana nggak coba? Dia itu cowok teraneh sepanjang sejarah dalam hidupku. Tiap hari belajar sendirian, di kelas nggak pernah berinteraksi sama orang, ditanya aja jawabnya paling-paling cuman ngangguk atau menggeleng. Lha, sekarang kok berubah seratus delapan puluh derajat?” sambungnya. Kali ini sembari melilitkan handuk di badannya. Adel sudah selesai mandi. Bergegas ia pun keluar dari sana untuk segera masuk ke kamar. Adzan Ashar benar-benar berkumandang saat itu. Sehingga membuat Adel yang lupa karena isi pikirannya pun kembali masuk ke kamar mandi. “Lho, kok, balik lagi?” Tiba-tiba Rahma muncul. Ia bahkan mengejutkan Adel dengan pertanyaannya barusan. Adel yang baru saja melangkahkan kakinya ke ambang pintu kamar mandi, seketika menoleh seiring dengan mimik muka terkejut. “Ya, Bu?” Ia yang tak begitu fokus pun malah balik bertanya, tanpa mengubah posisi tubuh. Sebelah kaki masuk ke kamar mandi, sementara yang lain masih di luar kamar mandi. Ia juga memegang handuknya itu dengan kedua tangan karena takut melorot. “Kamu ini, ditanya kok balik nanya? 5adi tuh Ibu nanya, kamu kenapa balik mas? Baru juga keluar!” ucapnya. “Um, itu. Aku kebelet, Bu. Tadi lupa pipis!” timpalnya, seraya gas masuk dan menutup pintunya rapat-rapat. “Lha?” Rahma mengernyit sambil menggeleng. Ia yang sudah dapat berjalan meski terpatah-patah itu hendak mengambil wudu juga untuk melaksanakan salat. Tapi, Adek justru membuatnya harus menunggu. Karena masih pusing, Rahma berpegang tangan pada meja kompor. Kemudian menyandarkan dirinya di sana sampai Adel keluar. “Udah?” tanyanya. “Udah, Bu. Ibu mau mandi? Mau Adel bikinin air anget?” Gadis yang hanya memakai handuk itu pun balik bertanya sambil menyengir lebar. Ia menyapu wajahnya yang basah karena basuhan air wudu. “Nggak usah, Del. Ibu cuman mau wudu, kok. Kamu nggak salat?” Kembali berdiri tegak, Rahma yang merasa tubuhnya masih lemas pun melangkahkan kakinya ke kamar mandi sambil bertanya lagi. “Ini baru mau, Bu.” Adel menyengir lagi. Karena perasaannya yang menggelitiki hati, ia merasa malu sendiri dengan tingkah lakunya itu. Padahal, ia tak tampak aneh di mata ibunya itu. “Ya, sudah cepat. Kakakmu sebentar lagi pasti pulang. Kamu jangan dulu makan, ya,” pintanya. “Siap, Bu. Adel tau, kok. Ya, dah. Adel tinggal dulu, ya. Ibu hati-hati jalannya.” “Iya, Sayang.” Buru-buru Rahma pun masuk dengan begitu hati-hati. Sementara Adel langsung bergegas pergi ke kamar untuk segera melaksanakan salat. Meski hati dan perasaannya tengah terfokus pada Putra dan kenangan yang terjadi hari ini, tapi, Adel berusaha fokus dengan keajaibannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN