Hal yang Tak Biasa Lagi

1604 Kata
Naik motor yang sama seperti pagi tadi, Adel yang masih saja merasa terganggu oleh ketidakbiasaan Putra itu pun tersenyum-senyum, menikmati sepoi angin yang menerpa wajahnya. Sesekali ia berdeham juga, karena tak seucap kata pun keluar dari mulut Putra di sepanjang jalan tadi. Bak tenggelam di dasar keheningan, larut sampai tak seorang pun dapat memulai. Hanya bicara dari hati ke hati, seolah tahu isi pikiran masing-masing. Semilir angin masih terus menerpa wajah keduanya. Adel tersenyum seraya mengeratkan pelukan, di mana tadi Putra sendiri yang menarik dan meletakkan tangannya di pinggang Putra. Terbawa suasana, Adel yang nyaman berada dalam boncengan pun menyandarkan pipinya itu di pundak Putra. Ia bahkan terpejam, seiring dengan senyum yang lagi-lagi mengembang tipis dan manis. “Aku harap, ini bukan hanya sekadar mimpi. Dan kalau pun nyata, semoga tidak hanya untuk hari ini,” batinnya, penuh harap. “Aku menyukaimu, Put. Aku juga mencintaimu. Sejak dulu.” Hening. Padahal, suasana di jalan yang Putra lewati untuk sampai di rumah Adel lumayan ramai. Kendaraan beroda empat berseliweran dari arah belakang mau pun depan. Belum lagi kendaraan beroda empat. Suara klakson pun seolah menjadi pelengkap kebisingan. Namun, tetap saja, Adel tak merasakan semua itu. Kebisingan dari berbagai suara seolah sirna dan tak terdengar sama sekali. Sehingga benar pepatah “cinta itu buta”, karena kenyataannya Adel pun menjadi tuli gara-gara perasaannya itu. Bahkan, Adel tak mendengar suara Putra yang memanggilnya berulang kali. Ia terus saja terpejam sembari melengkungkan senyum bahagia. Padahal, sudah sejak satu menit lalu Putra sampai di halaman rumahnya. Kembali Putra memanggil temannya itu. Kali ini sembari ia tepuk perlahan kedua tangan Adel yang melingkar di pinggangnya. Adel pun langsung mengerjap, bahkan seketika tersentak kaget. “Aih!” serunya, begitu sadar kalau Putra sudah berhenti. Di halaman rumahnya pula. “Udah sampai?” Adel mendadak bloon. Sudah jelas mereka sampai, tapi masih saja bertanya. “Ini rumahmu, kan? Aku nggak nyasar, kan? Astaga! Kok, keknya kamu ini amnesia?” Putra meracau, seiring tawa puas tercipta dari bibirnya. Ia memang selalu merasa senang tiap kali melihat ekspresi Adel yang kelihatan bloon gitu. “Lha, iya bener. Duh! Maaf-maaf! Kayaknya aku ketiduran, deh. Kok, jadi mendadak bloon gini, ya?” Adel pun balas meracau, sambil tertawa-tawa kikuk. Malu benar dirinya itu. “Bukannya dari dulu juga gitu?” Kali ini tawa Putra berhenti. Kemudian berganti dengan seringai penuh ledek. “Sembarangan! Dah-dah sana pulang. Anak mami nggak boleh telat pulang, kan?” Adel balas meledek. Ia yang terlanjur malu itu pun, bahkan sampai lupa mengucapkan terima kasih dengan melengos begitu saja. Sementara Putra sendiri, hanya menggeleng sebelum akhirnya juga pergi. *** Setelah menerima pinjaman kuota dari Firman, Adel yang tak dapat menerima ataupun mengirim pesan w******p pun akhirnya bisa melakukan hal itu. Pertama-tama, ia menggunakan waktu istirahatnya yang hanya tinggal sebentar itu dengan membalas satu per satu pesan. Dari teman, keluarga, dan beberapa guru di tempat mengajarnya kemarin. Barulah setelah itu, ia mengirim pesan pada Adel agar adiknya itu segera pulang karena Ibu mereka masih sedang dalam masa pemulihan. Sayangnya, nomor Adel tak aktif. Delia pikir, adiknya itu sedang di jalan menuju pulang. Sehingga ia pun kemudian menyimpan ponselnya itu ke dalam tas. Jam istirahat sudah menuju akhir. Delia harus segera kembali melakukan tugasnya sebagai karyawan baru. Satu per satu dokumen Delia pelajari, sebelum akhirnya ia mengerjakan apa yang seharusnya dikerjakan seorang sekretaris di perusahaan tersebut. Tentu saja dengan kehati-hatian juga ketelitian yang sebisa mungkin Delia usahakan sebagai tanda terima kasih untuk kepercayaan bosnya yang ia sendiri tak tahu siapa. Pasalnya, untuk menjadi seorang sekretaris di sebuah perusahaan itu tak mudah. Setidaknya, Delia harus memiliki pengalaman yang bagus dan baik. Tapi dirinya, justru mendapatkan pekerjaan itu hanya karena mengenal Firman. Tanpa persyaratan, pengalaman dan atau pun yang lain. Bahkan, ia langsung masuk dan bekerja, tanpa pendidikan terlebih dahulu. Waktu terus berjalan tanpa Delia sadar, jam di dinding ruangan sudah menunjukkan pukul empat sore. Sebentar lagi, jam bekerjanya akan segera habis. Dan, tentu saja semua karyawan akan pulang. Terkecuali satu dua orang yang kena lembur karena tumpukkan pekerjaan. Delia mengangkat wajah cantiknya itu sedikit setelah sedari tadi menunduk dan hanya fokus pada layar komputer. Ia melihat jam di dinding terlebih dahulu, sebelum akhirnya mengedarkan pandangan ke sekeliling. Orang-orang yang bersamanya di ruangan itu tengah bersiap-siap. “Udah waktunya pulang ternyata,” batinnya, seiring bernapas lega. Ia pikir, akhirnya bisa pulang dan beristirahat dengan meregangkan otot-otot yang sepanjang hari ia pakai untuk duduk saja tanpa sempat merebahkan diri. Namun, batu saja ia mematikan komputer yang dipakainya itu, nada dari ponselnya terdengar mengejutkan. Buru-buru Delia mengambilnya. Barangkali, itu dari seseorang yang mempunyai kepentingan dengannya. Akan tetapi, ternyata pesannya itu adalah dari Firman. “Sebentar lagi, bos kita akan keluar dari ruangannya. Kamu, kalau mau lihat buruan siap-siap dan stand by di dekat lift.” “Waw!” Delia langsung menyunggingkan sebelah dari sudut bibirnya begitu selesai membaca pesan tersebut. “Jadi, yang dikatakannya itu beneran? Um ... kenapa coba, aku nggak boleh tau?” Karena tak mau keduluan sampai di lift, buru-buru Delia pergi seraya menyelendangkan tasnya. Ia juga membalas pesan Firman, kalau dirinya akan segera sampai. Dan, Delia pun rak butuh waktu lama untuk sampai di sekitar mulut lift. Ia sudah stand by seperti apa yang dikatakan Firman. Tak jauh dari mulut lift. “Di mana?” Delia mengirimkan pesannya itu pada Firman, untuk mendapatkan kepastian. “Ini baru keluar. Kamu udah sampai di sekitar lift?” Firman balik bertanya. Ia yang sedang berjalan berdampingan dengan Luis pun mencuri-curi tatap antara layar ponsel dan jalan yang akan dilewatinya. Beruntung, Luis tak dapat melihatnya. “Udah. Makanya aku nanya kamu ada di mana. Takutnya cuman prank, kan sialan!” balas Delia. Ia benar-benar tak mau, dan tak terima juga kalau apa yang dilakukannya itu hanyalah sebuah prank. “Bagus. Tunggu aja sebentar lagi. Tapi, ingat ... syarat yang aku katakan di kantin siang tadi.” Firman mengirimkan pesannya itu, lengkap dengan emoticon mata mendelik. “Aku tak lupa sama sekali. Tenang aja, sih!” timpalnya. Padahal, dia sendirilah yang tak dapat merasa tenang. Sebab tak sabar, ingin tahu siapa bosnya itu. Mengepal kuat ponselnya itu, Delia pun menyandarkan dirinya di dinding ruangan. Kemudian ia melipat kedua tangan di d**a, sebelum akhirnya mengerjap dan berdiri tegak lagi karena mendengar suara lift terbuka. Degup jantung Delia seketika berdetak kencang. Rasa penasarannya itu membuat ia menjadi gugup dan takut. Sebab berpikir yang tidak-tidak saat menyimpulkan apa yang dikatakan Firman. Dia tak boleh mengetahui bos mereka. Itu artinya, ada sesuatu dari bosnya itu. Delia pikir, mungkin bosnya itu seseorang yang buruk rupa. Atau bisa jadi seorang preman. Bisa pula seorang yang ... “Luis?” batinnya, begitu melihat orang yang baru saja keluar dari lift. “Itu Luis, kan?” sambungnya lagi, sembari memicingkan mata. Barangkali, Delia hanya salah lihat. Namun, saat Firman juga keluar dari sana, Delia pun yakin kalau bosnya itu adalah Luis. “Tapi, kenapa? Kenapa aku nggak boleh tau?” *** “Jadi, perkiraanku selama ini benar? Luis itu bosnya. Dan, dia juga yang nyuruh Firman buat ngajakin aku kerja? Astaga! Kenapa coba, aku nggak boleh tau? Memang apa yang salah denganku?” Masih di tempat sama, di mana Delia berdiri sambil menangkup mulut, ia bergumam perihal apa yang dilihatnya. Luis baru saja keluar dari lift, diikuti Firman dan beberapa karyawan lain yang Delia sendiri belum mengenalnya. Ia penasaran dengan larangan Firman untuknya. Tetapi juga bingung, karena dengan alasannya. Dilihatnya Firman yang baru saja menangkap kehadiran Delia di sana, lelaki berpenampilan tak kalah necis dari Luis itu menyengir lebar sembari menautkan kedua jari—telunjuk dan jempol—pada Delia. Ia bahkan mengangguk-angguk. “Dih!” Delia berdecak kesal karena tingkah temannya itu. “Kenapa coba, bos sendiri pake dirahasia-rahasiain? Tapi syukurlah. Akhirnya Firman mau ngasih tau aku sekarang. Aku bisa tanya juga sama dia, kenapa aku nggak boleh tau soal Luis,” batinnya, tak sabaran. Ia bahkan sampai meremas jari, saking gemas akan apa yang ingin diketahuinya. Karena Luis dan Firman sudah melangkah lebih jauh, bahkan menghilang di balik pintu keluar, Delia pun melangkah untuk keluar juga dari kantor, tempat bekerjanya itu. Delia harus segera pulang karena khawatir akan ibunya di rumah, meski ujung-ujungnya justru bingung sendiri. “Aku pulang naik apa? Astaga! Firman, sih. Ngapain coba jemput, kalau nggak bisa nganterin aku pulang? Kan, gini. Aku mana ada ongkos sekarang. Coba kalau tadi akunya bawa motor. Nggak bakal bingung sekarang.” Di pinggir jalan, tepatnya di luar pagar kantor, Delia mengomeli Firman juga dirinya sendiri. Pasalnya, karena tak memegang uang sepeser pun, Delia bingung harus pulang dengan mengendarai apa. Naik ojek, ongkosnya pasti mahal. Naik angkot, harus dua kali bayar. Sedangkan untuk membayar angkot pertama saja, Delia tak punya uang. Bibirnya berkedut, kian kesal pada Firman yang tak juga tampak dalam pandangannya. Ia juga berdecak sambil memelak pinggang. Sementara itu, pandangannya mengedar ke sekeliling. “Benar-benar perjuangan, sih, ini mah. Mana belum dapat pinjaman juga buat bekal sampai gajian. Nasib ... nasib!” Delia menggeleng-geleng sambil terpejam barang sesaat. Ia harus benar-benar memutar otak, untuk bisa mengatur keuangannya yang bahkan belum ada sama sekali. Namun, tiba-tiba saja suara klakson mobil terdengar nyaring di telinganya. Delia sampai mengerjap sembari memutar balik tubuhnya yang sudah terasa begitu pegal. “Firman?” Delia langsung tercengo. Pasalnya, Delia tahu kalau Firman harus mengantar bosnya sendiri. Tapi, lelaki dalam mobil yang baru saja mengagetkannya itu justru ada di sana. “Ngapain coba dia di sini? Tadi, bukannya dia di dalam? Sama Luis? Eh, si Bos maksudku!” batinnya, seraya menelan ludah. “Malah bengong? Ayo!” seru Firman, sembari mencondongkan kepalanya keluar dari jendela pintu mobil. Ia menyengir lebar, seraya memberikan isyarat dengan gerakan kepala agar Delia segera masuk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN