Sesuatu yang Tak Disangka

1633 Kata
Gadis itu kemudian melongo, menatap Firman. “Heran!” serunya sambil menggeleng. Ia juga berdecak. “Belum juga sepuluh menit, kamu udah lupa ngomong apaan sama bos sendiri? Wah ... parah, sih itu. Harusnya, bos kamu itu memperkerjakan aku saja daripada kamu!” “Lha, ngeledekin. Ini tuh gara-gara makanan ini, loh!” timpal Firman seraya menunjuk mangkuknya yang hanya tinggal kuahnya saja. “Gara-gara aku lapar juga. Jadi, epeknya ya lupa gini. Serius!” Firman bersikukuh beralasan. Padahal, sebenarnya ia hanya menghindar. “Tapi, kalau kamu mau tau siapa bos kita, nanti aku tunjukkin. Ada syaratnya Cuma.” “Lho, kok ada syarat segala? Males aku! Takutnya, nanti malah kek si Billi gitu. Macem-macem!” singgung Delia. Sengaja untuk melihat reaksi Firman. Dan, lelaki di hadapannya itu seketika bergeming seraya menatap Delia. “Kamu ini. Sembarangan emang!” umpatnya, kesal. Firman kemudian menenggak habis sisa es teh manisnya. “Jangan samain aku sama lelaki b*****t itu lah. Aku ini lelaki baik-baik.” “Ya, lagian. Mau tau siapa bos sendiri aja harus ada syaratnya.” Delia pun merajuk. Namun, itu tak sampai membuatnya enggan untuk menghabiskan soto bagiannya. Sehingga usai bicara, soto di hadapannya itu ia habiskan. “Syaratnya mudah, karena ini memang syarat khusus untukmu.” Firman kemudian menyengir lebar. Sebab tak tahan begitu ingat akan perasaan Luis, yang tampak seperti anak remaja. Malu-malu di usia yang sudah setengah sepuh. “Lha, nyengir dia? Orang serius juga.” Kunyahan terakhirnya pun Delia telan dengan mudah, saking empuk potongan-potongan dagingnya itu. “Aku juga serius. Mau tau nggak, syaratnya apa?” tanya Firman, sekali lagi untuk memastikan kesanggupan Delia terlebih dahulu. Juga untuk membuat Delia semakin penasaran. “Ya, udah. Apa syaratnya?” Kedua tangannya itu pun Delia lipat di d**a. Ia tak cukup sabar untuk segera mendengar jawaban dari Firman, perihal syarat yang diajukannya. Meski, seandainya aneh dan berat, ia tak yakin sanggup untuk menyanggupi. “Gampang! Kamu cuman perlu mengikuti setiap aba-aba dariku, seandainya nanti si bos keluar dari ruangan. Terus, kamu hanya perlu untuk terus berpura-pura nggak tau tentang siapa bos kita itu.” “Lho?!” Delia langsung terkejut, serta heran. “Kenapa pula aku harus berpura-pura tak tahu? Memang apa salahnya jika aku tahu? Dia, kan, bosku?” “Satu lagi kalau begitu. Jangan kepo dan banyak tanya sebelum aku menunjukkan siapa bos kita itu!” tambah Firman, sembari menggerak-gerakkan sebelah alis hitam dan tebalnya. “Nah, sekarang aku dah kenyang. Tinggal dulu, ya? Takit kena PHK ntar!” sambungnya lagi. Kali ini sambil berdiri. Ia hendak beranjak pergi. “Aih! Gitu doang? Hey!” seru Delia, begitu Firman melengos begitu saja. “Apa, sih? Nggak jelas banget itu orang!? Hey! Tunggu aku!” Namun, Firman tetap saja berjalan. Ia bahkan tak menoleh sama sekali saat Delia memanggilnya lagi dan lagi. Ia justru merogoh ponsel dan menghubungi seseorang. Katanya, “Aku kirim di chat!” Lalu, telepon pun terputus. Sambil terus berjalan, Firman menyempatkan dirinya untuk mengirim apa yang dikatakannya barusan pada seseorang. Kemudian, ia menghilang dari pandangan Delia di belokan. “Astaga!” Delia memelak pinggang sambil menghentikan langkah kakinya. Ia tak bisa mengejar Firman, sehingga memutuskan untuk pergi ke ruang kerjanya lagi saja. Namun, belum sempat ia melangkah, satu pesan baru saja membuat ponselnya itu berdering. “Aih?!” batin Delia, begitu membukanya. Lantas, ia yang sudah jelas kehilangan jejak Firman pun kembali mencarinya dengan mengedarkan pandangan. Dan, Firman memang tak lagi ada di sekitar sana. *** Waktu baru saja menunjukkan pukul satu siang. Anak-anak di dalam kelas sudah begitu merasa tidak sabar untuk dapat segera pulang. Dan itu selalu terjadi di setiap harinya. Mereka yang sudah bosan itu bahkan kerap mengobrol, saling melempar gulungan kertas, bahkan bolak-balik ke toilet saat tak ada guru yang masuk. Namun, kali ini, gurunya memberikan tugas yang panjang. Harus selesai pula sebelum bel pulang berbunyi nyaring agar bisa dinilai terlebih dulu. Mereka yang diawasi sedari tadi itu sudah tak enak duduk. Bahkan, rasanya mereka ingin teriak, agar gurunya pergi ke kantor saja. Tapi itu tidak terjadi. Karena kedisiplinan benar-benar dipegang teguh oleh Bu Lisa. Dia hampir tak pernah meninggalkan anak-anak didiknya setelah memberikan setumpuk tugas. Sebab, ia tahu, sebagian anak tak kan mengerjakannya jika tak diawasi. Oleh karena itu, kelas 12B begitu hening dari kerusuhan. Tidak ada seorang pun dap mengobrol, atau bercanda sampai menciptakan teriakan-teriakan yang memekakkan telinga. Yang ada, semua murid duduk tertunduk sambil menulis. Pun dengan Adel dan Putra. Dua murid yang tadi pagi tak mengikuti jam pelajaran Pak Seno itu sekarang tampak serius. Mereka bahkan fokus agar dapat menyelesaikan tugasnya lebih dulu dari yang lain. Karena biasanya, siapa cepat ... cepat pula lah waktu menuju pulang. Sesekali Adel melirik Putra dari kursi samping urutan ke dua dari depan. Kadang juga menatap punggung tegapnya, karena posisi Putra ada di kursi tengah urutan pertama. Kedua belah sudut bibir Adel menyungging. Ia masih saja terbayang perihal kejadian di UKS pagi tadi. Putra yang mendadak banyak bicara itu juga seolah menunjukkan rasa pedulinya. Sampai-sampai, Adel harap kalau Putra tak hanya sekadar perhatian. Akan tetapi suka juga, seperti dirinya yang memang sudah menyukai Putra dari dulu. “Aku jadi kepo. Apa mungkin, kalau Putra akan mengantar aku pulang? Um ... harusnya gitu. Dia kan khawatir banget pas tau kalau aku sering merasa sakit kayak tadi,” batinnya, seraya kembali melanjutkan mengerjakan tugasnya. Tugasnya tinggal beberapa paragraf lagi yang garus6 diselesaikan Adel. Sehingga ia pun buru-buru mengebut, supaya bisa keluar sebelum anak-anak yang lain. Bahkan, Adel mengebut dengan tulisan tangan sama bagus sampai akhirnya ia benar-benar selesai lebih dulu. “Sudah selesaikah, Adel?” tanya Bu Lisa, begitu Adel berdiri tiba-tiba. Tatapannya serupa elang, tajam dan penuh tuntut. Sebab, dalam aturannya, murid-muridnya itu dilarang untuk berdiri jika belum selesai. Kecuali, memang ingin ke toilet. Suasana kemudian berubah tegang. Anak-anak lain merasakannya. “Sudah, Bu.” Adel pun memasang senyum penuh percaya diri. Ia juga langsung berjalan maju ke arah gurunya itu yang tetap duduk di kursi pojok depan ruangan. “Bagus!” timpal gurunya itu saat Adel sampai dan meletakkan bukunya di sana. “Biar ibu nilai dulu sebentar. Kamu duduk lagi aja, ya.” “Iya, Bu.” Adel menimpalinya kembali. Lagi-lagi diiringi senyum penuh percaya diri juga. Dan, saat ia berbalik untuk pergi ke kursinya lagi, pandangannya mengarah pada Putra sekilas. Lelaki yang disukainya itu pun tengah melihatnya. “Aih! Dia merhatiin gue? Sumpah, ya. Ini benar-benar lain dari biasa. Tapi, sebenarnya apa yang membuat ia bisa bersikap seperti itu? Tiba-tiba pula,” batinnya. Firman bahkan melempar senyum. Senyum penuh goda, sampai-sampai membuat Adel salah tingkah dan tersipu. Karena takut ada yang memperhatikan, buru-buru Adel pun duduk dan mengabaikan senyuman Putra yang seketika terpatri dalam hatinya. Di kursinya Adel pun duduk. Ia merapikan tasnya, memasukkan buku dan alat tulisnya, sebelum kemudian menyelendangkannya. Ia sudah siap untuk segera pulang. Meski, dalam hatinya benar-benar berharap akan Putra yang juga pulang lebih awal Dan, apa yang diinginkannya ternyata benar-benar terkabul. Saat Bu Lisa menyebut namanya, Putra berdiri. Siswa teladan itu pun menghentikan ibu gurunya saat hendak menyuruh Adel pulang. “Kamu sudah selesai, Put? Tumben, keduluan yang lain.” Bu Lisa pun menyinggung prestasi yang selalu diraih muridnya itu. Namun, karena percaya akan hasil tulisan Putra, ia pun langsung menyuruh Putra pulang sembari menyerahkan buku tugasnya dulu. “Kamu juga bisa pulang, ya, Del. Selamat beristirahat!” lanjutnya, setelah mengembalikan buku catatan Putra yang sudah dinilainya. Adel bahagia bukan main. Ia yang sudah menunggu sedari tadi pun akhirnya langsung bergegas menghampiri gurunya. Buku catatannya sudah selesai dinilai. Ia bisa mengambil dan kemudian meninggalkan kelas, setelah Putra keluar lebih dulu. “Sekarang ayo kita lihat ... apa yang akan terjadi setelah ini.” Senyum Adel pun mengembang penasaran dengan apa yang akan terjadi setelah mereka berdua keluar dari kelas. Pasalnya, setelah Adel dan Putra menjadi dekat mendadak pagi tadi, Adel merasa begitu percaya diri setelah sebelumnya selalu merasa kurang percaya. Tiba di ambang pintu, langkah kakinya berhenti seketika. Adel melihat ke sisi kiri, sebelum akhirnya ia melihat ke arah kanan. “Astaga, Putra!” serunya, yang seketika membuat Ibu Lisa dan semua murid menoleh ke arahnya. Karena malu, Adel pun menangkup mulut dan berlari dari sana, menghampiri Putra. Gadis berambut sepinggang itu langsung memukul pundak Putra di sana. “Ish! Kamu itu ngapain ngagetin aku? Malu, kan, jadinya?” Ia merengek. Sementara Firman justru menahan tawanya kuat-kuat, sebelum menarik sebelah tangan Adel dan membawanya pergi menjauh dari sana. “Eh, mau ke mana? Tunggu! Tunggu dulu,” ucapnya, berulang kali. Berharap, Putra mau menjelaskan sesuatu terlebih dahulu. “Kamu pikir ke mana?” Putra malah balik bertanya. Kali ini tawa renyahnya terdengar, meski pelan. Namun, siswa teladan itu tak menoleh atau berhenti sama sekali. Ia terus saja berjalan cepat, sembari menarik Adel. “Lha, mana aku tau! Makanya aku nanya, kan?” Adel merutuk, meski dalam hatinya ia merasa senang betul. Jangankan bisa melihat Putra tersenyum, mendengar suaranya pun adalah sesuatu yang langka. Tapi kali ini, Adel mendapatkan semuanya. Senyum Putra, tawa Putra, suara Putra, dan perhatiannya juga. “Pulang, Del. Pulang!” timpal Putra, yang seketika menghentikan langkahnya sambil berbalik. Sampai-sampai, Adel yang berjalan cepat karena tarikannya, seketika menabrak tubuh Putra. Mereka berpandangan, saling menatap selama beberapa saat. Tepatnya, sampai bel pulang berdering nyaring. Adel terkejut, pun dengan Putra yang seketika melangkah mundur. “Maaf,” katanya sambil menyengir lebar. “Aku nggak sengaja.” “Ng-nggak apa-apa. Um, ya sudah. Katanya mau pulang, kan? Atau ... aku duluan aja kalau gitu.” “Sebentar!” sela Putra. Ia kembali meraih sebelah tangan Adel yang baru saja hendak melangkah, untuk memancing reaksi Putra. “Aku antar. Mau, ya?” tanyanya. “Eh?” Adel pura-pura tak mengerti. “Aku anterin pulang. Mau nggak?” ulang Putra. Kali ini sambil berdecak, karena menyadari kebodohan Adel yang dibuat-buat. “Gosah pura-pura bloon!” tambahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN