Makan Bersama

1758 Kata
“Hei!” Dari balik counter, Firman yang sengaja datang untuk mengajak Delia makan siang itu pun menyapanya sambil menyengir lebar. Ia pikir, Delia adalah satu-satunya karyawan yang ia bawa ke sana. Delia tak mengenal siapa pun juga di kantor yang tak lain adalah milik Luis. Jadi, untuk beberapa waktu ke depan, Firman merasa perlu menemani Delia di jam istirahat. “Eh, hei!” Delia yang baru saja menutup dokumen terakhir yang dikerjakannya itu pun melihat ke arah Firman, diiringi dengan senyum kaget. Pasalnya, Delia tak mengira kalau Firman akan menemuinya di jam makan siang. “Udah waktunya makan siang. Ke kantin bareng, yuk? Kebetulan, aku lapar.” Firman pun tak mau basa-basi. Sehingga apa yang diniatkannya langsung ia katakan terang-terangan. Setelah menjemput Jenny terlebih dahulu dari sekolah, kemudian mengantarkannya ke rumah, sekarang perutnya itu memang terasa begitu menggelitiki pemiliknya. Firman merasa lapar. Terlebih, karena dirinya hanya sempat mengopi saja pagi tadi. Bagaimana tidak? Pagi-pagi sekali, Luis menyuruhnya untuk menjemput Delia. Setelah itu, giliran Luis yang dia jemput kembali agar Delia tak mengetahui statusnya. Istirahat sebentar, waktu susah menunjukkan pukul sepuluh. Firman pun lantas menjemput Jenny ke sekolah. Dan sepulangnya dari sana, Firman langsung menemui Delia di kantor bosnya. “Ini juga baru mau ke kantin. Kebetulan kami datang. Tapi, kok kayak lelah gitu? Abis ngapain?” Meraih tas di meja, kemudian Delia pun berdiri dan mendorong kursinya agar sedikit lebih ke dalam. Lantas ia berjalan menghampiri Firman yang cengengesan. Teman barunya itu tampak aneh. Delia, bahkan sampai mengernyit. “Ngapa, sih?” “Nggak apa-apa. Cuma pertanyaanmu aja aneh.” Firman pun melangkah lebih dulu, seiring diikuti Delia dari belakang. Ia tertawa-tawa kecil. “Lho, aneh gimana?” “Ya, aneh. Aku kan kerja juga. Makanya capek, Del.” “Oooh, ya iya. Tapi ... spesifiknya gitu maksudku. Kali kan kalau kamu itu abis mencangkul, abis jemur, atau abis nyuci gitu.” Sekarang, giliran Delia yang tertawa-tawa pelan di belakang Firman. Sesekali ia benahi tas selendangnya dari pundak, juga mengecek ponsel yang ia sendiri lupa, ternyata masih belum di isi kuota. “Di sini ada yang jual pulsa nggak, sih? Mo ngutang dulu aku!” sambungnya, di sela-sela tawa yang kian menggelegar. Ia hanya bercanda. Tapi, seandainya bada, itu memang tujuannya. “Ish! Gada lah. Aneh-aneh aja, sih?!” Firman balas tergelak. Ia juga mirik, sekaligus menunggu Delia agar bisa sejajar. Lantas, ia menggeleng sembari melanjutkan langkah kakinya. “Ya, kali. Aku, kan, cuman nanya, Fir.” Tawa bahagia Delia kemudian berubah menjadi tawa kikuk. Ia merasa sedikit malu, meski sebenarnya, Firman sama sekali tak mempermalukannya. “Ntar aku isiin, mau?” tanya Firman. Ia menoleh lagi tanpa menghentikan langkah kaki. Melihat Delia sembari menggerakkan alis, yang juga seketika melihatnya. “Kamu mau ngutangin? Asyik!” serunya, sambil menyengir lebar. Kemudian tangannya refleks menangkup mulut. “Boleh. Mau berapa biji nolnya?” Lelaki berambut cepak itu pun balas menyengir. Merasa semakin asyik saat berbincang dengan Delia. Meski sebenarnya, Adel lah yang ia incar. “Ya, terserah. Yang penting jan dua biji.” “Tiga biji berarti?” Firman menggoda gadis di sampingnya itu tanpa henti. Sengaja, agar kedekatannya semakin menjadi. Ia pikir, untuk dapat memiliki Adel, ia harus mendekati kakaknya dulu. “Ish! Mana cukup kalau nolnya tiga.” Delia pun akhirnya tertawa renyah kembali sambil menggeleng dan menangkup mulut. Bahkan, sesekali ia memukul pangkal lengan Firman saking tak kuat menahan tawanya itu. “Dah-dah. Sekarang mending kita pesan makan, ya. Dah lapar, kan? Duh ... perutku sampai sakit ini gara-gara ketawa mulu. Ya, Allah.” “Ih, sakit tau!” Firman langsung memegang pangkal lengannya yang dipukul Delia sambil tertawa terpatah-patah. Ia juga menggosok-gosoknya pelan seraya menghampiri salah satu meja pedagang. “Ya, maaf. Aku kelepasan.” Terbatuk-batuk Delia karena tawanya yang sedang ia berusaha hentikan. “Ya, dah. Kamu mau pesan ini juga? Rasanya enak, loh.” Firman kembali menyeringai. “Masa?” Bukan tak percaya. Tapi, Delia hanya menggoda temannya itu saja. Pasalnya, ia sudah tak merasa canggung lagi untuk membicarakan apa pun dengan lelaki berkepribadian baik dan loyal itu. “Iyalah. Cobain aja kalau nggak percaya.” Firman pun langsung memesan dua porsi soto babat kesukaannya itu, lengkap dengan sambal dan jeruk sebagai pelengkap wajib. Lantas, ia kembali mengajak Delia pergi. Kali ini ke salah satu kursi, di mana mereka akan makam siang bersama. Sementara itu, jauh dari tempat Firman dan Delia duduk, Luis masih saja duduk di kantornya dengan setumpuk pekerjaan yang sebenarnya selalu dihandle asisten pribadinya. Ia yang sejak bertemu Delia di studio pemotretan milik Billi itu memang kerap merasa pusing sendiri, akibat apa yang dibayangkannya. Tentang Delia, juga tubuhnya yang sama sekali tak bisa ia lihat. “Pikiran macam apa ini? Kenapa bayangannya selalu saja muncul dalam pikiran? Sedang, melihatnya dengan mata sempurna pun belum! Aku tak tahu bagaimana rupanya, tubuhnya. Tapi ... argh!” Memukul meja dengan kepalan tangannya yang kekar, Luis juga terenyak dari duduk bersandarnya di kursi. Luis kesal dengan apa yang selalu ia pikirkan, tapi tak juga dapat menampik kalau dirinya itu memang butuh kehadiran Delia di sana, di hidup juga hatinya. “Firman di mana pula sekarang? Kenapa belum juga datang ke sini?” pikirnya dalam hati, yang seketika membuat Luis langsung merogoh ponsel dari saku jas, seiring dengan terciptanya raut wajah kesal. Luis menelepon Firman yang dengan hanya menekan tombol tiga di layar ponselnya saja, sudah langsung tersambung. Pun dengan panggilan tersebut, nomor yang dihubunginya itu pun langsung menunjukkan keaktifannya. Satu kali nada sambung telepon Firman berbunyi sampai selesai, panggilan pun diangkat. Firman langsung menyapa di kursinya, tanpa meminta izin untuk menjauh dari Delia. Sebab, ia pikir, sampai kapan bosnya itu akan bersembunyi. “Di mana?” Luis pun tak ingin berbasa-basi, karena isi pikirannya yang membuat kacau. Ia yang semula duduk, kemudian berdiri dan meletakkan sebelah tangannya di meja. Dan, dua jemari ia ketuk-ketuk di sana. “Di kantin, Bos.” Firman menimpalinya tanpa memelankan suara. Membuat Delia yang mendengar kata “Bos” seketika menoleh dan mencuri-curi pandang ke arah Firman. Karena sejujurnya, Delia ingin tahu, kepada siapa ia bekerja. “Sama siapa?” Luis pun penasaran, karena suara selain Firman terdengar dari balik telepon. “Dia, Bos.” Firman pun menyebut Delia dengan kata “Dia” sebagai kode kalau di sampingnya memang ada gadis yang disukai Luis. “Lho, kok nggak ngasih tau gue kalau lu lagi sama dia? Aku, kan nggak nyuruh kamu nemuin dia kali ini. Kenapa?” Karena dikendalikan isi pikirannya yang kacau, Luis yang selalu percaya Firman pun langsung memiliki rasa curiga. Ia pikir, sopir pribadinya itu sedang bermain curang. Namun, alih-alih tersinggung, Firman justru tergelak. Ia tertawa lepas, bahkan sampai membuat Delia terheran-heran. “Ditanya kok malah ketawa. Lu stres apa gimana?” Luis mencekam kali dengan kata-kata yang menurut Firman justru lucu. “Aku tau perasaan lu, Bos. Tapi please! Jangan berpikir yang tidak-tidak. Ini tidak seperti yang lu pikir. Astaga! Yang benar saja,” ucapnya di tengah-tengah tawa menggema. Bahkan, tawanya itu sampai mengundang perhatian orang-orang di sekitar. Dan, Firman yang balik merasa kesal pun memilih untuk menutup telepon. Ia bahkan meletakkan ponselnya itu keras-keras di meja sambil berdecak. “Sialan emang si Firman. Astaga!” umpatnya, yang juga seketika merasa malu. Ia yakin, perasaannya terhadap Delia sudah diketahui Firman. *** “Bos kita?” Delia pun memberanikan dirinya untuk bertanya, setelah usai perbincangan Firman dalam panggilan. Dari wajahnya tak tampak riak penasaran, karena Delia sengaja menyembunyikannya agat terlihat biasa saja. Sembari menunggu jawaban, Delia meraih gelas berisi es teh manis pesanannya yang baru saja diantar pelayan ke meja. Kemudian ia menyeruputnya sedikit demi sedikit. Soto yang dipesankan Firman pun sudah berjejer rapi di sana. Masih panas dan mengepul, sehingga Delia hanya memandangnya dahulu, membayangkan kenikmatannya juga sembari mengalihkan tatapan dari perhatian Firman yang sedang menyelidiknya. Menyelidik dalam arti mencari tahu perasaan Delia sekarang ini, terhadap keingintahuannya terhadap bos mereka. Firman yang baru saja mengantongi ponselnya lagi pun kemudian berdeham seraya menyeruput es teh manisnya juga. Karena lapar, sebelum memutuskan untuk menjawab, Firman pun menarik mangkuk berisi soto pesanannya itu sampai begitu dekat dengannya. Kemudian ia mencicip kuahnya terlebih dahulu. Delia melihatnya, memperhatikannya dengan saksama. Firman tampak begitu menikmati. “Ini enak, lho. Cobain dulu, sih!” katanya, pada Delia yang masih saja duduk bersandar sembari memegang gelas. Gadis di hadapannya itu kemudian menarik diri. Lantas mencondong ke arah meja seraya meletakkan gelas yang dipegangnya tadi di sana. Setelah itu, barulah ia menarik mangkuk sotonya juga. Dan, seperti kata Firman, Delia mencicip kuahnya dulu setelah mengaduk dan meneteskan air dari sebutir jeruk yang sudah dibelah. Tak lupa, ia juga menyendokkan sesendok sambal. Delia langsung terpejam begitu menikmati sensasi panas, pedas, dan asam dari perasan sebutir jeruk. Bahkan sampai membuatnya segera melahap satu suapan soto babat tersebut. Rasanya semakin nampol. “Enak, kan? Apa aku bilang.” Firman yang juga sudah melahap sotonya sampai beberapa suapan itu pun berdecak pelan, agar kunyahannya tertelan sempurna. Ia memang tak asal bicara perihal beberapa menu makan siang yang menjadi favoritnya. Terlebih lagi pada soto babat, yang tak lain adalah rekomendasi nomor satu. “Ya, iya, sih. Tapi, apa ini sebagai bentuk pengalihan pembahasan?” selidik Delia pada akhirnya. Dia kembali duduk tegak, seiring mulus masih mengunyah. Ia memang begitu terhipnotis oleh soto yang dimakannya. Tapi, Delia tak lupa akan pertanyaannya yang tadi. “Maksudnya?” Kali ini Firman benar-benar tak paham. Sebab, dirinya justru lupa akan pertanyaan Delia perihal bis mereka. Selain karena pelupa, soto yang dinikmatinya itulah salah dua penyebab. “Aku, kan, tadi nanya. Masa lupa aku nanya apa?” selidik Delia lagi. Dan, ia juga kembali melahap satu suapan lagi. “Oh, iya-iya. Itu,” timpal Firman, setelah mengingat-ingatnya sebentar. Ia mangut-mangut, seraya kembali melahap sotonya juga. “Yang meneleponku barusan memang bos kita. Dia nanya aku ada di mana, kenapa belum balik ke ruangannya dan bla-bla-bla!” “Bla-bla-bla itu apa?” Delia melanjutkan rasa penasarannya. Sebab, semenjak ia masuk menjadi salah satu karyawan di perusahaan tersebut, perasaannya merasa sedikit aneh. Ada yang disembunyikan Firman padanya. “Ya, nggak mungkin juga aku jelasin. Panjang kali lebar, kali tinggi juga!” Firman tertawa kecil, di tengah-tengah kunyahannya yang masih berlanjut. Sebelum akhirnya ia menyeruput minumannya kembali. Rasa pedas, membuat lidahnya itu kebakaran. “Ya, kan bisa dong kasih tahu intinya?” pancing Delia. Namun, ia sana sekali tak memperhatikan Firman. Ia lebih memilih untuk menikmati sotonya, agar tak tampak sedang menyelidik. “Um, intinya sih bos kita itu lagi nungguin aku. Dia bilang kalau gue lagi enak-enakkan makan. Dan banyak lagi lah. Lupa aku, yang dibahas apa aja barusan,” jelasnya, berdusta pada Delia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN