Adel harap, Putra yang berteman dengannya tanpa pernah menunjukkan jempol atau komen pun membacanya nanti. Lantas berpikir, apa gerangan yang membuatnya kerap sakit di setiap bulan.
Namun, karena Adel tahu kalau Putra sudah pasti datang terlambat ke kelas, ia pun tiba-tiba khawatir. Apa yang terjadi dengan siswa teladan itu? Apa mungkin dia kena hukum karenanya? Atau, guru killer memaafkannya karena Putra dapat menjelaskan alasan kedatangannya yang telat?”
“Argh!” Adel pun menggeram sembari menyusupkan wajahnya di antara kedua tangan yang ia lipat sebagai bantal. Pertanyaan-pertanyaan yang lewat di kepalanya itu membuat Adel kesal dan juga penasaran. Tapi, ia masih belum berbuat apa-apa karena perutnya masih saja terasa sakit.
Biasanya, rasa sakit yang dirasakannya itu akan bertahan selama satu atau dua jam lamanya. Itu pun kalau Adel minum obat dan air hangat. Tapi, pagi tadi ia tak sempat minum obat apa pun karena terburu-buru.
Teringat untuk memberitahu keadaannya pada Pak Seno yang terkenal paling galak dan tegas di sekolah, Adel pun kembali meraih ponselnya dari saku baju. Kemudian ia Menuliskan pesan di w******p dengan perasaan ragu. Bahkan, tulis-hapus pun sampai berulang kali terjadi saking bingung, apakah kata-katanya sudah tepat atau belum.
Namun, akhirnya, Adel pun tak peduli. Ia menulis saja dan mengirimkannya segera. Katanya, “Assalamualaikum, Pak. Ini aku, Adel Fatma. Tadi, aku datang sama Putra, Pak. Tapi karena tiba-tiba perutku sakit, Putra membawaku dulu ke UKS. Padahal, dia tahu kalau sebentar lagi masuk kelas. Maaf, Pak. Barangkali Putra kena hukum, dia nggak salah. Dia cuman mau nolongin aku dulu.”
Pesan terkirim. Centang dua. Dan seketika berubah biru. Itu tandanya, Pak Seno sudah membuka pesan Adel. Dan, di bawahnya namanya langsung tertera tulisan sedang mengetik.
“Kamu nggak bohong, kan? Jangan-jangan, ini cuman akal-akalan kamu saja? Bapak itu nggak suka sama siswa yang nggak bisa datang tepat waktu. Siapa pun itu. Kamu juga tahu, kan? Pasalnya, Putra nggak bilang apa-apa sama Bapak,” balasnya.
Adel langsung menelan ludahnya usai membaca pesan balasan. Seperti yang ia pikir, Pak Seno pun tak mempercayainya. Ia justru menuduhnya sedang beralasan.
“Bapak bisa datang ke UKS kalau nggak percaya. Dan tanya Pak Satpam kalau nggak percaya. Aku sama Putra memang hampir terlambat. Tapi, kalau saja Putra tak mengantar aku ke UKS, dia nggak bakal telat masuk, Pak.”
“Begitu. Ya, sudah kalau memang seperti itu. Putra udah terlanjur Bapak hukum. Lagi pula, telat ya tetap saja telat. Kecuali kalau tadi si Putra ngomong soal yang kamu bilang ini.” Pak Seno pun membalas lagi. Dan, itu sukses membuat Adel tercengo. Putra ternyata memang dihukum karenanya.
“Nggak bisakah dicabut saja hukumannya? Dia kan nggak salah, Pak?” Adel tetap memohon. Berharap, guru killer itu mau memaafkan Putra yang datang terlambat di jam pelajarannya.
“Sekali nggak ya nggak, Del. Kamu ini gimana? Kenapa bela-belain Putra kayak gini? Kamu pacaran sama dia? Kalau iya, Bapak lapor sama kakakmu mau?” ancam Pak Seno.
“Yah, Bapak. Kenapa malah nuduh aku pacaran? Putra dah baik sama aku tadi. Ya, masa aku tega biarin dia dihukum karena aku? Tapi, ya, sudah. Terserah Bapak saja!” balas Adel pada akhirnya. Ia terlanjur kesal. Sampai tak peduli seandainya pun Pak Seno marah. Dia, saat itu pun langsung mengantongi ponselnya lagi. Kemudian memilih tidur.
***
Di lapangan, tempat para siswa melakukan upacara, Putra berdiri sembari menengadah menatap bendera yang berkibar di udara. Sebelah tangannya terulur lurus ke bawah, sementara yang satu memberi hormat. Ia, dihukum untuk berdiri di sana sampai jam istirahat.
Dalam hatinya tak sedetik pun merasa kesal atau menyesal karena sudah mengantar Adel ke UKS dulu. Sebab, saat Putra hendak membawa Adel ke kelas, dari jauh ia melihat Pak Seno masuk ke kelas. Jadi, kalau pun Putra tak mengantar Adel ke UKS, mereka pasti kena hukuman. Itu kenapa, Putra memilih mengantarkan Adel terlebih dulu ke UKS, agar hanya dirinya yang kena hukum.
Dua jam sudah Putra berdiri, bel jam istirahat pun berbunyi nyaring di seantero sekolah. Dan, begitu bel berhenti, Putra pun menurunkan tangannya yang sedari tadi memberi hormat. Kemudian ia menunduk sembari menghela napas panjang.
Ini adalah pengalaman pertamanya setelah bertahun-tahun sekolah dengan titel siswa teladan. Ia benar-benar kecewa pada diri sendiri. Tapi, mau dikata apa karena semuanya sudah terjadi. Dan, itu salahnya karena bangun terlalu siang.
Putra juga sedikit merasa senang, karena keterlambatannya itu membuat ia bertemu dan membonceng Adel. Sebab, kalau sengaja mengajak Adel berangkat atau pulang bareng, Putra tak seberani itu. Ia masih takut karena khawatir kalau perasaan yang dipendamnya semakin mendalam, kemudian mempengaruhi pelajarannya. Ia juga tak mau kehilangan gelar siswa paling teladan.
Hal pertama yang dirasakannya ada pegal, lapar dan haus. Membuat Putra seketika berjalan cepat menuju kantin. Di sana ia langsung membeli sebotol air mineral, juga memesan semangkuk soto ayam. Lantas, sambil menunggu, Putra pun membuka f*******:.
Putra berteman dengan banyak siswa di sekolahnya. Namun, seperti kata Adel, ia tak pernah memberi jempol atau pun komen pada siapa-siapa. Beda lagi jika dirinya yang membuat status tentang puisi-puisi indahnya, maka ratusan jempol dan komen kerap membuatnya kebobolan notifikasi.
Dan, yang muncul di laman f*******:-nya itu adalah status Adel. Putra pun seketika mengernyitkan keningnya, memikirkan satu hal. “Sakit? Tiap bulan? Kenapa?” batinnya, tanpa menyentuh tombol like atau pun komen.
Karena khawatir, Putra yang merasa lapar itu tetiba lupa dengan pesanannya sendiri. Ia hendak pergi untuk memastikan keadaan Adel sekarang. Namun, pesanannya terlanjur datang. Sehingga ia kembali duduk sebentar.
Alih-alih menyantap pesanannya itu, Putra justru bergeming. Ia sedang menimang antara makan dulu atau menengok Adel dulu. Namun, yang menjadi pilihannya kemudian adalah bukan di antaranya. Melainkan ia membawa sotonya itu untuk dimakan di UKS saja.
Cepat Putra berjalan menuju ruang UKS. Tak lupa juga ia berhati-hati agar soto di mangkuk yang dibawanya itu tak jatuh atau pun tumpah. Dan karena jarak kantin dan UKS tak begitu jauh, Putra pun sampai di sana dalam hitungan menit.
Dibukanya pintu UKS, Putra pun langsung masuk tanpa mengucap salam. Terlebih karena Putra melihat Adel telentang dengan mata terpejam. Ia seketika merasa takut. Bahkan berpikiran, kalau Adel sedang tidak sadarkan diri.
Buru-buru Putra simpan mangkuk sotonya di meja samping ranjang. Kemudian ia mendekati Adel perlahan, sampai akhirnya ia berani menyentuh pergelangan tangan teman satu kelasnya itu. Putra mengecek nadi dengan sentuhan lembut.
“Detak nadinya terasa,” batinnya, yang seketika membuat Putra merasa lega. Namun, karena masih saja khawatir, Putra pun menyentuh sebelah pipi Adel. Ia sedikit menepuk dan mengelusnya lembut sembari menyuruh Adel untuk bangun. Barangkali, Adel sedang tertidur. Pikirnya.
Adel yang memang sedang tertidur itu pun seketika membuka mata dengan sekali gerakan cepat. Ia terkejut, tapi belum menyadari apa pun sampai membuatnya hanya bergeming begitu melihat Putra, tepat di hadapannya. Pelan, ia berkedip dua kali sebelum akhirnya ia benar-benar terkejut dan menjerit.
“Astaga!” Putra pun langsung menangkup mulut Adel yang juga mengejutkannya itu. “Kamu ini! Kenapa teriak? Bikin kaget tau!” bentak Putra.
Adel yang tak bisa menimpali Putra itu pun menggeram sembari menepuk-nepuk pundak tangan Putra yang membungkamnya erat.
“Berhenti berteriak, aku akan lepaskan!” ucap Putra. Adel pun mengangguk, sehingga Putra langsung menarik tangannya itu.
Adel langsung menarik napas lega. Ia juga langsung berbalik dan membelakangi Putra dengan pikiran ke mana-mana. “Kenapa dia ada di sini? Ngapain? Jangan-jangan—“
“Aku datang karena khawatir. Jangan berpikir yang tidak-tidak!” ujar Putra, membuat Adel seketika berhenti bergumam dalam hatinya. “Lagian, kenapa kamu sampai tidur di sini? Masih sakit?” cerocos Putra, seraya memegang kening Adel.
“Aku nggak apa-apa. Aku udah sembuh. Sekarang jam berapa emang? Udah istirahat?” Pertanyaan Adel benar-benar bertubi. Ia yang semula membelakangi Putra pun beranjak duduk, untuk segera turun.
Namun, Putra menghentikannya dengan sepatah kata. “Duduklah!”
“Um?!” Adel langsung menoleh. “Duduk? Di sini? Sama kamu?”
“Ya, iya. Masa sama hantu? Heran!” Putra pun mengambil mangkuk soto yang dibawanya tadi. Kemudian ia menyodorkannya pada Adel. “Nih, makan. Aku tahu kamu pasti lapar, kan? Tapi, ini udah agak dingin.”
“Buat aku?” Adel kian terheran-heran.
Karena Adel terlalu basa-basi, Putra pun menyendokkan sesuap soto untuk menyuapi Adel. “Buka mulutmu lebar-lebar! Susah amat disuruh makan!”
“T-tapi, kamu udah makan juga, kan?” Adel masih saja bicara tanpa membuka mulutnya itu.
“Bisa buka mulutnya aja nggak? Jangan ngomong mulu. Cepetan!” titahnya.
“I-iya!” Adel pun membuka mulut, dan seketika mengunyah suapan pertama yang dilakukan Putra. Setelah tertelan, Adel pun merebut mangkuk soto tersebut. Kemudian ia balas menyuruh Putra untuk membuka mulutnya juga. “Kamu itu jangan hanya pintar menyuruh orang untuk makan. Padahal, kamu sendiri belum makan, kan?” katanya lagi.
Awalnya Putra menolak. Gengsi, karena harus memakan soto yang sudah ia berikan pada Adel. Namun, karena Adel mengancamnya untuk tak melanjutkan makan, Putra pun mau menerima suapan.
“Gitu, dong! Tapi, sebelumnya makasih. Kamu udah bela-belain gendong aku ke sini, eh kena hukum juga sama Pak Seno. Emang benar-benar dia. Kok, nggak ada toleransinya sedikit pun.”
“Dahlah nggak apa-apa. Lagi pun, tau dari mana kalau aku dihukum?”
“Pak Seno sendiri yang bilang.”
“Lho, dia datang ke sini?”
“Nggak!” Adel langsung menggeleng sambil menyengir. Kemudian ia melahap sotonya sendiri setelah menyuapi Putra untuk yang kedua kali.
“Wah, kamu chat dia?” tuding Putra, tepat. Sehingga Adel kemudian mengangguk, kikuk. “Lha, ngapain? Dia itu kan tegas. Mana bisa dibujuk.”
“Namanya juga usaha!” Adel pun membela diri.
“Usaha yang gagal!” timpal Putra sambil menggeleng, juga tersenyum amat tipis. Ia pikir, Adel memang selucu dan semanis itu saat merajuk. Tak salah dirinya selama ini memendam rasa. Adel gadis yang polos juga.
“Ish! Dah-dah buruan makan. Aku udah pengap dari tadi di sini terus tau nggak, Put. Lagian, sebentar lagi pasti bel bunyi. Aku nggak mau kamu telat lagi.”
“Ya, dah. Sini biar aku aja yang suapin kamu!” timpal Putra seraya merebut lagi mangkuk di tangan Adel. “A, ayo buka mulutmu lebar-lebar!”
“Ish!” Kening Adel mengernyit seketika sambil tersenyum. Dan, ia menggeleng. “Aku dah kenyang. Kamu aja yang makan, ya. Abisin!”
“Loh, kok? Tadi katanya makan sama-sama. Ayolah! Jan manja. Jan bikin aku keder juga. Kamu itu harusnya bersyukur. Tahu sendiri, aku nggak pernah kek begini sama orang. Sama siapa pun!”
“Lhoooo ... kamu yang mau, kan? Bukan aku?” Adel pun menggerak-gerakkan alisnya, menggoda Putra yang seketika mendelik sambil menggeleng. “Dan, itu artinya—“
“Gada artinya-artinya. Dah, aku makan dulu sotonya. Habis itu kita keluar!” sela Putra, sengaja membuat Adel tak menuntaskan ucapannya.
“Ye, aku mau keluar sekarang, kok. Kamu di sini aja kalau mau.”
Lantas, Adel yang terus menggoda Putra itu pun turun dari ranjang. Ia hendak pergi ke luar, sembari memancing reaksi Putra. Ia ingin tahu, apakah Putra akan menghentikannya atau tidak. Dan ternyata, Putra menghentikannya. Lelaki berpenampilan necis itu, dengan mulut penuhnya memanggil Adel untuk berhenti dulu sebentar.
“Apa lagi, Put?” Adel menoleh, sembari memasang seringai puas. Sebab, perkiraannya tentang Putra tak salah. Ia benar perihal Putra yang sebenarnya peduli.
“Aku kebelet! Bisa tolong antar ini ke kantin?” timpalnya, balik bertanya. Dan, pertanyaannya itu pun sukses membuat Adel seketika mengernyitkan keningnya.