Sejak dua puluh menit yang lalu, Kinan dan Gavin hanya diam. Di taman itu hanya terdengar desau angin dan celotehan kecil Arkan. Kinan bersykur ada Arkan di sana, karena jika tidak, pastilah suasana semakin canggung. “Umur berapa dia?” tanya Gavin mecah keheningan. Kinan menatap Gavin yang tengah melihat Arkan. “Tiga tahun,” jawab Kinan sekenanya. “Kenapa kamu bohong?” tanya Gavin lagi tanpa menatap Kinan. “Bo-bohong? maksud lo apa?” wajah Kinan terlihat gugup, bahkan gadis itu sudah meremas jemarinya sendiri hingga menimbulkan rona merah di telapak tangannya. “Jangan diremas.” Gavin menyentuh tangan Kinan dan memisahkan tautan tangan gadis itu. “Kamu belum nikah ‘kan? Kenapa harus berbohong?” “Gua udah nikah, butinya ada Akran. Lo denger sendirikan tadi Arkan manggil gua mami '
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


