Satu minggu sudah berlalu, akhirnya Gavin menyetujui untuk dibawa ke luar negeri. Lelaki itu sangat kecewa kepada Kinan, karena gadis itu tidak kunjung datang untuk menemuinya. Gavin terlihat gelisah, lelaki itu meneliti sekitar untuk mencari sesosok gadis yang di carinya. Jam keberangkatan sudah mulai dekat, namun Kinan tidak kunjung datang. “Sayang, pesawat sudah hampir berangkat. Ayo, nanti kita kita bisa tertinggal.” Saira menggandeng tangan Gavin lembut. “Tapi mah, Kinan ….” Saira menggeleng dengan senyum tipis di wajahnya. “Dia tidak akan datang.” “Tapi mah ….” “Sudahlah Vin, sekarang kamu fokuskan diri kamu untuk sembuh,” ucap Banyu. Gavin menatap sang mama dengan tatapan memohon agar menunggu sebentar saja, namun yang Gavin dapatkan adalah gelengan pelan dari wanita itu.

