“Bagaimana ini bisa terjadi, dok?” tanya Danu yang mulai frustasi. “Maaf, kami sebagai tim medis sudah bersaha semaksimal mungkin. Kondisi pasen sangatlah kritis dan saya mohon kepada pihak keluarga untuk tetap berd’oa.” “Baik dok, lakukan yang terbaik untuk istri saya. Kalau begitu saya permisi.” Danu begitu kacau ketika keluar dari ruangan dokter. Tubuhnya lemas seakan tulang-tulangnya sudah remuk bersama air mata yang sedari tadi tidak berhenti mengalir. Danu mengusap air matanya kasar ketika melihat Kinan mulai mendekatinya. “Apakah anda sudah puas?” Kinan menatap Danu penuh kebencian. “Jika sudah, silahkan anda pergi. Kehancuran saya sudah nyata di depan mata, lalu apa lagi yang anda tunggu, tuan?” sambung Kinan. Danu bangkit dari duduknya. Kehancuran yang selalu Kinan ucapkan

