Marriage Proposal | PART 3

1143 Kata
Alesha mengajak Barra untuk turun setelah ia mendapatkan pesan dari sang Mama agar pulang lebih awal. Hari ini akan ada makan malam keluarga bersama keluarga sahabat Mama dan Papa Alesha yang bahkan Alesha sendiri kurang mengenalnya. Sepanjang perjalanan menuju ruang BEM, Alesha hanya diam dan menatap kosong lorong kampus yang sepi karena banyak dari mahasiswa yang telah meninggalkan kampus. Tangan Barra beralih untuk merangkul bahu Alesha, “Jangan terlalu dipikirin Sha. Terkadang mengikuti jalan takdir itu ya baik-baik aja selama kita bisa mengontrol jalan itu.” Ujar Barra yang terus memperhatikan dinginnya Alesha. Alesha hanya diam sembari mendengarkan penuturan Barra tentang kehidupan dan takdir. Padahal dalam diri Alesha enggan untuk menyerah pada takdir begitu saja sebelum ia memutuskan untuk berjuang terlebih dahulu. “Gue malu Bar kalau harus masuk ruangan BEM terus gue pamit pergi,” Alesha masih memikirkan kekacauan di ruang BEM yang telah diperbuatnya. “Gapapa Sha, ada gue.” Mereka sampai tepat di depan ruang BEM yang masih tertutup rapat. Alesha menatap Barra seolah enggan untuk masuk ke dalam dan bertemu dengan teman-teman yang lain karena kerusuhan yang telah diperbuatnya. “Gapapa Alesha.” Ujar Barra yang selalu berusaha untuk menenangkannya kapan pun di saat Alesha merasa sedih dan khawatir. Barra meraih gagang pintu, membukanya sedikit perlahan sambil menggandeng tangan Alesha untuk masuk ke dalam bersama. Semua tatapan kini beralih untuk fokus ke arah Barra dan Alesha yang baru saja kembali untuk bergabung ke dalam sesi bedah. “Jadi gimana Ko?” tanya Barra langsung menjurus pada Riko. “Aman Bang, ini juga ada beberapa masukan dari Pak Arka.” Barra mengangguk, “Oh iya Alesha pamit dulu karena ada acara keluarga.” Ujar Barra mewakili Alesha yang sedari tadi diam membisu. Alesha mengangguk seraya tersenyum, “Maaf ya buat hari ini,” ujar Alesha dengan segan dan menyadari jikalau dirinya sudah melakukan kesalahan. “Sadar juga,” sahut Tarisa lirih namun menggema karena ruangan yang sunyi. “Tarisa!” tegas Barra dan Ale berbarengan. Tarisa membuang muka saat Barra dan Ale terus memihak Alesha yang sudah membuat masalah sore ini. Alesha mengambil tasnya dan berpamitan pada semuanya, termasuk Arka. Karena bagaimana pun Arka masih berstatus menjadi dosennya. Setelahnya Alesha keluar ruangan, membiarkan mereka melanjutkan rapat tanpa kehadirannya. Hari ini terlalu berat untuk dilalui Alesha sekaligus. Namun nyatanya ia telah berhasil melewati hari konyol ini dengan berbagai macam cobaan. “Alesha Aurora,” Alesha menghentikan langkahnya, ia berbalik badan dengan malas karena mengetahui suara pemilik orang yang kini sedang memanggilnya. “Bapak sudah sampaikan sendiri ke Alesha Aurora, dan jawaban dari Alesha adalah meminta Pak Ihsan untuk menjadi dosen pembimbingnya.” Balas Alesha tanpa mendengar kelanjutan penjelasan dari Arka yang sudah mengejarnya. “Hari sabtu, jam empat sore sampai jam tujuh malam. Hanya itu jadwal saya yang kosong untuk bimbingan skripsi. Jadi kita bertemu di hari sabtu.” Tegas Arka yang mengabaikan perkataan Alesha. Alesha menatap Arka dengan heran, pun begitu sebaliknya. “Bapak nggak paham sama apa yang saya bilang ya?” tanya Alesha heran. Arka mengangguk seraya tersenyum, “Saya paham. Tapi kamu juga paham kan kalau saya termasuk dosen yang menganut system. Jadi segala hal yang masuk ke dalam system, akan saya jalankan.” Tegas Arka dengan menatap Alesha dalam. Alesha menghela napas, emosinya kembali membuncah seketika saat berhadapan dengan Arka. “Pak,” panggil Alesha yang sedang berusaha untuk meredam emosinya. “Iya?” balas Arka dengan raut wajah lempeng dan tersenyum lebar. Namun hal itu semakin membuat Alesha jengkel dengan tingkah laku Arka. “Lepasin saya ya. Sekali ini aja.” Pinta Alesha dengan senyum paksa untuk membuat Arka terkesima. Arka menggeleng seraya membalas senyuman Alesha, “Tidak akan.” “AAAAAAAAAAAAA NJING.” Teriak Alesha dengan badan yang kelimpungan karena menahan kesal pada Arka yang sangat tenang dan damai. Namun teriakannya tidak benar-benar lepas karena ia masih mengontrolnya agar umpatannya terdengar samar dan kurang jelas untuk di dengar Arka. “Ya udah kalau gitu saya nggak akan bimbingan,” ancam Alesha. “Silakan. Berarti kamu nggak akan lulus tahun ini.” Balas Arka yang masih setia dengan senyum di wajah tampannya. Alesha mengepalkan tangannya sekuat tenaga agar emosinya untuk membasmi Arka tidak meluap. Meskipun ia harus merelakan badannya yang berdiri tidak tenang karena harus setengah menari untuk menyalurkan emosinya yang terpendam. “Saya tunggu hari sabtu. Tempatnya saya yang pilihkan.” Arka pergi meninggalkan Alesha yang masih berusaha untuk menahan emosinya sendiri. Melalui punggung Arka, Alesha mengucapkan sumpah serapah untuk dosen yang sangat ia benci selama mengajar di Prodi Sastra. “Dasar anjing, Arkaaaaa!” - Alesha masuk ke dalam rumah dalam keadaan mood yang berantakan. Sungguh raut wajahnya saat ini terlihat sangat kusut dan tidak ada semangat membara yang tersisa. “Lo kenapa murung gitu?” Alesha menyalimi lelaki yang usianya terpaut tujuh tahun dengannya. “Gue capek Bang,” balas Alesha. “Jangan murung gitu. Ada teman Mama sama Papa di dalam. Sapa dulu yang baik,” “Iya.” Alesha berjalan dengan bantuan sang Kakak yang bernama Abian Adam Adelard untuk berjalan menuju taman belakang rumah. Mereka sedang mengadakan makan malam di sana sembari menikmati angin malam yang sejuk. “Anak Mama udah pulang. Salim dulu ke Om sama Tante,” Ujar Tina seraya menghampiri sang Alesha dan menuntunnya untuk berjalan menuju tamu mereka saat ini. Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Alesha tersenyum manis dan menjabat tangan mereka satu persatu. Namun di sana juga ada gadis seusia Alesha yang menunggu gilirannya untuk bisa berjabat tangan dengan Alesha. “Lama nggak ketemu, Alesha sama Bian udah segede ini aja ya. Makin cantik kamu, Alesha.” ujar Wanita dengan kerudung abu-abu. Alesha tersenyum segan, “Makasih tante.” “Aku juga pangling sama anak-anak kamu. Aruna makin dewasa makin cantik, kalau Abangnya belum ketemu lagi.” Balas Fanny Gayatri yang merupakan Mama dari Alesha. “Iya, kalau Abangnya udah tinggal di rumahnya sendiri. Lagi sibuk juga sama kerjaannya,” “Oh dia udah tinggal sendiri?” tanya Fanny dengan raut kagum. Gita mengangguk, “Iya, sejak dia kerja di tempat barunya. Karena Abang bilang butuh tempat yang tenang. Padahal di rumah juga tenang kalau nggak lagi berantem sama adeknya.” Tawa Gita disusul oleh Fanny yang seolah sejalan dengan bahasan ini. Alesha mendekat ke arah Mamanya untuk membisikkan sesuatu. Setelahnya Alesha pamit untuk menuju kamar dan membersihkan badan sebelum kembali bergabung ke dalam pembicaraan yang entah akan membawanya ke mana. Alesha masuk ke dalam kamarnya dan hendak meraih handuk yang tergantung di depan lemari bajunya. Namun saat ia hendak melangkah masuk ke dalam kamar mandi, ponselnya berdering. Alesha pun memilih untuk melihat notifikasi yang masuk ke dalam ponselnya. Ternyata dari nomor yang tidak ia simpan. Namun dari nama profile yang tertera, membuat Alesha tahu siapa pelakunya. Arkana Isyraf: Jangan lupa hari sabtu di kafe Nala jam empat sore. Alesha membanting ponselnya di atas kasur setelah membacanya. “AAAAAAAAAAA BISA GILA GUEEE!” teriaknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN