Pak Rozaq memakai kemeja kotak-kotak dan celana jeans hitam. Rambutnya yang hitam mengkilat dibelah tengah dan memakai kacamata hitam. Jika Gus Azam yang memakai pakaian seperti itu, semua santri akan terpesona. Namun, melihat Pak Rozaq, semua orang akan menertawakannya karena penampilan dan umur benar-benar tidak sesuai. “Sttt! Dia melihat ke arah kita.” Nadia meletakkan jari telunjuknya di depan mulut, meminta kami untuk diam. Kulihat Nenek dan Kakek duduk di emperan masjid. Sedangkan Pak Rozaq terlihat marah kepada kedua orang tua itu sampai memijit pelipisnya. Aku ingin menghampiri mereka, tetapi Nadia dan Anin melarang. “Kita masuk saja, Fia. Dia tidak akan berani menyakiti kakekmu.” Anin menggeleng dan mencekal tanganku ketika aku hendak berlari menemui Kakek dan Nenek. Aku ba

