Gus Azam berjalan memecah kerumunan orang. Aku menatapnya penuh harap, berharap dia bisa menyelamatkan kakek. Hanya dia orang yang berkuasa di tempat ini. Aku yakin Gus Azam bisa menanganinya. Semua orang terdiam, tidak ada yang berani menjawab pertanyaan Gus Azam. “Ya Allah, apa yang Bapak lakukan? Tolong lepaskan atau saya akan memanggil keamanan!” ancamnya setelah melihat keadaan Kakek. Dia terlihat panik. “Saya akan melepaskan kakek ini jika Shafia mau pulang bersama saya,” ujar Pak Rozaq. Gus Azam mengerutkan kening lalu menatapku sejenak, tetapi aku lekas menghindar dan menundukkan kepala. Akhir-akhir ini jantungku sering berdebar ketika bertemu dengannya. Sepertinya aku sedang tidak sehat. “Shafia ini anak, Bapak?” tanya Gus Azam. Mengapa Gus Azam menanyakan hal seperti itu?

