“Tolong lepaskan dia!” Terdengar suara bas seorang lelaki dari belakangku. Kami semua menoleh ke asal suara. Seorang lelaki berkacamata menegur laki-laki di depanku. Dalam sekejap dia melepaskanku, tetapi tiba-tiba kepalaku pusing. Bayangan Pak Rozaq kembali menghantui. “Tolong jangan sakiti saya, kumohon jangan mendekat!” Aku berteriak dan menutup kedua telingaku. Bisikan yang menjijikkan itu kembali hadir, menggema di seluruh indra pendengaranku. “Apa yang kalian lakukan padanya?” Laki-laki yang baru saja datang menolong mendekatiku, tetapi aku beringsut mundur. “Pergi! Aku benci kalian.” Di saat seperti ini aku butuh suamiku untuk sekadar menangis dan melampiaskan ketakutanku. Hanya dia yang bisa menenangkanku. Namun, aku tidak bisa mengganggunya sekarang. Dia sedang mengajar, t

