“Duduklah! Akan kuambilkan obat untukmu.” “Ada di atas kulkas, Mas.” Ibu selalu menyediakan beberapa macam obat jika terjadi hal-hal seperti ini. Apalagi ternyata Ibuku sakit. Pantas saja dia selalu menebus obat setiap bulan. Mungkin aku yang terlalu abai dengan sekelilingku. Taklama kemudian Gus Azam datang membawa air putih dan obat sakit kepala 1 kaplet. “Aku menemukan ini, minumlah!” “Kamu istirahat saja, aku akan memasak untukmu,” ucap Gus Azam. “Sepertinya kamu lapar.” Memang benar siang ini kami belum makan. Padahal sebentar lagi waktu Zuhur. Aku tidak yakin ada bahan yang bisa dimasak di rumah ini. Terakhir kali nenek yang berbelanja dan masak untuk menyambut keluarga suamiku. “Beli di warung aja, Mas. Di perempatan tadi ada yang jual nasi pecel. Aku sudah lama tidak makan

