Sebuah Bukti

1278 Kata

Aku bernapas lega saat melihat Gus Azam berhasil melumpuhkan Pak Rozaq. Namun, di saat itu juga kurasakan kepalaku berdenyut nyeri dan ada sesuatu yang mengalir di pipi. Aku memegang kepalaku yang terasa sakit, ternyata darahnya keluar dari sana. “Shafia!” Umi Hanifah dan nenek langsung menghampiriku. Umi mencari jilbab untuk menutup kepalaku. Rambutku terurai panjang sepinggang dan berantakan. Darah di kepalaku terus mengalir. Umi mengambil jilbab yang lain untuk membersihkan darah yang ada di pipiku. “Kepalaku sakit, Umi.” Aku merasakan kepalaku semakin nyeri. Cairan kental berwarna merah ini tidak henti-hentinya mengalir, tetapi malah semakin banyak. “Kita bawa Shafia ke rumah sakit, Zam!” ajak Umi Hanifah. Umi meminta Gus Azam menggendongku, tetapi aku menolak. Aku masih bisa

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN