Aku dan nenek duduk di sudut kamar. Telingaku menangkap derap langkah kaki yang semakin lama semakin jelas diselingi suara Pak Rozaq. Lelaki itu sepertinya tengah berdebat entah dengan siapa. “Dasar bodoh! Cari ke semua ruangan!” Tidak lama kemudian terdengar seseorang memutar handle pintu kamar. Aku menggenggam tangan nenek yang terasa dingin. Peluh membasahi tubuh dan detak jantungku semakin cepat. Dalam hati aku merapal doa semoga ada pertolongan datang. “Kamar ini tidak bisa dibuka, Bos,” ucap salah seorang di antara mereka. “Minggir semuanya. Dia pasti bersembunyi di sini. Shafia, keluar sayang!” Dari luar terdengar tawa mereka yang sangat menjijikkan. Aku bingung harus melakukan apa. Di kamarku tidak ada senjata tajam, hanya bantal, guling, dan kasur. “Kamu sudah siap menika

