Kembali

1483 Kata

Pukul sembilan pagi, kami sampai di rumah Gus Azam. Aku tidak menyangka akan kembali ke tempat ini. Beberapa hari yang lalu aku sudah berpamitan untuk pulang, tetapi hari ini takdir berkata lain. Aku datang sebagai menantu, bukan sebagai seorang santri. “Ayo masuk!” ajak Gus Azam sambil menggandeng tanganku. Aku sudah turun dari mobil. Bukannya berjalan, aku malah mematung melihat tangan kiriku dipegang oleh suamiku. “Aku gendong kalau kamu nggak bisa jalan.” Aku menggeleng. “Maaf, aku masih bingung mau ke arah mana.” “Kamu menantu di rumah ini, Fia. Ayo ikuti aku!” Aku berjalan sambil menunduk karena pasti akan menjadi perbincangan banyak orang. Aku yakin tidak banyak yang tahu tentang pernikahan kami. Akan ada hari patah hati berjamaah jika para santriwati mengetahui Gus Azam s

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN