Kecanduan

1920 Kata
Dominiq: Kecanduan "Dia kenapa sih, Wa?" tanya Lomi menunjuk gue di atas sofa. Chua menggeleng. "Mana gue tahu." sebelah bahunya terangkat, kemudian melanjutkan. "Ini anak pas dateng langsung guling-guling gini." Lomi sama Chua memandangi gue bingung. Ya gimana nggak bingung, sih. Kalau gue dateng-dateng malah rebahan di atas sofa, terus mencak-mencak nggak jelas. Oh ya, jangan lupakan bacot gue yang sering dikritik sama Lomi dan Chua karena masing-masing udah pada punya bocah. "Babi!" umpat gue keras-keras. Chua mengambil bantalan sofa, kemudian melemparkannya ke gue. Ibu beranak satu itu beranjak dari tempat duduknya sambil berkacak pinggang. "Kurang-kurangin deh lo ngumpat." Lomi mengangguk setuju. "Tahu, nih. Lo nggak lihat anak-anak pada pinter niruin omongan orang dewasa." Anak-anak yang dimaksud sama Lomi adalah anak-anaknya dia sama Chua. Gue tahu, ngumpat, maki-maki orang emang nggak baik, apa lagi di depan anak kecil. Tapi gimana dong, gue ngumpat juga refleks, bukan yang disengaja kayak yang dikira orang-orang. "Gara-gara lo, nih, Nae jadi ikut-ikutan bilang 'g****k' gitu." Chua mendorong-dorong kaki gue untuk turun dari sofa. Entah harus ketawa atau pengin nabok diri sendiri rasanya. Gara-gara bacotan gue, Nae jadi niruin. Mana pas dipraktekin di depan Bapak moyangnya lagi. Ya kena omel si Lakka. Ceritanya, Lakka mau bikinin Nae s**u. Karena siang hari Chua ada di toko roti, cuma ada Lakka yang emang nggak kerjaan hari itu. Seharian Nae di rumah sama ayahnya. Awalnya akur-akur aja. Tapi pas bocah perempuan itu merengek susunya abis, Lakka berinisiatif bikinin Nae s**u. Entah karena si Lakka nggak tahu takarannya atau gimana, Nae ngamuk. Katanya, susunya nggak enak. Nah, pas di belakang-belakang, Nae ngumpat, mana suaranya melengking. "Ayah g****k!" Lakka yang denger anaknya ngumpat sekasar itu hampir kejungkel. Ya kagetlah g****k. Anak seusia Nae berani ngatain ayahnya g****k. "Diomelin abis-abisan si Nae sama Lakka." cerita si Chua sambil nahan ketawa. Ibu laknat dia mah. "Tahu sendiri gimana kerasnya Lakka ngedidik anak, kan?" katanya sambil meletakkan bantalan sofa di atas pangkuannya. Lomi meringis. "Tapi nggak ada salahnya sih, Wa. Lo tahu sendiri anak-anak jaman sekarang jarang ada yang punya sopan santun!" Bukkk. "Lo ngapain lirik-lirik gue?!" seru gue nggak terima. Lomi cekikikan. "Dih. Kok lo ngerasa, sih?" Udahlah, ya. Selain dikenal bar-bar, gue dianggap nggak punya sopan santun sama temen sendiri. Padahal gue cuma berusaha jadi diri sendiri, nggak mau ikut-ikutan orang lain. Kalau gue gini, ya udah. Dari pabriknya gini. Kenapa harus pura-pura baik supaya disukain sama orang? Gue makan pake uang sendiri. Nggak minta, nggak ngemis, jadi apa peduli gue soal dianggap baik atau nggak sama orang lain? Dari dulu gue nggak bisa sok-sok baik, sok pasang wajah polos di depan orang-orang, sedangkan dalemnya mah bobrok. Gue orangnya ekspresif. Lagi marah, ya marah. Gue ngumpat, maki, pokoknya ngeluarin semua unek-unek, daripada gue pendem, terus jadi penyakit. Malah tambah susah ntar. "Dom, cerita dong. Lo kenapa dateng-dateng sambil ngomel?" tanya Lomi dengan nada penasaran. Diingetin lagi, b*****t. Gue menunduk dalam-dalam sembari memukul-mukul bibir. Kejadian di kafe sore tadi nggak berhenti berputar-putar di dalam kepala sampe rasanya otak gue panas, mungkin aja sekarang udah keluar asap kali. Abis gimana dong! Gue niatnya meluruskan masalah, tapi malah nambah masalah dengan nyosor bibirnya Bizar di depan Iwang dan orang-orang di dalam kafe. Rasanya, bibir gue panas. Pipi gue juga. Seluruh tubuh gue rasanya panas dingin. Gila aja, gue mati-matian menyangkal nyosor dia malam itu, tapi berakhir nyosor lagi. Mana di depan umum. "Gue nggak nyangka lo pacaran sama Mas Bizar," goda Lomi mengerlingkan sebelah matanya, jahil. "Kita nggak pacaran!" elak gue berapi-api. Sumpah, ya. Gue sama Bizar nggak pacaran. Itu cuma gosip yang disebarin orang-orang kurang kerjaan. Setiap lihat gue aja nih, Bizar natap gue sinis banget. Nggak ada ramah-ramahnya. Kenapa bisa ada yang percaya gue pacaran sama dia? "Mas Bizar baik, ramah, murah senyum pula." Lomi menarik kedua sudut bibirnya. Iya. Bizar ramah sama orang, tapi sama gue nggak. Gue heran nih, ya, dulu-dulu perasaan dia selalu senyum pas sama Chua, kenapa pas sama gue bawaannya asem mulu ekspresinya. Mukanya ditekuk kayak kertas lipet warna-warni yang biasa dipake anak-anak TK bikin keterampilan di sekolah. Salah gue apa sih? Apa karena gue ngaku-ngaku jadi pacar dia, makanya dia sebal sama gue? Eh, tapi, sepenuhnya bukan salah gue dong. Siapa yang nyuruh gue pura-pura jadi pacarnya Bizar? Anaknya sendiri. Kenapa jadi musuhin gue? "Lo kelihatan serasi, sumpah!" tambah Chua mengacungkan dua jarinya. "Mau gue bunuh lo berdua?!" jerit gue frustrasi. Chua sama Lomi kompak cekikikan mendengar jeritan gue barusan. Mereka dukung gue banget pacaran sama Bizar. Malah kesannya kayak pengin nyodorin gue ke Bizar. Apa lagi Chua, ya ampun! Masa dia bilang mau minta bantuan ke Bang Hans supaya mau bantuin gue biar bisa lebih deket sama Bizar. Bangke, Chua! "Apaan?" tanya gue melihat pergerakan Lomi sama Chua yang sekarang sedang lirik-lirikan. "Hm... Dom, soal lo ciuman itu beneran ya?" tanya Lomi hati-hati. "Bang Hans cerita, katanya lo abis nginep dari rumah Mas Bizar juga," tambah Chua. Berasap nih, berasap beneran kepala gue. Mungkin aja nambah tanduk juga sekarang saking kesalnya. Ada apa sama orang-orang sebenernya! Seharian bahas Bizar, Bizar, Bizar mulu! Nggak tahu aja gue lagi nahan malu mati-matian. Gimana besok kalau gue ketemu sama Bizar? Rasanya gue nggak punya keberanian buat ketemu si duda. Kenapa harus nyosor, sih! Ada banyak opsi untuk bikin Iwang pergi dari sana, atau gue aja yang pergi dari sana kalau perlu demi menghindari Iwang. Kenapa, kenapa, kenapa?! Kenapa gue berakhir nyosor Bizar! "Ayo cerita dong, Dom!" Lomi pindah duduk di kiri gue. Chua menaik turunkan alisnya. "Cerita Dom, buru." Gue menarik napas panjang sebelum menjawab. Kelihatan dari ekspresi bodoh kedua temen gue ini kalau lagi nunggu. Lomi sampe miringin kepala. Terus, Chua lari ke dapur buat nyiapin camilan sama minuman. Katanya, biar lebih enak ceritanya kalau didampingi sama camilan. "Tapi lo berdua jangan teriak," tunjuk gue ke Lomi lalu beralih ke Chua. Mereka cuma manggut-manggut. "Jadi, gini...." *** Kebiasaan gue yang seringkali mengumpat semakin menjadi-jadi saat mendapati Bizar masuk ke dalam toko roti Chua dan Lomi. Dia sendirian, nggak lagi sama Bang Hans. Gue yang emang nggak ada kerjaan apa-apa, jadi lebih sering bantuin kedua temen gue jaga toko rotinya. Lagian sebentar lagi Lomi mau lahiran anak ketiga. Perutnya udah buncit banget, ngeri gue lihat dia mondar-mandir mulu. "Ngapain heh!" Lomi menjawil bahu gue. Gue lagi sembunyi di belakang etalase roti. Refleks gue melempar kain serbet ke atas kepala supaya Bizar nggak tahu gue lagi di sini. "Diem kenapa sih!" kata gue mendorong-dorong tangan Lomi dengan rusuh. "Ada pelanggan. Buruan bangun, Dom!" seru Lomi menarik lengan kaus gue. "Panggil Chua deh, ya." Gue geleng-geleng sambil pasang wajah melas. Lomi menggeleng. "Chua lagi repot ngadon sekarang." "Mi...." bibir gue mencebik, "Ada Bizar itu." Lomi berhenti menarik gue dan meluruskan pandangan keluar. Perempuan itu sempat menunduk, memandangi gue selama beberapa detik. Masih mempertahankan wajah melas, gue berharap kali ini Lomi nggak rese. Sekali aja, Mi, ya ampun. Gue nggak mau mati muda gara-gara ketemu sama Bizar. Lomi mengulum senyum. Perasaan gue nggak enak. Senyumnya Lomi penuh makna. "Mas Bizar, Domi di sini, nih!" Bangsat. Lomi, bangke. g****k banget jadi temen. Ujung jari Lomi menunjuk ke bawah tepat di atas kepala gue. Gue mengumpat keras-keras sembari menunduk dalam, menyembunyikan wajah gue yang mendadak aja hangat. Setiap kali ingat Bizar, biarpun cuma bayangan wajah atau sekadar ada yang nyebut namanya aja, gue langsung blushing! Ah, sial. Gue umur berapa sih? Kenapa masih aja bisa blushing gini. Lagi pula, Bizar bukan laki-laki ganteng pertama yang gue temui selama hidup. Iya, kan? Sebut aja mantan suami gue, Iwang. Mantan pacar gue yang barusan aja nikah, Evan Cho. Mereka pada ganteng-ganteng, lebih muda dari Bizar, tapi kenapa bisa cuma sama dia doang gue deg-degan begini. "Dia di sini nih, Mas. Katanya, malu kalau ketemu sama Mas Bizar." Lihat aja, Mi. Abis lahiran gue cekek, lo. Gue nggak tahu gimana reaksi Bizar pas tahu gue sengaja sembunyi. Pasti laki-laki itu sedang menaikan sebelah alis tebalnya. Kedatangan Bizar kemari bukan berarti buat ketemu sama gue, kan? Bisa aja dia mau beli roti buat anaknya, tetangganya, atau siapanya gitu. Yang jelas bukan buat ketemu gue pokoknya. Nggak ada sahutan dari Bizar. Cuma ada suara cekikikan Lomi di samping gue. Gue masih aja nunduk, berjongkok di sebelah kaki Lomi. Dalam hati gue berdoa, semoga Bizar cepet-cepet pergi. Nggak perlu dia lama-lama di sini. "Mi, udah pergi belum dia?" gue menengadahkan kepala dan menatap Lomi. Bukannya jawaban yang gue dapat dari Lomi, tapi tepukan seseorang di bahu dari arah belakang. "Kamu ngapain di situ?" Untuk kali pertama dalam hidup, gue pengin ngubur diri sendiri. Seberapa sering gue bertingkah g****k di depan Bizar, ya Tuhan! "Awas lo," tunjuk gue ke Lomi yang ketawa kenceng banget. "Kamu sengaja menghindari saya, ya?" Pelan-pelan gue menoleh ke belakang. Dan bener aja, dong, ada Bizar sedang berdiri di sana. Laki-laki itu melipat kedua tangannya di depan d**a. Badannya yang tinggi tegap dibungkus sama kemeja putih tulang. Buru-buru gue berdiri tegak. Sebelah tangan gue letakkan di pinggang. "Apa sih! Siapa juga yang ngehindarin lo. Lagian lo siapa sampe gue hindarin segala?" Bizar mengambil serbet dari atas kepala gue. "Untuk kesekian kalinya kamu kelihatan bodoh di depan saya." katanya, kemudian mengangsurkan serbetnya ke Lomi. "Lo ngatain gue?!" gue mendorong dadanya. Dipegangnya tangan gue yang masih menempel di dadanya. "Saya nggak ngatain. Tapi kamu sendiri yang nunjukin ke saya." Mata gue mendelik. Gue tatap dia dengan galak, tapi kayaknya nggak berpengaruh juga, deh. Buktinya Bizar masih santai-santai aja, tuh. Tangan gue yang semula menempel di dadanya kini dia tarik lqlu digandengnya tangan gue. "Apaan nih?!" gue berusaha berontak dengan menarik-narik tangan gue yang lagi digandeng Bizar. "Setelah kamu cium saya di depan umum, kamu masih bisa marah-marah ke saya, ya? Minta maaf aja nggak." "Ya udah, gue minta maaf. Maaf udah cium lo kemaren." "Minta maaf aja nggak cukup," jawabnya. "Wajah saya jadi muncul di mana-mana karena kejadian kemarin. Bahkan ada wartawan yang nguber-nguber saya. Kamu pikir saya nyaman?" Halah. Ada aja, sih! Ada banyak selebriti yang lebih populer ketimbang gue, kenapa wartawan kayaknya getol banget jadiin gue sebagai bahan gosip mereka? Gue siapa sih? Gue cuma model biasa yang kebetulan dapet tawaran main di beberapa film. Selain itu, gue punya banyak haters. Mereka bisa cari selebriti yang lebih terkenal, lebih punya nama ketimbang gue. "Terus, lo maunya apa? Gue udah minta maaf barusan." Bizar masih menggandeng tangan gue. Gue sengaja ngelirik, tapi dia nggak peka sama sekali. "Kamu harus tanggung jawab." Gue mengentakkan kaki. "Gue nggak ngehamilin lo, ya!" Dia nyahut, "Saya juga nggak mungkin bisa hamil!" "Ya terus ngapain lo minta gue tanggung jawab?!" teriak gue di depan wajahnya. "Karena kamu udah cium saya." Semula, suasana toko roti yang lagi rame, mendadak berubah hening. Saking gobloknya gue, jadi nggak sadar kalau dari tadi kita jadi tontonan banyak orang. Gue auto panik, dong. Tapi si duda kelihatan santai-santai aja. Pengin banget gue jambak bibirnya! Tahu-tahu aja Bizar nyeletuk, "Kamu lihat apa? Jangan bilang mau cium saya lagi." Rasanya gue kehilangan kewarasan setiap kali deket-deket Bizar. Lo kenapa, Dom, ya ampun. Eling, b*****t. Eling, g****k. Lo punya hobi baru, ya? Hobi mempermalukan diri di depan Bizar? Bisa-bisanya lo salah fokus ke bibirnya mulu. Sehebat apa bibirnya Bizar sampe lo lihat ke sana mulu, sih? Bizar mengeratkan genggaman tangannya. Bisa gue rasain jari-jari gue diremas, kemudian mendekat ke arah gue. Deket, banget. Sampe-sampe gue nahan napas. Laki-laki itu mencondongkan badannya. Kepalanya mendekati wajah gue, bahkan pipinya menempel di pipi gue. Kemudian, Bizar berbisik tepat di telinga gue. "Saya cuma mau bilang...." jantung gue bunyi gedebuk-gedebuk. "Saya kecanduan sama bibir kamu...." Hah? Gimana-gimana? Kecanduan bibir gue, katanya? To be continue---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN