Mencari Kesempatan

1577 Kata
Dominiq: Mencari Kesempatan "Pelan-pelan aja bisa kan?" Gue mendengus sebagai jawabannya. Udah dipijitin kakinya, masih aja pake protes segala! Harusnya tuh dia terima kasih ke gue, bukan sibuk ngomel dan protes karena gue terlalu kenceng pijitin kakinya. Kepala gue menunduk, memandangi kedua kakinya Bizar yang gue letakan di atas pangkuan gue. Dalam hati pengin banget nginjek kakinya Bizar biar mampus sekalian! Masa iya cuma karena gue tendang kakinya sekali, dia ngeluh nggak bisa jalan? Hey, are you kidding me?! Semua berawal dari bisikan setannya di telinga gue. Bisa-bisanya dia bilang dia kecanduan bibir gue. Yang bener aja, dong! Maksudnya apaan Bizar bilang gitu pake acara bisik-bisik? Gue syok, jelas. Dalam bayangan gue, Bizar mana mungkin bilang, "Saya kecanduan sama bibir kamu...." sumpah. Sama sekali nggak pernah kebayang. Gimana ya, dia kelihatan kayak laki-laki baik, jalan hidup yang lurus-lurus aja, lempenglah. Makanya pas dia bilang sesuatu yang mengejutkan, gue jadi refleks nendang kakinya sampe jatuh ke lantai dan jadi tontonan orang-orang di toko roti. Suara gedebukan yang berasal dari badan Bizar yang jatuh seolah menarik perhatian orang-orang. Semula mereka sibuk memandangi roti-roti di dalam etalase sesekali menyebutkan roti mana yang mereka mau, mendadak aja pada noleh ke Bizar. Reaksi mereka pun beragam. Karena pembeli di sini kebanyakan Ibu-Ibu, bisa dibayangin gimana hebohnya mereka dong? "Mbak, kok kasar sih?" komentar Ibu-Ibu berbaju merah. Lainnya pada nyahut, "Kasian suaminya, Mbak. Ditolongin dong itu. Masa jatuh cuma dilihatin aja?" Tahu-tahu ada Ibu-Ibu deketin gue, terus mengusap bahu gue. "Namanya orang rumah tangga, berantem hal biasa. Harus sabar ngadepin suami, Mbak. Nggak boleh kasar, ya." Mata gue memejam menahan jengkel luar biasa. Selain sok tahu, Ibu-Ibu ini sok perhatian banget sama Bizar. Mereka berbondong-bondong membantu laki-laki itu berdiri. Gue mendengus, seperti yang kalian tahu, Bizar adalah laki-laki maha sempurna di mata para perempuan. Dikenal baik, ramah, murah senyum. Abis dibantuin berdiri para Ibu-Ibu, Bizar nggak lupa bilang terima kasih. Lengkap sama senyum Pepsodent yang bikin gue gemas pengin dorong dia ke dalam sumur sekalian. Heran, ngeselin banget jadi orang. "Diselesaikan baik-baik sama suaminya ya, Mbak," kata Ibu-Ibu berbaju merah muda. "Dia bukan sua—" "Aduh." Tiba-tiba aja Bizar mengaduh sambil memegangi kaki kirinya. "Kenapa?" tanya gue, galak. Bizar sedikit menyeret kakinya lalu meletakkan tangannya di bahu gue. Laki-laki itu meringis, setengah menunduk melihat kakinya yang terbungkus celana bahan berwarna hitam. Gue ikut menunduk, mengamati tangan kekar Bizar memegangi kakinya sesekali meringis. "Kaki saya susah digerakin," adunya. Tangannya masih melingkar manis di bahu gue. "Apa sih? Nggak usah berlebihan, ya! Gue cuma nendang kaki lo sekali. Masa jadi susah digerakin?!" Bizar membungkukkan badan. "Kamu nendangnya kuat banget. Kamu nggak lihat saya sampe jatuh tadi?" Ya Tuhan, pengin banget gue cekik duda di samping gue ini. Di balik wajah judesnya setiap kali ketemu gue, dia jauh-jauh lebih nyebelin dari cowok mana pun. Bisa-bisanya dia ngaku kakinya susah digerakin? "Dominiq," panggilnya. Sengaja banget dia deketin bibirnya di telinga gue. Bulu kuduk gue pada berdiri, nih. Suara dia bener-bener mirip bisikan setan. Menggoda banget, b*****t. Dia nggak takut gue khilaf, terus nyosor dia di depan Ibu-Ibu ini kali, ya? "Kayaknya Mas Bizar perlu dibawa ke rumah sakit, deh. Kesakitan banget itu..." sahut Lomi dari balik etalase. Satu jarinya menunjuk kepada Bizar. "Anter ke rumah sakit gih. Kasian tahu!" Bunuh temen sendiri dosa nggak, sih? Gue heran sama orang-orang. Kenapa pada getol banget nyodorin gue ke Bizar? Padahal gue udah bilang kalau semuanya tuh cuma salahpaham. Nggak ada hubungan apa pun di antara gue sama si duda. Ya kalau pun lebih suatu hari nanti, gue yakin pasti Bizar yang ngebet sama gue. "Saya jatuh gara-gara kamu," gumamnya. Bizar seolah sengaja menarik bahu gue sampe embusan napas dia aja kerasa banget di leher. Dalam hati gue berteriak, "Geli, g****k!" tapi gue nggak berani karena masih ada Ibu-Ibu di sini. Gue nggak mau ntar diceramahin sama mereka karena udah ngomong kasar sama Bizar. "Gara-gara kamu, saya jadi nggak bisa kerja besok." "Ya, terus?" gue menoleh pelan-pelan. Takut aja bibir gue mendarat ke tempat yang nikmat—eh, nggak, ding. Salah maksud gue. "Sekarang antar saya pulang ke rumah." "OGAH!" teriak gue. Ibu-Ibu di sana kompak menoleh ke gue. Mereka menatap gue dengan tatapan heran sambil geleng-geleng kepala. Okay. Gue ngalah. Daripada gue semakin gila dan kesulitan mengontrol bacot gue, mendingan gue anterin si duda pulang ke rumahnya. Abis itu balik ke toko roti buat bantuin Lomi sama Chua. "Nggak usah balik ya, Dom!" teriak Lomi sebelum gue pergi meninggalkan toko rotinya. "Mas Endra sama Lakka mau ke sini bantuin kita, kok!" katanya mengulum senyum jahil. Dasar tukang ngibul! Jelas-jelas Endra masih ngajar, Lakka pun sibuk sama KC Brand yang besok bakal merilis koleksi terbarunya. Mana mungkin dateng ke toko roti di saat mereka lagi pada sibuk-sibuknya. "Abis ini kamu jangan langsung pulang, ya." Suara berat Bizar bikin gue sadar. Di mana gue sekarang, dan lagi ngapain. Jadi, setelah mengantar laki-laki itu ke rumah sakit, dia minta diantar ke rumah. Pas udah nyampek, gue nggak dibolehin pulang dan berakhir memijat kakinya. Mana enak banget dia naruh kakinya di atas paha gue, lagi. Bizar adalah laki-laki di luar ekspetasi gue. Di luar doang kayaknya alim banget, kayak nggak mau deket-deket sama perempuan. Eh, pas gue sosor sekali, eh, dua kali, deh. Dia malah ketagihan, b*****t! Bizar, babi. Anjing emang! Itu baru bibirnya yang gue sosor, belum yang lain-lain. Apa sih, g****k! Gue memukul kepala dan bibir gue secara bergantian. Otak sama bibir gue sinkron banget emang. Beda sama orang lain. Kalau orang lain mah bilangnya mulut sama hati kebanyakan nggak sinkron. Tapi gue nggak. Otak dan bibir gue sejalan. Isi otak bayangin bibirnya Bizar mulu, sedangkan bibir gue lancang banget nyosor-nyosor bibir si duda. Perlu dirukiyah kayaknya gue mah. "Jangan pulang dulu, ya," ulangnya. Dahi gue mengernyit. Sama sekali nggak bisa ditebak jalan pikirannya Bizar. "Gue mau pulang. Kenapa nggak boleh?" Bizar menggeleng. "Bukan nggak boleh. Tapi jangan dulu." "Apa lagi?! Tadi lo minta dianter pulang doang!" Bizar bergumam. "Saya lupa, Bibi yang bantu di rumah lagi pulang kampung." "Hubungannya sama gue, apaan?" gue melipat kedua tangan di depan d**a. "Kalau nggak ada Bibi, saya nggak ada yang bantuin. Apa-apa harus sendiri, sedangkan kaki saya lagi sakit." Gue berdecak. "Intinya, lo mau jadiin gue pembantu lo, gitu?" Bizar tersenyum lebar sambil mengangguk-angguk. "Ya gitu..." GINI-GINI GUE PERNAH JADI ARTIS, JINGAN! DAN SI BIZAR MAU JADIIN GUE BABUNYA?!" Gue meraba-raba sekitaran sofa mencari tas. Bizar ikutan mengamati. Kepalanya menunduk, menoleh ke kanan ke kiri seolah ikutan mencari barang yang gue cari. "Kamu cari apa?" tanyanya. "Tas. Gue mau pulang!" jawab gue sambil berdiri. Dari ujung sampe paling ujung gue cek, tapi tas gue nggak ada. Sebelah tangan Bizar gue tarik sampe dia berdiri. Siapa tahu dia yang sembunyiin tasnya, kan? "Kok nggak ada!" gerutu gue setengah menunduk. "Ehem..." Bizar berdeham. "Apa sih, jingan! Diem dulu kenapa sih!" bantal-bantal di atas sofa udah gue buang sembarangan. Dan hasilnya tetap sama. Tas gue nggak ada di mana-mana. "Kamu mau kayak gini terus?" Pergerakan tangan gue mencari tas di sofa jadi berhenti. Gue mendongak, dan baru aja sadar posisi gue sama dia deket banget, bangke! Badan gue setengah membungkuk, setengah meluk pinggangnya Bizar yang gue paksa berdiri. Badan kita mepet banget, sumpah. Pas gue mendongakan kepala, gue bisa lihat wajah gantengnya Bizar. Matanya yang berwarna gelap, hidung mancung, rambut hitam legam setengah acak-acakan. Dan satu lagi, jangan lupakan benda kenyal yang udah bikin gue hilang kewarasan dua kali. Dalam hati gue bertanya-tanya. Berasa lagi negosiasi sama diri sendiri. "Sosor jangan, nih? Masa iya, sih? Tapi kalau dianggurin, kan, sayang. Mana di rumahnya nggak ada orang lagi." Babi! Jalang lo, Dom. Jalang. Gatel banget jadi janda! "Bukannya kamu nganter saya nggak bawa apa-apa selain diri kamu sendiri, ya?" Gubrak! Selain udah nggak waras lagi, gue mendadak pikun. Jelas-jelas gue nggak bawa apa pun selama nganter dia ke rumah sakit sampe pulang. Dan gue nggak sadar? Mati aja lo, Dom! Kubur diri lo mulai dari sekarang sebelum tambah g****k. "Sana!" sebelum gue khilaf, gue dorong aja dadanya. Lumayan kuat tenaga gue pas dorong dia. Tapi begonya, Bizar sengaja menarik pinggang gue. Alhasil, setengah badan gue menimpa badannya Bizar. Seakan alam semesta mendukung gue untuk berbuat maksiat, tahu-tahu aja bunyi geluduk, disusul suara hujan deras dari luar. Ini salah satu godaan juga nggak, sih? Posisi gue sama dia udah pas, nih. Suara hujan barengan sama geledek seolah jadi musik pengiring di antara kita berdua. Jangan, Dom. Jangan ya ampun. Gue merapatkan bibir. Sepasang mata gue memejam secara refleks sembari berdoa dalam hati. "Jangan sampe khilaf. Dosa, Dom. Dosa ya ampun. Bisa masuk neraka tanpa dipersulit lo ntar." "Kamu ngapain merem-merem gitu?" tanya Bizar menepuk puncak kepala gue. Babi. Udah nggak kehitung berapa kali gue ngumpat hari ini. Semuanya gara-gara Bizar. Setengah kewarasan gue hilang, mulut makin bobrok, nggak ada faedah banget gue hidup di dunia. Tinggal nunggu dicabut doang nyawa gue sama malaikat Izrail. Neraka sudah menunggu diriku. "Bisa berdiri dulu, nggak? Kaki saya pegel. Kalau tambah sakit, kamu mau tanggung jawab emang?" Malu nggak sih, sat? Gue malu banget, sumpah. Berasa gue yang mancing-mancing si Bizar. Sedangkan Bizar seolah punya cara bikin gue kelihatan g****k dan berharap banyak sama dia! "Tapi, nggak usah sih. Gini aja nggak apa-apa." Bizar melingkarkan kedua tangannya ke pinggang gue. Setiap kali gue berusaha berdiri, dia nahan gue. "Katanya nyuruh gue berdiri!" "Nggak jadi." Bizar senyum sumringah. "Nggak apa-apa kaki saya tambah sakit. Dengan begitu, saya bisa minta kamu tanggung jawab. Adil, kan?" Adil? Adil dari mana, JINGAN! To be continue---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN