Dengan cepat Ashraf meminta OB untuk menyiapkan pesanannya dan mengantarkan ke ruangannya.
Cukup hanya menunggu 10 menit pesanan yang di minta pun sudah tiba diruangan dan sudah tersusun rapih di meja yang tersedia. Dan tak lama juga Sarah datang dengan pikiran yang ntah kemana-mana sebab diruangan Bos nya itu juga terdapat Bos Besar.
"Apa aku ada buat kesalahan ya, duh gimana ini, tapi kesalahan apa ya !" Sambil berfikir didalam hati.
Tok.. tok..
"Masuk!" Perintah Ashraf
Sarah pun masuk ditambah dengan mukanya yang tegang seperti orang ketakutan.
"Kamu duduk disini aja," ucap Bos Besar
Ada rasa segan karena harus duduk disofa yang sama dengan bos besarnya itu.
"Tidak usah segan, saya gak apa-apa. Sini duduk." Ucapnya sambil menepuk sofa lembut disebelahnya.
Dengan langkah gontai dan muka tegang Sarah duduk bersebelahan dengan Bu bos besar.
"Santai aja mukanya gak usah tegang gitu, kamu gak lagi dalam masalah!" Godanya
Ada rasa lega mendengar penuturan dari Bu bos tapi masih terbesit berbagai pertanyaan dipikirannya.
Sarah tersenyum canggung.
"Maaf Bu, saya kira saya ada buat kesalahan." Ucapnya menunduk.
"Tidak kok, kedatangan saya kali ini ingin berbicara santai dengan mu, maka dari itu saya sudah siapin minuman dan juga cemilan untuk kita ngobrol!" Imbuhnya
Rasa penasaran pun mulai meracuni pikiran Sarah.
"Gak pernah-pernah bos besar ingin bicara santai bersama dengan karyawannya kecuali yang diomongin masalah kerjaan, tapi ini kok agak beda ya!" Pikirnya
Ashraf pun bangkit dari kursi kebesarannya untuk bergabung dengan Mama dan juga wanita pujaannya.
Makin dag dig dug jantung Sarah mendapati Bos nya datang menghampiri mereka.
"Sarah, maaf kalau saya menanyakan hal pribadi kamu," buka Mama Ashraf
Sarah masih diam, dan ingin mendengar kelanjutan apa yang akan dibicarakan.
Sambil memegang tangan Sarah. "Saya mau nanyak apa kamu ada kekasih ? Atau lagi dekat dengan seseorang ? Tanya Mama Ashraf penuh dengan kelembutan.
Tentunya Sarah terkejut mendapat pertanyaan seperti itu.
"Tidak Bu, saya tidak punya kekasih atau pun lagi dekat dengan seseorang." Ucapnya jujur
"Ashraf bilang semalam kamu dalam masalah dengan perjodohan yang Ibumu tunjukan ? Tanyanya
"Kalau kamu keberatan untuk bercerita tidak usah, tapi jika kamu ingin berbagi saya siap mendengarkan. Lagian saya juga uda diceritain dengan Ashraf tapi saya ingin mendengar langsung dengan versimu !" Tambahnya
Bingung sungguh membingungkan. Bu bosnya kali ini menjelma sebagai seorang sahabat bagi Sarah bukan sebagai atasannya. Yang biasanya dia melihat muka tegas tapi kali ini dia melihat dari sisi lain yaitu kelembutan seperti seorang Ibu yang merangkul anaknya.
Setelah diam beberapa menit, Sarah pun mulai berbicara.
"Apa yang diceritakan Pak Ashraf kepada Ibu memang seperti itu ceritanya, Ibu saya menjodohkan saya dengan lelaki pilihan nya dan itu dari kalangan arisan yang diikuti Ibu. Saya sama sekali tak mengenalinya baik anak laki-lakinya ataupun dengan Ibunya. Jadi pada saat pertemuan itu Ibu dan Mamanya meninggalkan kami berdua mungkin maksud nya memberikan kami waktu untuk bicara. Memang benar kami berbicara, dari awal saya memang tidak suka kalau dijodohin apalagi hubungan saya dengan Ibu tidak pernah baik. Saya meminta kepada lelaki itu dengan memohon untuk menolak perjodohan ini, namun siapa sangka ternyata dia tak menerima penolakan dari saya dan terkesan memaksa bahkan sangat memaksa. Dari situ saya bersyukur menolaknya pilihan saya untuk menolak itu adalah pilihan yang tepat karena saya yakin dia adalah pria yang kasar. Maaf Bu, Pak kalau saya jadi curhat. Ucapnya lirih
"Kalau saya boleh tau, kenapa hubungan kamu dengan Ibumu tidak baik ? Tanya Bu bos meskipun dia juga sudah tau kebenarannya
"Kalau kamu berat untuk menceritakannya tidak apa-apa." Ucapnya sambil terus menggengam tangan karyawannya itu.
Sebenarnya Sarah mulai merasa nyaman dengan bercerita kepada Bu bosnya karena dia merasa wanita ini betul-betul seperti sosok seorang Ibu yang lembut dan penuh kasih yang sebelumnya tidak pernah dirasakannya selama ini.
"Saya memiliki Ibu Bapak dan juga Adik yang masih sekolah, tapi Ibu seperti tak menyayangi saya sebagai Anaknya perlakuannya sangat berbeda dengan Adik saya. Dirumah saya cuma merasa memiliki Bapak. Saya menjadi tulang punggung keluarga karena kondisi Bapak yang tak sehat. Jadi semua kebutuhan rumah sampai keperluan Adik saya yang penuhi. Sampai saya merasa kalau saya hanya dimanfaatin untuk kesenangan Ibu dan juga Adik. Karena untuk kebutuhan rumah pun juga gak terpenuhi apalagi untuk berobat Bapak, tapi Ibu selalu menuntut seluruh gaji saya untuk diberikan kepadanya." Ucapnya yang mulai menangis
Siapa sangka Mama Ashraf memeluknya penuh dengan kasih sayang.
"Menangis lah jika itu membuat bebanmu menjadi ringan." Ucap bu Lala yang terus memeluknya
Tangisan Sarah pun makin pecah. Karena belum pernah dirasakannya dirangkul seperti ini.
Ashraf memalingkan wajahnya, sangat malu kalau dia ketahuan ikut menangis juga.
Ashraf berjanji, jika diberi kesempatan dia akan membuat wanita dihadapannya ini bahagia tak diperbolehkan setetes air mata kesedihan jatuh ke pipinya dan akan di ganti dengan air mata kebahagiaan.
Sarah mengurai pelukannya dan Bu Lala memberinya minum.
"Minum lah, biar kamu bisa segar kembali." Ucapnya lembut
Sarah pun menerima minuman itu dan menegaknya sehingga tinggal setengah gelas.
"Sarah, saya memanggil mu dan menanyakan hal yang lebih pribadi kepadamu karena ada maksud dan tujuan saya, mungkin ini terkesan cepat bagimu. Saya menyukai mu karena kamu wanita hebat, pintar juga cantik. Saya menilai bukan hanya melihat dari kinerja mu selama menjadi sekretaris anak saya tapi saya melihatmu dari pandangan saya, kamu memang wanita yang beda. Maka dari itu saya melamarmu untuk putra saya, Ashraf. Bukan karena saya menyukaimu tapi dia juga sudah menyukaimu sejak lama dan hari ini dia memantapkan pilihannya dan meminta saya untuk melamarmu." Ucap Bu bos Lala
Sarah merasa terkejut dan masih mencerna perkataan wanita dihadapannya dan juga merasa tak percaya disukai secara diam-diam oleh bos nya itu.
"Sarah apa yang dikatakan Mama itu benar, saya sudah lama menyukaimu dan kenapa baru sekarang saya berani karena selama ini saya ingin memantapkan hati dengan pilihan saya. Bukan saya tak berani mengatakan ini sendiri dihadapanmu hanya saja saya tak ingin membuang waktu jadi saya langsung ajak Mama untuk menemui dan membicarakan hal ini." Ujarnya
"Maaf Pak Bu, beri saya waktu karena ini sangat mengejutkan bagi saya, dan juga tak menyangka dengan apa yang barusan saya dengar!" Sahutnya
"Tidak apa-apa Nak, kami mengerti dengan keterkejutan mu, apapun jawaban mu InsyaAllah kami akan terima. Tapi saya sangat berharap kamu bisa menerimanya." Ucap Bu Lala.