Tak berapa lama Sarah sampai, Yanti sang Ibu juga sampai dirumah.
Dengan langkah yang lebar dan dengan suara yang keras Yanti memanggil Sarah.
"Sarahhh.. Sarah... !" Jerit Ibu
"Ada apa Bu ?" Tanya Sarah santai
"Ada apa kau bilang ? Kekacauan apa yang uda kau perbuat ? Kau uda buat malu Ibu. Kau harus terima perjodohan ini. Jeng Ira dan putranya orang kaya. Mereka akan menjamin hidupmu dan yang pasti mereka tak menginginkan kau untuk bekerja lagi. Jadi apa yang membuatmu tak mau ? Sudah dikasih enak malah banyak tingkah !" Ucap Ibu dengan suara yang menggema didalam rumah. Membuat seisi rumah terbangun dengan keributan yang dibuat Yanti.
"Aku tidak akan pernah mau Bu, apa Ibu tak melihat sikapnya ? Dia orang yang kasar Bu, dan aku gak terima, uda cukup hidupku menderita jadi kalau bisa aku cari suami yang bisa melindungiku atau meratukanku !" Ucapan Sarah membuat Ibunya tertampar
"Dia itu kaya uda pasti dia meratukanmu !" Bentak Yanti
"Sampai kapan pun aku gak akan mau, jangan sesuka hati Ibu aja menjodohkan ku dengan pilihan Ibu." Jawab Sarah
"Kau akan hidup enak jika menikah dengannya !" Ucap Ibu menarik tangan Sarah
"Bukan hidupku yang enak, tapi hidup Ibu yang enak ! Hidupku akan semakin hancur kalau bersamanya. Sudah cukup Bu, ini sudah malam aku lelah !" Ucapnya berlalu dan kembali ke kamar.
Sedangkan dikediaman Jeng Ira. Al yang sudah tertarik dengan Sarah terus merengek ke Mamanya untuk segera di percepat perjodohan ini. Al yang memang selalu dimanja dan selalu di turuti semua kemauannya sama kedua orangtuanya membuat dia harus bisa apa yang dia dapat dan dia mau. Bagaimana caranya pun dia harus memilikinya. Itulah Al dengan keras kepalanya. Al adalah anak tunggal kesayangan Ira.
"Ma, aku gak mau tau anak tante Yanti harus terima perjodohan ini, begitu melihatnya tadi aku langsung tertarik. Tapi begitu kalian ninggalin kami, dia pun bilang bahwa dia menolak perjodohan ini dan aku gak terima. Gak ada yang bisa menolakku." Ucapnya
"Kamu tenanglah, pasti mereka gak akan menolak." Jawab sang Mama
Malam sudah semakin larut, begitu juga dengan Ashraf yang semakin larut dengan pikirannya. Dia merasa kasihan dengan sekretarisnya sekaligus pujaan hatinya itu tapi dia sendiri pun belum bisa ambil keputusan tapi dia juga harus cepat ambil tindakan.
"Besok aku harus bicarakan dengan serius sama Mama, biar Mama yang bisa menilai," Ujarnya
"Apa sebaiknya Mama kuajak aja ke kantor ya ? Kayak nya itu ide bagus." Ujarnya lagi
Setelah berperang dengan pikirannya, Ashraf segera membersihkan diri lalu tidur dengan sangat nyenyak.
Besok paginya, ia mendapati sang Mama sedang menyiram bunga dihalaman belakang rumah.
"Ma, aku ingin bicara sebentar !" Ucap Ashraf
"Bicara saja Nak." Jawab Mama
"Mama ingat sekretarisku ?" Tanya Ashraf
"Hmm, lalu ?" Tanya Mama
"Sepertinya aku jatuh cinta padanya Ma," Ucapnya
Lala tak langsung menyahut, dia menunggu kata yang keluar dari mulut anaknya.
"Dia dijodohkan dengan Ibunya tapi dia menolaknya karena lelaki itu kasar dan dia tidak suka, tapi sepertinya lelaki itu ingin memaksa kalau Sarah harus mau menjadi istrinya, hubungannya dengan Ibunya tidak baik Ma, aku merasa kasihan dan ingin membawanya keluar dari rumah Ibunya itu." Jelas Ashraf
"Apa kau sudah yakin dengan hati mu ?" Tanya Lala sang Mama.
"Sudah sangat yakin." Jawab Ashraf
"Mama sudah tau gelagat mu dengan sekretaris mu itu dan Mama juga sudah mencari tau tentang gadis itu," Jelas Mama
"Jadi apa rencanamu ?" Tanya sang Mama
"Aku mau Mama menemuinya hari ini di kantor, aku juga gak mau kalah dengan laki-laki pilihan Ibunya. Aku juga mau gerak cepat, jadi apa Mama bisa bantu ?" Memohon kepada Mama
"Maksudmu Mama juga melamarnya untuk mu ? Begitu ?" Tanya Mama
Ashraf kikuk mendapat pertanyaan dari sang Mama, dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal ditambah muka nya sudah merah seperti tomat.
Mama pun geleng kepala melihat tingkah anaknya yang terkadang masih bersikap manja kalau dirumah.
"Kamu ini, harus romantis dong masak mintak bantuan Mama," Goda Mama sambil mencoel hidung Anaknya.
Ashraf hanya bisa nyengir menampakkan deretan giginya yang putih.
"Oke, kamu tunggu dulu ya biar Mama bersiap!" Ucap Mama yang berlalu
"Makasih Ma." Ucapnya setengah berteriak karena Mama sudah menjauh.
Tak berapa lama Mama sudah siap, diusianya yang tak lagi muda tapi Mama Lala masih terlihat Cantik.
"Ayo Mama sudah siap!" Ujarnya
"Ayo Ma." Ucapnya yang menarik tangan sang Mama
Mereka sudah didalam mobil dan lagi dalam perjalanan menuju ke Perusahaan mereka.
Dalam perjalanan Ashraf membuka obrolan.
"Ma, apa Mama menyukai sekretarisku juga ?" Tanya Ashraf
"Untuk apa Mama disini kalau Mama tak menyukainya, dia wanita yang pintar dan juga baik. Hanya saja kebaikannya dimanfaatkan yang tidak baik oleh Ibu dan juga Adiknya. Kalau kau memilihnya, lindungi dia, sayangi dia, limpahkan kasih sayang padanya dan jangan sakiti dia. Mama sendiri yang akan menghukum mu kalau Kau menyakitinya." Pesan Mama.
"Iya Ma, sebenarnya aku uda lama mengagguminya tapi aku belum yakin dengan perasaanku sendiri Ma. Tapi semakin lama aku melihatnya diperlakukan yang tidak baik oleh Ibunya, hatiku ikut sakit Ma," Jelas Ashraf
"Ma, gimana kalau dia tak menerimaku ?" Lirih Ashraf
"Kalau gitu, kau harus lebih keras lagi berjuang dan buktiin kalau kau bersungguh-sunggu." Ucap Mama
Sehingga tak terasa mobil Ashraf sudah sampai di parkiran kantor. Dan terlihat beberapa karyawan tertunduk hormat kepada Bos dan juga Nyonya besar mereka sambil tersenyum kepada Nyonya Besar.
Lala pun terlihat membalas senyum kepada karyawannya.
"Bu Lala makin terlihat awet muda ya."
"Makin cantik juga."
"Jelas makin cantik, perawatannya juga pasti mahal banget, bukan kaleng-kaleng pastinya"
Bisik-bisik para karyawan pun terdengar membuat Lala tersenyum dan geleng kepala mendengarnya.
Kini Ibu dan Anak itu sudah masuk ke ruangan CEO atau ruangan putranya.
"Mama duduk dulu ya, Mama mau minum dan makanan apa ?" Tanya Ashraf
"Terserah kamu aja yang penting yang segar, kalau makanan kayak nya gak usah deh Nak, karena Mama juga gak lama." Jawab Lala sang Mama
"Oke, tunggu sebentar ya Ma biar aku Pesanin." Ucap Ashraf
"Oh ya, sekalian calon Mantu Mama kamu suruh kesini dan sekalian juga pesankan minuman untuknya atau cemilan juga boleh deh, biar lebih santai ngobrolnya." Ucap Mama