PERJODOHAN

1114 Kata
"Oh ya Rah, hari minggu kamu temani Ibu ketemuan sama teman Ibu ya !" Ujarnya "Tumben Ibu ngajak aku ? Selidik Sarah "Ibu uda ajak adikmu, tapi dia gak mau karena dia pergi juga bersama temannya. Kebetulan teman Ibu ngajak ketemunya malam, jadi Ibu pikir lebih baik ajak kamu biar ada teman juga." Ucap Ibu berbohong "Siapa teman Ibu ?" Tanya Bapak "Teman Arisan Ibu, ada sesuatu yang ingin disampaikan nya maka dari itu dia ngajak Ibu tanpa melibatkan orang lain yang ikut arisan ! Ucap Ibu berdusta Sang Suami hanya menganggukkan kepala tanpa berpikir buruk sedikit pun kepada istrinya. "Gimana Rah ? Kamu mau ya temanin Ibu ?" Ibu memastikan Ada keraguan dalam hati Sarah, tapi sejujurnya dia juga khawatir kalau Ibunya pergi sendirian saat malam hari. "Ya sudah, aku harap tidak terlalu lama karena besoknya aku harus bekerja." Ucap Sarah tanpa melihat ke arah Ibunya Ibu pun mengiyakan. Dalam hati sang Ibu sangat senang karena tidak ada penolakan. "Syukurlah, awal yang bagus. Tidak ada penolakan dan tidak banyak bertanya." Ucap Ibu jumawa dalam hati. "Kemana Ray ? Ini sudah jam berapa ? Kenapa dia belum pulang juga ? Tanya Santo "Biasalah Pak, namanya juga anak lajang pasti lagi main sama teman-temannya. Tadi Ibu juga sudah di beri kabar, bentar lagi pasti pulang dia." Ucap Ibu yang sebenarnya dia juga tak yakin dengan ucapannya. "Jangan buat dia terlalu bebas, sehingga dia lupa waktu. Dia masih sekolah. Sering-sering beri dia nasihat !" Ujarnya "Meskipun dia masih sekolah tapi dia anak laki-laki, dia bisa menjaga dirinya sendiri dan dia sudah besar bukan anak kecil lagi, silahkan Bapak saja yang menasehatinya!" Ucap Ibu yang berlalu meninggalkan meja makan. "Sudahlah Pak, bentar lagi pasti Ray pulang," ucapnya menenangkan Bapak. "Bapak cepat minum obat terus istirahat." Ucapnya lagi "Bapak cuma takut adikmu salah jalan nak." Ucap Bapak khawatir "Kita doakan yang terbaik untuknya Pak." Sarah menenangkan Bapak. "Ya sudah, Bapak tidur dulu ya, kamu juga cepat segera istirahat." Ucap Bapak sebelum meninggalkan meja makan. Sarah hanya menganggukan sebagai jawabannya. Hari terus berganti, dan pada hari ini hari minggu yang sudah di katakan Ibunya meminta Sarah untuk menemaninya. Tok..tok.. "Sarah buka pintunya!" Ucap Ibu dibalik pintu "Ada apa Bu ? Aku masih bersiap." Jelas Sarah "Iya, pakai baju ini, Ibu gak mau kau tampil sederhana, jangan sampai buat Ibu malu." "Kalau Ibu malu pergilah sendiri kenapa harus minta ditemani!" Ketus Sarah "Jangan banyak bantah, pakai saja itu." Ucap Ibu yang berlalu. Dengan berat hati Sarah menerima baju yang diberi Ibunya lalu memakainya. Sarah masih mau menerima sebab baju yang di beri masih terbilang sopan dan tertutup. Tak berapa lama Sarah sudah siap begitu juga dengan Ibu dan mereka berdua berpamitan kepada Bapak. "Sarah pergi dulu ya Pak, Bapak jangan tidur terlalu malam." Pesan Sarah "Bapak mu pasti sudah mengerti, dia bukan anak kecil lagi yang harus di ingatkan !" Ketus Ibu "Hati-hati ya nak !" Ucap Bapak yang menghiraukan perkataan Ibu Diam-diam Yanti memperhatikan penampilan anaknya. Ya, karena memang dasar anaknya uda cantik tanpa di poles pun wajah Sarah uda murni cantik. "Semoga sesuai dengan harapan dan berjalan dengan lancar!" Harapan Ibu yang sedari tadi senyumnya tak pernah luntur membuat Sarah kebingungan dengan sikap Ibunya. Mereka sudah pergi sedari tadi menaiki taxi online dan tak terasa roda empat itu berhenti di cafe ternama. "Ingat ya Bu, aku gak mau terlalu lama, cepat selesaikan urusan Ibu." Ucap Sarah "Bawel banget kamu, tinggal duduk aja pun repot!" Ucap Ibu menohok Sarah dan Ibunya memasuki kafe tersebut dan menyebutkan ruangan yang sudah di pesan oleh Jeng Ira. Lalu salah satu karyawan pun mengantarkan Ibu dan anak itu menuju tempat yang sudah di sediakan. "Silahkan Ibu dan Mbaknya tunggu di dalam saja, Bu Ira sudah memesankan ruangan ini agar lebih privasi. Untuk makanan juga sudah di pesan sebelumnya jadi tunggu saja bentar lagi akan kami antar, saya perimisi ya Bu, Mbak !" Ucap Karyawan dengan sopan dan ramah. "Iya terimakasih." Ucap Ibu Mereka menunggu sekitar sepuluh menitan dan selama menunggu itu tidak ada yang membuka obrolan layaknya Ibu dan Anak. Tanpa mereka sadari pintu ruangan terbuka, masuklah Jeng Ira dan sang Putra. "Hai Jeng !" Sapa Ira membuat dua orang beda generasi itu terkejut. "Eh iya Jeng, uda lama sampai ?" Tanya nya tergugup "Lagi pada mikirin apa sih, kok pada diem-dieman gitu ? Tanya Jeng Ira "Tidak ada kok Jeng," Ucap Ibu "Sarah, ini temen Arisan Ibu." Ucap Ibu memperkenalkan temannya "Sarah." Ucap Sarah memperkenalkan diri dan menyalami teman Ibunya itu dengan sopan, dan dengan sedikit senyum yang agak dipaksakan. "Hai, kamu cantik sekali. Saya Ira teman Ibu mu, dan ini putra saya Al." Ucapnya Sarah kembali tersenyum tanpa berkata apa-apa. Ada firasat yang tidak enak dirasakannya tapi dia coba berfikir positif. "Saya Al." Ucap Al mengulurkan tangannya "Sarah." Dan Sarah pun menyambut uluran tangan itu tapi tidak lama hanya sekilas saja. "Permisi Ibu, Mbak dan Mas nya, makanan sudah terhidang semua, jika ada yang kurang bisa jumpai kami. Selamat menikmati!" Ucap Pelayan "Terimakasih Mbak," ucap Ira "Kita makan sambil ngobrol aja ya Jeng, biar mempersingkat waktu karena ini juga sudah malam.! Ujarnya Diam-diam Al memperhatikan Sarah, pandangan pertama membuatnya lansung jatuh hati. Karena dari awal Mamanya sudah menceritakan yang sebenarnya dan itu tidak membuat Al keberatan berarti Al menyetujui perjodohan ini. Perasaan Sarah makin tak enak, ingin rasanya ia segera menyudahi pertemuan ini. "Gimana Jeng ?" Tanya Yanti yang sesekali melirik ke arah putra Ira "Saya sih setuju, tapi saya juga gak bisa maksa, biarkan mereka saling kenal terlebih dahulu. Saya juga menyukai putri mu Jeng." Jelas Ira Membuat Yanti semakin jumawa karena memiliki putri yang cantik, jadi bisa diandalkan. Setelah makan selesai, Ira beralasan keluar untuk ke toilet begitu juga dengan Yanti. Mereka memberi ruang dan waktu untuk anak-anaknya bicara. Tinggallah mereka berdua kaum Adam dan Hawa dalam satu ruangan. Hening, tidak ada yang memulai bicara tapi pada akhirnya Sarah yang berbicara. "Apa kamu menerima perjodohan ini ? Tanya Sarah tanpa basa-basi "Kenapa ? Apa kamu keberatan ? Al kembali bertanya "Ya, jelas aku sangat keberatan, jadi aku dengan sangat memohon kepada mu untuk bekerjasama menolak perjodohan ini." Jelas Sarah "Apa karena kamu sudah memiliki kekasih ? Makanya kamu menolak ini ? Tanya Al lagi "Sudah ataupun belum itu bukan jadi urusan mu !" ucap Sarah sinis "Kita bisa mencobanya untuk lebih dekat, bukan berarti kita langsung menerima perjodohan ini kan ?" "Aku menolak ini berarti aku juga menolak untuk mencoba lebih dekat. Jadi aku harap kau mengerti!" Ujarnya "Tidak ada yang bisa menolak ku Sarah Rania !" Menatap tajam Sarah Kaget, saat Al menyebut namanya. "Dari mana dia tau nama lengkap ku !" Batin Sarah "Kenapa kau terdiam ? Apa kau kaget karena aku mengetahui nama lengkap mu ?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN